Sifa (18 tahun) hanyalah gadis lulusan SMA yang 'kasat mata'. Di dunia yang memuja kekayaan dan penampilan, Sifa yang miskin, culun, dan polos adalah target empuk. Hidupnya adalah serangkaian kesialan: di-bully habis-habisan oleh duo sosialita kejam Rana dan Rani sejak sekolah, dikucilkan tanpa teman, dan harus bekerja serabutan demi ibunya. Tak ada yang spesial dari Sifa, kecuali hatinya yang seluas samudra.
Hingga suatu sore di taman kota, takdir melempar sebuah jam tangan butut ke pangkuannya.
Siapa sangka, benda rongsokan itu adalah "Chrono", asisten AI super canggih dari masa depan yang bisa melakukan apa saja—mulai dari memanipulasi data, mengubah penampilan, hingga meretas sistem perusahaan elit NVT tempat Sifa bekerja sebagai staf rendahan!
Dengan bantuan jam ajaib yang sarkas dan kocak itu, Sifa mulai membalas dendam pada Rana dan Rani dengan cara yang elegan. Namun, kekacauan dimulai saat Adi, CEO NVT yang tampan namun dingin, mulai menaruh curiga... sekaligus menaruh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafidz Irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata di Atas Nasi Basi
Selasa pagi yang seharusnya cerah berubah menjadi mimpi buruk yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup.
Semuanya berawal sangat normal. Aku datang ke kantor dengan semangat 45, membawa dua tas besar berisi pesanan nasi goreng yang jumlahnya melonjak tiga kali lipat. Berita tentang "Nasi Goreng Galactic" sudah menyebar ke seluruh divisi. Bahkan anak-anak Marketing yang dulu temannya Rana pun ikut pesan.
"Chrono, hari ini kita bakal panen untung besar! Itung-itungannya udah masuk buat cicilan rentenir bulan depan!" seruku riang dalam hati saat menata kotak-kotak bekal di meja pantry.
Tapi anehnya, Chrono diam saja.
Layar jam tanganku mati total. Hitam pekat.
"Chrono?" panggilku lagi, mengetuk layarnya pelan. "Kamu tidur? Baterai habis? Perasaan kemarin udah dijemur?"
Hening. Tidak ada suara sarkasnya, tidak ada getaran hangat, tidak ada lampu biru. Jam tangan itu benar-benar menjadi benda mati. Dingin dan kaku di pergelangan tanganku.
Perasaan tidak enak mulai merayap di dadaku. Tapi aku menepisnya. Mungkin sistemnya lagi reboot atau update software. Aku harus fokus jualan.
Jam 12.00 siang.
Kantin NVT penuh sesak. Antrian di mejaku panjang mengular. Aku sibuk melayani pembeli dengan senyum lebar, meski hatiku sedikit cemas karena Chrono masih belum bangun.
"Ini Mas, nasi goreng pedasnya. Makasih ya!"
"Ini Mbak, yang tanpa acar."
Adi belum datang. Katanya dia ada meeting mendadak dengan calon investor baru (Bank milik Ibu Clara, yang aku tidak tahu saat itu).
Tiba-tiba, dari arah meja pojok tempat anak-anak IT makan, terdengar suara gaduh.
"Huweekk!"
Seorang staf pria memuntahkan makanannya ke lantai. Wajahnya pucat, keringat dingin bercucuran. Dia memegangi perutnya sambil mengerang kesakitan.
"Aduh... perut gue... sakit banget... kayak dililit..." rintihnya.
Belum sempat orang-orang bereaksi, staf lain di sebelahnya ikut ambruk.
"Aduh! Gue juga! Mual banget!"
Satu per satu, orang-orang yang makan nasi goreng buatanku mulai bertumbangan. Suara erangan kesakitan memenuhi kantin yang tadinya riuh tawa. Ada yang lari ke toilet sambil memegangi mulut, ada yang pingsan di kursi.
Kepanikan melanda.
"Keracunan! Ada yang keracunan makanan!" teriak seseorang histeris.
Aku berdiri mematung di balik meja jualanku. Tanganku gemetar hebat memegang sendok sayur. Mataku menatap horor pemandangan di depanku. Puluhan teman kerjaku... sakit. Karena makananku?
"Nggak mungkin..." bisikku, suaraku tercekat. "Aku masaknya bersih... bahannya seger..."
"SIFA!"
Teriakan marah itu datang dari Bu Ratna, sekretaris Adi. Wajahnya merah padam.
"Kamu kasih racun apa ke makanan ini?! Liat tuh temen-temen kamu! Liat Pak Burhan sampe kejang-kejang!" tunjuk Bu Ratna ke arah Pak Burhan yang sedang dibopong satpam.
