Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mencari sumber maslah
Freen menatap layar laptop dengan pandangan nyalang. Rasa lelah dan jengkelnya mencapai puncaknya. Ia meraih cangkir kopinya, menyesap isinya hingga tandas.
"Astaga, Dewi Nakha yang terhormat," Freen mulai menggerutu ke udara kosong, suaranya dipenuhi sarkasme.
"Kalau mau kasih misi, yang profesional sedikit dong! 'Rumah Tua', 'Kehancuran', 'Besok'? Ini petunjuk atau teka-teki silang level pemula?"
"Kau pikir aku ini mesin pencari, Nam?" Freen beralih ke Nam, yang sibuk mengetik kata kunci.
"Aku sudah lelah browsing, aku mau tidur! Kenapa para arwah ini tidak bisa mengirimkan alamat lengkap, nomor telepon kontak, dan jam kejadian? Ini bikin orang harus lembur!"
Nam menghentikan ketikannya dan menoleh pada Freen, mencoba menenangkan. "Sabar, Freen. Ingat, dia adalah entitas tingkat tinggi. Mungkin dia ingin kita menggunakan intuisi dan logika. Tapi aku setuju, ini sangat tidak efisien."
Freen bangkit dari sofa, berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Ia melipat tangan di dada.
"Lihat ini, Nam. Aku bisa melihat hantu, tapi arwah yang paling penting ini hanya mengirimiku pesan notepad yang tidak jelas. Aku harus kembali ke kebiasaan lamaku: menipu! Seharusnya aku bilang pada Mae Nakha, 'Hei, Mae Nakha, kalau kau mau aku bekerja untukmu, kau harus membayar dengan informasi yang jelas, bukan dengan teka-teki ala thriller murahan!'"
Tiba-tiba, Freen merasakan hawa dingin yang menusuk dari belakang telinganya—sinyal bahwa Mae Nakha sedang mengawasinya.
"Keluhanmu terdengar jelas, Freen Sarocha," Suara dingin dan elegan Mae Nakha terdengar di telinga Freen, lebih dekat dan lebih jengkel daripada sebelumnya.
Freen tersentak, tetapi ia memutuskan untuk berani. Ia membalikkan badan ke arah asal suara itu.
"Bagus kalau kau dengar, Nona Dewi!" balas Freen, tidak gentar. "Aku ini manusia, bukan cenayang bawaan lahir! Kalau aku terus-terusan browsing dengan clue tak jelas begini, kapan aku bisa dapat bayaran? Aku butuh uang untuk self-care, tahu! Mata batin itu melelahkan!"
"Kau tidak bekerja untuk uang, Gadungan. Kau bekerja untuk takdir. 'Ku Wahn' adalah rumah yang menampung sejarah masa lalu kota ini. Cari yang paling tua, yang paling diabaikan, yang paling dekat dengan kehancuran alami. Gunakan matamu. Jangan hanya menggunakan jari-jarimu di papan ketik," balas Mae Nakha, nadanya penuh otoritas yang tidak terbantahkan.
Freen merasa malu karena ketahuan mengeluh, tetapi ia menyadari satu hal: Mae Nakha memintanya menggunakan kekuatan barunya, bukan kecerdasannya sebagai peneliti.
"Gunakan mataku... oke," gumam Freen, menarik napas dalam-dalam.
Ia menutup mata sejenak, lalu membukanya, membiarkan mata batinnya melihat menembus dinding dan waktu.
Freen fokus, berusaha merasakan aura arwah atau penderitaan. Dalam sekejap, pandangannya tidak lagi hanya terpaku pada rumah Nam. Ia "melihat" citra buram kota itu di malam hari. Pandangannya tertarik pada satu titik di kejauhan, sebuah struktur besar yang diselimuti kabut kebiruan dan aura kesedihan yang pekat.
"Nam," Freen menunjuk ke arah Tenggara. "Aku bisa... merasakan sesuatu. Aura yang sangat gelap dan sangat tua. Itu pasti 'Ku Wahn' yang dimaksud."
Nam, yang melihat perubahan di wajah Freen, segera mengambil peta kota di laptop-nya.
"Di arah sana ada Kuil Wihan Thong. Di sebelahnya ada sebuah bangunan terbengkalai yang sudah kosong puluhan tahun. Rumah tua milik keluarga bangsawan yang terlilit utang!"
"Itu dia," kata Freen, matanya bersinar. "Aku bisa melihatnya sekarang. Besok, rumah itu akan runtuh. Dan aku harus ada di sana untuk mencegahnya. Cepat, Nam. Kita berangkat sekarang juga!"
Freen, dengan enggan, mulai merangkul takdirnya. Ia adalah alat, tetapi setidaknya, dia adalah alat yang punya inisiatif.
Freen dan Nam bergegas. Nam sempat protes karena ini sudah larut malam, tetapi ancaman "kehancuran besok" dari Mae Nakha membuat mereka tidak punya pilihan.
"Aku akan mengemudi," kata Freen, meraih kunci motor Nam.
