Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Terbongkar
Koridor di balik backdrop panggung itu kembali sunyi setelah Genta melangkah keluar menuju sorot lampu. Rara masih berdiri mematung di sana, punggungnya bersandar pada tiang besi penyangga layar raksasa yang dingin. Napasnya masih terasa pendek. Sensasi getaran hebat dari tubuh Genta saat ia memasangkan clip-on tadi seolah-olah masih merambat di ujung jari-jarinya, meninggalkan rasa panas yang aneh.
"Jangan lihat... kumohon."
Suara pecah Genta terus terngiang di telinganya. Rara memejamkan mata sesaat. Bagaimana mungkin pria yang beberapa menit lalu begitu angkuh dan dingin, tiba-tiba memohon dengan nada sehancur itu?
Rara mencoba mengatur detak jantungnya. Ia harus segera kembali ke pos logistik. Kania pasti akan mencarinya jika ia terlalu lama menghilang. Namun, saat Rara berbalik untuk keluar dari lorong sempit itu, langkahnya terhenti. Di atas meja rias darurat yang dipenuhi tumpukan tisu dan botol air mineral, sebuah benda tergeletak begitu saja.
Itu adalah ponsel pintar dengan casing hitam polos. Genta pasti meninggalkannya di sana karena tidak mungkin membawanya ke atas panggung saat berpidato.
Rara seharusnya tidak lancang. Ia tahu itu. Namun, sebuah benda kecil yang tergantung di sudut ponsel itu seolah memiliki daya magnet yang menarik matanya secara paksa. Sebuah gantungan kunci silikon berbentuk bulat, berwarna biru cerah dengan mahkota emas kecil di atasnya.
Slime Blue. Edisi terbatas Event 'The Great Frost'.
Rara mendekat, matanya menyipit untuk memastikan penglihatannya tidak menipunya. Ia mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. Di bawah cahaya remang-remang, ia melihat bekas goresan kecil di bagian mata sebelah kanan karakter itu. Goresan yang sama persis dengan yang ia buat secara tidak sengaja saat ia membungkus hadiah itu satu tahun yang lalu.
Ingatan Rara tersedot kembali ke sebuah malam di bulan Desember, setahun yang lalu. Kamar kosnya saat itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Ia baru saja memenangkan event besar di Fantasy World dan mendapatkan salah satu dari sepuluh merchandise fisik eksklusif yang dikirim langsung dari pengembang game.
Ia ingat betapa ia sangat ingin memberikan benda itu kepada Paladin_Z.
"Ini jimat keberuntungan buat kamu, Paladin. Biar darahmu nggak cepat habis kalau kita lawan Boss naga lagi," tulis Rara di kolom chat malam itu.
"Ra, ini berlebihan. Kamu yang menang, kamu yang harus simpan," balas Paladin_Z.
"Nggak mau. Aku mau kamu yang simpan. Kalau kamu pegang ini, aku merasa tenang karena ksatria pelindungku nggak bakal kalah."
Rara ingat bagaimana ia meminta alamat PO Box di Jakarta Pusat agar identitas Paladin tetap rahasia. Ia mengirimkannya dengan penuh suka cita, membayangkan sosok ksatria tangguh yang mungkin akan tersenyum saat menerima paket kecil itu. Sejak hari itu, Paladin sering mengiriminya foto siluet gantungan kunci itu setiap kali mereka akan memulai misi sulit, sebagai tanda bahwa "jimat" itu sedang bekerja.
Dan sekarang, jimat itu ada di tangannya. Di belakang panggung kampus, menempel pada ponsel milik Genta Erlangga, si Pangeran Es yang paling ia benci.
Lutut Rara terasa lemas, memaksa ia untuk duduk di kursi rias yang reyot. Pikirannya bekerja seperti mesin yang dipacu melampaui batas.
Genta... tangan yang bergetar hebat. Paladin_Z... kecemasan sosial yang akut. Genta... aroma citrus dan kayu cendana. Paladin_Z... pria yang selalu bilang dia ingin punya armor perak di dunia nyata agar tidak ada yang bisa melihat ketakutannya.
"Nggak mungkin..." bisik Rara, suaranya hilang ditelan suara MC di aula yang sedang membacakan profil Genta. "Ini benar-benar gila."
Selama dua tahun ini, ia menganggap Paladin_Z sebagai satu-satunya tempat ia bisa menjadi dirinya sendiri. Ia memuja kelembutan pria itu, kejujurannya tentang kelemahan, dan dukungannya yang tak henti-henti. Sementara itu, ia menghabiskan waktu di kampus dengan mengumpat setiap kali melihat poster Genta.
Ironinya begitu tajam hingga terasa perih. Orang yang paling ia kagumi dan orang yang paling ia benci ternyata adalah satu jiwa yang sama, hanya dipisahkan oleh topeng jas almamater dan layar monitor.
Rara menatap ke arah celah tirai panggung. Di kejauhan, ia melihat Genta sudah berdiri di podium. Dari sudut ini, Genta nampak seperti raksasa yang tak tergoyahkan. Bahunya tegak, wajahnya kaku, dan tatapannya lurus ke depan.
Tapi sekarang, Rara melihat lebih dari itu. Ia tidak lagi melihat "Presma yang Sempurna". Ia melihat seorang pria yang sedang menahan napasnya sekuat tenaga agar tidak pingsan. Ia melihat "Puppy" kesayangannya di game yang sedang dikepung oleh ribuan naga dalam wujud mahasiswa baru.
Rara merasakan sebuah tawa hambar muncul di tenggorokannya. Rasa kesal, benci, dan iba bercampur menjadi satu adonan yang membingungkan.
Si Pangeran Es ini... ternyata cuma ksatria penakut yang butuh healer setiap malam, batinnya.
Rara meletakkan kembali ponsel Genta di meja rias dengan tangan yang lebih stabil. Ia berdiri, merapikan kaos logistiknya yang penuh debu, lalu berjalan mendekat ke sisi panggung. Ia berdiri di sana, tersembunyi di balik kegelapan tirai, mengamati Genta yang kini mulai membuka mulutnya untuk menyapa audiens.
"Selamat pagi... rekan-rekan mahasiswa." suara Genta terdengar melalui speaker besar, berat namun ada sedikit jeda yang tidak wajar di sana.
Rara menyadari sesuatu. Suara itu bergetar. Tipis sekali, mungkin hanya orang yang sudah mendengarkan curhatannya selama ratusan jam di voice chat yang bisa menyadarinya. Genta sedang mengalami mental block. Dia sedang tenggelam di atas podium itu.
Rara menggigit bibir bawahnya. Perasaan benci yang tadi pagi ia rasakan menguap entah ke mana, digantikan oleh rasa tanggung jawab yang mendesak.
"Paladin..." gumamnya pelan, hampir tak terdengar.
Ia tahu Genta tidak bisa mendengarnya. Tapi ia tahu satu hal: Genta sedang menunggunya. Genta sedang menunggu healer-nya untuk memberikan buff agar dia bisa bertahan hidup dalam pertempuran paling menakutkan di hidupnya, pidato pembukaan ini.
Rara mengepalkan tangannya. Ia tidak akan membiarkan Genta hancur di depan semua orang. Bukan karena ia peduli pada citra Presma, tapi karena ia tidak akan membiarkan Paladin-nya mati di tengah misi.
Di atas panggung, Genta terdiam. Keheningan mulai menyelimuti aula. Detik-detik kegagalan sudah di depan mata. Rara menarik napas panjang, bersiap untuk melakukan sesuatu yang mungkin akan mengubah hubungan mereka selamanya.