Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Pasar Gelap Dan Jejak Darah
Malam di pedalaman Jawa tahun 1853 tidak pernah benar-benar sunyi. Suara jengkerik bersahutan dengan deru angin yang menembus hutan jati di pinggiran Kendal. Jatmika berjalan perlahan, mengikuti langkah kaki Mbah Sumi yang meski sudah tua, gerakannya sangat lincah menembus semak belukar. Di punggungnya, Jatmika memanggul bumbung-bumbung bambu berisi "Garam Surga"—kristal putih murni hasil rekayasa kimianya.
Darman berjalan di belakangnya, menggenggam erat sebilah arit. Napasnya memburu, matanya liar menatap kegelapan. "Jatmika, kalau kita tertangkap patroli Marsose, kita habis. Mereka tidak akan tanya-tanya dulu," bisiknya dengan suara bergetar.
"Diamlah, Darman. Kalau kamu takut, suara jantungmu bisa terdengar sampai ke kadipaten," sahut Jatmika dingin. Ia sendiri sebenarnya tegang, namun otaknya terus melakukan kalkulasi probabilitas.
Mereka sampai di sebuah lembah tersembunyi yang ditutupi pohon-pohon besar. Di sana, cahaya obor terlihat samar dari balik mulut sebuah gua kecil. Beberapa pria berwajah garang dengan pakaian serba hitam—khas pesilat atau jagoan pasar—berdiri berjaga.
"Mbah Sumi," sapa salah satu penjaga dengan nada hormat namun waspada. "Siapa bocah-bocah ini?"
"Hanya pembawa harta yang kalian butuhkan," jawab Mbah Sumi singkat.
Mereka dipersilakan masuk. Di dalam gua, aroma asap kemenyan bercampur dengan bau apak tanah. Di tengah ruangan, duduk seorang pria paruh baya dengan bekas luka melintang di pipinya. Ia sedang memeriksa tumpukan kain sutra dan beberapa pucuk senapan tua jenis matchlock yang nampaknya hasil rampasan.
"Namaku Suro," ucap pria itu tanpa menoleh. "Mbah Sumi bilang kamu punya barang yang bisa membuat lidah orang-orang Belanda di Batavia menari. Tunjukkan."
Jatmika melangkah maju. Tanpa ragu, ia membuka tutup bumbung bambunya dan menuangkan isinya di atas meja kayu kasar. Di bawah sinar obor, kristal-kristal itu berkilau seperti serpihan bintang. Suro terdiam. Ia mengambil sejumput, mencicipinya, lalu matanya membelalak.
"Ini... ini bukan garam dari tambak-tambak berlumpur itu," gumam Suro. "Bagaimana mungkin bocah sepertimu bisa membuat ini? Bahkan pabrik di Semarang pun hasilnya tidak sebersih ini."
"Metode filtrasi karbon dan kristalisasi fraksional," jawab Jatmika refleks dalam bahasa teknis abad ke-21.
Suro mengernyit. "Bahasa apa itu? Sihir?"
"Bukan, Kang Suro. Itu cara mengatur panas dan kebersihan air," Jatmika segera mengoreksi. "Aku ingin menjual ini. Tapi aku tidak mau uang tembaga Belanda. Aku mau emas, atau... aku mau bahan-bahan ini."
Jatmika menyerahkan secarik kertas kusam yang sudah ia gambari sketsa. Di sana tertera gambar tabung besi tebal, bubuk belerang berkualitas tinggi, dan beberapa komponen mekanis sederhana.
Suro menatap kertas itu, lalu menatap Jatmika dengan pandangan baru. "Kamu bukan sekadar nelayan. Kamu tahu cara membuat sesuatu yang bisa meledak, bukan?"
"Aku hanya tahu cara membela diri," jawab Jatmika diplomatis.
Transaksi pun terjadi. Jatmika mendapatkan beberapa keping emas dan janji bahwa Suro akan mencarikan bahan-bahan kimia yang ia minta. Namun, saat mereka hendak meninggalkan gua, seorang informan berlari masuk dengan napas tersengal.
"Kang Suro! Ada patroli Belanda! Mandor Kromo memimpin mereka ke arah desa nelayan. Katanya ada pencurian aset pemerintah!"
