NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tiga puluh lima

Alia merasa pasti ada sesuatu yang terjadi dengan langit, sudah 2 hari pria itu tidak bekerja dan sudah 2 hari juga langit tidak datang ke rumahnya, bukan..., bukan karena alia merindukannya, namun rasa khawatir tentang pria itu menghantuinya.

Hatinya sangat was- was, ia takut terjadi sesuatu pada langit, kemarahan bara masih segar dalam ingatan alia, bagaimana pria itu ingin menghajar langit habis-habisan. Belum lagi rengekan luka yang sibuk menanyakan keberadaan langit, kerinduan putranya itu pada langit membuatnya gelisah.

Alia meraih ponselnya yang terletak di atas meja, perlahan jemarinya menggulir layar ponsel, matanya terhenti di aplikasi pesan berwarna hijau berlambang telepon itu.

Ia membuka room chat dengan langit, tangannya sudah mengetikkan pesan, namun akhirnya ia menghapus pesan itu kembali. Alia mengurungkan niatnya, ada rasa malu menyelusup ke dalam hatinya.

"Ah sudahlah.., dia juga bukan anak-anak, tentu dia bisa menjaga dirinya"  gumam alia pelan, meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.

########

Alia membuka pintu rumahnya lesu, kakinya melangkah malas, pikirannya selalu tertuju ke langit, entah mengapa rasa resah ini sudah 2 hari tak mampu alia tepiskan.

"Assalamualaikum.." terdengar salam dari luar, menyadarkan alia yang melamun.

Alia menjawab dan memutar tubuhnya kembali melangkah ke ruang tamu, mbak susi terlihat menjinjing tas sekolah luka, dan menuntun tangan bocah itu yang terlihat lesu.

"Bu alia, sepertinya luka sakit yah, seharian ini nggak mau makan" lapor mbak susi sembari menyerahkan tas sekolah luka kepadanya.

 Wajah alia terlihat mengangguk lesu, berbarengan mereka menatap luka yang berjalan gontai menuju kamarnya.

"Makasih yah mbak, nanti sepertinya saya akan bawa luka berobat deh" jawab alia singkat, kepalanya mengangguk sopan ketika pengasuh luka itu pamit ijin pulang.

Alia ingin mengejar putranya yang telah masuk kamar, tangannya ingin menutup pintu, tiba-tiba sesosok tubuh berdiri di hadapan alia, tepat di ambang pintu. Alia memekik kaget, namun dengan cepat ia mengatupkan bibirnya ketika melihat ternyata langit yang berdiri dihadapannya.

"Alia, boleh aku masuk?" Langit meminta ijin, menatap alia penuh harap.

Karena matahari sore berada di belakang langit, wajah pria itu tidak jelas. alia menggeser tubuhnya, memberi langit jalan untuk masuk.

Langit melangkah masuk, menuju sofa. Pria itu mendudukkan tubuh besarnya dengan tenang, wajahnya yang lebam tersenyum lembut menatap alia.

Alia terkejut, matanya membelalak melihat wajah langit penuh bekas luka dan lebam kebiruan, sontak ia berjalan menghampiri langit, berdiri tepat di hadapan pria itu mendongakkan wajah tampan langit yang terkejut.

Alia mengamati wajah langit yang lebam, tangannya memegangi wajah langit, mata alia terlihat penasaran. Pria itu tersentak, reaksi alia sungguh diluar ekspektasinya, wajah khawatir alia, tangan alia yang memegangi wajahnya, sungguh membuat langit tak mampu berkata-kata.

Hatinya menghangat, jika ingin menuruti isi hatinya saat ini, ingin rasanya langit memeluk tubuh mungil yang berdiri khawatir di hadapannya ini.

"Apa yang terjadi denganmu?"

Suara Alia meninggi, kedua tangannya memegangi wajah langit. Tanpa ia sadari posisi wajah mereka kini berhadapan sangat dekat, sangking dekatnya, nafas langit terasa hangat berhembus di kulit wajahnya.

Alia tersentak sadar, ia menarik tangannya cepat dan melangkah menjauhi langit, duduk di sofa single yang ada di sebelah langit. Wajah putihnya merona merah, ada rasa malu menyergapnya saat ini.

Langit menyadari kalau alia sedang salah tingkah, ia bahagia, namun langit tidak ingin menunjukkannya, ia tak mau alia semakin malu.

"Bara menghadiahiku bogem mentah, heheheh" tawa langit terasa lepas, pria itu meringis kesakitan, luka yang ada di bibirnya merekah kembali karena tawa lebarnya.

"Bisa-bisanya kamu tertawa" gerutu alia, namun matanya tetap mengamati langit yang terlihat sedikit berbeda, pria di hadapannya ini terlihat lebih lepas, dan mata abu-abunya tidak lagi kosong dan sedih, mata itu terlihat sangat hangat.

"Luka mana?, aku kangen bocah itu?"

"Ayah...." tiba-tiba saja luka keluar dari kamarnya berlari ke arah pelukan langit yang mengembang.

"Aduh..."

Ringis langit dengan wajah kesakitan, namun terlihat bahagia, alia menatap khawatir namun ia membiarkan kedua pria beda usia itu saling melepas rindu.

"Ayah kenapa?, wajah ayah banyak lukanya?"

 Tangan mungil itu memegangi wajah langit khawatir, kepalanya sampai miring ke kanan dan ke kiri hanya ingin melihat kondisi langit, perlakuan luka persis seperti alia.