"Kau di belakang, pegang senter dan handphone. Kita butuh foto dan riset lapangan."
"Bagaimana dengan arwah di sana? Kau sudah siap menghadapinya?" tanya Nam, suaranya tegang saat ia memanjat ke kursi belakang motor.
Freen mengenakan helm, ekspresinya serius.
"Aku membawa kunci master dan intuisi yang dipaksa oleh dewi arwah. Aku lebih siap daripada sebelumnya, Nam. Selain itu," Freen berbisik, "Aku yakin Mae Nakha mengawasi. Kita tidak sendirian."
Motor Nam melaju membelah malam menuju arah tenggara, melewati jalanan pinggir kota yang mulai sepi.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka tiba di dekat Kuil Wihan Thong yang tampak megah.
Tepat di sampingnya, tersembunyi di balik rerimbunan pohon besar, berdiri sebuah rumah besar bergaya kolonial tua yang kini terlihat bobrok.
"Itu dia," bisik Freen, mematikan mesin motor.
Bangunan itu sungguh sesuai dengan deskripsi Ku Wahn: rumah tua yang sangat diabaikan. Jendela-jendela banyak yang pecah, catnya terkelupas parah, dan atapnya tampak miring. Bangunan itu diselimuti aura kesuraman yang kuat, bahkan bagi Nam yang tidak bisa melihat hantu.
Freen turun, mata batinnya langsung aktif. Begitu ia menatap rumah itu, pandangannya diserbu oleh arwah-arwah yang berkerumun.
Mereka bukan arwah agresif seperti Chanya, melainkan arwah-arwah yang tampak sedih, letih, dan terikat pada rumah itu. Puluhan bayangan samar melayang di dalam dan sekitar bangunan, seolah sedang menunggu sesuatu.
"Nam, banyak sekali. Mereka semua terikat pada rumah ini," bisik Freen.
"Apa yang kau lihat?" tanya Nam, meraih lengan Freen.
"Sepertinya ini rumah keluarga besar. Arwah kakek-nenek, anak-anak, bahkan pelayan. Mereka semua sedih." Freen menghela napas. "Kita harus masuk."
Gerbang besi tua rumah itu sudah berkarat dan miring. Freen tidak kesulitan membukanya. Mereka berdua melangkah hati-hati melewati halaman yang dipenuhi rumput liar.
Saat Freen mendekati pintu utama, sebuah suara dingin terdengar di telinganya.
"Selamat datang, Freen Sarocha. Kau tidak ingin arwah-arwah ini menjadi arwah gentayangan yang terpisah dari rumah mereka, bukan? Selamatkan warisan mereka."
"Terima kasih atas motivasinya, Dewi Nakha," gerutu Freen dalam hati.
Freen menggunakan kunci masternya untuk membuka pintu depan. Udara di dalam rumah terasa berat dan dingin, berbau debu, jamur, dan sesuatu yang manis, seperti bunga kering.
Freen menyinari senter Nam ke sekeliling ruangan. Lantai kayu banyak yang keropos, perabotan ditutupi kain putih.
"Kita punya waktu sampai besok untuk mencegah kehancuran ini. Tapi bagaimana caranya mencegah rumah tua ini runtuh?" tanya Nam, sambil memotret sekeliling ruangan dengan handphone-nya.
"Mungkin kita harus mencari sesuatu yang menyebabkan kehancuran itu, Nam. Bukan cuma menghalangi waktu," Freen menunjuk ke sudut ruangan yang gelap. "Rasanya... ada yang salah di sana."
Freen berjalan mendekati dinding kayu yang tampak terkelupas. Saat senter menyorot, Freen melihat retakan besar di dinding itu, jauh lebih dalam dari retakan biasa. Dan di sekitarnya, Freen melihat arwah-arwah tua berkerumun, menatap retakan itu dengan kesedihan.
"Tidak... anak itu..." Freen mendengar bisikan rapuh dari salah satu arwah wanita tua.
Freen menempelkan telinganya ke dinding. "Aku dengar suara aneh, Nam. Bukan suara arwah. Suara... gesekan. Di balik dinding."
Nam dengan hati-hati mendekat. "Mungkin tikus, Freen. Atau rayap."
"Bukan. Ini suara gesekan logam. Dan arwah-arwah ini tampak panik dengan retakan ini."
Freen mengambil napas dalam-dalam.
"Aku harus memecah dinding ini, Nam. Aku yakin kuncinya ada di baliknya."
"Memecah dinding?! Freen, kita akan dituduh merusak properti!" panik Nam.
"Lebih baik dituduh merusak properti daripada dituduh membiarkan puluhan arwah kehilangan rumahnya dan menjadi arwah gentayangan yang mengganggu pasar! Cari batu atau kayu, Nam! Kita harus cepat!"
Misi Detektif Arwah Freen Sarocha telah meningkat: dari detektif bumbu, menjadi perampok, dan sekarang, ia menjadi perusak properti demi warisan arwah. Freen tahu, ia benar-benar sudah terseret jauh ke dalam takdir barunya.