Sawyer Reynolds, seorang mahasiswa miskin di Central International University, menghadapi penghinaan dari pacarnya, Stella Reed, dan mahasiswa kaya, Dylan Cooper, yang mencampakkannya karena uang. Setelah dipukuli dan dikeluarkan dari kelas, Sawyer ditemukan oleh seorang pria kaya, Samuel, yang ternyata adalah ayahnya yang telah lama hilang. Sawyer mengetahui bahwa ia adalah pewaris tunggal kekayaan triliunan dolar. Dengan identitas barunya sebagai seorang miliarder, Sawyer berencana untuk membalas dendam kepada mereka yang telah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Kembali Sadar
Saat Sawyer pergi, Dylan berbalik menghadap kerumunan dengan seringai kemenangan. "Terima kasih sudah datang. Nanti kirimkan saja daftar jumlah kalian, aku akan pesankan makanan terbaik dari hotel keluargaku malam ini. Selamat bersenang-senang!"
Sorak-sorai langsung meledak. Pujian mengalir deras membuat dada Dylan membusung bangga, lalu menatap Stella. "Mobilku sudah siap. Ayo, kita makan malam bergaya di hotel ayahku.”
Mata Stella berbinar gembira. "Oke, oke."
~ ~ ~
Sementara itu, Sawyer berjalan kembali ke asramanya, wajahnya dipenuhi kesedihan. Saat masuk, ia tidak melihat siapapun di sana, termasuk teman-temannya.
Ia menghela napas panjang dan menjatuhkan diri ke atas tempat tidur, menatap kosong ke langit-langit. Kenangan kebersamaan dengan Stella membanjiri pikirannya.
Dipicu oleh amarah yang memuncak, ia meraih ponsel tuanya. Jemarinya bergerak cepat menuju galeri foto.
"Kau pengkhianat," gumamnya pahit. "Aku berjanji, saat aku menjadi kaya, kau akan menyesal telah meninggalkanku." Matanya berkaca-kaca, tetapi ia segera mengusap air mata itu. Dengan satu usapan, ia menghapus semua foto tersebut.
Tak puas sampai di situ, ia mengeluarkan semua barang yang mengingatkannya pada wanita itu dan menghancurkannya tanpa ampun.
Namun, sekuat apa pun ia mencoba tegar, rasa sakit itu terlalu dalam.
"Ibu... Ayah..." isaknya tertahan. "Jika kalian ada di sini, aku takkan hidup menyedihkan seperti ini. Takkan ada yang berani menghinaku, dan dia takkan berani meninggalkanku demi orang lain!”
Sesaat kemudian, pintu kamar terbuka. Julian dan Noah masuk, wajah mereka langsung berubah cemas melihat kondisi sahabatnya.
"Sawyer, apa benar berita itu? Seluruh kampus membicarakan Dylan berpacaran dengan Stella," tanya Julian hati-hati.
"Dia mengkhianatiku. Dia meninggalkanku dan mengatakan dia hanya menerimaku supaya aku berhenti mengejarnya." Jawab Sawyer.
"Sialan wanita itu!" umpat Noah. "Lalu bagaimana dengan uang seribu dolar yang dia pinjam?"
"Hilang sudah," jawab Sawyer pasrah. "Aku tak berharap dia mengembalikannya.”
"Hah?" Wajah Noah dipenuhi kebingungan. "Tapi kalau dia menerima lamaran Dylan, kenapa mereka tidak bisa membayar seribu dolar itu? Bagi Dylan yang kaya, itu bukan uang besar, bukan?"
"Sudahlah, lupakan saja. Aku tak mau memikirkannya lagi," potong Sawyer, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak lagi.
Julian merangkul leher Sawyer. "Semua akan baik-baik saja, kawan. Kami membawakan makanan untukmu. Makanlah dan istirahatlah."
Noah segera menyerahkan satu kantong kepada Sawyer, tetapi Sawyer ragu dan berkata, "Aku lapar, tapi aku tidak punya uang..."
Sebelum ia selesai berbicara, Julian memukul lengannya dengan bercanda. "Hei, siapa yang butuh uang? Nikmati saja. Kita di sini untuk saling membantu."
Sawyer tertawa kecil, sebelum ia menggeleng. "Terima kasih, tapi aku tidak bisa menerimanya."
Noah menepuk dada Sawyer dengan bercanda. "Ayolah, kau juga sudah beberapa kali mentraktir kami. Lagi pula ini untukmu, jadi nikmati saja dan jangan membuatku kesal dengan menolak."
Mendengar itu, Sawyer merasa bersyukur. "Terima kasih, kalian benar-benar sahabat terbaikku.”
"Tentu saja, kita keluarga," sahut Noah sambil mengacak rambut Sawyer.
SEKARANG
Dokter itu mendekat. "Kau sudah sadar. Tolong, tenanglah. Aku perlu memberikan suntikan terakhirmu."
"Suntikan? Untuk apa? Apa yang sedang terjadi?" Kebingungan Sawyer semakin terlihat. "Tolong, aku harus pergi. Aku harus kembali ke asrama sebelum gerbang ditutup. Ini sudah larut malam."
