NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulang Tahun Damar

Jam dinding kantor menunjukkan akhir jam kerja. Para karyawan bersiap pulang, sebagian membicarakan rencana malam mereka.

Nadira menghampiri meja Naya sambil menyampirkan tas di bahunya. Senyum lebar menghiasi wajahnya, penuh semangat.

"Nay, nongkrong yuk. Kita kan udah lama banget nggak keluar bareng. Kangen tau, ngobrol santai kayak dulu," ajaknya ringan.

Naya yang sedang merapikan mejanya, tangannya berhenti sesaat di atas berkas, sementara pikirannya melayang pada tanggal yang sejak tadi terus menghantuinya.

"Hmmm.... kayaknya aku nggak bisa, Dir." jawabnya pelan.

Nadira mengerucutkan bibir, "Loh, kenapa? Kamu nggak lembur, kan?"

Naya memaksakan senyum kecil, "Engga. Mau langsung pulang aja, Dir. Badanku agak capek Juga."

Nadira menatapnya, terlintas di pikirannya tentang kondisi ayah Naya.

"Maaf ya, Nay. Ini karna kondisi om yang belum pulih, ya?"

Naya mengangguk, sebenarnya bukan itu alasan utamanya tapi dia tak mau cerita pada siapapun soal itu.

"Lain kali aja ya, Dir."

"Janji tapi ya... " jawab Nadira mengangkat jarinya.

Naya tertawa kecil, matanya ikut tersenyum. "Iya, janji."

Naya berjalan menuju pinggir jalan, mengangkat tangan ketika sebuah angkot melambat di depannya.

Naya segera masuk, melewati rute yang sudah ia hafal, jalan yang biasanya membawanya pulang.

Namun beberapa menit kemudian, Naya tiba-tiba

menegakkan tubuhnya.

"Bang... Kiri depan ya."

Angkot berhenti di persimpangan yang bukan jalur menuju rumahnya.

Ia menarik napas panjang, arah kakinya kali ini berbeda.

Jalan yang dilalui Naya semakin sepi. Naya berjalan tanpa terburu-buru, seolah memberi waktu pada hatinya untuk bersiap.

Di tikungan menuju area pemakaman, sebuah lapak bunga kecil berdiri sederhana di pinggir jalan.

Langkahnya melambat.

Seorang ibu penjual bunga yang sudah cukup berumur tersenyum ramah saat melihatnya mendekat.

"Mau ziarah, Nak?" tanyanya lembut. Pertanyaan yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Naya mengangguk kecil.

Tangannya menyentuh beberapa tangkai bunga, memilih dengan hati-hati. Mawar putih dan sedikit bunga tabur menjadi pilihannya.

Ibu itu merangkainya cepat, lalu menyerahkan bunga tersebut dengan senyum hangat.

"Semoga yang didoakan tenang di sana."

Ucapan itu membuat dada Naya terasa sesak sesaat.

Gerbang pemakaman sudah terlihat di kejauhan, berdiri sunyi.

Beberapa peziarah terlihat duduk diam di kejauhan, tenggelam dalam doa masing-masing.

Naya menggenggam bunga lebih erat.

Ia tidak perlu mencari terlalu lama. Ia berhenti di sebuah makam yang sangat ia kenal. Nama yang terukir jelas, Damar.

Naya berdiri diam. Tatapannya terpaku.

Perlahan ia jongkok.

Tangannya merapikan daun-daun kering yang jatuh di atas makam.

"Dam.. aku datang lagi... " gumamnya pelan, hampir tak terdengar.

Ia meletakkan bunga yang dibawanya, lalu menaburkan bunga itu.

Angin sore berhembus pelan, mengibaskan beberapa helai rambutnya.

"Hari ini ulang tahun kamu," Lanjutnya lirih, senyum tipis muncul namun matanya mulai berkaca-kaca.

Naya memejamkan mata, mulai berdoa.

Bibirnya masih bergerak, tetapi suaranya tak lagi keluar. Ia menunduk lebih dalam.

Air matanya jatuh satu per satu ke tanah makam.

Naya menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan suara tangis yang ingin pecah.

Napasnya tersengal pelan.

"Aku masih kangen... " ucapnya lirih di sela tangis.

Air mata yang jatuh membawa ingatan Naya mundur jauh ke belakang, ke masa ketika segalanya masih terasa ringan. Ke masa ketika kehilangan belum pernah ia kenal.

Halaman sekolah SMA itu ramai oleh suara siswa yang baru pulang.

