NovelToon NovelToon
TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

TUKAR JODOH (SUAMIKU KAYA)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_va

Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.

Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.

Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.

Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.



Simak cerita selengkapnya 🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Sekar tersenyum simpul membaca balasan pesan dari Nara yang memberitahu nama dan nomor ponsel ibunya. Sekar tahu nomor kontak Nara dari Rama.

Kalau mau, Sekar bisa saja bertanya langsung ke Rama. Tetapi ia ingin ada komunikasi dengan menantunya itu. Walaupun belum tahu kapan akan datang menemui Risna dan Rahmat.

"Nyonya, Pak Radit sudah tiba," ucap Jia.

Sekar beranjak dari sofa tunggal, keluar dari ruangan itu. Langkahnya cepat tetapi tetap anggun. Tampak Bianca juga menyambut kedatangan Radit.

Nina dan penjaga rumah, membantu Radit turun dari mobil dan berpindah di kursi roda.

"Selamat datang, selamat kembali di rumahmu," ucap Sekar.

"Mas Radit, aku senang sekali kita bisa berkumpul kembali. Kita bertiga." Bianca memeluk suaminya.

"Aku sangat merindukanmu."

"Aku juga sangat merindukan kamu, Bia," tukas Radit membelai rambut panjang Bianca.

Bianca menegakkan tubuhnya. Meminta Nina minggir, karena dia yang ingin mendorong kursi roda.

"Jangan, Bia," sergah Sekar. "Kamu dalam masa pemulihan setelah melahirkan. Nina saja yang mendorongnya."

Bianca berdecak pelan. Membiarkan Nina yang mendorong kursi roda. Sejak pertama kali bertemu, dia tidak menyukai Nina. Walaupun penampilannya sederhana cenderung kampungan, tetapi punya fisik yang lumayan cantik.

Kamar Radit berseberangan dengan kamar bayi. Karina yang menggendong Nindy, menyapa menantunya dan mendekatkan Nindy.

"Radit, ini Nindy."

Radit mencium pipi merah itu. Lalu berkata, "Antar aku ke kamar. Aku lelah...."

"Iya, Pak." Nina mendorong kursi roda masuk ke dalam kamar.

Sekar menyingkap selimut dan menata bantal. Nina dengan sigap membantu Radit berpindah ke tempat tidur.

Bianca hanya bisa memandangi, karena memang tubuhnya belum pulih total. Dia duduk di sisi ranjang, memegang tangannya Radit. Ingin rasanya ia mengadu tentang ibu mertuanya, tapi percuma. Karena ingatan Radit terganggu.

Sebelum pulang dari rumah sakit, Bianca ke kamar inap Radit. Sang suami malah bertanya kembali, kapan melahirkan. Walaupun begitu, Bianca merasa beruntung karena Radit tidak kehilangan ingatan di masa-masa yang telah terlewati.

"Kamu juga istirahat." Radit memejamkan mata.

Bianca perlahan berdiri. Keluar dari kamar itu. Berhenti sebentar, karena menguping pembicaraan antara Sekar dan Nina.

"Apa saya bekerja sehari penuh, Bu Sekar?"

"Kalau kamu nggak keberatan."

"Saya punya keponakan yang selama ini saya rawat, jadi saya tidak bisa, Bu," terang Nina.

"Tapi kamu tetap butuh pekerjaan, kan?"

Nina mengangguk. "Iya."

"Kamu akan menjaga Radit setiap malam. Untuk pagi sampai sore ada perawat lain," kata Sekar.

"Atau kamu yang ingin merawatnya di siang hari?"

"Malam saja, Bu. Terima kasih memberikan kesempatan saya bekerja," ujar Nina.

"Kalau boleh tahu, di mana orang tua ponakanmu?" tanya Sekar.

"Kakak saya meninggal dunia, suaminya menikah lagi di luar negeri dan tidak peduli dengan anaknya." Nina berdehem pelan. Helaan napasnya terdengar berat.

"Usia ponakan saya lima tahun."

"Kalau sekarang dijaga siapa ponakanmu?"

"Ada mama dan papa. Papa pernah stroke." jadi Nina menghela napas lagi.

"Maaf, aku hanya ingin tahu kondisi keluargamu." Sekar mengusap lembut bahu Nina.

"Kalau untuk sehari ini saja bisa, kan?"

"Bisa, Bu."

Sekar juga meninggalkan kamar. Bianca mengikutinya sampai di dapur, menyarankan Nina diganti perawat laki-laki.

"Aku nggak nyaman, tubuh suamiku diraba-raba perempuan lain, Ma."

"Kenapa baru sekarang? Sebelumnya kamu nggak protes. Bia, waktu di rumah sakit, Radit dirawat para perawat-perawat yang kebanyakan perempuan," ucap Sekar.

"Bedanya, Mas Radit sudah sadar, Ma," ungkap Bianca.

"Aku nggak nyaman."

"Untuk perawat di siang hari, mama akan mempekerjakan perawat lelaki. Untuk sementara, Nina tetap bekerja," tegas Sekar.

...****************...

"Benarkah?" Risna yang sedang menjahit kancing kemeja berhenti menggerakkan tangan. Memandang Nara yang duduk selonjoran di sebelahnya.