"Bu... saya nggak tau... sumpah Bu..." aku melangkah mundur, air mata mulai menggenang. "Saya masaknya bener kok..."
"Alasan!" bentak salah satu staf yang emosi. "Lo pasti pake bahan busuk kan biar untung gede?! Dasar pedagang licik!"
"Bukan! Sumpah bukan!" bantahku putus asa.
Saat itulah, pintu kantin terbuka kasar. Adi masuk dengan tergesa-gesa, di belakangnya ada Clara dan beberapa pria berjas hitam (tim keamanan Nyonya Mariana). Wajah Adi terlihat sangat khawatir dan... marah?
"Ada apa ini?!" suara Adi menggelegar.
"Pak Adi! Sifa meracuni karyawan!" lapor Bu Ratna cepat. "Hampir lima puluh orang sakit perut parah setelah makan nasi goreng dia! Kita harus panggil ambulans!"
Adi menatapku. Tatapan matanya yang kemarin lembut penuh cinta, kini berubah. Ada kebingungan, kekecewaan, dan keraguan di sana.
"Sifa..." panggil Adi lirih. "Apa benar ini masakan kamu?"
"Mas Adi..." aku berjalan mendekatinya, air mataku tumpah ruah. "Mas, percayalah sama Sifa. Sifa nggak mungkin ngeracunin orang. Sifa masak sendiri, Sifa belanja sendiri. Semuanya bersih, Mas."
"Bersih apanya?!" potong Clara tajam. Dia melangkah maju, berdiri di samping Adi. "Tadi tim keamanan saya menemukan ini di tong sampah pantry tempat Sifa nyiapin makanan."
Salah satu pria berjas hitam maju, membawa sebuah botol kecil berlabel "OBAT PENCAHAR KUAT - Dosis Kuda". Botol itu kosong.
"Ini ditemukan di tong sampah tepat di sebelah meja Sifa," kata Clara dengan nada prihatin yang palsu. "Sepertinya ada yang sengaja mencampurkan ini ke dalam bumbu nasi goreng."
Semua mata tertuju padaku. Tatapan menuduh. Tatapan benci.
"Itu bukan punya saya!" teriakku histeris. "Saya nggak pernah beli obat itu! Itu fitnah! Mas Adi, tolong percaya Sifa... Mas tau kan Sifa kayak gimana?"
Aku menatap Adi penuh harap. Berharap dia akan membelaku seperti saat pesta dansa. Berharap dia akan bilang "Sifa tidak mungkin melakukan ini".
Tapi Adi diam. Dia menatap botol racun itu, lalu menatap para karyawan yang kesakitan. Sebagai CEO, tanggung jawabnya adalah keselamatan karyawan. Bukti fisik (botol) ada di sana. Dan korbannya nyata.
Logika Adi bertarung dengan hatinya.
"Sifa," suara Adi berat, dia tidak berani menatap mataku. "Untuk sementara... sampai investigasi selesai... saya harus menonaktifkan kamu."
Duniaku hancur lebur.
Kata-kata itu lebih sakit daripada ditampar. Lebih sakit daripada dihina Rana. Adi... pahlawanku, orang yang kupercaya, dia meragukanku. Dia memilih prosedur daripada percaya padaku.
"Mas..." bisikku, suaraku hilang ditelan isak tangis. "Mas nggak percaya sama Sifa?"
"Ini bukan soal percaya atau nggak, Sifa. Ini soal nyawa orang," jawab Adi kaku, rahangnya mengeras menahan emosi. "Pak Satpam, tolong bawa Sifa ke pos keamanan dulu. Dan panggil polisi untuk periksa sampel makanan."
Polisi? Aku akan dipenjara?
Dua satpam mendekatiku, memegang lenganku kasar.
"Ayo, Mbak. Ikut kami."
Aku diseret pergi melewati kerumunan orang yang mencemooh.
"Dasar pembunuh!"
"Muka polos hati iblis!"
"Penjara aja tuh anak!"
Aku menatap Adi sekali lagi sebelum keluar pintu. Dia memunggungi ku, sibuk menelepon ambulans. Clara berdiri di sampingnya, mengusap punggung Adi dengan sok peduli, sambil menatapku dengan senyum kemenangan yang tipis. Sangat tipis.
Saat itulah aku sadar. Ini ulah Clara.
Aku digiring ke pos satpam yang sempit dan pengap. Mereka menyita HP-ku. Mereka menyuruhku duduk di kursi besi dingin.
Aku sendirian.
Aku mencoba memanggil Chrono.
"Chrono... bangun dong... tolongin aku... kamu pasti punya rekaman CCTV kan? Kamu pasti liat siapa yang naruh botol itu kan?"
Aku mengetuk-ngetuk jam tanganku histeris. Air mataku menetes membasahi layar hitamnya.
