Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 – Pelarian Terakhir
Arga akhirnya menyelesaikan seluruh proses administrasi di rumah sakit. Tanpa membuang waktu, ia segera berlari kembali menuju parkiran, tempat Alya dan kedua orang tuanya menunggu dengan wajah penuh kecemasan.
Detik demi detik terasa begitu lambat.
Jantung Arga dan Alya berdetak kencang, seolah berpacu dengan waktu. Bayang-bayang ancaman Rayhan terus menghantui pikiran mereka.
“Cepat, masuk ke mobil,” ucap Arga tergesa.
Alya membantu ayahnya berjalan, sementara ibu tirinya menopang tubuh Pak Hermawan yang masih lemah. Begitu mereka hampir mencapai mobil, suasana mendadak mencekam.
Sebuah mobil hitam berhenti mendadak tepat di depan mereka.
Pintu terbuka.
Rayhan turun dengan tatapan dingin penuh amarah.
“Mau ke mana kalian?” ucapnya tajam.
Arga spontan melangkah maju, berdiri di depan Alya. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras menahan emosi.
“Apa maumu, Rayhan?” bentaknya.
Rayhan menyeringai tipis.
“Serahkan Alya padaku. Kau boleh pergi dari sini dengan bebas.”
Alya terkejut. Tangannya gemetar mencengkeram lengan Arga.
“Tidak!” serunya panik.
Arga menatap Rayhan dengan mata membara.
“Kalau tidak?” tantangnya.
Rayhan menyipitkan mata.
“Kalau tidak, kau akan mati di sini.”
Arga terkekeh sinis.
“Aku tidak takut. Aku akan mempertahankan Alya, meskipun nyawaku taruhannya.”
“Besar sekali nyalimu,” ejek Rayhan.
Dalam sekejap, Rayhan melayangkan pukulan.
Arga menangkis, lalu membalas dengan hantaman keras. Pertarungan pun tak terhindarkan. Dua pria itu saling menyerang, emosi dan dendam menyatu dalam setiap gerakan.
Rayhan mencoba menusuk dengan benda tajam yang tersembunyi di sakunya, namun Arga lebih sigap. Ia menangkis, lalu menghantam perut Rayhan dengan sekuat tenaga. Rayhan terhuyung, jatuh tersungkur di aspal.
“Sekarang!” teriak Arga.
Alya dan kedua orang tuanya segera masuk ke dalam mobil. Arga berlari, melompat ke kursi pengemudi, lalu menyalakan mesin. Ban mobil berdecit keras saat ia menginjak pedal gas.
Rayhan bangkit dengan napas memburu, matanya menyala penuh kebencian.
“Kenapa kalian diam saja!” bentaknya pada anak buahnya.
“Kejar mereka! Jangan sampai lolos lagi!”
Beberapa mobil langsung melaju, mengejar kendaraan Arga.
Kejar-kejaran pun tak terhindarkan di area rumah sakit.
Mobil Arga melaju kencang, menembus jalanan dengan kecepatan tinggi. Alya memeluk ayahnya erat, tubuhnya gemetar ketakutan.
“Ga… mereka mengejar kita…” ucap Alya dengan suara bergetar.
“Aku tahu,” jawab Arga tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Pegang yang kuat!”
Deru mesin, bunyi klakson, dan teriakan bercampur menjadi satu. Suasana berubah mencekam. Setiap tikungan terasa seperti pertaruhan antara hidup dan mati.
Alya memejamkan mata, air matanya mengalir tanpa henti.
“Ya Allah… selamatkan kami…”
Di belakang, mobil Rayhan semakin mendekat.
Pelarian terakhir ini bukan sekadar upaya menyelamatkan diri, melainkan perjuangan mempertahankan cinta, keluarga, dan harapan hidup.
Sebuah mobil hitam tiba-tiba menyalip dari sisi kanan. Bunyi decitan rem memekakkan telinga, memaksa Arga menginjak pedal rem sekuat tenaga.
SCREEET—!
Mobil mereka berhenti mendadak.
Alya menjerit pelan, memeluk ayah dan ibu tirinya erat. Tubuh mereka terguncang hebat.
“Bagaimana ini, Ga…?” ucap Pak Hermawan dengan suara bergetar.
Arga menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
“Tenang, Yah. Aku yang akan menghadapi mereka. Kalian tetap di dalam mobil, kunci pintunya, dan jangan ada yang keluar, apa pun yang terjadi.”
Alya menatap Arga dengan mata penuh ketakutan.
“Ga, jangan…”
Arga menoleh, tersenyum tipis meski wajahnya tegang.
“Aku harus melindungi kalian.”
Ia pun membuka pintu dan melangkah keluar.
Di depannya, beberapa anak buah Rayhan sudah berdiri membentuk setengah lingkaran. Di tengah mereka, Rayhan melangkah maju dengan wajah penuh amarah dan kesombongan.
“Apa yang kalian mau?” bentak Arga. “Tidakkah kalian sadar perbuatan kalian sangat membahayakan orang lain?”
Rayhan tertawa dingin.
“Apa yang aku mau?” Ia melangkah lebih dekat. “Yang aku mau jelas: Alya. Perempuan yang seharusnya menjadi milikku.”
Arga mengepalkan tangan.
“Aku tidak akan sudi melepaskan Alya pada bajingan sepertimu.”
Tatapan Rayhan berubah tajam.
“Baik. Kalau begitu, sekalipun nyawa taruhannya.”
Arga mengangkat dagu.
“Sekalipun itu nyawaku, aku tidak akan mundur.”
Rayhan tersenyum sinis.
“Bagus. Serang dia.”
Sekejap kemudian, beberapa pria maju bersamaan. Arga bersiap. Ia menghindari serangan pertama, lalu membalas dengan pukulan yang terarah. Pertarungan tak terhindarkan. Tubuh-tubuh saling berbenturan, langkah-langkah cepat berpacu dengan adrenalin.
Di dalam mobil, Alya menangis tanpa suara. Tangannya gemetar, menutup mulut agar jeritannya tak terdengar. Hatinya terasa tercabik melihat Arga bertarung sendirian demi melindungi mereka.
“Ya Allah… lindungi Arga…” bisiknya lirih.
Arga terus bertahan, meski tenaga mulai terkuras. Setiap pukulan yang ia terima terasa perih, namun ia tetap berdiri. Satu hal yang menguatkannya: Alya.
“Aku tidak boleh kalah…” gumamnya dalam hati.
Rayhan menonton dari kejauhan dengan tawa puas.
“Kasih dia pelajaran. Biar dia tahu akibatnya menantang aku.”
Namun Arga bangkit lagi. Dengan sisa tenaga, ia berhasil menjatuhkan satu demi satu lawannya. Nafasnya tersengal, tubuhnya gemetar, namun matanya tetap menyala penuh tekad.
Pertarungan ini bukan hanya soal dendam.
Ini adalah pertarungan antara cinta dan keserakahan, antara ketulusan dan keangkuhan.
Dan di detik-detik menegangkan itu, nasib mereka kembali dipertaruhkan.
Dan malam itu, nasib mereka ditentukan oleh keberanian, doa, dan tekad yang tak tergoyahkan.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