NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:11.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: RETAKAN DI BALIK KRISTAL

​Malam itu, kantor pribadi Arkano di lantai teratas Dirgantara Tower tampak seperti akuarium raksasa yang dingin. Cahaya lampu kota Jakarta yang berkelap-kelip di bawah sana tidak mampu menghangatkan suasana di dalam ruangan. Arkano duduk di balik meja mahagoni besarnya, menatap sebuah tablet yang menyala. Di layarnya, terpampang foto seorang gadis muda dengan seragam taruna kepolisian yang kaku, rambutnya diikat rapi, dan matanya memancarkan idealisme yang belum ternoda.

​Gadis itu adalah Alana. Namun, nama yang tertera di sana bukan hanya Alana, melainkan Unit Likuidasi Khusus – Kode Nightingale.

​Arkano menyesap wiskinya, membiarkan cairan panas itu membakar tenggorokannya. Hatinya terasa seperti diremas. Di satu sisi, ia sangat memuja wanita yang kini tidur di kamar sebelah, wanita yang baru saja ia beri kuasa atas separuh kekaisarannya. Namun di sisi lain, darah mafianya berteriak waspada.

​"Nightingale..." gumam Arkano dengan suara serak. "Kau dikirim bukan hanya untuk mengintai, bukan? Kau dididik untuk melenyapkan target."

​Pintu kantor terbuka pelan. Alana masuk dengan mengenakan gaun tidur sutra putih tipis, kontras dengan kegelapan ruangan itu. Wajahnya tampak segar, namun ada gurat kelelahan setelah seharian membedah data intelijen klan yang baru saja ia kuasai.

​"Belum tidur, Arkano?" tanya Alana lembut. Ia berjalan mendekat, meletakkan tangannya di bahu Arkano yang tegap.

​Arkano dengan cepat mematikan layar tabletnya dan meletakkannya terbalik. Ia menarik Alana ke pangkuannya, melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya dengan kekuatan yang sedikit lebih menekan dari biasanya. "Aku hanya sedang memikirkan betapa beruntungnya aku memilikimu, Alana. Atau... betapa berbahayanya kau bagiku."

​Alana mengerutkan kening, mencoba mencari arti di balik tatapan gelap suaminya. "Kenapa kau bicara begitu? Bukankah kita sudah melewati badai di pulau itu bersama-sama?"

​Arkano mencium leher Alana, menghirup aroma vanila yang menenangkan dari kulit istrinya. "Benar. Tapi terkadang, badai yang paling menghancurkan adalah badai yang datang dari dalam rumah sendiri."

​Alana terdiam. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang berubah dari nada suara Arkano. Ada keraguan yang disembunyikan di balik kemesraan pria itu. Namun, sebelum Alana sempat bertanya lebih lanjut, Arkano sudah membungkam bibirnya dengan ciuman yang menuntut—sebuah ciuman yang terasa seperti sebuah klaim kepemilikan yang putus asa.

​Keesokan paginya, Alana tidak membiarkan keraguan Arkano menghambat misinya. Dengan otoritas sebagai pemegang kuasa divisi intelijen, ia memanggil Marco ke ruang kerja pribadinya.

​"Marco, aku butuh kau melacak aliran dana keluar dari rekening pribadi Hendrawan dalam tiga jam terakhir," perintah Alana tegas. Ia duduk di kursi kebesarannya, menatap deretan layar monitor yang menampilkan matriks data.

​Marco ragu sejenak. "Nyonya, Tuan Arkano memberikan perintah agar setiap pergerakan intelijen harus dilaporkan kepadanya terlebih dahulu."

​Alana menatap Marco dengan mata yang tajam, sorot mata yang biasa ia gunakan saat menginterogasi tersangka di masa lalunya. "Tuanmu memberiku otoritas ini untuk bekerja, bukan untuk menjadi pajangan. Lakukan sekarang, atau kau yang akan menjelaskan padaku kenapa perintah 'Nyonya Besar' diabaikan."

​Marco tertegun. Ketegasan Alana mengingatkannya pada Arkano. Akhirnya, pria itu mengangguk patuh. "Baik, Nyonya. Saya akan segera memprosesnya."

​Beberapa jam kemudian, Alana menemukan apa yang ia cari. Hendrawan tidak melarikan diri ke luar negeri; ia justru sedang mengumpulkan kekuatan di sebuah pangkalan logistik tua milik kepolisian di pinggiran Bogor. Dan yang lebih mengejutkan, Hendrawan sedang menyebarkan fitnah melalui situs-situs berita bawah tanah tentang "Agen Ganda yang Menghianati Negara demi Ranjang Mafia".

​Alana meremas sandaran kursinya. "Dia ingin menghancurkan reputasiku agar aku tidak punya jalan kembali ke dunia lama, sekaligus membuat Arkano meragukanku."

​Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di ponselnya. Itu adalah pesan anonim dengan lampiran foto. Alana membukanya, dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu adalah foto Arkano semalam, sedang menatap dokumen Unit Nightingale miliknya.

​"Dia sudah tahu," bisik Alana pucat. "Hendrawan sengaja membocorkan arsip itu pada Arkano agar Arkano membunuhku."

​Di sisi lain gedung, Arkano berdiri di depan jendela kaca besar, mengamati aktivitas Alana melalui kamera tersembunyi di ruang kerja istrinya. Ia melihat Alana yang tampak panik setelah melihat ponselnya.