"Chrono! Jangan mati di saat kayak gini! Aku butuh kamu!"
Tidak ada jawaban. Jam itu tetap mati. Benda itu kini hanyalah seonggok logam tak berguna. Aku baru sadar betapa bergantungnya aku pada Chrono. Tanpa dia, aku... aku cuma Sifa yang lemah.
Satu jam berlalu. Polisi datang. Mereka mengambil sampel nasi gorengku. Mereka membawaku ke kantor polisi untuk diperiksa.
Di dalam mobil polisi, aku melihat ke luar jendela. Langit mendung menurunkan hujan gerimis. Jakarta menangis bersamaku.
Bayangan wajah Ibu melintas. Ibu pasti kaget kalau tahu aku ditangkap polisi. Penyakitnya bisa kambuh. Jantungnya bisa berhenti.
"Ibu... maafin Sifa..." rintihku, memeluk lutut di kursi belakang mobil patroli.
Aku teringat momen makan siang kemarin. Tawa Adi. Kehangatan tangannya. Janji manisnya. Semuanya lenyap. Semuanya terasa palsu sekarang.
Mungkin benar kata Ibu. Orang miskin dan orang kaya itu beda dunia. Saat ada masalah, orang miskin selalu jadi kambing hitam. Dan orang kaya akan memilih menyelamatkan diri mereka sendiri.
Sesampainya di kantor polisi, aku dimasukkan ke ruang interogasi yang dingin. Seorang polisi wanita menanyaiku dengan nada tinggi.
"Ngaku aja, Dek. Kamu sakit hati sama kantor makanya ngeracunin temen-temen? Atau kamu mau meras perusahaan?"
"Nggak, Bu... Sumpah demi Allah..." aku menangis sampai suaraku habis. "Saya nggak ngelakuin itu..."
Tapi tidak ada yang mendengarkan.
Malam itu, aku mendekam di sel tahanan sementara. Lantainya dingin, baunya pesing. Di luar hujan turun deras disertai petir.
Aku meringkuk di pojokan, memeluk lututku yang gemetar kedinginan. Bajuku basah oleh keringat dan air mata.
"Mas Adi..." bisikku dalam gelap. "Kenapa Mas nggak dateng? Kenapa Mas biarin Sifa di sini?"
Rasa sakit dikhianati itu lebih perih daripada luka fisik. Harapanku hancur. Cintaku patah.
Di pergelangan tanganku, Chrono masih mati suri.
Tapi di suatu tempat di luar sana, di dalam mobil mewah yang melaju menembus hujan, seorang pria sedang bertarung dengan batinnya sendiri.
Adi menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, menembus kemacetan Jakarta. Di sebelahnya, Clara terus berceloteh.
"Kamu ambil keputusan yang tepat, Di. Sifa itu bahaya. Untung kita cepet bertindak sebelum ada korban jiwa. Mama bilang tim pengacara Bank siap bantu NVT nuntut Sifa."
"DIAM!" bentak Adi tiba-tiba, memukul setir mobil.
Clara terlonjak kaget. "Adi?"
"Diam, Clara. Jangan sebut nama dia lagi."
Adi menatap jalanan yang buram oleh air hujan. Hatinya berteriak bahwa Sifa tidak bersalah. Hatinya sakit membayangkan Sifa ketakutan di kantor polisi sendirian. Tapi logikanya... bukti botol itu... racun itu... semuanya terlalu nyata.
"Maafin saya, Sifa..." batin Adi pedih. "Saya harus lindungi perusahaan dulu. Tapi saya janji... saya akan cari kebenarannya. Kalau kamu memang nggak bersalah, saya akan tebus dosa saya. Tapi kalau kamu salah... saya nggak tau harus berbuat apa."
Malam itu adalah malam terpanjang bagi Sifa dan Adi.
Di dalam sel yang gelap, Sifa akhirnya tertidur karena kelelahan menangis. Dalam tidurnya, dia bermimpi tentang nasi goreng buatan Nenek, tentang tawa Ibu, dan tentang senyum Adi yang kini terasa begitu jauh.
Dan di pergelangan tangannya, jauh di dalam sirkuit mikronya yang sedang dilumpuhkan oleh sinyal Jammer militer, sebuah protokol darurat sedang berjuang keras untuk menembus blokade.
[SYSTEM REBOOT... ERROR... SIGNAL BLOCKED... REROUTING POWER TO CORE MEMORY... ATTEMPTING RESTART IN 3... 2...]
Chrono belum mati. Dia hanya pingsan. Dan saat dia bangun nanti... dia akan sangat, sangat marah.
Tapi untuk malam ini, Sifa harus bertahan sendirian. Bertahan dalam dinginnya ketidakadilan dunia.
semangat kakak