Tujuh tahun cinta, dibalas dengan kematian di tengah api. Di hari pernikahanku, aku baru tahu bahwa tunanganku, Aiden, telah memiliki anak dengan kakak tiriku.
Saat aku membuka mata, aku kembali ke masa lalu. Berdiri di depan pria yang paling ditakuti, Jerome Renfred. Dia adalah paman kandung Aiden—pria dingin yang diam-diam menangisi kerangkaku di kehidupan sebelumnya.
"Jadikan aku istrimu, Tuan Renfred. Mari kita hancurkan mereka bersama."
Aku hanya menginginkan pernikahan kontrak demi dendam. Namun, kenapa setiap kali aku terluka, pria dingin ini yang merintih kesakitan?
"Valerie, jangan pernah berpikir untuk pergi. Di mata dunia kita adalah kontrak, tapi di tempat tidurku, kamu adalah selamanya."
Aiden, bersiaplah memanggilku "Bibi". Karena sekarang, aku adalah milik pria yang paling kamu takuti!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Bara Api dan Darah Yang Dingin
Gedung perkantoran milik Vaughn Group tampak suram di bawah langit yang mendadak mendung, seolah alam pun tahu akan ada pengkhianatan besar yang terjadi di dalamnya. Valerie melangkah masuk dengan napas tersengal, mengabaikan tatapan sinis para karyawan yang berbisik-bisik menghakiminya. Luka cambuk di punggungnya berdenyut hebat setiap kali ia menggerakkan bahu, namun rasa takut kehilangan peninggalan ibunya jauh lebih menyiksa daripada rasa perih itu.
Begitu ia mendobrak pintu ruang kerja ayahnya, pemandangan menyedihkan menyambutnya.
Ayahnya, Edward Vaughn, berdiri di dekat perapian listrik yang menyala merah membara. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kayu ukir—kotak yang sangat Valerie kenali sebagai tempat penyimpanan perhiasan dan surat-surat terakhir ibunya.
"Akhirnya kau datang, anak durhaka," desis Edward tanpa menoleh. Suaranya dingin, sekaku setelan jas mahalnya.
"Berikan kotak itu, Ayah! Itu milik Ibu! Ayah tidak berhak menyentuhnya!" teriak Valerie, suaranya parau karena sisa tangis di perjalanan.
Edward berbalik, wajahnya tampak kuyu dan penuh ambisi yang sakit. "Berhak? Aku adalah suaminya! Dan kau... kau adalah penghancur bisnisku! Karena ulahmu membatalkan pertunangan, investor mencabut dana mereka. Aiden mengancam akan membangkrutkan Vaughn Group jika kau tidak kembali padanya!"
"Aiden itu iblis, Ayah! Dia berselingkuh dengan Serena! Dia punya anak!" Valerie melangkah maju, tangannya terulur memohon dengan gemetar. "Tolong, lihat faktanya. Jangan korbankan aku lagi demi pria seperti dia."
"Aku tidak peduli dia punya anak dengan siapa pun! Yang aku peduli adalah aliran dana dari keluarga Renfred!" Edward mengangkat kotak itu di atas bara api yang panas. "Sekarang, hubungi media. Katakan kau yang merayu Jerome. Katakan kau wanita gila harta yang menjebak pamannya. Lakukan, atau kotak ini hangus!"
"Jangan... kumohon..." Valerie jatuh berlutut di atas karpet. Rasa sakit di punggungnya seolah menyengat saraf pusatnya, membuatnya nyaris pingsan karena syok. "Ibu sangat mencintai Ayah... kenapa Ayah tega menghancurkan satu-satunya kenangan yang tersisa?"
"Karena kenangan tidak bisa membayar utang-utang perusahaanku, Valerie!"
...****************...
Di saat yang sama, sebuah Rolls-Royce hitam menghantam pembatas jalan tepat di depan gedung Vaughn Group. Jerome keluar dari mobil dengan wajah pucat pasi. Ia memegangi dadanya, kakinya terasa lemas seolah tulang-tulangnya baru saja dipatahkan satu per satu.
"Tuan! Anda tidak apa-apa?" Raka berlari menyusulnya dengan cemas.
"Sesak... Raka... dia ketakutan luar biasa," gumam Jerome dengan napas satu-satu. "Rasanya seperti jantungku sedang diperas oleh tangan tak kasat mata. Bajingan itu... Edward Vaughn sedang menyakiti Valerie secara mental."
Jerome mengabaikan rasa sakit fisiknya. Ia berlari menuju lift, namun lift terasa terlalu lambat bagi kemarahannya yang memuncak. Ia memilih menaiki tangga darurat, memacu adrenalinnya meski punggungnya terasa panas terbakar—sinkronisasi sempurna dengan rasa perih yang dirasakan Valerie saat ini.
"Valerie... bertahanlah..." bisik Jerome, suaranya parau menahan penderitaan yang terbagi.
