NovelToon NovelToon
Love Under One Roof: Jangan Ada Baper Di Antara Kita

Love Under One Roof: Jangan Ada Baper Di Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: salsabilah *2009

Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.

Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.

Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Canggung Tingkat Dewa dan Drama Hujan di Parkiran

Perjalanan pulang dari toko buku rasanya beda banget sama pas berangkat tadi. Kalau pas berangkat suasana mobil penuh sama celotehan Nara yang nggak ada habisnya, sekarang suasananya hening... tapi hening yang bikin perut mules karena canggung.

Nara duduk di kursi penumpang sambil meluk tas belanja berisi buku desain mahal yang dibeliin Rian. Matanya terus-terusan ngeliat ke luar jendela, pura-pura asyik liatin kemacetan Jakarta, padahal otaknya lagi muter ulang kata-kata Rian tadi kayak kaset rusak.

"Orang yang sekarang bertugas buat mastiin Nara selalu bahagia... Nara saya..."

"Aduh, gila... Mas Rian tadi makan apa sih sampai bisa ngomong gitu?" batin Nara sambil gigit bibir bawahnya. Dia curi-pandang ke arah Rian yang lagi fokus nyetir. Rian masih pakai kacamatanya, dan entah kenapa, rahangnya kelihatan makin tegas kalau lagi diem serius gitu.

Rian sendiri sebenernya nggak kalah kacau. Tangannya yang megang setir agak sedikit berkeringat. Dia juga bingung kenapa tadi kalimat itu bisa keluar gitu aja dari mulutnya. Spontan banget, kayak nggak lewat sensor otak dulu.

"Ehem," Rian berdehem, mecahin keheningan yang udah hampir bikin oksigen di mobil itu abis. "Buku yang kamu pilih itu... isinya bagus. Saya udah baca dikit tadi pas nunggu kamu di kasir."

Nara tersentak dari lamunannya. "Eh? Oh, iya Mas. Itu emang buku wajib buat desainer kalau mau belajar soal psikologi warna. Makasih ya Mas, udah dibeliin. Padahal harganya lumayan..."

"Nggak masalah. Anggap aja itu investasi saya supaya asisten pribadi saya nggak pusing pas ngerjain tugas dari saya nanti," jawab Rian balik lagi ke mode sok kaku, padahal itu cuma cara dia buat nutupin rasa malu.

"Dih, mulai deh kaku lagi! Tadi di toko buku keren banget padahal," celetuk Nara tanpa sadar.

Rian ngerem mobilnya sedikit mendadak karena lampu merah. Dia nengok ke Nara. "Keren? Bagian mananya?"

Nara langsung gelagapan. "Ya... bagian pas Mas ngusir si Rio itu. Dia emang harus dikasih pelajaran sih. Makasih ya, Mas, udah bantu saya 'jaga harga diri' di depan mantan."

Rian diem sebentar, lalu dia balik natap jalanan. "Saya cuma melakukan apa yang harus dilakukan. Lagian, saya nggak suka liat orang ngeremehin kamu. Kamu itu... lebih hebat dari yang dia pikirin."

Nara ngerasa wajahnya panas lagi. "Mas Rian jangan gitu dong ngomongnya, nanti saya beneran baper gimana?"

"Bukannya di kontrak dilarang baper?" tanya Rian sambil naikin sebelah alisnya, ada senyum tipis yang terselip di sudut bibirnya.

"Ya kan situ yang mulai melanggar klausul dengan ngomong 'Nara saya' tadi!" Nara nggak mau kalah, dia balik nantang pakai tatapan mata yang galak tapi gemesin.

Rian nggak bales lagi, dia cuma ketawa rendah—suara ketawa yang bikin Nara makin yakin kalau dia emang lagi dalam bahaya besar.

Pas mereka sampai di basement apartemen, tiba-tiba hujan turun deres banget. Padahal tadi di toko buku cuacanya masih cerah ceria. Suara air yang nabrak atap beton basement kedengeran berisik banget.

"Wah, deres banget, Mas," kata Nara sambil ngelepas seatbelt-nya.

Rian markirin mobilnya di tempat biasa, tepat di samping lift. Dia matiin mesin mobil, tapi mereka nggak langsung turun. Suasana jadi makin intim gara-gara suara hujan di luar.

"Nara," panggil Rian pelan.

"Ya?"

Rian ngelepas kacamatanya, lalu dia nyenderin badannya ke kursi, menghadap ke arah Nara. "Soal yang di toko buku tadi... saya serius."

Nara nahan napas. "Serius bagian mananya?"

"Bagian kalau saya mau kamu selalu bahagia. Saya nggak mau liat kamu sedih cuma gara-gara masa lalu yang nggak layak buat diinget lagi."

