"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 - Menjaga Jarak
Hari ini Libra merasa ada yang aneh dengan Giselle. Sebenarnya tidak hanya hari ini, lebih tepatnya sejak kemarin. Ada yang berubah dari sikap Giselle. Bukan perubahan yang besar, tetapi justru hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah berubah.
Kemarin, Giselle menyuruh Libra pulang terlebih dahulu. Padahal biasanya pemuda itu akan menemani Giselle sampai Abram datang menjemput. Libra sudah mengatakan berkali-kali bahwa ia tidak masalah menemani Giselle menunggu Abram, tetap gadis itu tetap kekeh menyuruh Libra pulang. Akhirnya pemuda itu hanya bisa menurut.
Lalu semalam, Giselle tidak menghubunginya untuk belajar bersama lewat video call. Tidak ada pesan singkat, tidak ada suara Giselle yang biasanya menguap sambil mengeluh lelah. Libra sempat menunggu. Sampai jam sebelas malam, tapi yang datang hanya pesan singkat.
“Gue mau tidur dulu ya, Ba.”
Singkat. Terlalu singkat.
Pagi ini pun begitu. Giselle tetap datang ke sekolah dengan wajah ceria. Tetap menyapa, tetap tertawa, bahkan masih bercanda seperti biasa. Namun, Libra merasa ada jarak yang tipis, hampir tak terlihat, tetapi dapat ia rasakan.
Di kelas, biasanya Giselle akan otomatis duduk lebih dekat ke arahnya. Hari ini, ia duduk sedikit bergeser. Tidak jauh, tetapi tidak sedekat biasanya.
“Pen,” panggil Libra pelan.
“Hm?” Giselle menoleh. Senyumnya ada. Tapi rasanya tidak sepenuhnya sampai ke mata.
Libra menatapnya beberapa detik, mencoba mencari sesuatu, tetapi Giselle sudah kembali menunduk, sibuk dengan buku catatannya.
Saat jam istirahat tiba, Libra berjalan di samping Giselle menuju kantin. Seperti refleks, tangannya terangkat dan merangkul bahu Giselle. Namun, Giselle langsung menepis pelan.
“Panas,” katanya cepat, sambil tertawa kecil. Seolah itu bukan apa-apa.
Libra berhenti melangkah. Menatap Giselle yang sudah berjalan sedikit lebih dulu. Dadanya terasa mengganjal. Biasanya, Giselle tidak pernah keberatan. Bahkan sering kali justru ia yang lebih dulu mendekat.
Di kantin, Libra menawarkan untuk membelikan minum seperti biasa, tetapi lagi-lagi penolakan yang ia terima.
“Gue ambil sendiri aja,” jawab Giselle ringan.
Di kelas, Libra mengulurkan buku catatannya. Berusaha membantu Giselle, barangkali gadis itu kesusahan di suatu bagian.
“Enggak. Gue udah bisa,” jawab Giselle cepat.
Semua jawabannya masuk akal. Tidak ada yang salah. Tapi justru itu yang membuat Libra semakin tidak tenang. Saat jam pelajaran terakhir selesai, Libra menahan tangan Giselle sebelum gadis itu benar-benar pergi.
“Pen.”
“Iya?”
“Kita ke rooftop bentar.”
Giselle terlihat ragu. “Ngapain?”
“Bentar aja,” kata Libra. Nada suaranya tegas, tapi tidak marah.
Akhirnya Giselle mengangguk. Rooftop sekolah saat itu sepi. Angin berembus pelan, membawa suara hiruk pikuk dari bawah yang terdengar jauh. Libra berdiri menghadap Giselle. Tangannya masuk ke saku celana, rahangnya mengeras.
“Lo kenapa?” tanya Libra langsung.
Giselle mengerjap bingung. “Kenapa gimana? Gue gapapa.”
“Jangan bilang ‘gapapa’,” potong Libra. “Gue kenal lo,” ujar Libra dengan kesal. Ia mulai merasa marah, entah karena apa. Ia hanya merasa tidak suka melihat Giselle yang menjaga jarak darinya.
Giselle terdiam. Pandangannya mengarah ke lantai. “Beneran gapapa, Ba.”
Libra mendengus kecil. “Semalem kita gak belajar bareng. Hari ini lo keliatan jaga jarak. Itu bukan ‘gapapa’. Gue tau sekecil apapun perubahan lo. Inget, kita udah kenal bertahun-tahun, Giselle."
Giselle menghela napas. Ia masih menunduk, tidak berani menatap Libra. Ia terdiam cukup lama. Seolah sedang mengumpulkan keberanian. Libra sendiri hanya menatap gadis di depannya, menunggu dengan sabar bagaimana gadis itu akan menjelaskannya padanya.
“Gue cuma…” Giselle menggantung kalimatnya. Suaranya mengecil. “Gue gak mau terlalu bergantung sama lo, Ba.”
Libra terdiam, mencoba mencerna maksud dari perkataan Giselle.
Giselle mengangkat wajahnya. Matanya mulai berkaca-kaca. “Gue takut, Ba.”
“Takut apa?” tanya Libra lebih pelan.
“Gue takut suatu hari nanti gue gak bisa lepas dari lo,” kata Giselle jujur. “Gue takut nanti lo punya pacar, dan gak bisa deket lagi sama gue kayak sekarang. Gue gak mau jadi beban lo, Ba." Air mata Giselle menetes. Ia benar-benar merasa takut.
Libra menatapnya tajam. “Terus menurut lo, sikap lo kayak gini solusinya?”
“Gue cuma mau belajar mandiri,” jawab Giselle cepat. “Gue mau bisa berdiri sendiri. Gak selalu nyusahin lo. Gak selalu—”
“Gue gak pernah ngerasa disusahin,” potong Libra dengan cepat. Nada suaranya naik. “Dan gue gak suka lo tiba-tiba narik diri kayak gini.”
Libra menghela napas kasar. Wajahnya terlihat kesal, tapi bukan marah karena benci, melainkan marah karena peduli.
“Jangan mikir terlalu jauh, Pen. Apalagi berusaha jaga jarak sama gue. Gue gak suka.” kata Libra. Suaranya melembut, tangannya menarik Giselle ke dalam dekapan hangatnya.
Giselle menangis lebih keras. Bahunya bergetar. Semua ketakutan yang selama ini ia simpan akhirnya tumpah. Libra memeluk Giselle lebih erat tanpa berkata apa-apa lagi.
“Gue di sini, as always,” bisiknya.
Perlahan, tangis Giselle mereda. Ia tetap memeluk Libra, seolah takut dilepaskan.
Di kejauhan, dari balik pintu rooftop yang sedikit terbuka, seseorang berdiri diam. Pandangannya tertuju pada dua sosok yang saling berpelukan. Ia tersenyum kecil. Senyum yang tidak sepenuhnya bahagia.
Beberapa detik kemudian, ia berbalik. Melangkah pergi. Meninggalkan rooftop itu tanpa suara. Dan tanpa mereka sadari, ada satu hati yang memilih mundur sebelum benar-benar terluka.
...***...
20 Januari 2026