NovelToon NovelToon
Dibuang Suami, Dinikahi Duda Tajir

Dibuang Suami, Dinikahi Duda Tajir

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Janda / Duda / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:772.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Eli Priwanti

Inara harus menelan pil pahit ketika Hamdan, sang suami, dan keluarganya tak mampu menerima kelahiran anak mereka yang istimewa. Dicerai dan diusir bersama bayinya, Inara terpuruk, merasa sebatang kara dan kehilangan arah.
Titik balik datang saat ia bertemu dengan seorang ibu Lansia yang kesepian. Mereka berbagi hidup, memulai lembaran baru dari nol. Berkat ketabahan dan perjuangannya, takdir berbalik. Inara perlahan bangkit, membangun kembali kehidupannya yang sempat hancur demi putra tercintanya.
Di sisi lain, Rayyan Witjaksono, seorang duda kaya yang terluka oleh pengkhianatan istrinya akibat kondisi impoten yang dialaminya. Pasrah dengan nasibnya, sang ibu berinisiatif mencarikan pendamping hidup yang tulus, yang mau menerima segala kekurangannya. Takdir mempertemukan sang ibu dengan Inara,ia gigih berjuang agar Inara bersedia menikah dengan Rayyan.
Akankah Inara, mau menerima Rayyan Witjaksono dan memulai babak baru dalam hidupnya, lengkap dengan segala kerumitan masa lalu mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkejutnya keluarga Santoso

Saat Rayyan dan Inara melangkah masuk, keheningan sesaat menyambut mereka. Musik orkestra yang tadinya mengalun lembut seakan meredup.

Semua mata, mulai dari jajaran direksi, kolega bisnis, hingga para sosialita Jakarta, tertuju pada pasangan yang baru saja tiba. Rayyan memang sosok yang selalu menarik perhatian, namun malam ini, kehadiran Inara di sisinya adalah magnet yang tak terduga.

Inara, dengan gaun gold yang anggun dan hijabnya yang bersahaja, memancarkan kecantikan yang tidak biasa di antara keramaian gaun-gaun minim dan riasan tebal. Ia berdiri tegak, membalas tatapan suaminya dengan senyum yang dipaksakan di ballroom kini berubah menjadi senyum yang lebih meyakinkan. Mereka benar-benar terlihat serasi.

Di salah satu sudut ruangan, sebuah keluarga terlihat mematung.

Hamdan Santoso merasakan darahnya berdesir dingin. Pria yang baru saja bekerjasama dengan perusahaan milik Ayah mertuanya, yaitu Rayyan Witjaksono, kini berdiri gagah bersama seorang wanita yang ia kenal luar dalam. Wanita yang dulu ia abaikan, ia remehkan, dan ia tinggalkan karena demi nama baik keluarga.

Wanita itu Inara. Jantung Hamdan berdetak kencang, nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Ma... Pa..." Hamdan berbisik, suaranya tercekat.

Nyonya Amara Santoso, ibunda Hamdan, sudah lebih dulu terperangah. Ia meraih lengan suaminya, Pak Santoso, erat-erat. "Lihat, Pah! Itu... Inara, bukan?" Nada bicaranya penuh keterkejutan dan sedikit... iri.

Pak Santoso, seorang pengusaha kelas menengah yang sebenarnya sangat mengagumi Rayyan, mengamati tanpa berkedip. "Saya tidak salah lihat. Itu benar Inara. Kenapa dia bisa bersama Tuan Rayyan?"

Hamdan mengepalkan tangannya di balik jasnya. Rasa penyesalan yang tajam menusuk ulu hatinya, bercampur dengan cemburu yang membakar. Inara yang sekarang jauh lebih elegan, lebih memancarkan aura mahal, bukan hanya karena gaunnya, tapi karena ia berdiri di samping Rayyan Witjaksono.

"Tidak mungkin... Apakah mungkin d...dia menikah dengan Tuan Rayyan? Sejak kapan?" gumam Hamdan, hampir tidak terdengar. Wanita itu... sekarang jadi istri pengusaha kaya raya? Pikirannya kacau.

Sementara itu, Rayyan dan Inara telah mencapai panggung utama, di mana Nyonya Martha sudah menunggu dengan senyum bangga.

Rayyan mengencangkan genggamannya pada tangan Inara, memberikan sedikit remasan lembut sebagai isyarat dukungan sekaligus peringatan. Inara membalasnya dengan senyum tipis, menunjukkan bahwa ia siap.

Rayyan menatap Inara di sampingnya, lalu beralih ke mikrofon yang ada di podium.

"Selamat malam, para hadirin sekalian," suara Rayyan yang berat dan berwibawa memenuhi ruangan. "Terima kasih atas kehadiran Anda semua dalam perayaan ulang tahun perusahaan kami yang ke-20."

