Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : (WANING 21+ ) Desahan di Meja Kerja
Sore di kampus selalu punya cara sendiri untuk terasa lengang. Langkah kaki Bela menggema pelan di lorong arsip, sementara lampu-lampu mulai dimatikan satu per satu. Sejak siang perutnya tak bersahabat. Sudah tiga kali ia bolak-balik ke toilet, menahan mual yang datang tanpa aba-aba.
Tangannya baru saja hendak memutar gagang pintu ketika suara asing menghentikannya.
"Shhh.... Ahhh...!"
Pelan. Terputus. Lalu diikuti helaan napas yang tidak salah lagi maknanya.
Bela membeku.
Dari celah pintu yang tak tertutup sempurna, ia melihat bayangan dua tubuh. Jas kerja tergeletak sembarang, rambut acak-acakan, dan gerakan yang terlalu dekat untuk disalahartikan sebagai percakapan biasa.
Itu Dimas. Sosok pria yang selalu menggoda Bela, yakni rekan kerjanya.
Dan seorang perempuan, rambut pirang wanita itu tergerai, kontras dengan pakaian dosen yang setengah terlepas dari tubuhnya.
Bela mengenalnya. Dia dosen muda yang baru beberapa bulan mengajar, janda dengan satu anak, selalu tampil percaya diri, selalu jadi bahan bisik-bisik.
Tangan Bela refleks menutup mulutnya.
"Ahhh... Dimas, lebih keras! Jangan kasih ampun, mmmphhh!" sang dosen meracau, kepalanya terlempar ke belakang, membentur dinding kayu dengan irama yang sinkron dengan tumbukan tubuh mereka.
Dimas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih kedua tangan wanita itu, menguncinya ke atas kepala dengan satu tangan, sementara tangan lainnya meremas kasar payudara besar yang sudah menyembul keluar dari bra-nya. Ibu jari Dimas memainkan puting yang menegang keras, membuat wanita itu membusungkan dada, memohon sentuhan yang lebih liar.
"Sialan... lu sempit banget meski udah punya anak," geram Dimas, suaranya parau dan berat. Ia menarik diri sejenak, hanya untuk menghujamkan kembali miliknya dengan hentakan yang lebih brutal.
*Plak! Plak! Plok!*
Suara persatuan kulit itu menggema, basah dan nyaring. Sang dosen menggigit bibir bawahnya hingga memerah, matanya terpejam rapat menikmati setiap inci ketebalan yang mengisi rahimnya. Ia melepaskan satu tangannya yang terkunci, lalu dengan berani meraba ke bawah, mengarahkan tangan Dimas untuk meremas pantatnya lebih keras lagi.
Dimas tiba-tiba menghentikan hantaman pinggulnya. Ia menarik diri, membuat suara
’plok’
Basah bergema saat senjatanya lepas dari liang yang sudah banjir itu. Sang dosen mengerang kecewa, namun protesnya tertelan saat Dimas menarik tubuh wanita itu ke pinggir meja besar, memaksanya duduk dengan paha terbuka lebar tepat di depan wajah pria itu.
"Sabar sayang, gue mau cicipi sampai ke dasarnya," geram Dimas dengan tatapan lapar.
Tanpa menunggu jawaban, Dimas menenggelamkan wajahnya di antara pangkal paha putih sang dosen. Ia menjulurkan lidahnya, menyapu kasar dari bawah hingga ke atas, melahap cairan yang masih hangat dan berlimpah di sana.
"Ahhh! Shhh... Dimas! Lidahmu... ohhh god!" jerit sang dosen sambil menjambak rambut Dimas, menekan kepala pria itu agar semakin dalam membenamkan wajah di mahkotanya.
Dimas semakin liar. Ia menggunakan ujung lidahnya untuk menusuk-nusuk lubang yang masih berkedut itu, lalu beralih memberikan isapan kuat pada bagian sensitif yang menonjol. Suara decapan basah dan lidah yang mengaduk-aduk itu terdengar sangat jelas di telinga Bela. Sang dosen menggeliat hebat di atas meja, punggungnya melengkung kaku, sementara tangannya meremas payudaranya sendiri yang bergoyang mengikuti gerakan liar Dimas di bawah sana.
"Lagi... jilat terus, ahh! Masukin lidahmu lebih dalam, Dim!" racau wanita itu dengan mata terpejam, wajahnya memerah penuh gairah.
Setelah merasa cukup memanjakan wanita itu dengan lidahnya, Dimas kembali berdiri. Otot-otot tangannya yang berurat mencengkeram paha sang dosen, lalu dengan satu hentakan brutal, ia kembali menghujamkan miliknya masuk sepenuhnya.
*Plak! Plak! Plok!*
Suara persatuan kulit itu kembali menggema, lebih nyaring dan lebih basah dari sebelumnya. Dimas memacu ritmenya tanpa ampun, mendorong tubuh dosen cantik tersebut hingga punggungnya beradu dengan dinding dekat pintu—sangat dekat dengan pintu masuk tempat Bela bersembunyi.
