Di ambang kematian setelah dikhianati dan dikubur hidup-hidup, Leo Akira secara tidak sengaja meneteskan darahnya pada sepotong giok kuno yang ternyata menyimpan kekuatan primordial: Multiplikasi 1000× dan Ruang Penyimpanan Abadi. Apa pun yang dia sentuh dapat digandakan seribu kali lipat ke dalam ruang tak terbatas; siapa pun yang dia targetkan akan membuat Leo mendapatkan kemampuan orang itu—dengan kekuatan seribu kali lebih hebat.
Dari titik terendah, Leo bangkit dengan satu tujuan sederhana: menghancurkan orang yang menjatuhkannya dan menjadi orang terkaya di dunia. Tapi takdir membawanya lebih jauh. Dia tak hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mengangkat peradaban manusia dari level teknologi rendah menuju Tingkat 1 Skala Kardashev, bahkan melampaui alam semesta yang dikenal.
Inilah kisah tentang seorang manusia yang menjadi entitas tak terkalahkan, penjaga umat manusia, dan pengembara di antara bintang-bintang dimulai dari satu tetes darah dan sepotong giok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aryaa_v2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saudara Dalam Kegelapan
Plaza itu bukan lagi sebuah tempat di kota. Itu adalah altar.
Udara bergetar dengan suara rendah yang bukan suara—sebuah sensasi di tulang belakang, getaran primordial yang membuat gigi gemeretak dan darah terasa seperti timah. Gelembung hitam makro-singularitas berputar perlahan di sekeliling perimeter, masing-masing meninggalkan jejak kehampaan sempurna di tanah marmer. Di tengah, Rafael berdiri dengan kaki terbuka lebar, di dalam lingkaran kompleks yang digores dengan cairan yang Leo sadari dengan jijik adalah darah.
"Kau datang!" Rafael meneriakkan, suaranya pecah dan bergema dengan nada ganda—satu miliknya, satu lagi seperti gema dari sumur yang dalam. "Dia bilang kau akan datang! Dia lapar untukmu, Leo! Lapar untuk apa yang kau bawa!"
Leo melangkah maju, meninggalkan Dr. Arif yang gemetar di balik puing. Mata mereka bertemu, dan Leo melihat kekacauan total di mata sahabat lamanya. Rafael bukan hanya gila; dia telah dikosongkan, menjadi alat semata bagi entitas yang mereka berdua beri makan.
"Rafael, hentikan ini," suara Leo memotong udara yang statis, lebih tenang daripada yang dia rasakan. "Kau tidak mengendalikannya. Kau hanya membuka pintu."
"Kontrol?" Rafael tertawa, suaranya pecah. "Untuk apa? Lihatlah kekuatan ini!" Dia mengacungkan telapak tangannya yang hitam legam, dan dari dalam lingkaran berdarah, tend ril kegelapan menjulur seperti akar yang terbalik, menari dengan gerakan lapar. "Dia memberiku segalanya! Dan dia hanya meminta sedikit imbalan... kota ini, jiwa-jiwa ini, dirimu."
Di atas mereka, kapal Pengawas yang lebih besar mengeluarkan sinar pemindaian biru. Sinar itu menyapu gelembung hitam, dan saat menyentuhnya, terdengar suara desis nyaring—pertempuran antara teknologi yang tidak diketahui dan kelaparan dimensi. Sebuah gelembung hitam bergetar hebat dan runtuh ke dalam dirinya sendiri dengan suara seperti kaca pecah, tetapi tiga lainnya tumbuh lebih besar, menyerap energinya.
"Operator sekunder. Tingkat kontaminasi: kritis. Memulai netralisasi." Suara Pengawas menggema di kepala mereka semua, tanpa perasaan, seperti bunyi alarm.
Dari kapal utama, tiga proyektil perak meluncur—bukan peluru, tapi benda seperti jarum yang panjang. Mereka menuju langsung ke Rafael.
Dengan gerakan tangan acak, Rafael mengarahkan sebuah gelembung hitam untuk menghadangnya. Jarum-jarum itu masuk ke dalam kegelapan dan menghilang. Tapi yang keempat, yang datang terlambat, berbelok tajam dan menancap di bahu Rafael.
