Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan sang pelindung
Jarum jam di dinding studio seni rupa menunjukkan pukul tiga tiga puluh. Cahaya matahari sore yang mulai miring memberikan nuansa kemerahan yang dramatis pada lukisan-lukisan yang sedang dikerjakan. Gia sedang membersihkan paletnya, jemarinya masih menyisakan sedikit noda cat hijau zamrud yang sulit hilang. Ia merasa sangat puas hari ini; selain pujian dari Profesor Handoko, ia juga berhasil menyelesaikan dasar dari karya pertamanya.
Namun, pikirannya mulai teralih pada pesan Ares pagi tadi jika dia akan dijemput pukul setengah empat tepat. Gia tahu Ares adalah pria yang sangat disiplin dengan waktu. Ia segera merapikan peralatan lukisnya ke dalam tas kulit pemberian Ares, mengganti celemeknya dengan jas blazer kasual yang tadi ia lepas, dan berpamitan pada beberapa teman sekelas yang mulai menyapanya setelah melihat bakatnya tadi.
“Gia, mau bareng ke parkiran?” Tanya Satria, mahasiswa tingkat akhir yang tadi pagi mencoba menyapanya. Satria tampak lebih sopan kali ini, meski matanya masih menunjukkan ketertarikan yang jelas.
Gia tersenyum tipis, menjaga jarak sesuai yang diminta Ares namun tetap sopan.
“Terima kasih, Satria. Tapi suami saya sudah dalam perjalanan menjemput.”
Mendengar kata ‘suami’, Satria dan beberapa mahasiswa di dekatnya tampak tertegun. Mereka tidak menyangka mahasiswi cantik yang terlihat masih sangat muda ini sudah menikah. Sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh, Gia sudah melangkah keluar gedung, menuju area penjemputan utama.
Tepat pukul empat sore, sebuah pemandangan yang tidak biasa terjadi di depan gerbang utama kampus. Sebuah mobil mewah sedan hitam dengan kaca gelap yang mengilap sempurna perlahan memasuki area lobi. Kehadiran mobil itu segera memancing perhatian. Mahasiswa yang sedang duduk-duduk di tangga gedung berhenti mengobrol, dan beberapa dosen yang baru keluar dari kantor pun ikut melirik.
Mobil itu berhenti tepat di depan tempat Gia berdiri. Sopir pribadi berpakaian rapi keluar untuk membukakan pintu belakang, namun sebelum sopir itu sempat bergerak lebih jauh, pintu tersebut terbuka dari dalam.
Area keluar dari mobil. Ia masih mengenakan setelan jas kantor lengkap tanpa dasi, dengan kemeja putih yang sedikit terbuka di bagian kerah. Penampilannya memancarkan aura kekuasaan dan kemapanan yang sangat kontras dengan lingkungan kampus yang santai. Ares berdiri di samping pintu mobil, melipat tangannya di dada, dan matanya langsung terkunci pada sosok Gia.
Keheningan sesaat menyelimuti area lobi. Bisik-bisik mulai terdengar di antara para mahasiswa.
“Itu suaminya?”
“Bukannya itu Aresta Ardiansyah? CEO Ardiansyah Group?”
“Gila, Gia itu istrinya Aresta?”
Gia merasa wajahnya memanas saat menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian. Namun, melihat Ares berdiri di sana kokoh, protektif, dan menatapnya dengan begitu lembut membuat rasa canggung itu kalah oleh rasa bangga. Gia berjalan mendekat, langkahnya kini lebih mantap.
“Sudah lama menunggu?” Tanya Ares. Suaranya rendah namun berwibawa, cukup terdengar oleh orang-orang di sekitar mereka.
“Baru saja keluar. Tapi kenapa Mas yang jemput? Bukannya tadi pagi Mas bilang, supir yang akan menjemput?" Gia heran karena justru suami posesifnya itu yang menjemputnya sendiri.
"Mas cuma mau mau memastikan kamu baik-baik saja di hari pertama kuliah!"
Ares tidak langsung mengajak Gia masuk ke mobil. Ia justru memperhatikan Gia dengan seksama, dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Tangannya terulur untuk merapikan helai rambut Gia yang sedikit berantakan karena angin sore.