Nara yang sedang mengunyah roti, mengangguk-anggukkan kepalanya.

Risna meletakkan kemeja di pangkuan, mengedarkan pandangannya di ruang tamu yang cukup luas. Kursi kayu, lemari bufet besar, beberapa bingkai foto di dinding. Tumbuhan palsu di pojok kanan dekat jendela. Lukisan pemandangan serta tirai motif burung bangau warna merah.

"Ibu kok insicure, Nara," ucap Risna pelan.

"Rumahnya Rama pasti seperti istana."

"Kalau seperti istana berlebihan, Buk."

"Itu hanya kiasan." Risna menabok paha Nara.

"Paham, Buk. Sakit tauk." Nara mengusap pahanya.

Nara datang ke rumah ibunya, memberitahu langsung kalau ibunya Rama ingin bertemu.

"Belum tahu waktu pastinya ya?" Risna melanjutkan memasang kancing baju.

"Belum tahu. Kalau mau datang, pasti mama Sekar telpon ibuk," sahut Nara mengambil jambu kristal yang sudah dipotong-potong.

Risna menggigit benang sampai putus.

"Seperti apa ibunya Rama?" tanyanya kemudian.

"Cantik lah, Buk. Mas Rama aja ganteng.....

"Halah, sekarang bilang ganteng. Dulu, cemberut terus. Nggak mau Rama." Risna kembali menabok paha Nara.

"Ibuk!"

"Tapi ibu seneng, akhirnya kamu dan Rama bisa saling menerima," kata risna.

"Tuh, dijemput."

Nara menoleh ke arah pintu. Melihat suaminya yang masih memakai helm dan jaket ojol.

"Aku pulang dulu, Buk," pamit Nara segera berdiri.

"Iya, hati-hati." risna mengambil kemeja lain.

"Kami pulang, Buk," ucap Rama.

"Iya!" Risna melambaikan tangan kanannya.

Nara segera naik ke boncengan di belakang dan memeluk suaminya erat. Tidak mempedulikan rumah sebelah yang banyak orang, kata ibunya tadi ada acara pertemuan keluarga dari pihak Yuni.

Rama memacu motornya lebih cepat karena awan hitam mulai menguasai langit. Hujan deras mengguyur ketika motor memasuki halaman rumah kontrakan.

Rama memarkirkan motor di teras. Nara turun seraya mengibas-ngibaskan jaketnya yang kena air hujan. Lalu merogoh kunci di dalam tas. Dibukanya pintu rumah bercat cokelat tua itu.

"Helmnya, Sayang...."

Nara melepas helmnya, yang kemudian diberikan ke Rama.

Rama mengunci motor yang dibiarkan di teras. Dua helm ditaruh di bawah kursi, lalu ditutupnya pintu.

"Mas, yang co ya?" tanya Nara menunjuk paket yang belum dibuka.

"Iya, sambil nungguin kamu yang bobok nyenyak. Belum semua itu," sahut Rama.

"Aku tahu." Nara membuka lemari pakaian. Suaminya meng-check out semua daleman dan dua lingerie yang dipilih Nara.

"Kok belum dibuka?" tanya Rama.

"Buka dong, nanti barangnya nggak sesuai."

Nara meletakkan baju tidur yang baru diambilnya. Mengambil gunting di laci lemari. Membuka paket satu per satu.

Paket pertama tentu saja sepatu, bisa dilihat bentuk kotaknya. Paket kedua, sepasang pakaian dalam warna hitam, yang ketiga adalah dua lingerie. Yang lain belum sampai.

"Sesuai kok...."

"Dicoba." Rama menyuruh dengan wajah serius.

Nara memonyongkan bibirnya. Duduk di sisi tempat tidur, mencoba sepatu baru.

"Pas. Sesuai ukuran."

Rama mengerakkan dagunya, menunjuk pakaian dalam dan lingerie di atas kasur.

"Ini dicuci dulu, Mas. Nggak baik untuk kesehatan kulit," kata Nara.

"Cuci sekarang ntar kering. Nanti malam dipake."

"Mas kok maksa." Nara mencubit perut suaminya.

"Mau dipaksa?" Rama meraih daleman itu dan lingerie.

"Kamu tiap hari bikin panas."

"Ih, jadi mesum plus maniak." Nara mengejek suaminya.

"Gara-gara kamu," sahut Rama.

"Tapi aku suka, Mas Rama jadi beringas...." kata Nara terkekeh kecil.

"Nara, kamu nggak ingin naik motor lagi? Mungkin bisa dicoba jarak dekat." Obrolan Rama berubah serius. Tidak jadi mencuci baju seksi itu, hanya ditaruh di ember.

"Udah pernah coba, Mas. Gemetar rasanya. Nggak percaya diri. Khawatir mencelakai orang," ungkap Nara.

"Maafkan aku yang selalu merepotkan minta dijemput."

"Bukan masalah itu, Sayang." Rama mendekati istrinya yang berdiri di dekat kulkas.

"Aku nggak keberatan kalau harus menjemputmu ratusan kali. Mungkin dalam kondisi darurat, kamu bisa mengendarai motor."