"Sialan... kamu enak banget, ahh! Sempitnya nggak masuk akal!" umpat Dimas sambil menghisap kuat leher wanita itu, meninggalkan tanda merah yang kontras.
Bela, yang menyaksikan setiap gerakan lidah dan hantaman fisik itu, merasakan ulu hatinya teremas hebat.
Memori tentang Raka yang melakukan hal serupa padanya di sofa beludru, bagaimana lidah Raka menjelajahi lubangnya hingga ia menyembur. Kini berputar kembali di kepalanya seperti film horor. Pemandangan sperma dan pelumas yang mulai membasahi paha sang dosen membuat mual yang sedari tadi ia tahan tak lagi bisa dibendung.
Bela mundur perlahan, langkahnya goyah. Ia berlari kecil menuju toilet terdekat dengan tangan menutup mulut. Di depan wastafel, ia memuntahkan semua isi perutnya yang sebenarnya hanya berupa cairan asam. Napasnya tersenggal, wajahnya sepucat kertas, dan tangannya gemetar hebat saat menatap bayangannya di cermin.
Pagi berganti siang dengan rapi, seolah dunia punya kemampuan aneh untuk membersihkan dirinya sendiri dari noda semalam. Hotel langganan universitas itu tampak hidup sejak awal. Karpet merah marun terbentang di lobi, spanduk bertuliskan 'Hari Ulang Tahun Universitas' berdiri tegak di dekat pintu masuk. Tidak berlebihan, tidak juga murahan dan cukup pantas untuk sebuah institusi yang menjunjung nama baik.
Bela datang bersama ibunya.
Sebagai rektor, ibunya tampil anggun dalam balutan kebaya modern berwarna gelap. Senyum profesional terpasang sempurna, langkahnya mantap, seolah tak ada ruang bagi kelemahan. Bela mengikutinya di sisi kanan, sedikit di belakang, mengenakan gaun sederhana dengan potongan bersih. Semi formal, aman. Seperti perisai.
“Pegang ini, Bel,” ujar ibunya pelan sambil menyerahkan undangan kepada petugas penerima tamu. “Nanti duduk di meja dosen dan keluarga.”
Bela mengangguk. “Iya, Mah.”
Begitu masuk ke ballroom, riuh rendah langsung menyambut. Musik lembut mengalun, aroma makanan hangat bercampur wangi parfum. Para dosen, staf, dan keluarga berbaur. Tawa, sapa, dan obrolan ringan mengisi ruang.
“Bu Rektor, selamat HUT universitas,” sapa seorang dosen senior sambil menjabat tangan ibunya.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah hadir,” jawab ibunya ramah.
Bela tersenyum tipis, lalu pandangannya bergerak dan berhenti.
Di sudut ruangan, Dimas berdiri bersama seorang perempuan muda yang menggendong bayi. Wajah perempuan itu lembut, matanya berbinar saat bayi kecil di lengannya tertawa. Anak itu belum genap setahun, pipinya merah, jemarinya mencengkeram kerah jas ayahnya.
“Sayang, jangan digigit itu,” kata perempuan itu sambil tertawa kecil.
Dimas tersenyum, mengelus kepala anaknya. “Nak, itu bukan mainan.”
Adegan itu sederhana. Hangat. Dan justru karena itulah dada Bela terasa seperti diremas.
Ia memalingkan wajah, napasnya mendadak pendek. Ingatan kemarin sore menyeruak tanpa izin—ruang sunyi, pintu setengah terbuka, suara-suara yang tak seharusnya ada. Sosok Dimas dan perempuan itu yang bernama Olivia, tumpang tindih dengan pemandangan keluarga kecil di depannya.
Bagaimana bisa semuanya terlihat begitu normal?
Bela mengambil segelas air putih. Tangannya gemetar saat meneguknya. Di saat itulah ia melihat Olivia.
Dosen muda itu berdiri bersama beberapa kolega, tertawa ringan. Gaunnya sederhana namun pas, rambut pirangnya tergerai rapi. Tidak ada anak di sisinya. Tidak ada bayangan beban. Wajahnya tenang bagi seseorang yang kemarin sore berada di balik pintu yang sama.
“Olivia, ya?” sapa seorang dosen. “Kamu makin betah di sini?”
Olivia tersenyum. “Lumayan, Pak. Lingkungannya suportif.”
Kata suportif itu seperti tamparan.
Bela menunduk. Ingatannya berbelok lebih jau ke masa kecilnya. Ke wajah ayahnya yang selalu tersenyum di depan kamera, influencer dengan citra keluarga harmonis. Ke malam-malam ketika ibunya menangis pelan di kamar dan Bela pura-pura tidur. Bisik-bisik tentang perempuan lain, tentang pesan-pesan yang tak sengaja terbaca.
"Papa juga selalu terlihat baik-baik saja," pikir Bela getir. "Sama seperti mereka"
Seketika, potongan-potongan itu menyatu. Olivia. Dimas. Ayahnya. Ibunya. Semua berada di satu garis yang sama—garis yang memisahkan citra dan kebenaran.