NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Kesunyian yang Berubah

Selepas menghabiskan makanannya dalam diam, Colette segera bergegas kembali ke kamarnya. Langkah kakinya yang ringan nyaris tak terdengar di atas lantai kayu, meninggalkan Sinta yang masih terpaku di meja makan dengan perasaan campur aduk.

Masuk ke dalam kamar, Colette segera mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang dingin, mengatur napasnya yang mendadak terasa pendek. Anehnya, meskipun ia baru saja melewati malam yang sangat menguras tenaga dan emosi, ia tidak merasa mengantuk sedikit pun. Biasanya, bagi Colette, tidur adalah satu-satunya benteng pertahanan. Tidur adalah cara tercepat untuk mematikan rasa sakit dan trauma masa kecil yang terus menghantuinya sejak ia terpaksa menjalani homeschooling.

Namun pagi ini, seolah-olah ada aliran listrik statis yang merambat di bawah kulitnya, membuatnya terjaga sepenuhnya.

Colette melangkah mendekati jendela kayu di kamarnya. Dengan gerakan pelan, ia memutar gerendel yang sudah agak berkarat dan mendorong daun jendela itu lebar-lebar.

Seketika, embusan angin fajar yang dingin namun lembut menyeruak masuk, menyapu kulit lehernya yang pucat. Sensasi itu terasa seperti sentuhan halus yang membangunkan sisa-sisa kesadarannya.

Rambut panjangnya yang menutupi mata sedikit tersibak oleh angin, membiarkan kulit wajahnya merasakan udara bebas untuk pertama kalinya sejak semalam.

Ia memejamkan mata, membiarkan deru angin itu membisikkan ketenangan yang aneh. Biasanya, Colette sangat benci jendela terbuka; ia selalu merasa ada ribuan mata yang mengintainya dari balik pepohonan atau rumah tetangga. Namun pagi ini, ia merasa berani.

Namun, di tengah embusan angin itu, Colette tiba-tiba mencium sesuatu. Bukan bau tanah basah atau embun, melainkan bau asap kayu cendana yang sangat tipis.

Ia membuka matanya dan menatap lurus ke arah pagar rumahnya.

Di seberang jalan, di bawah bayang-bayang pohon besar yang masih gelap, ia melihat sebuah siluet pria berdiri mematung. Pria itu mengenakan mantel hitam panjang, namun tatapan matanya-bahkan dari kejauhan-terasa sangat tajam dan membakar.

Pria itu tidak bergerak, hanya menatap ke arah jendela Colette. Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah benda kecil yang berkilau terkena cahaya fajar.

Colette tetap bergeming di depan jendela yang terbuka lebar.

Embusan angin fajar yang menusuk lehernya terasa seperti belaian yang menenangkan, bukan ancaman. Ia menatap lurus ke arah siluet pria di bawah pohon besar itu, membalas tatapannya tanpa sedikit pun niat untuk berpaling.

Anch. Benar-benar di luar nalar.

Biasanya, jika ada pria asing yang menatapnya sedalam itu, memori kelam masa Sekolah Dasar akan langsung berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Jantungnya seharusnya sudah berpacu tidak beraturan, keringat dingin seharusnya sudah membasahi punggungnya, dan panic attack yang menyiksa seharusnya sudah membuat dunianya gelap seketika.

Namun pagi ini, badai itu tidak datang.

Alih-alih merasa tercekik, Colette justru merasa berani. Tatapan pria itu tidak terasa seperti tatapan para perundungnya yang penuh penghinaan, melainkan seperti tatapan seorang pemilik yang sedang mengagumi miliknya yang paling berharga. Ada rasa aman yang janggal-seolah-olah pria di bawah sana adalah perisai hidup yang telah melenyapkan semua monster dalam hidupnya semalam.

Sinta, yang masih berada di lantai bawah, tidak menyadari kehadiran pria itu. Ia hanya mendengar suara jendela yang dibuka dan merasa lega karena putrinya setidaknya mau menghirup udara luar. Sinta mulai sibuk membereskan sisa piring di dapur, membiarkan Colette menikmati waktu pribadinya.

Colette perlahan mengangkat tangannya, menyentuh lehernya yang tadi diterpa angin. Ia merasa seolah-olah mata pria itu sedang "menyentuh" kulitnya dari kejauhan. Tak ada ketakutan, hanya rasa penasaran yang membuncah.

Colette tidak memberikan reaksi yang berlebihan. Meskipun ia menyadari kehadiran pria itu dan merasakan aura yang ganjil, ia tidak membiarkan dirinya terpancing lebih jauh. Dengan gerakan yang sangat tenang-hampir dingin ia memegang gagang jendela kayunya.

Matanya sempat bertemu sekali lagi dengan siluet di bawah pohon itu, namun Colette tidak tersenyum ataupun menyapa. Ia menutup jendela kamarnya perlahan-lahan, membiarkan bunyi kayu yang beradu menjadi penutup interaksi bisu tersebut. Suara klik dari kunci jendela bergema kecil di dalam kamar yang sunyi.

Gadis itu kemudian menarik tirai kainnya yang tebal, menutupi pandangannya dari dunia luar. Kamar itu kembali ke dalam remang yang ia sukai.

Anehnya, jantungnya tetap tenang. Tidak ada detak yang memburu karena ketakutan, tidak ada sesak napas yang biasanya menyiksa. Seolah-olah kehadiran pria itu di halaman rumahnya adalah sesuatu yang seharusnya terjadi, sebuah kehadiran yang tidak perlu dipertanyakan lagi keabsahannya.

Colette berjalan kembali ke arah tempat tidurnya. Ia duduk di sana, memandangi jemarinya yang kini sudah tidak gemetar lagi. Di luar, kabut pagi semakin menebal, menelan bayangan pria bermantel hitam itu hingga hilang tak berbekas, seolah ia hanya bagian dari imajinasi fajar yang dingin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!