Lin Xuan, seorang pemuda dari keluarga cabang Klan Lin di Benua Azure yang memiliki "Akar Spiritual Cacat", selalu dihina dan ditindas. Saat sekarat karena dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merebut harta peninggalan orang tuanya, darahnya tanpa sengaja membangkitkan Mutiara Kekacauan Primordial yang bersemayam di kalung usangnya. Mutiara ini tidak hanya memperbaiki akar spiritualnya, tetapi juga memberinya warisan teknik terlarang dari era sebelum alam semesta terbentuk. Inilah awal perjalanannya menentang Surga, membelah galaksi, dan menapaki jalan menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Paviliun Seribu Ramuan dan Resep Kuno
Sinar matahari pagi menyinari Kota Azure yang ramai. Di pusat kota, sebuah bangunan megah berlantai lima berdiri menjulang dengan papan nama kayu cendana berukir emas: Paviliun Seribu Ramuan. Aroma obat-obatan spiritual yang menenangkan jiwa menguar dari dalam, menarik perhatian para kultivator dari berbagai penjuru kota.
Lin Xuan berdiri di seberang jalan, menatap bangunan itu dengan tenang. Ia mengenakan jubah abu-abu sederhana yang bersih, menyembunyikan auranya sepenuhnya.
Di dalam benaknya, ingatan tentang Seni Alkimia Api Kekacauan terus berputar. Pengetahuan itu menyebutkan bahwa alkimia di era primordial tidak membutuhkan tungku perunggu atau kuali besi. Mereka menggunakan langit dan bumi sebagai tungku, dan hukum alam sebagai apinya. Namun, dengan kultivasinya yang baru di tahap Kondensasi Qi tingkat 5, Lin Xuan tahu ia harus bersikap realistis. Ia butuh kuali sungguhan dan bahan obat spiritual.
Masalahnya satu: ia miskin. Koin emas yang ia miliki tak akan cukup untuk membeli sehelai Rumput Roh tingkat rendah sekalipun.
"Namun, pengetahuan adalah harta yang tak ternilai," gumam Lin Xuan sambil menyentuh selembar perkamen tua di balik jubahnya. Semalam, ia telah menyalin sebuah resep pil tingkat rendah yang telah ia modifikasi menggunakan prinsip alkimia kuno.
Lin Xuan melangkah masuk ke dalam paviliun. Lantai marmer putih dan pilar-pilar batu giok memancarkan kemewahan. Etalase kaca memajang berbagai pil spiritual yang bersinar redup.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" seorang pelayan toko berseragam hijau menghampirinya. Senyum pelayan itu profesional, namun matanya dengan cepat menyapu pakaian Lin Xuan yang murah, dan sedikit kilat meremehkan melintas di pupilnya.
"Aku ingin bertemu dengan penilai utama atau Alkemis yang bertugas hari ini. Aku memiliki sebuah resep pil untuk dijual," ucap Lin Xuan datar.
Pelayan itu mengerutkan kening, senyumnya perlahan memudar. "Tuan, Paviliun Seribu Ramuan kami tidak menerima sembarang resep. Apalagi dari... orang yang tidak memiliki lencana alkemis. Silakan pergi, jangan membuat keributan di sini."
Tepat saat Lin Xuan hendak membalas, sebuah suara ledakan teredam terdengar dari lantai tiga, diikuti oleh kepulan asap hitam yang berbau hangus.
"Uhuk! Uhuk! Gagal lagi! Mengapa Pil Penguat Tulang ini selalu hancur di tahap kondensasi?!" Sebuah suara tua yang dipenuhi rasa frustrasi menggema dari atas.
Mendengar suara itu, wajah pelayan toko langsung pucat. "Gawat, Tetua Yan sedang marah besar. Anak muda, cepat pergi sebelum kau terkena imbasnya!"
Lin Xuan tidak bergeming. Ia mengendus udara dengan lembut, menganalisis aroma asap yang turun ke lantai satu. Matanya berkilat penuh pemahaman. Alih-alih pergi, ia justru mengerahkan energi spiritual ke tenggorokannya dan bersuara cukup keras hingga terdengar ke lantai tiga.
"Bunga Es Biru dimasukkan terlalu lambat, menyebabkan suhu kuali tidak seimbang. Dan saat kau memasukkan Akar Macan Api, kau menggunakan nyala api yang terlalu besar. Obat itu berbenturan, wajar saja kalau meledak."
Keheningan tiba-tiba menyelimuti lantai satu. Pelayan toko menatap Lin Xuan dengan mata terbelalak horor. "K-kau... kau cari mati?! Itu Tetua Yan, Alkemis Tingkat 2 satu-satunya di Kota Azure!"
Wusss!
Dalam sekejap mata, sesosok bayangan turun dari tangga. Seorang pria tua dengan rambut acak-acakan dan wajah cemong oleh jelaga berdiri di hadapan Lin Xuan. Ia mengenakan jubah alkemis dengan dua sulaman bintang perak di dadanya. Mata tuanya menatap Lin Xuan dengan tajam, seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Bocah, apa yang kau katakan barusan? Ulangi!" bentak Tetua Yan.