​"Kenapa kau tidak jujur padaku, Alana?" bisik Arkano pada udara kosong.

​Ponsel Arkano berbunyi. Panggilan dari nomor yang tidak dikenal.

​"Halo, Arkano Dirgantara," suara serak Hendrawan terdengar di seberang sana. "Bagaimana rasanya tidur dengan malaikat maut di sampingmu? Apa kau sudah melihat arsip Nightingale? Dia tidak dikirim untuk mencintaimu, Arkano. Dia dikirim untuk memenggal kepalamu saat kau sedang lengah."

​Arkano menggenggam ponselnya hingga retak. "Kau pikir aku akan percaya pada tikus sepertimu, Hendrawan?"

​"Percaya atau tidak, itu terserah kau. Tapi coba tanyakan padanya, apa yang ada di dalam liontin kalung yang dia pakai setiap hari. Itu bukan sekadar perhiasan, Arkano. Itu adalah alat pemancar sinyal yang terus mengirimkan lokasimu ke satelitku," tawa Hendrawan meledak sebelum mematikan sambungan telepon.

​Arkano terdiam. Ia ingat kalung safir yang ia berikan pada Alana di markas Sektor 9. Apakah Alana sudah menukarnya? Atau apakah Hendrawan memang secerdik itu menanamkan sesuatu di sana?

​Amarah dan kecemburuan buta mulai menguasai akal sehat Arkano. Ia berjalan menuju ruang kerja Alana dengan langkah yang menggelegar. Para pengawal di koridor segera menyingkir saat melihat aura membunuh terpancar dari wajah sang pemimpin klan.

​Alana sedang bersiap untuk pergi secara diam-diam menuju pangkalan Hendrawan saat pintu ruangannya didobrak terbuka. Arkano berdiri di sana, matanya merah karena emosi.

​"Mau ke mana, Alana?" tanya Arkano dengan suara yang sangat rendah namun mengancam.

​Alana tersentak. "Arkano, aku bisa jelaskan. Aku harus menyelesaikan urusan dengan Hendrawan sebelum—"

​"Sebelum kau mengirimkan koordinat gedung ini padanya?" Arkano melangkah maju, memojokkan Alana ke meja kerja. Ia meraih leher Alana dengan tangan kirinya, bukan untuk mencekik, melainkan untuk mencengkeram kalung safir yang melingkar di sana.

​"Lepaskan kalung ini!" perintah Arkano.

​"Arkano, kau menyakitiku!" Alana mencoba melepaskan tangan Arkano.

​Dengan satu sentakan kasar, Arkano memutuskan kalung mahal itu. Ia melemparkannya ke lantai dan menginjaknya hingga pecah. Di balik pecahan berlian dan emas itu, terlihat sebuah microchip kecil berwarna hitam.

​Dunia seolah runtuh bagi Alana. "Aku... aku tidak tahu itu ada di sana, Arkano! Sumpah!"

​Arkano menatap chip itu, lalu menatap Alana dengan pandangan yang penuh luka dan pengkhianatan. "Hendrawan mengirimmu bukan untuk menjadi istriku. Dia mengirimmu untuk menjadi penanda kematianku. Dan kau membiarkannya memakainya setiap hari di lehermu?"

​"Arkano, dengarkan aku! Hendrawan menjebakku! Dia ingin kau meragukanku agar kita saling menghancurkan!" Alana memegang lengan Arkano, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku mencintaimu, Arkano! Masa laluku sebagai Nightingale sudah mati saat aku memilihmu di dermaga itu!"

​Arkano menarik napas panjang, mencoba menahan diri agar tidak meledak. Ia melepaskan tangan Alana dengan kasar. "Mulai detik ini, kau dilarang meninggalkan gedung ini. Kau adalah tahananku, Alana Dirgantara. Bukan sebagai istri, tapi sebagai pengkhianat yang belum kuputuskan hukumannya."

​"Arkano, jangan lakukan ini! Hendrawan sedang tertawa melihat kita sekarang!" teriak Alana saat Arkano berbalik pergi dan memerintahkan Marco untuk mengunci pintu dari luar.

​Alana jatuh terduduk di lantai, meratapi pecahan kalung yang tadinya adalah simbol cinta Arkano. Ia menyadari bahwa Hendrawan telah berhasil. Benih kecurigaan telah tumbuh menjadi tembok raksasa yang memisahkan mereka. Di sisi lain pintu, Arkano menyandarkan kepalanya di dinding, air mata pria yang dikenal kejam itu jatuh untuk pertama kalinya. Ia sangat mencintai Alana, tapi ia tidak tahu apakah ia sedang memeluk peluru yang siap menembus jantungnya.

1
Leebit
hehehe..
makasih ya udah mampir, semoga betah ya😁
Gheya Giyani
ikut deg deg kan kak
Siti Patimah
semoga badai cepat berlalu, dan kalian bisa hidup bahagia
Leebit
terima kasih😍
Diana
😍
Murni Dewita
👣👣
Murni Dewita: sama-sama thor
total 2 replies
Leebit
siap!!! mari kita hancurkan, hehe..
makasih ya udah dukung karya ku😊
Siti Patimah
hayo tetap bersatu hancurkan para musuh,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!