Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.
Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.
Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan duniaku
“Dunia yang tak pernah benar-benar mengenalku, atau aku yang tak pernah benar-benar mengenal dunia?”
***
Aula pesta itu menjelma menjadi lautan cahaya dan kemewahan.
Langit-langitnya tinggi menjulang, dihiasi lampu gantung kristal raksasa yang memantulkan kilau ke seluruh ruangan. Setiap sudut berpendar keemasan, seolah malam itu sengaja diciptakan untuk memamerkan kemegahan tanpa batas. Dinding marmer dipadukan dengan panel kaca tinggi, memperlihatkan gemerlap kota di luar yang menjadi latar dramatis perayaan.
Rangkaian bunga putih dan pastel tersusun artistik di sepanjang lorong masuk—mawar, peony, dan anggrek yang ditata bertingkat dengan sentuhan daun hijau gelap. Aroma lembutnya bercampur dengan wangi parfum mahal para tamu, menciptakan atmosfer yang elegan dan berkelas.
Meja-meja bundar dilapisi kain satin halus berwarna ivory, dengan centerpiece kristal dan lilin tinggi yang menyala stabil. Peralatan makan perak tersusun presisi, gelas-gelas anggur berkilau di bawah cahaya lampu. Setiap detail tampak dipikirkan matang—tidak ada yang berlebihan, namun semuanya terasa mahal.
Di tengah ruangan berdiri panggung besar dengan backdrop bunga dan tirai tipis berlapis cahaya lembut. Di atasnya, nama pasangan terpampang dalam huruf emas yang elegan. Musik orkestra mengalun pelan, dimainkan langsung oleh sekelompok musisi di sisi aula, menghadirkan nuansa klasik yang anggun.
Para tamu datang dengan gaun dan setelan terbaik mereka. Kilau berlian, suara tawa tertahan, gelas yang beradu pelan—semuanya menyatu dalam ritme pesta kelas atas. Pelayan berseragam hitam-putih bergerak lincah membawa nampan berisi champagne dan hidangan kecil yang tersaji cantik.
Kilatan kamera sesekali menyala, mengabadikan momen demi momen. Percakapan bisnis terselip di antara ucapan selamat. Senyum-senyum sopan terukir di wajah-wajah penting yang terbiasa berada di lingkaran eksklusif.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Nala benar-benar merasa kakinya menapak di dunia yang selama ini hanya bisa ia lihat dari balik layar ponsel atau cerita orang lain.
Aula megah itu berkilau di sekelilingnya—lampu kristal, gaun-gaun mahal, tawa yang terkontrol, dan percakapan tentang investasi serta proyek bernilai miliaran. Semua terasa terlalu tinggi, terlalu jauh dari gadis yang dulu menghitung uang receh di laci warung.
Baskara berdiri di sampingnya beberapa saat, memperkenalkannya pada dua-tiga wajah penting. Lalu, dengan alasan berbicara pada rekan bisnis, pria itu pergi meninggalkannya.
Dan tiba-tiba… Nala sendirian.
Ia tetap berdiri tegak, jemarinya terlipat anggun di depan tubuh. Namun di dalam, ia kosong. Tidak tahu harus bergerak ke mana. Tidak tahu apakah harus mendekati meja minuman, atau sekadar tetap diam di tempatnya berdiri.
Ia memilih bertahan.
Beberapa tamu datang menyapa.
Senyum.
Anggukan kecil.
Ucapan selamat yang aman.
Jawaban singkat yang tidak membuka ruang kesalahan.
Ia berhati-hati memilih kata, mengingat setiap pelajaran: jangan terlalu banyak bicara, jangan terlalu antusias, jangan terlihat bingung. Tatap mata lawan bicara, tapi tidak terlalu lama. Tersenyum, tapi jangan berlebihan.
Di luar, ia terlihat seperti perempuan yang memang tumbuh di lingkungan itu.
Di dalam, ia menghitung detik.
Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas kaca tipis. Satu kesalahan kecil bisa memecahkan semuanya.
Saat ia akhirnya berdiri agak menjauh, dekat pilar besar berlapis marmer, ia menghembuskan napas perlahan. Musik orkestra mengalun lembut, namun detak jantungnya masih lebih keras dari suara biola.
Dan di sudut lain ruangan, sepasang mata mengamatinya.