Naya berdiri di depan kelas sambil menggenggam sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas biru sederhana. Berkali-kali ia melihat ke arah tangga, menunggu seseorang muncul.

"Ngapain sih dari tadi bengong?" tanya teman Naya sambil menyenggol lengannya.

Naya cepat-cepat menyembunyikan kotak itu di belakang punggung. "Nggak... Engga ada!"

Temannya menyipitkan mata curiga, "ada apa sih? Nunggu seseorang ya?"

Wajah Naya langsung memerah.

Belum sempat ia membalas, suara langkah sepatu mendekat. Seorang laki-laki tinggi dengan tas selempang menggantung di bahunya berjalan santai sambil menguap.

Damar.

"Ehhh, kamu. Nunggu siapa?" tanyanya polos saat melihat Naya.

Naya gugup seketika. Semua kalimat yang sudah ia siapkan mendadak hilang. "I-ini.... " Ia menyodorkan kotak kecil dengan gerakan kaku."selamat ulang tahun."

Damar terlihat terkejut. "Kamu...."

Naya langsung berlari meninggalkan Damar.

"Kok lari sih? Belum bilang makasih juga."

Damar membuka bungkusnya saat itu juga, memperlihatkan sebuah jam tangan.

Kenangan itu memudar perlahan. Suara angin sore kembali menggantikan riuh halaman sekolah.

Naya membuka matanya, kembali berada di depan makam yang sunyi.

Perlahan Naya mengusap air matanya dengan punggung tangan. Napasnya belum sepenuhnya stabil, namun tangisnya mulai mereda.

Ia menunduk kembali, berniat merapikan bunga yang tadi ia taburkan.

Di sisi makam itu ternyata sudah ada bunga lain. Bunga mawar putih yang masih terlihat segar terletak rapi, jelas itu bukan miliknya.

Naya menoleh perlahan ke sekeliling.

Naya kembali menatap rangkaian bunga itu lebih lama. Dia menyentuh kelopak bunga itu.

"Mungkin... Mama sama Om yang sudah datang lebih awal." gumamnya pelan.

Ia kembali duduk di samping makam. Hanya diam, seolah belum siap meninggalkan tempat itu.

Suara langkah kaki terdengar Damar dari belakang.

Awalnya Naya tidak terlalu memperhatikan, banyak peziarah datang dan pergi. Namun langkah itu berhenti tepat tak jauh darinya.

Ia menoleh perlahan. Wajahnya terkejut.

Orangtua Damar berdiri di belakangnya.

Naya segera berdiri, sedikit gugup.

"Naya... " ucap Ibu Damar, jelas tidak menyangka akan bertemu dengannya di tempat itu.

"A-aku cuma..... mampir sebentar, Om." kata Naya pelan, meski tak ada yang bertanya.

Ayah Damar menggangguk pelan, "Kamu udah lama, Nak?"

Naya menunduk sedikit, "belum, Om."

Ibu Damar melangkah mendekat ke makam, matanya langsung berkaca-kaca.

"Nak.... " berjongkok di dekat makam, "Mama.... Mama rindu, Sayang." tangisan ibu Damar pecah.

Suaminya menenangkan istrinya, memeluknya.

Naya berdiri melihatnya, air matanya kembali jatuh.

Naya tak kuat melihat kesedihan ibu Damar yang sulit dijelaskan.

Perlahan ia melangkah mundur.

Memberi ruang. Memberi waktu.

"Aku pamit dulu, Om.. Mama," Ucapnya pelan, hampir tak terdengar.

Ia berbalik, berniat pergi sebelum air matanya kembali jatuh.

"Naya... "

Langkahnya terhenti.

Suara ibu Damar memanggilnya lembut.

Naya menoleh perlahan. Ibu Damar berdiri, matanya masih basah, tetapi berusaha tersenyum.

"Kamu yang bawa kedua rangkaian bunga ini?"

Dada Naya mengencang. Ia tak sanggup melihat tatapan itu terlalu lama. Tak ingin kebingungan yang perlahan menjadi kesedihan baru bagi ibu Damar.

"Itu... " suaranya tertahan. "Itu dari aku, Ma."

Ayah Damar memastikan kembali, "Dari kamu?"

Naya mengangguk kecil, memaksakan senyum tipis. "Iya, Om."

Ekspresi ibu Damar perlahan melunak. Matanya kembali berkaca-kaca, kali ini bukan karna sedih, melainkan haru.

Ibu Damar memeluk Naya dengan erat. Putranya seakan hadir melalui gadis itu.

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!