Dia menjerit, bukan karena sakit, tapi karena kemarahan. Luka itu tidak berdarah; itu memancarkan asap hitam. Dia meraih dan mencabut jarum itu, melemparkannya ke tanah di mana jarum itu segera larut menjadi cairan keperakan. Tapi kerusakan telah terjadi. Cahaya hitam di telapak tangannya berkedip, tidak stabil.
"Sakit!" raung Rafael. "Kau lihat? Mereka ingin mengambilnya dari kita! Dari kita, Leo! Mereka takut pada kita!"
Leo melihat kesempatan itu. Dia berlari, bukan ke Rafael, tapi ke tepi lingkaran darah. Dr. Arif berteriak memperingatkannya, tapi Leo tahu. Dia harus memutus hubungannya.
Di dalam Vault, Leo merasakan entitas yang lapar itu terpecah perhatiannya—antara Rafael yang mempersembahkan banyak dan Leo yang membawa konsentrasi energi murni dari singularitas mikro dan Hati Prometheus. Itu rakus, tetapi juga bodoh, seperti binatang.
"Rafael!" teriak Leo, menarik perhatiannya. "Dia menggunakanmu! Setelah dia menghabiskan kota ini, siapa yang berikutnya? Ibumu? Kekasihmu yang tersembunyi di Swiss?"
Wajah Rafael berkerut dengan kebingungan dan sakit. "Dia... dia berjanji..."
"Dan dia juga berjanji padaku!" Leo membuka tangannya, marka hijau zamrudnya bersinar terang, memproyeksikan citra dari Vault—lautan materi, menara pengetahuan, dan pulau-pulau kesadaran yang diam. "Dia berjanji kekuatan! Tapi lihat apa yang dia ambil sebagai gantinya!"
Leo memusatkan semua keinginannya, semua pemahaman yang telah dia serap, ke dalam satu perintah. Bukan untuk menggandakan. Tapi untuk memanggil.
Dari markanya, sebuah cahaya hijau murni—tidak seperti kegelapan Rafael—meledak keluar, membentuk jalur langsung menuju giok retak di tengah lingkaran Rafael. Ini adalah tarikan antara dua pecahan dari hati yang sama.
Giok Rafael bergetar, lalu melayang dari tanah, tertarik ke arah cahaya Leo.
"TIDAK!" Rafael meraung, ketakutan murni akhirnya menembus kegilaannya. Dia meraihnya, tetapi giok itu membakar tangannya yang hitam, meninggalkan bekas keputihan di kegelapan. "Itu milikku! Dia memilihku!"
Tapi itu bukan lagi masalah pilihan. Itu adalah masalah resonansi. Giok Leo, yang telah digunakan dengan lebih halus (jika tidak lebih bijaksana), memiliki daya tarik yang lebih kuat. Giok retak itu terbang melintasi plaza dan menempel di telapak tangan kiri Leo dengan dampak yang keras dan panas.
Sakitnya seperti menyatukan dua kutub yang terpisah dari magnet supernova.
Leo jatuh berlutut, melihat dunia melalui dua lensa yang bertentangan: satu hijau dan teratur (Vault-nya), satu hitam dan rakus (sisa-sisa kesadaran Rafael). Dia melihat mimpi sang entitas—lautan kelaparan yang tak berujung, tidur di antara dimensi, bermimpi akan dunia yang penuh untuk dilahap. Dan dia melihat tujuannya: Bumi bukan target, hanya makanan pembuka. Pintu perlu dibuka lebih lebar. Rafael adalah kuncinya yang kasar. Leo... adalah kuncinya yang lebih halus.
Rafael, kehilangan gioknya, tampak mengempis. Kulitnya mengerut, rambutnya memutih seketika. Kegelapan di tangannya memudar, menjadi abu-abu lalu menghilang. Gelembung-gelembung hitam di udara bergetar, kehilangan kohesinya, dan mulai tidak stabil—menghisap materi secara acak dengan liar sebelum runtuh dengan letupan energi yang menyedot udara.
Tapi kemenangan itu singkat.
