NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dua puluh sembilan

"Sebenarnya apa yang terjadi dengan putra saya bu?" Mata langit terlihat tajam, tangannya mengelus kepala luka lembut penuh kasih.

Wanita paruh baya yang memang seorang kepala sekolah, menghembuskan nafasnya berat, wanita itu tersenyum menatap langit.

"Biasa pak, perkelahian antara anak laki-laki yang sedang tumbuh kembang,

Hanya saja kali ini perkelahian mereka terlihat sengit, luka dan yoyo biasanya selalu akur, tapi tadi guru saya melihat mereka sangat emosional.."

Langit dengan serius mendengarkan penjelasan wanita paruh baya itu, sesekali mata elang langit melirik yoyo yang sudah tenang dalam pelukan wanita muda yang ternyata salah satu guru di sekolah itu.

"Jadi penyebabnya apa buk?" Langit terlihat tak sabaran, kepala sekolah itu tersenyum, jawabannya membuat langit terdiam.

"Luka marah, karena yoyo mengatakan bahwa luka tidak punya ayah, dan entah yoyo tahu darimana kata-kata itu, anak itu bilang luka anak haram yang tidak diinginkan ayahnya"

Hati langit bagai dicubit, dekapannya di tubuh luka semakin erat, ada yang pedih menekan di ulu hatinya. Tatapan langit terlihat begitu sendu.

"Dan luka mengamuk sejadinya, pak. Cukup sulit bagi kami tadi menenangkan luka, padahal biasanya luka itu, walau dia adalah anak yang sangat aktif, tapi luka sangat sopan dan terlihat dewasa, saya pribadi tadi cukup terkejut, melihat bagaimana emosionalnya luka" jelas kepala sekolah itu hati-hati.

Langit diam, ia tak tahu apa yang harus ia katakan, langit memahami perasaan luka, sangat memahami, karena ia pernah merasakan apa yang luka rasakan saat ini.

"Boleh saya bertanya sesuatu pak?, dan ini sedikit sensitif"

Wanita paruh baya itu bertanya hati-hati. Langit mengernyitkan keningnya, wajah kepala sekolah itu menunjukkan betapa sensitifnya hal yang ingin ia tanyakan. Langit mengangguk,

"Silahkan bu!"

"Apakah bapak dan ibu alia, tinggal terpisah?, maaf pak, saya tahu ini sedikit tidak sopan, tapi sudah hampir 1 semester luka bersekolah di sini, baru kali ini luka memberikan nomor ponsel ayahnya kepada kami" mata tua wanita itu terlihat mengayomi, tidak ada penghakiman dari mata itu.

"Bisakah kita bicara berdua saja bu" pinta langit tenang,

"Saya tidak ingin, jawaban saya ini terdengar oleh putra saya"

Ibu kepala sekolah itu paham, dengan segera wanita itu meminta guru kelas luka dan guru yang memeluk yoyo, untuk kembali ke dalam kelas kembali, dan membawa 2 bocah laki-laki itu.

"Ayah, tunggu luka sampai pulang, sekarang luka ikut ibu guru dulu yah nak" langit membisikkan ke luka yang mengangguk patuh. Bocah 5 tahun itu sebelum pergi, memeluk ayahnya erat, tangan kekar langit mengelus kepala putranya lembut.

"Tungguin luka, yah ayah" pinta luka dengan raut wajah polosnya yang terlihat bahagia. Langit menjawab dan mengangguk mantap.

"Iya sayang"

Mata langit masih mengiringi kepergian putranya, sampai pintu ruang kepala sekolah itu menutup.

"Saya dan bundanya luka, memang tinggal terpisah bu"

Langit membuka penjelasannya, kini mata elang itu menatap wanita paruh baya yang menurut langit adalah seorang wanita yang baik dan bijaksana.

"Saya dan alia, tidak pernah menikah"

Mata elang langit terlihat sendu, sementara kepala sekolah itu hanya diam mendengarkan, tidak ada penghakiman, tidak ada keterkejutan, wanita itu sangat tenang.