Meski dihadapkan pada tekanan aura seorang kultivator tahap Pembentukan Fondasi tingkat akhir, Lin Xuan tetap berdiri tegak bak tombak. Tidak ada rasa takut di matanya.
"Aku bilang, teknik pengendalian apimu berantakan," ucap Lin Xuan tenang, mengabaikan tarikan napas kaget dari orang-orang di sekitarnya. "Sifat Bunga Es Biru adalah membekukan energi, sementara Akar Macan Api sangat eksplosif. Kau mencoba menekan api dengan es, padahal seharusnya kau menggunakan sifat es itu untuk membungkus sari pati api, bukan memadamkannya. Turunkan suhu apimu sebanyak tiga derajat saat peleburan, lalu segel kualimu seketika."
Tetua Yan tertegun. Mulutnya sedikit terbuka. Selama sebulan penuh ia terjebak dalam masalah ini, menghabiskan puluhan bahan obat berharga. Penjelasan Lin Xuan terdengar gila dan bertentangan dengan buku panduan alkimia yang ia pelajari, tetapi entah mengapa... secara teori, itu masuk akal!
Tanpa mempedulikan sekelilingnya, Tetua Yan bergumam sendiri, matanya berbinar-binar, lalu ia berbalik dan melesat kembali ke lantai tiga dengan kecepatan kilat. "Jangan biarkan bocah itu pergi! Beri dia teh terbaik kita!" teriaknya dari atas.
Pelayan toko yang tadinya meremehkan Lin Xuan kini menelan ludah dengan susah payah. Kakinya gemetar saat ia buru-buru membungkuk 90 derajat. "T-Tuan... silakan duduk di ruang VIP. S-saya akan mengambilkan teh."
Lin Xuan hanya tersenyum tipis dan mengikuti pelayan itu ke ruang tamu pribadi.
Setengah jam kemudian, pintu ruang VIP dibanting terbuka. Tetua Yan masuk dengan napas memburu, matanya merah karena kegembiraan. Di tangannya terdapat sebuah nampan kayu berisi tiga butir pil berwarna merah tua yang memancarkan aroma harum nan tajam. Terdapat pola awan tipis di permukaan pil tersebut.
"Pil Penguat Tulang Tingkat Menengah! Bahkan menghasilkan pil berkualitas tinggi dengan pola awan!" Tetua Yan tertawa terbahak-bahak, lalu tiba-tiba ia membungkuk hormat di hadapan Lin Xuan. "Adik kecil, mata tuaku ini buta! Pengetahuanmu tentang jalan alkimia sungguh membuka wawasanku. Boleh aku tahu dari guru agung mana kau berasal?"
Lin Xuan menyesap tehnya dengan tenang. "Guruku suka mengembara dan tidak suka namanya disebut. Aku datang ke sini hari ini karena kebetulan kekurangan beberapa bahan dasar."
Lin Xuan meletakkan perkamen tua di atas meja. "Ini adalah resep Pil Pengumpul Qi yang telah disempurnakan. Efeknya tiga kali lipat lebih kuat dari pil biasa di pasaran, dan bahan yang dibutuhkan sepuluh persen lebih murah. Aku ingin menukarnya dengan sebuah kuali perunggu tingkat rendah dan seratus porsi bahan obat."
Tetua Yan mengambil perkamen itu dengan tangan gemetar. Hanya dengan membaca beberapa baris panduannya, matanya terbelalak. "Ini... ini adalah metode pemurnian yang hilang! Tiga kali lipat efeknya? Jika Paviliun Seribu Ramuan memonopoli ini, kita akan menguasai seluruh pasar Kota Azure!"
Tetua Yan segera mengambil sebuah cincin perak dari jarinya dan meletakkannya di depan Lin Xuan.
"Adik Lin, resep ini terlalu berharga. Kuali dan bahan yang kau minta tidak sebanding. Di dalam Cincin Penyimpanan (Storage Ring) ini, ada kuali perunggu 'Naga Api' tingkat menengah, dua ratus porsi bahan obat yang kau butuhkan, dan 10.000 koin emas kristal. Terimalah juga Token VIP emas ini. Mulai sekarang, kau adalah tamu kehormatan tertinggi Paviliun Seribu Ramuan!"
Lin Xuan mengambil cincin itu, menyuntikkan sedikit energi spiritualnya untuk memeriksa isinya, dan mengangguk puas. Dengan sumber daya ini, jalan menuju Tahap Pembentukan Fondasi kini terbuka lebar baginya.
"Terima kasih, Tetua Yan. Aku akan pamit sekarang." Lin Xuan bangkit berdiri. Turnamen Klan Lin tinggal menghitung bulan, dan ia tidak punya waktu untuk disia-siakan.
Saat Lin Xuan berjalan keluar dari Paviliun Seribu Ramuan, ia menatap ke arah kediaman Klan Lin di kejauhan. Lin Feng, Su Yue... nikmatilah masa kejayaan kalian selagi bisa.
dan kalau bisa update nya jangan lama lama