Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 MALAIKAT PENYELAMAT
Tak lama setelah itu tepat dari belakang terdengar suara motor. Ara menoleh perlahan, tapi hanya melihat lampu motor yang mendekat. Motor itu berhenti beberapa meter di belakangnya.
Ara sempat khawatir takut yang datang orang jahat tapi tiba tiba.....
“Kenapa?” tiba-tiba terdengar suara dari pengendara motor itu tegas tapi terdengar khawatir
Ara menoleh dengan cepat, dan seketika wajahnya berubah kaget di depannya berdiri Danu, sahabat lamanya, yang entah bagaimana muncul di waktu yang tepat.
“Danu…?” Ara hampir tak percaya, napasnya masih tersengal.
Danu melepas helmnya, menatap Ara dengan mata serius tapi hangat “Iya… aku lihat motormu berhenti dari jauh. Kamu nggak apa-apa?”
Ara menelan ludah, merasa lega sekaligus malu karena hampir menangis di jalan sepi “Aku… motornya tiba-tiba mogok… tempatnya sepi, aku nggak tau harus gimana” jawabnya pelan
Danu langsung turun dari motornya, mendekat untuk membantu “Santai dulu… coba aku lihat. Tenang jangan panik”
Hati Ara sedikit tenang. Kehadiran Danu di saat yang tepat membuatnya merasa aman meski suasana di sekitar sepi dan mulai gelap.
Danu menatap motor yang mogok lalu menoleh ke Ara dengan senyum ringan tapi tetap perhatian.
Kemudian ia berjalan ke arah motor mengecek keadaan setelah beberapa menit kemudian ia bilang
" Kayaknya gak bisa di perbaiki deh butuh waktu lama" ucap Danu ke Ara
"Terus nanti gimana motornya" ucap Ara dengan nada khawatir
“Yaudah, nanti aku kabari teman aku buat bawa ini ke bengkel” ucap Danu sambil menunjuk motor Ara “Kamu nggak usah panik nanti aku yang urus”
Ara mengangguk pelan, napasnya masih terasa lega. “Makasih banget Danu… aku nggak tahu harus gimana kalau sendirian di sini”
Danu menepuk bahu Ara, mencoba menenangkan. “Santai aja… sebentar lagi semuanya beres”
Ara tersenyum tipis, menatap jalanan sepi yang mulai gelap. Meski awalnya frustasi, kehadiran Danu membuat hatinya terasa lebih ringan.
“Eh… tapi nanti aku traktir minum deh, biar nggak capek” ucap Ara setengah bercanda.
Danu tertawa kecil “Eh gak usah sekarang yang penting motormu aman dulu”
Mereka berdua berdiri di pinggir jalan, sementara Danu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi pegawai dibengkelnya. Suasana sepi magrib terasa sedikit hangat karena kehadiran sahabat lama di waktu yang tepat.
Danu menyalakan ponselnya, menekan beberapa nomor, lalu menunggu beberapa saat “Oke… nanti sebentar lagi mereka datang” katanya sambil menatap motor yang masih diam
Ara menghela napas panjang, duduk di tepi trotoar sambil menatap jalanan yang mulai gelap “Huh… untung banget kamu datang tepat waktu Danu. Kalau sendirian aku pasti panik banget” ujarnya pelan.
Danu tersenyum sambil duduk di sebelah Ara.
Beberapa menit kemudian, lampu mobil dari jauh terlihat mendekat. Teman Danu tiba, membawa mobil pick-up kecil untuk menjemput motor Ara.
“Ah… akhirnya datang juga” gumam Ara, setengah lega, setengah masih frustasi
Danu berdiri, menyapa temannya, lalu bersama-sama mereka menaikkan motor Ara ke bak mobil pick-up. Ara membantu sebisa mungkin sambil tetap menahan tawa karena situasinya terasa lucu motornya mogok, ia hampir panik tapi sekarang ada banyak bantuan.
“Siap motormu aman dibawa ke bengkel” kata Danu setelah semuanya beres.
Ara tersenyum lega “Makasih banyak Danu… aku benar-benar beruntung hari ini”
Danu menepuk pundak Ara ringan “Ya itu baru namanya sahabat. Lagian besok besok kalau mau belanja lagi ngajak teman biar nggak repot sendirian”
Ara tertawa kecil “Iya deh… ”
Setelah mobil pick-up itu pergi membawa motor Ara, suasana jalan kembali sepi. Danu menatap Ara sambil tersenyum ringan.
“Yaudah… mau pulang bareng aku atau mau nelpon orang rumah dulu?” ucap Danu, nada suaranya ramah tapi sedikit menggoda
Ara menatapnya, lalu tersadar “Eh… aku… aku gak bawa HP” jawabnya pelan, sedikit malu
Danu terkekeh pelan “Hah… ya udah berarti mau nggak pulang bareng aku?”