"Saya baru tahu, kalau luka adalah putra saya. Saya ini manusia bejad bu, luka lahir karena kejahatan yang saya lakukan pada ibunya, saya jahat bu, saya masih bersyukur, alia tidak merahasiakan ini dari saya...."

Langit terdiam sesaat, menghembuskan nafasnya yang tiba-tiba sesak. Kembali menatap wajah bijaksana ibu kepala sekolah luka, dan berkata.

"Jadi rasanya sangat tidak mungkin untuk saya bisa tinggal bersama mereka"

Mata langit terlihat semakin sendu, senyum wanita paruh baya itu terlihat teduh, sorot matanya terlihat begitu menenangkan.

"Kalau begitu, saya memahami mengapa luka terlihat begitu dewasa sebelum waktunya pak. Tapi tadi, perkelahiannya membuat saya senang, karena luka menunjukkan sisi kekanak-kanakannya. Setelah luka menyadari ada ayah yang akan mendukungnya, ia mengeluarkan jiwa kanak-kanaknya itu. Selama ini, walau beberapa temannya mengejek, luka terlihat tidak perduli, dan itu membuat saya sangat khawatir untuk perkembangan mentalnya,

luka seakan di tuntut oleh dirinya sendiri untuk kuat dan selalu bisa di banggakan oleh bundanya. Dan bapak tahu, itu bukan sikap seorang anak kecil" jelas wanita itu tenang, matanya menelisik ke arah langit yang tertunduk.

"Maaf pak, kalau saya terdengar menggurui, bisakah bapak berusaha demi luka, demi perkembangan mental dan emosinya,

Bisakah, bapak mencoba untuk berdamai dengan ibunya luka?"

"Berdamai? Maksudnya.., apakah, apakah saya harus tinggal bersama mereka?" Mata langit terlihat penuh tanya, kerutan di keningnya terlihat ingin tahu.

Kepala sekolah itu, mengangguk mantap.

"Iya pak"

#######

Langit masih melamun, benaknya di penuhi oleh saran dari kepala sekolah luka, sebenarnya tanpa disarankan pun, langit sangat ingin meraih hati alia, hanya ia tak tahu bagaimana caranya.

"Ayah..." panggil luka menyadarkan langit dari lamunannya yang semrawut.

Wajahnya menoleh ke arah putranya yang sedang menikmati eskrim, langit tersenyum dan senyum itu terlihat indah, wajah putranya, kebersamaan mereka, sungguh membuat hati langit bahagia.

Tiba-tiba luka menjatuhkan es krimnya, putranya itu terlihat kesulitan bernafas, langit terkejut luar biasa, dengan gerakan refleks ia memeluk putranya, jatungnya berdetak lebih kencang, wajah langit memias.

"Luka...luka...nak" panggil langit setengah berteriak, bocah 5 tahun itu memegangi lehernya, bola matanya terlihat terbalik.

Tanpa berpikir panjang, ia membopong tubuh luka dan berlari menuju sebuah taksi yang baru saja berhenti di depan pusat perbelanjaan tempat langit dan luka saat ini.

Kepanikan yang melandanya, membuat langit tak mampu berpikir jernih, ia naik ke taksi, meminta supir mengantarnya ke rumah sakit, dan meninggalkan mobilnya.

Langit berlari kencang, membopong tubuh putranya panik, teriakannya membahana di ruang UGD.

"Tolooong...tolong anak saya"

Beberapa tenaga medis berlari menyambut langit, menyambut tubuh luka yang mulai terlihat lemah.

Langit ikut berlari, wajah tegangnya terlihat sangat kalut, matanya yang berkabut. Langit benar-benar ketakutan.

Langit mondar-mandir di depan ruang ugd tempat luka sedang di tangani, kedua tangannya yang terkait terlihat saling meremas. Langit benar-benar ketakutan, apa sebenarnya yang terjadi, sungguh langit tidak tahu. Benaknya saat ini sedang memutar kejadian tadi, apakah eskrim yang di makan luka sudah kadaluarsa.

Langit tiba-tiba tersadar, ia harus mengabari alia. Dengan tangan gemetaran langit mengetikkan pesan kepada alia untuk datang ke rumah sakit yang alamatnya sudah langit share.