Jantung Jatmika mencelos. Mandor Kromo. Ternyata pria picik itu tidak puas hanya dengan pajak ekstra. Ia curiga ada sesuatu yang lebih besar yang disembunyikan Jatmika.
"Kalian pulang lewat jalur sungai!" perintah Suro. "Kalau tertangkap di jalan setapak, kalian tamat."
Jatmika dan Darman berlari menembus hutan, menghindari jalur utama. Namun, saat mereka mendekati perbatasan desa, mereka melihat cahaya obor yang sangat terang. Gubuk-gubuk nelayan dikepung. Suara tangisan wanita dan teriakan kemarahan pria memecah kesunyian malam.
Dari balik semak-semak, Jatmika melihat ayahnya, Pak Sahid, sedang diseret oleh dua orang pesuruh Mandor Kromo. Di samping mereka, berdiri seorang opsir Belanda muda dengan seragam biru ketat dan pedang tersampir di pinggangnya.
"Di mana anakmu, Sahid?" teriak Mandor Kromo. "Alat kincir itu... itu pencurian ide milik pemerintah! Dan aku tahu kamu menyembunyikan garam kualitas selundupan!"
"Saya tidak tahu apa-apa, Den Mandor! Jatmika hanya anak kecil!" Pak Sahid tersungkur setelah sebuah tendangan bot kulit mendarat di perutnya.
Jatmika merasakan darahnya mendidih. Amarah yang dingin dan tajam menguasai dirinya. Ia ingin berlari keluar dan menghajar mereka, namun otaknya yang logis menahan. Tanpa senjata, aku hanya akan menambah daftar korban.
Ia melihat ke bawah, ke tas kecil di pinggangnya. Di sana ada beberapa botol kecil berisi campuran yang ia buat sore tadi: serbuk magnesium hasil sampingan pengolahan garam yang dicampur dengan belerang dan potasium nitrat mentah. Ini adalah Bom Kilat (Flashbang) primitif yang ia rancang untuk keadaan darurat.
"Darman, ambil kayu panjang itu. Saat aku bilang 'sekarang', lempar kayu itu ke arah kuda si Belanda," perintah Jatmika dengan suara yang sangat tenang, tapi mematikan.
"Tapi Jatmika—"
"Lakukan!"
Jatmika memantik sumbu pendek pada botol bambu kecilnya. Ia melemparnya tepat ke tengah kerumunan obor di depan gubuknya.
BOOOM!
Bukan ledakan yang menghancurkan, melainkan kilatan cahaya putih yang luar biasa terang, membutakan mata setiap orang yang melihatnya secara langsung. Suara dentuman itu menggema di seluruh desa, membuat semua orang tersungkur karena kaget dan buta sesaat.
"Sekarang, Darman!"
Darman melempar kayu, mengenai kaki kuda sang opsir Belanda. Kuda itu meringkik ketakutan dan berontak, menjatuhkan opsir itu ke tanah berlumpur. Dalam kekacauan itu, Jatmika berlari secepat kilat. Ia tidak ke arah ayahnya—karena itu terlalu berisiko—melainkan ke arah gudang penyimpanan alat.
Ia mengambil obor dan membakar kincir angin rahasianya sendiri.
"Kalau aku tidak bisa memilikinya, kalian pun tidak akan bisa mempelajarinya!" gumam Jatmika.
Api membumbung tinggi. Di tengah cahaya kemerahan itu, Jatmika menarik ayahnya yang sedang merangkak, lalu menghilang ke dalam kegelapan hutan bakau bersama Darman.
Malam itu, Jatmika belajar satu hal penting. Ilmu pengetahuan di masa ini bukan hanya soal membangun, tapi juga soal menghancurkan jejak. Statusnya kini resmi: Buronan.
"Pak, kita tidak bisa kembali ke desa," ucap Jatmika saat mereka bersembunyi di balik sampan yang disembunyikan di rawa-rawa.
Pak Sahid menatap anaknya dengan tatapan tak percaya. "Le... apa yang sebenarnya kamu lakukan?"
Jatmika menatap langit malam, ke arah bintang-bintang yang tetap tenang. "Aku baru saja menyatakan perang pada mereka, Pak. Dan kali ini, mereka tidak akan menang melawan ilmu pengetahuan."