Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.
Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.
Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?
"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Gangguan Notifikasi Instagram
Bab 21: Gangguan Notifikasi Instagram
Waktu digital baru saja bergulir ke angka 23:50.
Secara teknis, aku baru saja memenangkan pertempuran kecil melawan invasi emoji keluarga Bani Mansyur di Bab 20. Jempolku masih menggantung di atas huruf 'A', siap untuk menyambung inisial 'L' yang sudah lebih dulu bernaung di kolom input. Namun, tepat sebelum tekanan kapasitif itu terjadi, sebuah interupsi baru muncul dari bilah status ponselku.
Bukan lagi warna hijau WhatsApp yang mendominasi. Kali ini, sebuah ikon kamera dengan gradasi warna ungu, merah muda, dan jingga—palet warna yang sangat kukenali sebagai identitas visual Instagram—muncul dengan angkuh.
"Lala baru saja membagikan cerita (Story)."
Seketika, sistem saraf pusatku mengalami sirkuit pendek. Jantungku, yang kucoba stabilkan dengan teknik pernapasan di Bab 14, kembali melakukan lonjakan ritme yang tidak beraturan. Notifikasi ini bukan sekadar gangguan teknis; ini adalah serangan pada rasa penasaran terdalamku. Di menit-menit krusial menuju pergantian tahun, di saat aku sedang berjuang merangkai kata untuknya, Lala justru melakukan aktivitas di dimensi digital yang lain.
Secara mikroskopis, aku memperhatikan teks notifikasi tersebut. Huruf-hurufnya tampak tajam di atas layar beresolusi tinggi ini, seolah-olah setiap pikselnya dirancang untuk memancing perhatianku. Ada dorongan dopamin yang instan—sebuah sisa-sisa evolusi adiktif manusia era digital. Otakku menuntut untuk tahu: Apa yang dia unggah?
Dilema ini membagi fokus kognitifku menjadi dua jalur yang saling bertabrakan:
* Jalur Eksekusi: Tetap pada kolom chat WhatsApp, menekan huruf 'A', dan menyelesaikan pengakuan ini sebelum menit 23:52.
* Jalur Observasi: Keluar dari WhatsApp, membuka Instagram, dan melihat story Lala.
Aku melirik ke arah Lala melalui sudut mataku. Dia masih berdiri di sana, hanya tiga puluh sentimeter dariku (Bab 5). Dia sedang memegang ponselnya dengan kedua tangan, wajahnya tersinari pendar cahaya layar yang lembut. Aku baru saja menyadari bahwa gerakan jempolnya yang lincah beberapa detik lalu adalah proses pengunggahan story tersebut.
Rasa penasaran ini bersifat korosif. Ia mulai menggerogoti konsentrasi yang telah kubangun sejak Bab 1.
Apakah itu foto kembang api?
Apakah itu foto selfie dirinya yang sedang tersenyum?
Atau... apakah itu foto candid diriku yang sedang tampak konyol dan tegang memegang ponsel?
Pikiran terakhir itu memicu sedikit paranoia. Jika dia mengunggah foto diriku, itu artinya dia sedang memperhatikanku. Jika dia memperhatikanku, maka rahasia di layar ponselku (Bab 8) berada dalam risiko tinggi untuk terbongkar sebelum waktunya. Aku merasakan sensasi panas di telapak tanganku yang bersentuhan dengan casing silikon semakin meningkat, sebuah manifestasi fisik dari konflik batin yang memuncak.
Secara mikroskopis, aku melihat bagaimana ibu jari kananku mulai bergetar. Ia berada dalam posisi "mengambang"—sebuah kondisi antara niat untuk mengetik dan godaan untuk menyapu (swipe) notifikasi Instagram itu agar bisa membukanya. Di era informasi ini, ketidaktahuan terasa seperti siksaan. Aku merasa seolah-olah ada sebuah pintu terkunci yang kuncinya baru saja diletakkan di depanku.
"Lala baru saja membagikan cerita."