Tak butuh waktu lama, belum selesai luka mendapat penanganan di dalam ruang ugd, terlihat alia berlari di koridor menuju ke arah langit, dengan wajah yang memias dan air mata yang telah berderai.

"Ada apa langit?, apa yang terjadi dengan luka?, mana anakku?" Cecaran pertanyaan dari alia yang merenggut kasar kemejanya, tak mampu langit jawab, tangisan alia terdengar memilukan.

"Apa yang kau lakukan pada anakku" teriak alia memukul-mukul dada bidang langit yang hanya terdiam, berdiri memaku dengan rasa bersalah.

Langit diam, pukulan alia di dadanya mulai terasa pelan, langit meraih kedua tangan itu. Air mata wanita di hadapannya ini tak berhenti mengalir, ingin rasanya langit memeluk tubuh yang terlihat gemetaran itu, namun ia takut.

Tiba-tiba pintu tempat luka ditangani itu terbuka, reflek alia dan langit berlari mengejar seorang dokter yang berjalan ke arah mereka.

"Bagaimana dok? Apa yang terjadi dengan anak saya?" Cecar langit tak sabar.

Alia menoleh sekejab menatap mata langit yang terlihat sangat khawatir dan ketakutan, namun ia kembali menatap dokter yang terlihat tersenyum lembut itu.

"Apakah putra bapak memiliki alergi?" Tanya dokter pria berkaca mata itu lembut, namun matanya menatap penuh tanya.

"Alergi?" alia mengerutkan keningnya, tak percaya.

"Anak saya alergi kacang dok"

"Ya bu, tubuh putra ibu tadi terkejut, dan kami menemukan butiran pecahan kacang pada saluran pernafasannya, untungnya tadi ayahnya cepat membawa kemari, jadi kami cepat menanganinya.."

Mata alia melirik langit tajam, rasa amarah yang saat ini menyelimutinya, rasanya ingin alia luapkan dengan makian, namun dokter dihadapannya ini membuat alia menahannya.

"Seharusnya alergi pada putra bapak dan ibu, harus diperhatikan dengan baik, dan diberitahukan kepada putranya, agar anak itu paham dan tahu hal-hal yang tidak bisa dia konsumsi" jelas dokter itu ramah.

"Sekarang, putra bapak dan ibu sedang di infus, begitu infusnya habis, karena alerginya tidak begitu parah, ibu dan bapak boleh bawa pulang" tutup dokter itu sebelum meninggalkan langit dan alia yang masih berdiri terpaku.

Alia membalikkan tubuhnya menghadap langit yang berdiri lesu.

"Apa yang kamu berikan ke luka?" Tanya alia dengan suara sedikit tinggi, langit tergeragap.

"Aku..aku...membelikannya eskrim tadi.." langit menjawab gugup.

Hembusan nafas alia terdengar berat, ia ingin marah, tapi juga ia tak boleh memarahi pria di hadapannya ini, yang tidak tahu jika luka memiliki riwayat alergi, yang berdiri lesu dengan raut wajahnya yang merasa bersalah.

"Luka itu alergi kacang, tolong jangan sembarangan membelikan makanan untuknya"

"Maaf alia, aku tak tahu" mata elang itu memohon penuh harap, rasa bersalah menyelimuti wajahnya.

"Padahal, aku sendiri alergi kacang, bagaimana bisa aku  tidak tahu" keluhnya kesal, merutuki ketidaktahuannya.

Alia mengamati wajah tampan dihadapannya yang terlihat begitu merasa bersalah, mata pria itu terlihat ketakutan.

"Sudahlah..lagian kamukan tidak tahu" sahut alia pelan, berjalan meninggalkan langit yang menatap kepergian alia dengan wajah bersalah namun penuh terima kasih.

"Kamu nggak ikut?" alia menoleh heran, melihat pria itu masih berdiri tidak mengikutinya ke ruang rawat luka.

"Ikut.." jawab langit singkat menganggukan kepalanya, mengikuti langkah alia. Senyum manis kembali terlihat mengembang indah di wajahnya yang masih terlihat kalut.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!