Rian ngulurin tangannya, terus dia nyubit pipi Nara pelan banget. "Jadi, jangan nangis lagi gara-gara cowok kayak gitu, Oky? Kamu punya tetangga yang jauh lebih oke buat diandelin."

Nara ngerasa matanya panas, bukan karena sedih, tapi karena terharu. Ternyata di balik sikap Rian yang kayak robot, dia punya sisi pelindung yang luar biasa. "Iya, Mas Robot. Makasih ya."

"Udah, ayo turun. Saya laper, tadi siang kita cuma makan roti kan?" ajak Rian.

Mereka turun dari mobil. Pas lagi jalan ke arah lift, Nara yang emang dasarnya ceroboh, nggak liat kalau ada genangan air yang agak licin bekas rembesan hujan.

"Waaaa!" Nara kepeleset.

"Nara!"

Rian dengan sigap narik tangan Nara, tapi karena tarikannya terlalu kuat, Nara malah meluncur nabrak dada Rian. Posisi mereka jadi pelukan di tengah parkiran basement yang sepi. Tangan Rian melingkar di pinggang Nara, sementara tangan Nara megang erat pundak Rian.

Detik itu juga, waktu kerasa berhenti. Nara bisa denger detak jantung Rian yang kencang banget, sama kencangnya sama jantung dia sendiri. Bau parfum Rian yang maskulin langsung memenuhi indra penciuman Nara.

"Kamu... bener-bener definisi ceroboh ya," bisik Rian, tapi dia nggak ngelepasin pelukannya.

Nara masih bengong, dia dongak liat wajah Rian yang jaraknya cuma beberapa senti. "M-mas... kaki saya lemes."

Rian natap bibir Nara sebentar, lalu balik ke matanya. Dia ngeratetin pelukannya sejenak sebelum akhirnya ngelepasin Nara pelan-pelan pas denger suara pintu lift terbuka.

"Ayo, sebelum ada orang liat tetangga lagi pelukan di parkiran," kata Rian sambil narik tangan Nara buat masuk ke lift.

Sepanjang di dalam lift, mereka berdua sama-sama diem. Nara sibuk benerin bajunya yang sebenernya nggak berantakan, sementara Rian terus-terusan liat angka lantai lift yang naik dengan lambat. Tangan mereka masih gandengan, dan nggak ada satu pun dari mereka yang niat buat ngelepasin.

Sampai di lantai empat, pas mereka keluar dari lift, mereka ketemu sama Pak RT apartemen, Pak Bambang, yang lagi jalan bawa sampah.

"Lho, Mas Rian, Mbak Nara? Baru pulang kencan ya? Gandengan terus kayak truk gandeng," goda Pak Bambang sambil ketawa-tawa.

Nara langsung ngelepas tangan Rian dengan muka merah padam. "Eh, nggak Pak! Ini tadi... tadi Nara hampir jatuh, jadi dibantuin Mas Rian!"

Rian cuma senyum sopan. "Iya Pak, asisten saya ini kakinya agak bermasalah kalau liat lantai licin."

Setelah Pak Bambang lewat, Nara langsung nyubit perut Rian. "Mas! Malu tahu!"

"Kenapa harus malu? Kan emang bener saya bantuin," sahut Rian santai sambil buka pintu unitnya. "Udah sana, masuk ke unit kamu. Mandi, terus nanti jam delapan ke sini ya."

"Mau ngapain lagi?!"

"Saya mau masak pasta. Katanya kamu mau belajar hidup sehat kan? Saya tunjukin gimana caranya bikin pasta yang enak tapi nggak bikin gendut," ucap Rian sambil kedipin sebelah matanya.

Nara melongo. Rian kedip? Rian beneran kedip?!

"Gila... ini mah bukan cuma baper, tapi udah stadium lanjut!" teriak Nara pas dia udah masuk ke unitnya sendiri. Dia lempar tas belanjanya ke kasur terus loncat-loncat kegirangan.

Di unit sebelah, Rian langsung nyandar di pintu. Dia megang dadanya yang masih kerasa deg-degan gara-gara kejadian di parkiran tadi. Dia ngambil HP-nya, terus ngetik pesan singkat buat Mamanya.

Pesan ke: Mama Sayang

"Ma, makasih sarannya kemarin. Kayaknya aku emang harus lebih jujur sama perasaan sendiri."

Rian narik napas panjang. Dia mulai ngeluarin bahan-bahan pasta dari kulkas. Malam ini, dia bertekad buat bikin malam yang nggak bakal dilupain sama Nara. Kontrak damai mereka mungkin masih ada, tapi hatinya Rian udah nyiapin kontrak baru: Kontrak buat jagain Nara selamanya.

1
Huzaifa Ode
👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!