Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Lampu-lampu temaram di lobi resort mewah itu menyambut Alana dengan keheningan yang kontras dengan kebisingan mesin konstruksi di proyek tadi. Tubuhnya terasa remuk. Debu proyek masih menempel di ujung kemejanya, dan pikirannya masih dipenuhi oleh hitungan debit air pada pondasi sisi barat.
Ia hanya ingin satu hal: mandi air hangat dan menenggelamkan diri di balik selimut untuk melupakan kejadian di tebing tadi.
Namun, harapan itu pupus seketika saat pintu lift yang hampir ia capai terbuka. Sosok pria jangkung dengan kemeja yang sudah berganti menjadi kaos polo hitam yang santai namun mahal, melangkah keluar.
Pradipta.
Alana mematung. Ia mencoba mencari jalan memutar, namun mata tajam Pradipta sudah lebih dulu menemukannya.
"Baru kembali, Bu Alana?" Suara bariton itu menggema pelan di lobi yang sepi, namun sanggup membuat bulu kuduk Alana meremang.
Alana memaksakan diri untuk berdiri tegak, meski tas laptop di bahunya terasa seberat batu karang. "Iya, Pak. Ada beberapa detail teknis yang harus saya pastikan dengan Pak Wayan sebelum pengecoran besok pagi."
Pradipta melirik jam tangan pintarnya. "Pukul sembilan malam. Kamu melewatkan jam makan malam, mengabaikan tiga pesan singkat saya, dan sekarang kamu terlihat seperti orang yang hampir pingsan."
"Saya baik-baik saja, Pak. Hanya sedikit lelah," sahut Alana cepat, berusaha menjaga jarak profesional. "Jika tidak ada hal mendesak mengenai pekerjaan, saya permisi ke kamar."
Baru saja Alana melangkah satu tindak, sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangannya. Tidak kasar, namun penuh penekanan yang tidak bisa dibantah.
"Pekerjaan sudah selesai untuk hari ini, Alana," ujar Pradipta, kini melangkah mendekat hingga aroma sabun mandinya yang segar menyapu indra penciuman Alana. "Dan instruksi saya selanjutnya adalah: kamu ikut saya ke restoran di lantai atas. Sekarang."
Alana mendongak, mencoba memprotes. "Tapi Pak, saya perlu mandi, saya—"
"Sepuluh menit. Saya tunggu di sini," potong Pradipta tanpa kompromi, matanya mengunci tatapan Alana dengan intensitas yang tidak menyisakan ruang untuk negosiasi. "Atau saya yang akan mengantarmu sampai ke depan pintu kamar dan menunggumu di sana."
Alana ternganga. Ancaman itu terdengar sangat nyata. Ia tahu Pradipta adalah pria yang selalu menepati ucapannya, segila apa pun itu. Mengetahui bahwa Pradipta menunggu di depan kamarnya hanya akan memicu gosip lebih besar di antara staf hotel.
"Sepuluh menit," Alana menyerah, bahunya merosot lemas.
Pradipta melepaskan cekalannya dan menyunggingkan senyum kemenangan yang tipis—senyum yang membuat jantung Alana kembali berkhianat dengan berdegup kencang. "Jangan coba-coba kabur lewat pintu darurat, Alana. Saya sudah meminta keamanan hotel memantau CCTV."
Alana mendengus kesal, meski ada secuil rasa hangat yang menyelinap di hatinya. Pria ini terlalu dominan, terlalu jeli, dan entah sejak kapan, terlalu peduli padanya.
Alana menghentakkan kakinya kesal begitu pintu lift tertutup, mengisolasi dirinya dari tatapan tajam Pradipta. Di dalam kotak besi yang bergerak naik itu, ia tidak tahan untuk tidak menggerutu.
"Dasar bos otoriter! Memangnya dia pikir ini zaman kerja paksa?" gumam Alana sambil menatap bayangannya yang berantakan di dinding lift yang mengkilap. "Memantau CCTV? Yang benar saja! Dia itu CEO atau agen rahasia?"
Ia menyugar rambutnya yang lepek dengan kasar. Alana merasa harga diri profesionalnya sedikit terusik. Selama ini, ia bangga bisa menjaga jarak yang sempurna dengan atasannya, tapi hari ini, Pradipta seolah sengaja menabrak semua rambu-rambu yang ia pasang. Dimulai dari pelukan di tebing, dan sekarang perintah makan malam yang lebih mirip seperti penculikan halus.
"Sepuluh menit... dia pikir aku ini pahlawan super yang bisa mandi dan berdandan secepat kilat?" gerutu Alana lagi sambil setengah berlari menuju kamarnya begitu pintu lift terbuka di lantai tujuh.
Sesampainya di dalam kamar, Alana melempar tas laptopnya ke atas sofa dengan sembarang. Ia berdiri di depan cermin, menatap noda semen yang mengering di ujung kemejanya dan wajahnya yang kusam.
"Kenapa dia harus peduli kalau aku belum makan?" Alana bergumam pelan, suaranya kini sedikit melunak. Hatinya mulai berdebat. Di satu sisi, ia benci dikendalikan, tapi di sisi lain, ada bagian kecil di lubuk hatinya yang merasa... terlindungi. Bagian kecil yang dulu selalu merindukan seseorang untuk bertanya apakah ia sudah makan atau belum saat ia meringkuk di dalam lemari.
Namun, gengsi Alana jauh lebih besar. "Paling-paling dia cuma mau membahas laporan progres besok pagi sambil makan. Ya, pasti itu. Tidak mungkin karena hal lain."
Alana menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi dengan gerakan super cepat. Sambil mengguyur tubuhnya dengan air hangat, ia masih terus menyumpah serapah dalam hati tentang betapa menyebalkannya Pradipta yang bisa dengan mudah menghancurkan rencananya untuk tidur awal.
Tepat di menit kesembilan, Alana keluar dari kamar dengan napas terengah, mengenakan dress simpel berwarna navy yang ia temukan paling atas di koper. Ia tidak sempat memakai riasan tebal, hanya sedikit pelembap bibir.