Dokter itu berdehem pelan. "Sekarang sudah pagi, Tuan."
"Pagi? Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Berarti itu benar-benar cahaya matahari yang masuk ke ruangan ini, bukan sekadar lampu biasa."
Pikiran Sawyer berpacu saat ia mengingat beberapa adegan ketika ia hampir tertabrak mobil saat hendak menyeberang jalan.
"Jangan-jangan pengemudinya yang membawaku ke sini?" pikirnya.
Dokter itu dengan cekatan memberikan suntikan terakhir, "Kondisimu sudah membaik. Aku akan meresepkan obat yang diperlukan untukmu. Pastikan kau meminumnya secara teratur."
"Itu pun kalau aku punya uang untuk membeli obat," gumam Sawyer.
Dokter itu dengan hati-hati melepas infusnya dan berkata, "Karena kau sudah sadar dan dalam kondisi baik, sekarang saatnya kau menemui Tuan Besar."
"Tuan Besar? Tuan Besar yang mana?" Alis Sawyer berkerut bingung.
"Tolong ikuti aku," pinta dokter itu.
"Mengikutimu? Tidak bisakah kau lihat aku bahkan belum memakai baju? Di mana bajuku?" tanya Sawyer. Matanya tiba-tiba tertuju pada sehelai pakaian yang tergeletak di sudut ruangan.
"Hei, siapa yang menaruh bajuku di sana? Kau tahu berapa mahal aku membelinya?" Ia segera mengambilnya dan mengenakannya.
Sementara itu, di bagian dalam ruangan, seorang pria duduk sambil memegang sebuah foto. Tatapannya terpaku pada foto itu, air mata berkilau di matanya.
Pintu terbuka, dan pria yang mengemudi malam sebelumnya masuk.
Melihat pria itu masuk, ia segera menyimpan foto dan menghapus air matanya lalu bertanya, "Ada kabar terbaru?"
Pria itu menggeleng dengan serius. "Belum, Tuan. Kami benar-benar kehilangan jejak. Sejak tadi malam sampai sekarang, aku sudah memerintahkan departemen komputer untuk memberitahuku jika ada informasi baru."
"Jika cara ini tidak berhasil, maka sewa tim lain. Aku sudah menunggu terlalu lama, dan ini semakin tertunda." Balas pria itu.
Pria itu mengangguk tegas. "Tenanglah, Tuan. aku akan menghubungi tim peretas terbaik untuk membantu kita."
Pria itu mengangguk lalu bertanya, "Bagaimana dengan pemuda itu? Bagaimana keadaannya?"
Pria itu hendak menjawab ketika mereka melihat Sawyer dan dokter menuruni tangga menuju aula.
Melihat Sawyer, pria itu, Tuan Samuel, bangkit dari duduknya. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat ia menghela napas lega.
Sementara itu, mata Sawyer membelalak kagum saat melihat sekelilingnya. "Ya Tuhan, apa ini surga? Bahkan tangganya dilapisi emas. Ini benar-benar rumah dengan ruangan yang lebih indah dari rumah sakit," gumamnya pada diri sendiri sambil terus menuruni tangga.
Saat benar-benar memasuki aula, Sawyer benar-benar tercengang. Ruangan itu luas dan dihiasi dengan sangat mewah. Televisi raksasa berukuran 74 inci, rangkaian bunga yang menjuntai, dan berbagai perabot megah.
Tatapannya bertemu dengan Tuan Samuel, membuatnya tersentak. Sawyer segera mengalihkan pandangan dan melirik pria di sampingnya, bertanya-tanya apakah merekalah yang hampir menabraknya atau yang menemukannya di jalan.
Dokter itu berdehem dan berbicara kepada Tuan Samuel, "Dia sudah baik sekarang. Yang dia butuhkan hanyalah obat-obatan yang diresepkan ini." Ia menyerahkan selembar kertas.
Pria di samping Samuel menerima kertas itu dan berkata, "Terima kasih, Dokter. Kami akan mengurusnya."
Dokter mengangguk lalu pergi.
Samuel kembali memusatkan perhatiannya pada Sawyer dan bertanya, "Nak, bagaimana perasaanmu?"
Sawyer mengangguk dan menjawab, "Aku merasa baik, Tuan Samuel."
Samuel mengangguk. "Aku minta maaf atas kelalaiannya. Itu sebabnya dia hampir menabrakmu. Tapi aku lega kau baik-baik saja sekarang."
"Terima kasih, aku baik-baik saja. Sebenarnya, aku ingin pergi sekarang," pinta Sawyer.
Samuel mengernyit. "Kenapa terburu-buru? Dan mengapa kau masih memakai pakaian itu? Pakaianmu kotor."
"Aku akan pergi bekerja, lalu berganti pakaian," Jawab Sawyer.
"Bekerja? Pekerjaan apa yang kau lakukan? Dan mengapa pakaianmu penuh noda darah kemarin?" tanyanya.