Setelah menyampaikan kata sambutan singkat tentang pencapaian perusahaan, Rayyan beralih pada topik yang paling dinantikan dan yang menjadi alasan utama Inara harus hadir.

Rayyan menoleh, menatap mata Inara dengan intensitas yang mengejutkan, bahkan untuk Inara sendiri. Ia kemudian meletakkan lengannya di pinggang Inara, menariknya sedikit lebih dekat. Sandiwara itu terasa sangat nyata.

"Malam ini, izinkan saya tidak hanya merayakan perjalanan bisnis, tapi juga perjalanan hidup saya. Saya ingin secara resmi memperkenalkan kepada Anda semua, wanita yang telah menjadi pendamping hidup saya, istri sah saya..."

Ia menjeda, senyumnya kali ini terasa tulus di mata Inara, mungkin karena kepuasan melihat rencananya berjalan mulus, atau mungkin karena hal lain.

"...Nyonya Inara Witjaksono."

Tepuk tangan meriah langsung menggema di seluruh Ballroom. Kilatan blitz dari kamera wartawan yang diundang khusus menyambar-nyambar.

Inara merasakan pipinya memerah, dan ia mengangkat tangannya sedikit, tersenyum dan membungkuk hormat sebagai tanda terima kasih. Di mata semua orang, ia adalah nyonya besar Witjaksono, yang anggun, bersahaja, dan serasi di samping suaminya.

Jauh di belakang, Hamdan hanya bisa menatap, dihantam badai penyesalan yang mengerikan. Ia telah membuang berlian demi sekeping perunggu.

Tepuk tangan meriah yang mengiringi perkenalan itu perlahan mereda. Rayyan menarik tangannya dari pinggang Inara, memutar tubuhnya menghadap sang istri sepenuhnya. Ia mengambil langkah mundur sedikit, memberi ruang di podium.

"Dan sekarang," ujar Rayyan dengan suara yang masih menggema, "saya ingin Nyonya Witjaksono yang baru secara langsung menyapa Anda sekalian. Silakan, Sayang."

Inara merasakan seluruh ototnya menegang. Kata 'Sayang' yang diucapkan Rayyan dengan nada mesra itu terasa dingin di telinganya, sebuah instruksi yang harus ia jalankan. Ia melangkah ke podium, kakinya terasa seperti karet. Begitu dekat dengan mikrofon, ia bisa melihat pantulan dirinya di permukaannya yang mengkilap.

Rayyan, yang berdiri di sampingnya, merasakan getaran halus yang menjalar dari lengan Inara yang ia sentuh sekilas. Ia melihat mata Inara sedikit melebar, pupilnya bergetar karena gugup. Sandiwara ini harus berjalan sempurna, dan ia tidak akan membiarkan ketakutan Inara merusaknya.

Rayyan segera mendekat. Tubuhnya yang tinggi membungkuk sedikit, dan bibirnya menyentuh tepi telinga Inara. Napas hangatnya berhembus di kulit Inara, mengirimkan sengatan listrik yang aneh.

"Jangan takut," bisik Rayyan, suaranya kini hanya terdengar oleh Inara, namun nadanya begitu meyakinkan, "Ada aku di sini. Aku akan selalu bersamamu. Cukup sebutkan namamu dan katakan kamu bahagia."

Jantung Inara berdesir. Sikap Rayyan yang biasanya kasar dan dingin, yang selalu penuh tuntutan, kini berubah menjadi kelembutan yang menyentuh. Ia mengangkat wajah, menatap mata Rayyan yang seperti elang. Ada gurat ketulusan yang tak terduga dalam sorot mata itu. Sebuah kehangatan asing menjalar di dadanya.

Tidak, Inara. Sadar diri. Ini hanya akting. Ini panggung kita, suara batin Inara memperingatkannya.

Namun, pengakuan tulus atau tidak, dukungan itu berhasil menyingkirkan sedikit rasa kaku di tubuhnya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengangguk perlahan, lalu menoleh ke mikrofon.

"Selamat malam, Bapak dan Ibu sekalian," Inara memulai. Suaranya terdengar sedikit bergetar pada awalnya, tetapi ia segera menguasainya. "Saya... Inara. Inara Witjaksono."

Ia tersenyum, kali ini senyumnya datang dari hati, sebuah rasa lega karena berhasil menaklukkan kegugupannya sendiri. "Saya sangat berbahagia dan bersyukur bisa berada di sini malam ini, merayakan keberhasilan yang telah dicapai Tuan Rayyan dan seluruh tim Witjaksono selama dua dekade ini. Terima kasih atas sambutan hangat Anda semua."

Singkat, padat, dan elegan.

Tepuk tangan kembali membahana, bahkan lebih riuh dari sebelumnya. Sambil tersenyum, Rayyan mencondongkan tubuhnya, menyentuh pundak Inara dengan lembut, seolah berkata, Bagus sekali.

