NovelToon NovelToon
CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

CEO IMPIAN MONTIR IDAMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Ia berlutut pelan di depan ibunya.

“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.

Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.

Butuh dua detik untuk menyadari.

“Ara?”

Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.

“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”

Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.

“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak

Ara langsung panik setengah jengkal

“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 MOGOK TANPA TAU KONDISI

Setelah memilih sayur dan sudah sesuai apa yang habis mereka akhirnya membayar lalu pamit pulang dan berkeliling lagi mencari bahan bahan yang dibutuhkan

Setelah berkeliling pasar kurang lebih dari satu jam, memilih sayuran, buah, dan beberapa bahan kebutuhan sehari-hari sesekali Ibunya menawar barang-barang yang dibelinya sambil tersenyum,

Akhirnya Ara dan Ibu Adis mulai menuju tempat motor untuk pulang. Tas belanjaan yang penuh menggantung di sisi motor dan di tangan Ara membuat perjalanan sedikit hati-hati.

“Wah… capek juga ya Nak” Ibu Adis berseru sambil menahan tas belanja di jok belakang “Tapi senang rasanya bisa beli semua yang kita butuhkan”

Ara tersenyum lelah tapi puas, sesekali menatap tas yang penuh di tangannya. “Iya, Bu… tapi seru juga. Rasanya beda banget sama belanja di kota besar”

Suasana jalan pagi masih sejuk, aroma tanah basah dan dedaunan segar yang tersisa dari hujan semalam ikut menenangkan hati. Burung-burung berkicau pelan di sepanjang jalan, dan beberapa tetangga menyapa mereka dari kejauhan.

Mereka melaju pelan, sesekali berhenti sebentar ketika jalanan ramai dengan pedagang atau warga yang menyeberang. Meskipun lelah, wajah Ara terlihat puas dan hatinya hangat. Perjalanan pulang itu memberinya waktu untuk menikmati aroma kampung, suara pasar, dan momen sederhana bersama Ibu Adis.

Sesampainya di rumah, Ara segera menurunkan tas belanjaan. Ibu Adis membantu menata di meja dapur dan lemari, sementara Ara tersenyum lelah tapi puas. “Hmm… ternyata capek tapi menyenangkan juga ya, Bu” katanya sambil mengelap keringat di dahinya

Ibu Adis menepuk bahu Ara, tersenyum hangat “Nah Nak… itu dia. Kadang hal sederhana seperti ini justru bikin hati terasa penuh. Kamu sudah mulai merasakan hangatnya kampung kan?”

Ara menatap sekeliling dapur, aroma sayur dan buah segar yang baru dibeli, suara kecil langkah Ibu Adis, dan sinar matahari yang menembus jendela semua itu membuatnya tersenyum puas “Iya Bu… rasanya… nyaman banget”

Setelah masuk ke dapur, Ara mulai menata belanjaan. Ia memisahkan sayur, buah, dan bumbu ke dalam keranjang dan lemari. Tomat diletakkan di nampan, cabai di wadah kecil, dan daun-daunan segar di kulkas agar tetap awet. Ibu Adis berdiri di sampingnya, sesekali memberi saran.

“Jangan lupa simpan daun bawangnya di wadah tertutup ya, Nak. Biar lebih tahan lama” ucap Ibu Adis sambil tersenyum

Ara mengangguk, tersenyum tipis “Iya Bu… aku ingat”

Tak lama setelah semuanya rapi, Ara menarik kursi dan duduk di meja makan. Nafasnya masih terasa sedikit capek, tapi hatinya ringan. Ibu Adis pergi sebentar ke ruang tamu, lalu kembali dengan beberapa plastik kecil berisi jajanan pasar yang sempat mereka beli tadi.

“Ini Nak… biar sambil santai kita makan dulu. Nanti baru siapin buat sarapan siang” ucap Ibu Adis sambil meletakkan jajanan di meja

Ara menatap jajanan itu dengan mata berbinar. Ada klepon, lemper, dan beberapa kue tradisional lain yang masih hangat “Wah… ini… favorit aku semua, Bu!” ujarnya sambil tersenyum lebar

Ibu Adis tertawa kecil “Ya ampun, Nak… jangan habisin semuanya sekaligus ya. Kita makan sama-sama”

Mereka mulai menyuap kue dan jajanan satu per satu. Suara gigitan kecil, aroma manis jajanan, dan hangatnya suasana membuat pagi itu terasa nyaman. Sesekali, Ara melempar komentar lucu.

“Bu… klepon ini rasanya beda di jakarta adis nggak pernah nemu yang seenak ini” kata Ara sambil tersenyum nakal

Ibu Adis terkekeh “Hah… Tapi iya, Nak… kue di pasar sini memang beda, lebih hangat rasanya”

Ara tertawa kecil, lalu mengambil lemper “Kalau ini, kayaknya bisa bikin aku kangen terus sama kampung” ujarnya sambil mengunyah pelan

Sore harinya Ara berjalan ke arah Ibu untuk pamit

“Bu aku ke IndoApril sebentar ya… stok jajanan favoritku habis” ucap Ara sambil menggenggam tas dompet kecil “Yang biasa aku makan kalau lagi nonton drakor udah habis”

Ibu Adis tersenyum hangat “Hati-hati di jalan Nak Jangan lama-lama mau magrib”

Ara mengangguk, kemudian kedepan dan menyalaka motornya ke toko yang di tuju. Sesampainya di IndoApril, ia memasuki lorong jajanan, menatap rak-rak penuh warna. Ada kue, biskuit, snack manis, semua tertata rapi.