Sinar biru dari kapal Pengawas membidik Leo. "Operator primer terkonsolidasi. Ancaman meningkat. Netralisasi total diotorisasi."
Kapal itu berputar, dan bagian bawahnya terbuka, mengungkapkan lubang yang memancarkan cahaya putih murni yang membutakan. Sebuah energi yang membuat udara berderak dan marmer plaza mulai menguap.
Mereka tidak akan menangkapnya. Mereka akan memusnahkannya, dan mungkin setengah kota bersamanya.
Leo, dengan dua giok sekarang terbakar di tangannya, melihat ke atas ke cahaya kematian itu. Di satu sisi, ada kelaparan abadi. Di sisi lain, pemusnahan yang steril.
Dia memilih jalan ketiga.
Dia meraih ke dalam Vault-nya, ke semua singularitas mikro, ke inti energi Hati Prometheus, dan ke semua bayangan kesadaran yang telah dia kumpulkan. Dan dia mendorong.
Bukan keluar. Tapi masuk. Ke dalam giok-giok itu.
Dia memberi makan sang entitas. Bukan dengan kota, tapi dengan apa yang telah dia kumpulkan—energi murni, pengetahuan, esensi hidup yang dia curi. Sebuah persembahan yang jauh lebih kaya daripada apa pun yang bisa diberikan Rafael.
Dia merasakan perhatiannya berubah, teralihkan dari Rafael yang sekarat dan kota yang rusak, tertuju sepenuhnya padanya.
Dan di dalam kepalanya, sebuah suara yang bukan suara, lebih seperti pemahaman yang langsung tertanam, berbicara:
"Pintu... lebih lebar..."
Cahaya putih dari kapal Pengawas meletus, menghujam ke bawah.
Tepat sebelum menyentuhnya, ruang di sekitar Leo melengkung. Gelembung hitam yang tersisa, singularitas yang tidak stabil, tersedot ke arahnya, membentuk vortex kegelapan pelindung.
Cahaya dan kegelapan bertabrakan.
Seluruh plaza, dan setengah dari Sudirman, terhapus dari eksistensi.
Ketika debu dan energi yang tersisa mereda, hanya ada kawah yang halus dan mengkilap, setengah bola sempurna dengan diameter tiga ratus meter, memotong gedung-gedung pencakar langit dengan tepian yang tajam.
Di tengahnya, berdiri Leo.
Dua giok di tangannya telah menyatu menjadi satu, sekarang berwarna hijau dengan urat hitam, berdenyut dengan ritme yang satu. Dan matanya—keduanya—bersinar dengan cahaya hijau yang sama, dengan titik hitam yang dalam di pusatnya.
Dia melihat ke atas ke kapal Pengawas. Dia tidak mengatakan apa-apa.
Tapi kapal itu, untuk pertama kalinya, mundur.
"Kontaminasi telah mencapai Level Omega. Kuadran dinyatakan dalam bahaya. Memanggil... Pengadilan Kardashev."
Kemudian, kapal itu menghilang, tidak pergi, tapi menjadi tak terlihat.
Leo melihat tangannya, lalu ke tubuh Rafael yang terbaring tak bernyawa di tepi kawah. Dia merasakan sesuatu yang baru di dalam dirinya—sebuah kehadiran yang sekarang terjaga, puas untuk saat ini, dan terikat padanya.
Dia telah mencegah pemusnahan dengan menjadi sesuatu yang bahkan lebih berbahaya.
Dr. Arif berlari ke tepi kawah, wajahnya basah oleh air mata dan ketakutan. "Leo! Apa yang telah kau lakukan?"
Leo melihatnya, dan untuk sesaat, Dr. Arif melihat bukan temannya, tapi sesuatu yang kuno dan haus yang memandang kembali melalui mata manusia.
"Yang harus kulakukan," kata Leo, suaranya bergema dengan nada halus. "Aku membayar harga naiknya peradaban. Dan tagihannya baru saja jatuh tempo."
Di atas mereka, di balik kubah madu, bintang-bintang yang tak terlihat mulai berkedip dalam pola yang tidak alami. Panggilan telah dilakukan.
Dan Pengadilan sedang dalam perjalanan.