 Langit tersenyum bahagia, lagi-lagi hatinya menghangat. Ingin rasanya ia memiliki luka dan alia seutuhnya. Dan ia akan mengusahakannya, bagaimanapun caranya ia akan memohon maaf alia, kalau perlu ia akan bersujud agar wanita itu mau mengampuninya.

"Luka, biarkan ayah duduk tenang nak" tegur alia mengingatkan putranya yang terlihat penasaran di dalam pelukan langit, luka menoleh dan mengangguk patuh.

"Iya bunda.."

"Nggak apa-apa, alia" sahut langit lembut, ia tetap memeluk putranya hangat.

Alia tersenyum menatap kehangatan itu, kakinya beranjak pergi, ia ingin membuatkan teh untuk langit.

"Aku buatin teh yah"

Langit mengangguk dengan senyum yang mengembang indah di wajah tampannya yang penuh luka.

Alia berdiri di pintu kamar luka, mengamati langit yang meletakkan tubuh mungil putranya yang tertidur.

"Aku ingin bicara, langit"

Alia menahan langit yang hendak berlalu dari hadapannya, langit menoleh dan mengangguk pelan.

"Aku juga, tapi jangan di sini, nanti luka terbangun"

Alia melangkahkan kakinya menuju ke meja makan, ternyata di atas meja makan, alia sudah menghidangkan makan malam. Mata langit membesar indah, baru kali ini alia menawarinya makan di rumah ini, hati langit menghangat lagi.

"Kita bicara sambil makan, kamu belum makan malamkan?"

"Belum.." geleng langit, menarik kursi dan duduk dengan tenang.

"Silahkan.."

Alia menyerahkan sebuah piring ke hadapan langit yang mengangguk, mata pria itu mengitari meja kebingungan. Alia pun menyadari bahwa pria itu membutuhkan pertolongannya, dengan cekatan tangan alia menyendokkan nasi ke piring langit, meletakkan sepotong ayam goreng dan mengisi mangkuk sayurnya dengan sayur sop.

"Silahkan.." perintah alia mengulurkan sendok ke tangan langit yang menyambutnya.

"Terima kasih, alia" senyumnya mengembang indah, dan alia hanya mengangguk.

"Maafkan aku langit, karenaku kamu jadi babak belur seperti ini" suara lirih alia terdengar parau, matanya menatap langit dengan tatapan penuh rasa bersalah.

"Aku tak tahu, kalau bara akan menghajarmu seperti ini"

Langit menggeleng cepat,

"Tidak alia, ini bukan salahmu, kenapa kamu yang minta maaf"

"Tapi lang—"

"Alia.." panggil langit lembut menyela ucapan alia, mata abu-abu itu menatapnya lembut.

"Aku berterima kasih padamu, karena kejujuranmu pada bara membuat hubunganku dengannya sekarang membaik, hubungan kami yang bagaikan di atas bara api menjadi lebih baik, itu semua karena kamu..benar alia, itu karena kamu" kepala langit mengangguk meyakinkan alia yang terlihat ragu dan tidak percaya.

"Bara juga menyadari, kalau aku mencintaimu..."

Alia tersentak terkejut, matanya membola menatap langit yang menatapnya sendu, ia menemukan kejujuran di mata itu. Jantung alia berdebar lebih kencang, mulutnya masih menganga tak percaya.

"Aku tahu, kamu akan terkejut mendengar ini, dan aku tahu betapa tidak tahu malunya aku mengakui ini di hadapanmu, aku tahu kamu pasti sedang menyumpahi aku saat ini, tapi alia, inilah yang sebenarnya.." tutur langit lugas dan tenang, netranya masih mengamati reaksi alia yang ternyata tidak seperti yang ia bayangkan.

Dalam benaknya, alia akan mengamuk dan melemparinya, namun perempuan itu hanya diam dan duduk dengan tenang.

"Aku tahu aku ini manusia yang tidak sadar diri dan tak tahu malu, pria brengsek yang tak punya otak, pria sampah yang merusak hidupmu, tapi kumohon alia, ijinkan aku menjagamu dan luka, ijinkan aku mencintaimu...walau..walau..aku tak berani berharap, kamu akan membalas rasa ini" gugup langit menutup penjelasannya, diamnya alia membuat langit semakin merasa bersalah dan tak berarti.

"Ehem.." alia berdehem, menetralkan suaranya yang tercekat, netranya mengamati pria yang tertunduk di hadapannya itu.

"Langit.." panggil alia lembut, pria itu menoleh wajahnya masih terlihat sendu.

"Aku tak bisa menjanjikan apapun padamu, trauma yang kamu torehkan dalam hidupku, aku masih berjuang untuk keluar darinya. Aku tidak tahu, apakah aku bisa melupakan trauma itu atau tidak, atau apakah aku bisa memaafkan semua kesalahanmu atau tidak, sungguh aku tak tahu. Tapi kalau kamu mau melindungi aku dan luka, bukankah itu kewajibanmu?"

Mata langit membesar sempurna, binar indah terlihat dari mata abu-abu itu, walau alia tidak memberikan jawaban pasti, namun hatinya menghangat, setitik harapan berdebar indah di hatinya yang saat ini berdegub tak menentu.

Bersambung...

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
laki najis
Wang Feixi
alasan modus buat deketin alia cihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!