“Bagaimana harimu? Profesor itu tidak menyulitkanmu, kan?”
“Sama sekali tidak. Malah beliau memuji lukisan Gia” Cerita Gia dengan mata berbinar-binar.
Ares menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyum bangga yang jarang ia tunjukkan di depan publik. Ia kemudian melirik sekilas ke arah kerumunan mahasiswa di belakang Gia, termasuk Satria yang masih berdiri di sana dengan wajah pucat. Tatapan Ares sangat tenang, namun memiliki ketajaman yang seolah memberikan peringatan tak kasat mata bahwa wanita di depannya adalah miliknya yang paling berharga.
“Bagus kalau begitu. Sekarang, ayo masuk. Mas sudah memesan tempat untuk kita makan sore sebelum pulang” Ucap Ares sambil merangkul bahu Gia dengan posesif, menuntunnya masuk ke dalam kemewahan mobilnya.
Di dalam mobil yang sejuk dan kedap suara, suasana seketika berubah menjadi jauh lebih intim. Ares tidak melepaskan rangkulannya meski mereka sudah duduk di kursi belakang. Ia menarik napas dalam, menghirup aroma khas Gia yang kini bercampur dengan bau cat minyak.
“Mas bau cat ya?” tanya Gia khawatir, mencoba sedikit menjauh.
Ares justru menariknya lebih dekat, membiarkan kepala Gia bersandar di bahunya.
“Tidak. Mas suka baunya. Itu bau kerja kerasmu hari ini”
Ares mengambil sebuah kotak kecil dari kursi di sampingnya dan memberikannya kepada Gia.
“Ini untuk merayakan hari pertamamu sebagai mahasiswi berprestasi”
Gia membukanya dengan ragu. Di dalamnya terdapat sebuah pena sketsa edisi terbatas dengan ukiran inisial namanya G.A. (Gia Ardiansyah). Pena itu terbuat dari bahan premium yang sangat ringan namun kuat.
“Mas, ini indah sekali. Terima kasih” Bisik Gia. Ia menatap Ares dengan penuh rasa syukur.
“Terima kasih juga karena Mas sudah menjemput tepat waktu. Tadi di dalam, Gia sempat merasa sedikit gugup”
Ares mengusap tangan Gia yang masih memiliki noda cat di sela kuku.
“Mas akan selalu menjemputmu, Gia. Mas ingin kamu tahu bahwa sejauh apa pun kamu melangkah di dunia luar, Mas adalah tempatmu untuk pulang. Mas memberikanmu kebebasan untuk belajar, tapi Mas tidak akan pernah melepaskan tanggung jawab Mas untuk menjagamu”
Gia merasakan ketulusan dalam ucapan Ares. Ia menyadari bahwa sisi protektif Ares telah berevolusi. Ares tidak lagi ingin mengurungnya dalam sangkar emas, melainkan ingin menjadi pagar yang kokoh agar ia bisa menari dengan bebas di dalamnya.
“Mas ingin dengar semua ceritanya” Kata Ares sambil menyandarkan kepalanya di atas kepala Gia.
“Tentang lukisanmu, tentang teman-temanmu, kecuali pria yang tadi menyapamu di lobi, dan tentang apa pun yang membuatmu tersenyum hari ini”
Gia tertawa kecil, rasa hangat memenuhi dadanya saat ini.
“Mas tetap saja tidak mau bahas mahasiswa tadi ya?”
“Mas hanya ingin fokus pada bagian yang penting saja, yaitu kamu" Balas Ares dengan nada suara yang lebih lembut dari biasanya.
Sore itu, di tengah kemacetan Jakarta yang biasanya membosankan, perjalanan pulang mereka terasa sangat singkat. Di dalam mobil itu, di antara cerita tentang kanvas dan pujian dosen, sebuah ikatan baru sedang diperkuat. Ares mulai belajar untuk benar-benar mendengarkan, dan Gia mulai belajar untuk benar-benar terbuka.
Mereka berdua tahu, malam ini di mansion akan ada suasana yang lebih hangat. Bukan lagi sebagai dua orang yang terikat kontrak, tapi sebagai sepasang kekasih yang baru saja menemukan cara untuk saling menghargai ruang masing-masing tanpa harus kehilangan kedekatan.
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus