NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8: Dua Sisi Mata Uang

Jakarta pagi itu cerah. Terlalu cerah untuk hari yang berat.

Raka duduk di dalam mobilnya. Parkir di depan sebuah kafe di kawasan SCBD. Gedung-gedung tinggi menjulang di sekelilingnya. Kaca-kaca gedung memantulkan sinar matahari, menyilaukan. Tapi Raka tak peduli.

Ia menatap pintu kaca kafe itu. Di balik pintu itu, Lita sedang menunggu. Wanita yang tiga tahun lalu menghancurkan hidupnya.

"Pak, saya tunggu di sini," kata Pak Harto, sopirnya.

Raka mengangguk. Membuka pintu mobil. Melangkah masuk.

Kafe itu bernama "Arte". Modern. Minimalis. Penuh dengan orang-orang berjas dan bergaun mahal. Lita duduk di meja dekat jendela. Begitu melihat Raka, ia tersenyum. Senyum lebar. Tangan kanannya melambai kecil.

Raka mendekat. Duduk di hadapannya. Tanpa salam. Tanpa senyum.

"Rak, pagi," sapa Lita manis.

Raka diam. Memanggil pelayan. "Kopi hitam."

Pelayan pergi. Lita masih tersenyum. Tak terusik oleh sikap dingin Raka.

"Kau masih sama. Dulu juga begitu. Kalau marah, diam."

Raka menatap Lita. Wanita itu masih cantik. Mungkin lebih cantik dari tiga tahun lalu. Gaun putih yang dikenakan mahal. Riasan wajahnya sempurna. Tapi Raka tak melihat kecantikan itu. Ia hanya melihat wanita yang meninggalkan anaknya saat demam.

"Apa maumu?" suara Raka datar.

Lita tertawa kecil. "Rak, jangan kaku begitu. Aku datang dari jauh. Setidaknya sapa dulu."

"Apa maumu, Lita?"

Lita diam sejenak. Lalu ia memasang wajah serius. "Aku ingin kembali, Rak. Aku ingin kembali ke keluarga. Aku ingin jadi ibu buat Arka lagi."

Raka hampir tertawa. Tapi tertawanya getir.

"Kembali? Setelah tiga tahun? Setelah kau pergi dengan pria lain? Setelah kau tinggalkan Arka yang sedang demam?"

Lita menunduk. Tangannya memilin serbet kertas di meja.

"Aku tahu. Aku salah. Aku sadar itu. Tapi Rak, dulu aku muda, bodoh, ambisius. Richard datang, menjanjikan dunia. Dan aku... aku terpesona."

"Lalu?"

Lita mengangkat kepala. Matanya berkaca-kaca. Air mata mulai menggenang.

"Lalu Richard pergi. Begitu bisnisnya bangkrut, dia tinggalkan aku di Singapura. Dengan hutang. Tanpa apa-apa. Aku jatuh, Rak. Jatuh sangat dalam. Dan dalam kejatuhan itu, aku baru sadar. Satu-satunya orang yang pernah benar-benar sayang padaku adalah kau dan Arka."

Raka diam. Menatap air mata Lita. Tapi hatinya tak luluh.

"Kau tahu, Lita, selama tiga tahun ini Arka susah tidur. Dia takut gelap. Dia tak mau ditinggal sendirian. Dia hanya duduk di kamar, memeluk guling, menunggu ibunya yang tak pernah kembali. Kau tahu itu?"

Lita menangis. Sungguhan. Air mata jatuh di pipinya.

"Aku tahu. Arka cerita setiap kali aku telepon."

Raka terkejut. "Kau telepon Arka?"

"Ya. Setiap minggu. Tentu saja. Dia anakku."

Raka mengepalkan tangannya. Marah. Tapi ia tahan.

"Kau telepon dia, tapi kau tak pernah bilang mau kembali? Kau hanya buat dia berharap pada sesuatu yang tak pasti?"

"Aku takut, Rak. Takut kau tolak. Takut kau larang aku bicara dengan Arka."

Raka menghela nafas panjang. Kepalanya pusing.

"Lita, dengarkan aku. Aku tak peduli dengan masa lalumu. Aku tak peduli dengan Richard atau pria lain. Yang aku pedulikan hanya Arka. Dia anakku. Aku harus melindunginya."

Lita mengangguk. Masih menangis.

"Aku tahu. Dan aku ingin bantu kau melindunginya. Sebagai ibunya."

Raka menatap Lita. Lama. Mencari kebohongan di matanya. Tapi yang ia lihat hanya air mata.

"Lita, kau tahu apa yang Arka tanyakan semalam? Dia tanya, 'Bapak, Ibu jahat ya?' Kau tahu sakitnya mendengar itu?"

Lita terisak. "Maaf... maafkan aku, Rak..."

Raka diam. Pelayan datang membawa kopi. Meletakkan di depan Raka. Lalu pergi.

"Kau mau kembali, Lita. Tapi apa kau siap? Siap menerima konsekuensi? Siap menerima bahwa Arka mungkin butuh waktu lama untuk percaya lagi padamu? Siap menerima bahwa aku mungkin tak bisa kembali seperti dulu?"

Lita mengangkat wajahnya. Matanya sembab. Tapi ada tekad di sana.

"Aku siap. Aku akan lakukan apa pun. Aku akan buktikan bahwa aku berubah."

Raka diam. Menyesap kopinya. Pahit.

"Aku butuh waktu," katanya akhirnya. "Aku butuh waktu untuk memikirkan ini. Dan yang paling penting, Arka yang harus memutuskan. Bukan aku."

Lita mengangguk. "Aku mengerti. Aku akan tunggu. Aku bisa sabar."

Raka berdiri. Meletakkan uang di meja untuk membayar kopinya.

"Aku pergi dulu."

"Rak," panggil Lita.

Raka berhenti. Tak berbalik.

"Terima kasih sudah mau datang. Terima kasih sudah mau mendengar."

Raka tak menjawab. Ia melangkah keluar. Meninggalkan Lita yang masih duduk dengan air mata.

Di luar, matahari Jakarta semakin terik. Raka masuk ke mobil. Pak Harto menyalakan mesin.

"Ke kantor, Pak?"

Raka mengangguk. Tapi pikirannya tak di kantor. Pikirannya pada Arka. Pada Lita. Pada masa lalu yang tiba-tiba kembali.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Aira.

"Selamat pagi, Pak. Semoga hari ini baik. Arka sudah saya kirimi gambar pola baju. Dia senang sekali. Terima kasih sudah percayakan baju Arka pada saya."

Pesan itu sederhana. Tapi entah mengapa, membuat dada Raka hangat.

Ia membalas:

"Terima kasih, Nona Aira. Arka memang senang sekali dengan Nona. Saya juga senang."

Dikirim.

Raka menatap layar ponselnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Semalam, Aira mengirim pesan aneh. Tentang badai yang akan datang.

Mungkinkah Aira tahu sesuatu? Mungkinkah ia tahu Lita datang?

Raka menggeleng. Mungkin hanya kebetulan.

Tapi di hatinya, ada firasat tak enak. Sesuatu akan terjadi. Dan ia tak tahu apa.

---

Di butik, Aira membaca balasan Raka. Tersenyum kecil.

Maya yang sejak tadi mengamati, langsung mendekat.

"Mba, sms-an lagi? Sama siapa? Senyum-senyum."

"Klien. Bapaknya Arka."

"Ah, Mba Aira mah, tiap sms-an sama dia selalu senyum. Padahal bilangnya cuma klien."

Aira menatap Maya. "May, kamu jangan aneh-aneh."

"Aku enggak aneh-aneh. Aku cuma lihat fakta. Mba Aira suka sama Pak Raka. Iyakan?"

Aira menghela nafas. Ia ingin menyangkal. Tapi lidahnya kelu.

Maya tertawa. "Nah, kan diam. Berarti iya."

"May, dia itu klien. Dan dia punya masa lalu yang rumit. Mantan istrinya... dia baru datang kemarin. Menemuiku."

Maya terkejut. "Apa? Mba ketemu mantan istrinya? Ngapain?"