Ara menghela napas, sedikit tersipu tapi tersenyum. “Yaudah… aku ikut aja. Lebih aman juga kan jalanan sepi gini”
Danu mengangguk “Santai aja… kita pelan-pelan aja. Nggak usah buru-buru”
Mereka menaiki motor Danu, Ara duduk di jok belakang sambil menggenggam tas jajanan yang tadi dibeli. Motor mulai melaju pelan di jalan yang sepi, angin sore menerpa wajah mereka.
Danu sesekali melempar komentar ringan, bercanda tentang motor mogok dan belanjaan yang penuh, membuat Ara tertawa kecil. Suasana menegangkan beberapa menit lalu perlahan berubah menjadi hangat, penuh canda, dan nyaman.
Tak lama kemudian, motor Danu berhenti di depan rumah Ara. Lampu senja mulai meredup, tetapi udara sore masih terasa sejuk. Ara menurunkan tas jajanan dari pangkuannya, sementara Danu mematikan motor.
“Kita udah sampai” ucap Danu sambil tersenyum ringan.
Ara menatap rumahnya dengan lega “Iya… makasih banyak ya, Danu. Aku benar-benar lega bisa sampai rumah dengan aman”
Danu tersenyum ringan “Santai aja lagian aku senang bisa bantu. Nanti kalau motormu udah beres, kabarin aku aja”
Ara menatap Danu sebentar, lalu tersenyum malu-malu “Eh… boleh minta nomor kamu dulu nggak? Biar nanti gampang kabarin kalau motornya udah beres”
Danu mengangguk, mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya ke Ara “Ini langsung aja simpan dan kirim pesan ke nomor kamu. Biar gampang kalau mau chat”
Ara menerima ponsel itu dengan hati-hati, menulis nomornya, lalu segera mengirim pesan singkat ke nomor dia. Setelah itu, ia mengembalikan ponselnya sambil tersenyum malu.
Danu membaca pesan itu, tersenyum hangat “Sip… nanti kabarin ya kalo motornya mau diambil”
Ara mengangguk, hatinya terasa hangat “Iya… makasih banget Danu”
Sebelum Danu meninggalkan pekarangan rumahnya l tiba tiba Ara bersuara “Oke, hati-hati di jalan ya. Sampai ketemu nanti” ucap Ara sambil melambaikan tangan saat Danu mau pergi.
"Iya" ucap Danu kemudian menjalankan motornya
Meski tadi Ara sempat frustasi karena motor mogok, sekarang semuanya terasa ringan berkat kehadiran Danu
Ara menutup pintu setelah masuk rumah, meletakkan jajannya ke kamar.
Menata jajanan yang tadi dibelinya beberapa keripik, biskuit, roti, susu kotak dan minuman kaleng.
Kemudian ia kembali berjalan ke ruang tamu
Tiba-tiba terdengar suara ibunya dari dapur menuju ruang tamu “Kok lama sih Nak? ngapain aja tadi?”
Ara menoleh sambil tersenyum, mencoba terdengar santai “Iya, Bu… tadi motorku mogok dulu jadi agak lama. Untung Danu bantuin, sekarang udah beres”
Ibu mengangguk, sedikit lega “Oh… syukurlah. Kalau gitu jangan lupa hati-hati, ya. Lagian kalau mogok di jalan sendirian kan bahaya”
"Iya Bu" ucap Ara
Kemudian Ibunya mengernyit sedikit penasaran “Trus gimana motornya sekarang? Udah jalan lagi atau masih rusak?”
Ara mengangguk cepat “Lagi di bengkel Bu. Danu yang antar jadi nanti tinggal kabarin aja kalau udah beres”
Ibu tersenyum lega “Oh syukurlah. Untung ada yang bantuin tapi tetap hati-hati ya Nak jangan sampai mogok sendirian di jalan”
Ara tersenyum kecil, sedikit tersipu “Iya.Bu… makasih ya udah dikhawatirin”
Malamnya, setelah membantu ibu menyiapkan makan malam dan membereskan sedikit dapur, Ara mengusap tangannya, lalu menatap ibu “Aku pamit dulu ya Bu mau ke kamar sebentar”
Ibu tersenyum “Iya Nak istirahat dulu besok pagi masih banyak yang harus dikerjain”
Saat Ara melangkah menuju kamar, terdengar panggilan ayahnya dari ruang tv karena bersebelahan dengan kamar Ara “Ara… kata ibu motormu tadi mogok ya? Terus gimana sekarang?”
Ara berhenti sejenak, menoleh sambil tersenyum ringan “Iya Yah… tadi mogok. Sekarang lagi di bengkel Danu yang antar jadi nanti tinggal kabarin kalau udah beres”
Ayah mengangguk, wajahnya serius tapi hangat. “Syukurlah ada yang bantuin"
Ara mengangguk, lalu melangkah ke kamarnya. Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya, dan suara rumah yang mulai tenang membuatnya merasa damai