Ia mulai memilih satu per satu, memasukkan ke keranjang. Satu keranjang kecil itu segera penuh dengan jajanan favoritnya dari cokelat, biskuit, hingga snack yang biasanya ia makan saat menonton drakor. Senyum tipis menghiasi wajahnya saat membayangkan nanti bisa menikmati semuanya sambil santai di rumah.

Setelah selesai memilih, ibu kasir menghitung belanjaannya. Ara menyerahkan uang, lalu keluar dari toko dengan keranjang penuh.

Perjalanan pulang terasa ringan di awal. Namun, di tengah jalan yang sepi, motornya tiba-tiba tersendat dan mati.

“Eh… enggak… nggak bisa jalan…” gumam Ara jantungnya berdebar. Jalanan itu sepi, lampu jalan jarang dan magrib sudah mulai menyelimuti langit

Ia mencoba menyalakan motor beberapa kali, tapi mesin tetap diam. Frustrasi mulai muncul, dan mata Ara terasa panas “Ya ampun… kenapa sekarang?” bisiknya hampir menangis.

Tak lama setelah itu tepat dari belakang terdengar suara motor. Ara menoleh perlahan, tapi hanya melihat lampu motor yang mendekat. Motor itu berhenti beberapa meter di belakangnya.

Ara sempat khawatir takut yang datang orang jahat tapi tiba tiba.....

“Kenapa?” tiba-tiba terdengar suara dari pengendara motor itu tegas tapi terdengar khawatir

Ara menoleh dengan cepat, dan seketika wajahnya berubah kaget di depannya berdiri Danu, sahabat lamanya, yang entah bagaimana muncul di waktu yang tepat.

“Danu…?” Ara hampir tak percaya, napasnya masih tersengal.

Danu melepas helmnya, menatap Ara dengan mata serius tapi hangat “Iya… aku lihat motormu berhenti dari jauh. Kamu nggak apa-apa?”

Ara menelan ludah, merasa lega sekaligus malu karena hampir menangis di jalan sepi “Aku… motornya tiba-tiba mogok… tempatnya sepi, aku nggak tau harus gimana” jawabnya pelan

Danu langsung turun dari motornya, mendekat untuk membantu “Santai dulu… coba aku lihat. Tenang jangan panik”

Hati Ara sedikit tenang. Kehadiran Danu di saat yang tepat membuatnya merasa aman meski suasana di sekitar sepi dan mulai gelap.

Danu menatap motor yang mogok lalu menoleh ke Ara dengan senyum ringan tapi tetap perhatian.

Kemudian ia berjalan ke arah motor mengecek keadaan setelah beberapa menit kemudian ia bilang

" Kayaknya gak bisa di perbaiki deh butuh waktu lama" ucap Danu ke Ara

"Terus nanti gimana motornya" ucap Ara dengan nada khawatir

“Yaudah, nanti aku kabari teman aku buat bawa ini ke bengkel” ucap Danu sambil menunjuk motor Ara “Kamu nggak usah panik nanti aku yang urus”

Ara mengangguk pelan, napasnya masih terasa lega. “Makasih banget Danu… aku nggak tahu harus gimana kalau sendirian di sini”

Danu menepuk bahu Ara, mencoba menenangkan. “Santai aja… sebentar lagi semuanya beres”

Ara tersenyum tipis, menatap jalanan sepi yang mulai gelap. Meski awalnya frustasi, kehadiran Danu membuat hatinya terasa lebih ringan.

“Eh… tapi nanti aku traktir minum deh, biar nggak capek” ucap Ara setengah bercanda.

Danu tertawa kecil “Eh gak usah sekarang yang penting motormu aman dulu”

Mereka berdua berdiri di pinggir jalan, sementara Danu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi pegawai dibengkelnya. Suasana sepi magrib terasa sedikit hangat karena kehadiran sahabat lama di waktu yang tepat.

Danu menyalakan ponselnya, menekan beberapa nomor, lalu menunggu beberapa saat “Oke… nanti sebentar lagi mereka datang” katanya sambil menatap motor yang masih diam

Ara menghela napas panjang, duduk di tepi trotoar sambil menatap jalanan yang mulai gelap “Huh… untung banget kamu datang tepat waktu Danu. Kalau sendirian aku pasti panik banget” ujarnya pelan.

Danu tersenyum sambil duduk di sebelah Ara.

1
Irmha febyollah
ko di ulang2 kk
Irmha febyollah
lah kmren si Danu ngantarin gorengan ini ngantar motor SMA karyawan blg gak tau rumah si Ara.
Wati Anja
ko ga ada lanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!