Aira menceritakan semuanya. Pertemuan di kafe Menteng. Kata-kata Lita. Ancaman Lita.

Maya mendengarkan dengan serius. Wajahnya berubah dari ceria menjadi tegang.

"Mba, ini serem. Wanita itu pasti punya maksud jahat. Jangan-jangan dia mau rebut kembali Raka."

"Aku juga mikir gitu. Tapi May, itu bukan urusanku. Aku cuma orang luar."

Maya menggeleng keras. "Mba, dari dulu aku kagum sama Mba Aira. Baik, sabar, pekerja keras. Tapi satu yang Mba kurang: Mba terlalu rendah diri. Mba pikir Mba cuma orang luar? Lihat apa yang sudah Mba lakukan buat Arka. Lihat bagaimana Arka sekarang. Dari anak pendiam, jadi ceria. Itu karena Mba. Bukan karena orang lain."

Aira diam. Maya melanjutkan.

"Jadi jangan bilang Mba cuma orang luar. Mba sudah jadi bagian hidup mereka. Suka atau tidak, Mba sudah terlibat."

Aira menatap Maya. Matanya berkaca-kaca.

"May, aku takut."

"Takut apa?"

"Takut kalau aku sayang sama mereka. Takut kalau aku terlalu dalam. Dan takut kalau nanti aku harus pergi."

Maya meraih tangan Aira. "Mba, cinta itu bukan soal takut. Cinta itu soal berani. Berani ambil risiko. Berani jatuh. Berani sakit. Tapi juga berani bahagia."

Aira diam. Kata-kata Maya sederhana. Tapi masuk ke hati.

Ponselnya bergetar. Lagi. Bukan Raka. Bukan Maya. Tapi Lita.

"Selamat pagi, Nona Aira. Aku baru ketemu Raka. Dia baik sekali. Mungkin aku akan segera kembali ke keluarga. Aku harap kau tahu posisimu. Jangan coba-coba menghalangi. - L"

Aira membaca pesan itu. Tangannya dingin.

Ia tak membalas. Hanya menatap layar ponsel.

Maya melihat perubahan wajah Aira. "Mba, ada apa?"

Aira menghela nafas. "Lita. Dia kirim pesan."

"Apa isinya?"

Aira menunjukkan ponselnya. Maya membaca. Lalu marah.

"Dasar perempuan kurang ajar! Ngancem-ngancem lagi. Mba, lawan! Jangan takut!"

Aira tersenyum getir. "May, dia ibu kandung Arka. Dia punya hak. Aku ini siapa?"

Maya mengepalkan tangan. "Mba, ibu kandung bukan berarti otomatis baik. Buktinya dia ninggalin Arka. Sementara Mba, yang bukan siapa-siapa, malah sayang sama Arka. Itu bedanya."

Aira diam. Hujan tiba-tiba turun di luar. Deras. Jakarta kembali basah.

Dan di dalam hatinya, Aira merasa seperti Jakarta. Basah. Tapi tak tahu harus mengering ke mana.

---

Di apartemen The Rosewood, Arka duduk di lantai kamarnya. Di hadapannya, gambar tiga orang yang ia buat untuk Aira. Ia memandangi gambar itu lama.

"Aira," bisiknya. "Arka kangen."

Bi Inah masuk. "Nak, mau makan siang?"

Arka menggeleng. "Bi, Ibu telepon tadi malam. Ibu bilang mau pulang. Beneran?"

Bi Inah terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa.

"Bi, Arka senang kalau Ibu pulang. Tapi Arka takut."

"Takut apa, Nak?"

Arka menunduk. "Takut Ibu pergi lagi."

Bi Inah mendekat. Meraih tangan Arka.

"Nak, apa pun yang terjadi, Bi Inah sama Bapak akan selalu sayang Arka."

Arka mengangguk. Tapi matanya tetap sedih.

Di luar, hujan semakin deras. Jakarta basah kuyup.

Dan di tiga tempat berbeda, tiga orang yang terhubung oleh cinta dan luka, bertanya pada diri sendiri: akankah badai ini berlalu? Atau justru menghancurkan segalanya?

---

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Pena Biru: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!