Nara menarik napas dalam-dalam. Mengatakan akan berusaha semaksimal mungkin.

"Tapi aku nggak maksa." Rama memeluk istrinya.

...****************...

Sepulang kerja di klinik kecantikan, Gita mengendarai mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya. Mengambil beberapa pakaian dan sepatu.

Gita merasa agak mual dan pening, sampai di rumah banyak tetangga yang duduk lesehan di ruang tamu. Rasanya ingin tidur tapi harus menyapa tetangganya.

"Wah, manten baru sudah kerja?"

"Iya, Bu Puji. Cuma dapat libur tiga hari, Mas Dewa udah dinas dari kemarin. Kami bukan pengangguran," jawab Gita, menahan mual yang makin menjadi. Gita berlari ke belakang, masuk ke kamar mandi.

Ibu-ibu yang kumpul itu saling menatap karena mendengar suara Gita yang huwek huwek muntah.

Yuni pun segera menutup acara, membagi-bagikan kantong plastik berisi sabun cuci baju, handuk, sekaleng biskuit, dan uang seratus ribu di dalam amplop. Sebagai ucapan terima kasih karena mau membantu di acara siraman dan syukuran.

Setelah itu bergegas ke kamar Gita, yang terlihat sedang mengambil pakaian.

"Kamu hamil?"

"Nggak tahu. Tadi makan tongseng kambing agak amis jadi mual, Ma," sahut Gita.

"Periksa atau cek mandiri."

"Iya, nanti."

Yuni keluar kamar. Karena tidak punya asisten rumah tangga, dia membereskan sendiri gelas-gelas minum. Mendengar suara orang ngobrol di luar, Yuni berjalan keluar rumah.

Tampak Risna, Bu Puji, dan Mbak inem sedang mengobrol dan tertawa kecil.

"Heh, kalian ngomongin Gita ya. Wajar dong hamil, ada suaminya?!!" tuduh Yuni.

"Enggak, Bu Yuni. Kami ngobrol sinetron," sahut Bu Puji.

"Sinetron India, Bu. Yang jatuhnya lama banget, pake gerak slow mosyen." Mbak inem menimpali.

"Halah, alasan! Heh, Risna! Nara kok belum hamil, udah tiga bulan nikah, kan?!" Yuni malah mengejek Risna.

"Anak kuasa Tuhan, Yun. Nikah tujuannya bukan hanya anak saja," sahut Risna sabar.

"Jangan-jangan Rama mandul, udah kere mandul!" olok Yuni.

Yuda yang mendengar itu tidak terima. Berjalan mendekat ke pagar yang memisahkan.

"Bude! Mas Rama itu kaya, punya bis banyak!"

"Yud...." Risna membekap mulut putra bungsunya itu.

Yuni tergelak. Tawanya dibuat-buat.

"Kamu halu, Yuda. Bis Tayo??"

"Yuda, biarin dulu," bisik risna.

"Sana masuk aja."

"Kalau tahu jangan pingsan ya, Bude!?" kata Yuda bersungut-sungut. Lantas masuk rumah.

"Huh, dasar halu!" ejek Yuni.

"Yun, Yun, Gita hamil duluan kok bangga sih. Heran." Risna mengejek balik.

"Bu Risna, kami duluan," kata Bu Puji..

"Ya, nanti kena b-om mol-otov...." sahut Risna.

"Halu! Mana ada punya bis. Haluuuu!!" Yuni belum puas mengejek.

"Hanya punya motor matic aja."

"Serah deh...." Risna lanjut menyapu halaman.

1
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
sepanjang jalan kenangan kak😂
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜: Nah itu masalah nya😭😭😭😭🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
꧁ռǟռǟ꧂
panggilan pak rete Kayak nama korea "suho eh suha" 😄😄😄
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Pingsan dong Bu😂😂😂

Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Hmmmmm kecelakaan Radit di sengaja,

Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨

Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Iri bilang bos 😂

Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,

Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
Tri Wahyuni: si gita minta di tampol 😭🤭
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
mulai kebongkar nih siapa Bianca...
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Yg banyak atuh kak,
nanggung kelanjutan nya 😬😬
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
𝐈𝐬𝐭𝐲
Bu Risna Shok ternyata memiliki menantu orang kaya😂😂
Tri Wahyuni: shik shak shock 🤭🤣
total 1 replies
꧁ռǟռǟ꧂
suka sama ceritanya tentang kehidupan sehari hari,, baca sambil bayangin, Kalo gk masuk di bayangan brati ceritanya kurang masuk di Hati......
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
syirik bgt sih nih orang.. 😂😂
Tri Wahyuni: minta di tampol kayanya 😭🤣🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
Nara maklumi saja suami mu ya dia kan polos...😂😂
Tri Wahyuni: pura² polos 🤣🤣
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor..
Tri Wahyuni: baik. di tunggu updatenya kak 😍
total 1 replies
Poni Jem
sampai saat ini belum ada typo. masih baik untuk dibaca. semangat trs 👌
Tri Wahyuni
bagus 🥰
Tri Ayu
semangat berkarya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!