Di sudut ruangan, Nyonya Amara Santoso mengepalkan tangannya di bawah meja, kukunya menancap di telapak tangan. Wajahnya memucat, berganti merah, menahan amarah yang mendidih.

"Lihat dia, Pah! Lihat!" bisiknya tajam kepada suaminya. "Wanita yang dulu aku anggap tidak pantas menjadi menantuku! Wanita yang bahkan tidak sederajat dengan kita, Sekarang? Dia adalah Nyonya Witjaksono! Derajatnya... sama denganku! Bahkan mungkin jauh lebih tinggi! Sungguh memalukan!"

Hamdan hanya bisa menunduk, ia tidak sanggup mendengar gerutuan ibunya yang semakin menusuk perasaannya. Ia ingat dengan jelas bagaimana ibunya selalu memandang Inara dengan hina dan merendahkan. Ironi itu terasa seperti ludah di wajahnya.

Acara perayaan ulang tahun pun dimulai dengan suasana meriah yang segera menghapus keheningan sesaat tadi. Lampu-lampu mewah menyorot kue tart raksasa berbentuk logo perusahaan yang dihiasi lilin-lilin emas. Rayyan, didampingi Inara dan Nyonya Martha, memotong kue tersebut, sebuah simbol dari kekuatan dan kejayaan perusahaan yang tak akan padam.

Setelah prosesi pemotongan kue, Nyonya Martha menyambut Inara dengan pelukan bangga.

"Kamu melakukannya dengan sempurna, Nak," bisik Nyonya Martha di telinga Inara. "Kalian berdua berhasil meyakinkan publik. Pernikahan ini terlihat sangat indah dan penuh cinta kasih. Syukurlah."

Rayyan hanya tersenyum tipis. Ia tahu, kebahagiaan Nyonya Martha adalah tujuan utama mereka.

Kemudian, mereka bertiga dipersilakan duduk di meja kehormatan yang terletak tepat di barisan paling depan, dekat panggung. Meja itu disiapkan khusus untuk mereka, dihiasi karangan bunga dan hidangan pembuka yang mewah. Rayyan, Inara, dan Nyonya Martha mulai menikmati makan malam spesial mereka.

Sementara itu, dari jarak beberapa meja, mata Hamdan tak pernah lepas dari Inara. Ia melihat cara Rayyan terkadang berbicara dengannya, melihat senyum Inara, dan melihat betapa serasinya mereka duduk berdampingan. Perasaan cemburu dan penyesalan itu terus menggerogoti. Bagaimana mungkin Inara menikah secepat ini? Dan dengan Rayyan Witjaksono, pengusaha yang menjadi idola banyak orang?

Tiba-tiba, sebuah suara bariton menyela lamunan Hamdan.

"Maaf kami terlambat, Pak Santoso," kata Tuan Abraham, ayah dari tunangan Putranya, yakni Megan.

"Tidak masalah, Tuan Abraham. Selamat datang," sambut Pak Santoso ramah.

Megan, seorang wanita muda dengan gaun minim yang mencolok, baru saja kembali dari luar negeri. Meski sudah bertunangan, ini adalah pertemuan pertama Hamdan dan Megan. Tanpa basa-basi, Megan langsung duduk di samping Hamdan, menyentuh lengan Hamdan dengan manja.

"Hai, Hamdan. Senang akhirnya bertemu denganmu," ujar Megan dengan suara yang dibuat-buat.

Hamdan hanya merespons datar, pandangannya tetap tertuju ke meja kehormatan. Ia hampir tidak melihat Megan. Yang ia lihat hanyalah Inara, mantan istrinya, yang kini duduk anggun di sebelah pria lain, tertawa kecil bersama ibu mertuanya. Rasa memiliki yang konyol namun membakar itu membuatnya mengabaikan kehadiran Megan sepenuhnya.

Di meja kehormatan, Inara merasakan hawa dingin yang merambat di punggungnya. Ia merasa ada sepasang mata yang terus mengawasinya. Ia melirik ke sisi kiri, dan pandangannya langsung bertemu dengan sepasang mata Hamdan yang memancarkan campuran kesedihan dan rasa bersalah yang kentara. Jantung Inara berdetak kencang, terkejut setengah mati. Ia tidak menyangka akan bertemu mantan suami dan kedua mantan mertuanya di acara ini.

Rayyan, yang sedang berbicara dengan ibunya, merasakan Inara menegang. Ia mengikuti arah pandangan Inara dan melihat seorang pria di meja sana yang ia kenali sebagai Hamdan Santoso, partner bisnis baru perusahaan ayah mertuanya yakni Tuan Abraham, kini sedang menatap Inara dengan tatapan yang sangat tidak biasa, intens dan penuh arti.