Seorang pria dewasa berdiri dengan segelas minuman di tangannya. Jasnya terpotong sempurna mengikuti bentuk tubuhnya yang tegap. Garis rahangnya tegas, rambutnya tersisir rapi ke belakang. Ia tidak berbicara pada siapa pun saat itu.
Tatapannya tertuju pada Nala.
Bukan tatapan sekilas seperti tamu lain.
Tatapan yang membaca.
Sesekali, sudut bibirnya terangkat tipis—senyum miring yang nyaris tak terlihat. Seolah ia menyadari sesuatu yang tidak orang lain lihat.
Nala merasakan tatapan itu tanpa tahu dari mana asalnya. Ada sensasi aneh di tengkuknya, seperti sedang diperhatikan terlalu lama. Ia menoleh pelan, menyapu ruangan dengan mata yang tetap tenang.
Dan untuk sepersekian detik, pandangan mereka bertemu.
Pria itu tidak mengalihkan wajahnya. Ia tetap berdiri di sana, tenang, percaya diri—seperti seseorang yang terbiasa mengamati sebelum melangkah.
Sementara Nala, meski wajahnya tetap terjaga dalam ekspresi anggun Arsha, merasakan sesuatu bergetar di dalam dadanya.
Dunia ini sudah cukup asing.
Dan kini, ia sadar—ia bukan hanya sedang memainkan peran.
Ia sedang menjadi pusat perhatian seseorang yang mungkin jauh lebih berbahaya dari gemerlap pesta itu sendiri.
***
Keramaian itu mulai terasa menyesakkan.
Lampu kristal yang tadi tampak indah kini seperti terlalu terang. Tawa para tamu terdengar semakin bising, percakapan-percakapan formal berlapis kepentingan membuat udara terasa berat. Nala berdiri beberapa detik lebih lama di dekat pilar, mencoba tetap terlihat tenang, sebelum akhirnya memutuskan bergeser pelan.
Ia butuh udara.
Dengan langkah anggun yang tetap terjaga, ia menyusuri sisi aula, menjauh dari pusat kerumunan. Tangannya menyentuh ringan bagian belakang kursi-kursi tamu saat melewati mereka, menjaga keseimbangan agar tetap terlihat natural.
Lorong menuju balkon samping terlihat lebih sepi.
Baru beberapa langkah ia mengambil napas lebih lega—
Tiba-tiba.
Sebuah tangan mencengkeram pergelangannya.
Kuat.
Mendadak.
Nala tersentak. Tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan saat seseorang menariknya cepat ke arah lorong samping yang lebih gelap. Gaunnya terseret ringan di lantai marmer, detak jantungnya melonjak seketika.
Ia tidak sempat bereaksi.
Pintu sebuah ruangan terbuka, lalu tertutup kembali dengan suara pelan namun tegas.
Sunyi.
Ruangan itu redup, hanya diterangi lampu dinding berwarna keemasan. Bau kayu dan parfum maskulin memenuhi udara. Nala mundur satu langkah, napasnya memburu. Ketakutan menjalar cepat ke seluruh tubuhnya, namun ia berusaha menahannya agar tidak terlihat panik.
Di depannya berdiri seorang pria.
Setelan jasnya sempurna, dasinya rapi, rambutnya tertata elegan—persis seperti seseorang yang akan berdiri di pelaminan malam itu. Posturnya tegap, wajahnya tampan dengan garis tegas yang mencerminkan kepercayaan diri berlebih.
Dan dalam satu detik, Nala mengenalinya.
Foto itu.
Baskara pernah menunjukkan foto pria yang akan bertunangan malam ini.
Pria di hadapannya… sangat mirip.
Atau memang dia orangnya.
Jantung Nala berdetak semakin kencang.
Kenapa? Kenapa pria yang seharusnya menjadi pusat pesta justru menyeretnya ke ruangan tertutup? Tangannya masih terasa bekas genggaman kuat tadi. Ia menahan diri untuk tidak terlihat gemetar. Kepala Nala dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk.
Apakah ia dikenali?
Apakah penyamarannya terbongkar?
Atau ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar peran yang ia jalani?
Pria itu berdiri beberapa langkah darinya, tatapannya intens. Tidak marah. Tidak panik. Justru terlalu tenang. Dan itu yang membuat Nala semakin takut. Di tengah kemewahan pesta di luar sana, di balik musik dan tawa para tamu, ia kini berdiri di sebuah ruangan tertutup bersama pria yang seharusnya menjadi tokoh utama malam ini.