...****************...
Kembali di ruang kerja, Edward Vaughn sudah mulai mengeluarkan selembar surat tua dari kotak tersebut dengan jari-jarinya yang gemetar karena emosi.
"Ini surat cinta ibumu saat kita pertama kali bertemu di London, bukan? Sayang sekali," Edward menjatuhkan kertas itu ke dekat lidah api yang menjilat-jilat.
"TIDAK!" Valerie menjerit. Ia mencoba menerjang maju, namun luka cambuk di punggungnya membuat gerakannya melambat secara tragis. Ia kembali tersungkur.
Tepat saat Edward hendak menjatuhkan seluruh kotak itu ke dalam api—
BRAKKK!
Pintu ruang kerja jati itu hancur berantakan. Jerome berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan mata yang merah padam seperti iblis yang baru saja merangkak keluar dari neraka untuk menjemput mangsanya.
"Letakkan. Kotak. Itu. Sekarang," suara Jerome rendah, namun getarannya membuat kaca-kaca di ruangan itu bergetar hebat.
Edward Vaughn terlonjak kaget, nyaris menjatuhkan kotak itu ke arah yang salah. "Jerome? Bagaimana kau bisa—"
"Aku tidak akan bicara dua kali, Edward," Jerome melangkah maju. Setiap langkahnya terasa berat dan penuh ancaman kematian. "Jika satu helai rambut Valerie terluka, atau satu lembar kertas itu terbakar... aku akan memastikan kau membusuk di sel bawah tanah tanpa cahaya seumur hidupmu."
"Kau tidak bisa mengancamku! Ini urusan internal keluarga Vaughn!" teriak Edward, meskipun suaranya melengking karena takut.
"Keluarga?" Jerome terkekeh gelap, tawa yang sanggup membekukan darah siapa pun. Jerome sampai di depan Edward hanya dalam hitungan detik. Tanpa peringatan, ia mencengkeram pergelangan tangan Edward dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. "Seorang ayah tidak membakar kenangan istrinya untuk mengancam nyawa anaknya."
"Lepas! Sakit, Jerome!" rintih Edward.
Jerome merebut kotak itu dengan satu sentakan kasar. Begitu kotak itu aman di pelukannya, ia menendang kaki Edward hingga pria tua itu jatuh tersungkur dengan tidak hormat. Jerome tidak memedulikan Edward lagi; ia langsung berlutut di samping Valerie yang masih terisak di lantai.
"Valerie... hei, lihat aku," Jerome merengkuh wajah wanita itu dengan sangat lembut. Tangannya yang baru saja ingin membunuh orang, kini bergetar karena cemas yang mendalam. "Aku di sini. Kotaknya aman. Ibumu aman."
Valerie menatap Jerome, lalu memeluk leher pria itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jerome. "Jerome... sakit... hatiku sakit sekali..."
Jerome memejamkan matanya, merasakan gelombang kesedihan Valerie yang menghantam jiwanya melalui ikatan batin mereka. Ia mencium puncak kepala Valerie berkali-kali. "Aku tahu. Aku merasakannya juga, sayang. Aku merasakannya."
Jerome berdiri sambil menggendong Valerie ala bridal style. Ia menoleh ke arah Edward Vaughn yang masih merintih di lantai, memegangi pergelangan tangannya yang memar.
"Raka!" panggil Jerome dengan suara dingin yang mematikan.
Raka muncul di pintu dengan beberapa pengawal. "Ya, Tuan?"
"Hubungi pengacara. Aku ingin semua aset Vaughn Group dibekukan atas nama penggelapan warisan mendiang Nyonya Vaughn. Dan pastikan pria ini dibawa ke kantor polisi atas tuduhan ancaman pembunuhan serta kekerasan domestik," perintah Jerome tanpa sedikit pun belas kasihan.
"Kau tidak bisa melakukan ini padaku, Jerome! Aku ayah mertuamu!" teriak Edward histeris saat pengawal mulai menyeretnya.
Jerome menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatap Edward dengan pandangan paling hina yang pernah ada di dunia ini. "Kau bukan ayah mertuaku. Kau hanya seonggok sampah yang kebetulan menyumbangkan darah untuk wanita yang paling aku cintai. Dan sampah... tempatnya adalah di tempat pembuangan."
Jerome membawa Valerie keluar dari gedung itu. Di dalam mobil yang melaju tenang, Valerie perlahan mulai tenang di dalam pelukan Jerome.
"Kenapa kau selalu datang tepat waktu?" tanya Valerie lirih, suaranya teredam di dada bidang Jerome.
Jerome menatap ke luar jendela, ke arah hujan yang mulai membasahi kota. "Karena setiap kali kau menangis, jiwaku berteriak mencarimu, Val. Aku tidak punya pilihan selain datang, karena tanpamu, aku pun tidak bisa bernapas."
...****************...