Alis Rayyan terangkat, ia menatap tajam ke arah Hamdan, dan secara tidak sadar, ia meletakkan tangannya di belakang kursi Inara, sebuah isyarat kepemilikan.

'Apakah mereka saling mengenal?'

batin Rayyan penuh selidik, tatapannya kini tidak hanya terfokus pada Hamdan, tetapi juga pada reaksi Inara yang terlihat pucat.

"Siapa pria itu?" bisik Rayyan rendah pada Inara, matanya masih mengunci Hamdan.

Inara menelan ludah. "D...dia..." Inara ragu untuk menjawab, takut Rayyan akan marah.

"Dia siapa, Inara?" desak Rayyan, suaranya sedikit mengeras.

Inara memejamkan mata sesaat, lalu menarik napas dan berbisik balik, "Dia... Hamdan Santoso. Mantan suami saya, Tuan."

1
~Ni Inda~
Tokohnya yg lg viral semua nih Thor
Inara..Jule...Manopo...🤭
ᥣׁׅ֪ꫀׁׅܻ݊݊ꪀꪱׁׁׁׅׅׅ
mulai masuk ulet keket
ᥣׁׅ֪ꫀׁׅܻ݊݊ꪀꪱׁׁׁׅׅׅ
viona
ᥣׁׅ֪ꫀׁׅܻ݊݊ꪀꪱׁׁׁׅׅׅ
vioana
Fitriyani
emgnya darahnya kluar2 y,kok sampai ngomongin darah nifasnya
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: bukan keluar kak, Bu Farida melihat Wajahnya Inara yang pucat dan membawa bayi yang masih merah, jadi ia beranggapan darah nifasnya pasti banyak
total 1 replies
Ani Maryani
ternyata dia bisa menjahit mungkin ini bisa mencari nafkah dengan men jahit.
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs banget yg punya Ceritra Inara lg bahagia sm Rayyan smg seterusnya Rayyan bisa berubah dlm bersikap terhadap Inara ,ku yg baca penasaran nih Thor ,awalnya ngenes ke si Hamdan .....smg setelah ada badai munculah pelangi kehidupan bg Inara ...👍👍👍💪💪💪🙏🙏🙏lanjut Thor
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: Alhamdulillah, terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
H5H
mantap👍 lanjut..
Lies Atikah
si arogan pasti malu da . udah nyangka2 teu puguh sama bini nya uyuhan masih ada muka tuk ketemu . ih menyebal kan
Lies Atikah
si arogan pasti malu da . udah nyangka2 teu puguh sama bini nya uyuhan masih ada muka tuk ketemu . ih menyebal kan
Lies Atikah
sekarang udah punya duit
masa gak kebeli kasur atau karvet untuk di rumah bu parida
Yuni Ngsih
Authoooor satu kata buat klwrga si Hamdan biadab....orang baru melahirkan diusir ku ngenes bc Ceritra ini ada ya orang se biadab itu smg setelah badai akan muncul pelangi ,ceritramu hebat Thor ....lanjut
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kakak 🙏😊
total 1 replies
Ruk Mini
sgt mengharukan, konflik Rmh tangga yg pelik, mewek" berakhir Bahagia..sgt menghibur..tq thor d tgg karya" mu lgi🙏👍👍👍
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak, sudah mengikuti kisahnya dari awal sampai akhir, boleh mampir di karya terbaruku, ceritanya gak kalah seru kak 😊🙏
total 1 replies
Lies Atikah
udah lemah cacat burungnya gak bisa bangun bertngkah menyebal kan
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: paket komplit ya kak 😅
total 1 replies
Lies Atikah
jangan kalah pintar Innara semoga nanti ada pesaing untuk si Rayyan yang lebih menghargai hasl karya mu
Lies Atikah
si Rayyan sombong semoga nanti akan kena batunya dia sendiri yang akan menyesal Innara sabar yah
Endah Lestary
ceritanya bagus ga bnyk typo.. sukses selalu 👍😍🥰🥰
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
Rusmini Mini
keren semua dpt porsinya aq suka Rayyan Inara bu Martha bu Farida baby Daffa Frans suka semuanya ... suka authornya jg /Good//Good//Good//Pray//Pray//Pray//Heart//Heart//Heart//Kiss//Kiss//Kiss/
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: Alhamdulillah 🤲
terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
Rusmini Mini
aq suka visualnya.... enggak sipit enggak eropa enggak timur tengah asli pribumi
/Heart//Heart//Heart//Heart/
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: Author juga suka bgt akak 😀/Drool//Drool/
total 1 replies
Rusmini Mini
aq jg happy thor... /Cry//Cry//Cry//Heart//Heart//Heart/
💕£LI P®iwanti 🦋✍️⃞⃟𝑹𝑨 🐼: /Kiss//Kiss//Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!