Kalimat itu terus berulang di kepalaku seperti mantra yang mengganggu. Aku mulai membedah risiko psikologis dari tindakan ini. Jika aku membuka Instagram sekarang, aku akan kehilangan momentum. Aku akan keluar dari alur emosional WhatsApp. Aku akan masuk ke dalam dunia konten yang bisa saja mendistorsi suasana hatiku.
Bagaimana jika di story itu dia sedang bersama orang lain? Atau menandai akun laki-laki lain?
Spekulasi-spekulasi gelap mulai merambat di celah-celah logikaku. Rasa cemburu mikro (Bab 22) mulai menampakkan taringnya. Sebuah notifikasi sederhana telah berhasil mengubahku dari seorang pria yang sedang jatuh cinta menjadi seorang detektif amatir yang penuh kecurigaan.
Aku menatap huruf 'L' di layar WhatsApp. Kursor biru itu masih berkedip (Bab 10), seolah-olah memberikan peringatan: "Fokus, Arka. Waktu terus berjalan."
Namun, tarikan dopamin dari notifikasi Instagram itu terlalu kuat. Aku merasa seperti seorang pecandu yang sedang melihat zat incarannya di depan mata. Hanya butuh satu ketukan. Satu sentuhan ringan pada bilah notifikasi, dan aku akan tahu segalanya. Ketidaktahuan ini membuat draf pesanku terasa hambar. Bagaimana aku bisa mengatakan "Aku suka kamu" jika aku belum tahu apa yang dia bagikan kepada dunia luar beberapa detik yang lalu?
Inilah sifat adiktif dari interaksi digital. Kita merasa harus selalu sinkron dengan setiap pergerakan orang yang kita sayangi di media sosial, seolah-olah story sepuluh detik itu adalah fragmen penting dari jiwa mereka.
Tanganku mulai bergerak secara involunter.
Jempolku tidak lagi mengarah ke huruf 'A'. Ia merayap perlahan menuju bagian atas layar, tempat notifikasi Instagram itu bertengger dengan angkuh. Aku bisa merasakan gesekan antara kulit jempolku dan udara yang lembap, sebuah gerakan mikroskopis yang menandakan kekalahan fokusku.
"Arka, kamu lagi lihat apa sih?"
Suara Lala memecah keheningan yang menyesakkan itu. Suaranya terdengar jernih, membawa kembali kesadaranku ke dimensi fisik.
Aku tersentak, jempolku berhenti tepat satu milimeter sebelum menyentuh notifikasi tersebut.
Aku menatapnya. Dia tersenyum kecil, matanya berkilat jenaka. "Dilihatin terus HP-nya, sampai segitunya."
Aku menelan ludah. "Cuma... ada notifikasi masuk."
"Oh ya? Penting?" dia bertanya lagi, kepalanya sedikit miring ke samping.
Aku terdiam. Apakah itu penting? Secara objektif, sebuah story Instagram tidak sebanding dengan pengakuan cinta yang telah kupendam selama sepuluh tahun. Namun, secara subjektif, notifikasi itu terasa seperti segalanya saat ini.
Aku kembali menatap layar. Notifikasi itu masih di sana, menunggu. Aku menyadari bahwa aku sedang berada di persimpangan jalan digital. Jika aku menyerah pada rasa penasaran ini, aku mungkin tidak akan pernah mengirim pesan itu.
Aku akan terjebak dalam labirin spekulasi dan ketidakpastian.
Secara mikroskopis, aku memperhatikan debu yang menempel di ikon Instagram tersebut. Ikon itu tampak seperti mata yang mengawasi keragu-raguanku. Aku menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali nalar kritisku yang skeptis.
Jangan buka, Arka. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai di Bab 15.
Namun, dorongan itu belum hilang sepenuhnya. Ia hanya bergeser dari rasa penasaran menjadi sebuah ketakutan: Bagaimana jika isi story-nya mengubah segalanya?
Aku berada dalam status paralysis by analysis.
Menit 23:50 terus berjalan, dan aku masih membeku di antara dua aplikasi, di antara dua kenyataan, dan di antara dua karakter alfabet yang belum juga bersatu.