Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13 Mengejar yang hampir hilang
Hujan turun lagi malam itu.
Rafael memacu mobilnya menembus jalanan kota yang basah, lampu-lampu lalu lintas memantul di aspal seperti serpihan ingatan yang tak berhenti menyerangnya. Pikirannya hanya satu—Sakira.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus ke mana.
Ia telah mencari ke semua tempat yang mungkin. Rumah kontrakan lama Sakira. Kafe kecil yang pernah mereka datangi. Bahkan taman belakang rumah yang dulu sering Sakira duduki saat butuh menenangkan diri.
Kosong.
Rafael menggenggam setir lebih keras.
“Aku terlambat,” gumamnya.
Kata-kata di secarik kertas itu terus terngiang.
Aku pergi bukan karena kalah, tapi karena ingin menyelamatkan diriku sendiri.
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada penolakan apa pun.
Ponselnya berdering. Asistennya.
“Tuan, kami menemukan lokasi Nyonya Sakira. Sebuah penginapan kecil di daerah selatan kota.”
Rafael tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia memutar arah mobilnya tanpa ragu.
Sakira duduk di tepi ranjang, menatap koper kecilnya yang masih setengah terbuka. Ia belum benar-benar membongkar barang-barangnya. Seolah sebagian dirinya masih belum yakin apakah ia akan tinggal… atau pergi lebih jauh.
Ia memejamkan mata, menarik napas panjang.
“Aku sudah melakukan yang benar,” bisiknya pada diri sendiri.
Namun hatinya tidak sepenuhnya tenang.
Ketukan di pintu terdengar.
Sakira menegang.
Ia tidak menunggu siapa pun.
Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih pelan—ragu.
Dengan langkah hati-hati, Sakira membuka pintu.
Dan dunia seakan berhenti berputar.
Rafael berdiri di sana. Rambutnya sedikit basah oleh hujan, jasnya kusut, wajahnya pucat namun matanya penuh sesuatu yang belum pernah Sakira lihat sebelumnya.
Ketakutan.
“Rafael…” suara Sakira nyaris tak keluar.
“Aku menemukamu,” ucap Rafael pelan, seolah takut Sakira akan menghilang jika ia berbicara terlalu keras.
Sakira menggenggam daun pintu. “Kamu tidak seharusnya di sini.”
“Aku seharusnya mengejarmu sejak awal,” balasnya cepat.
Keheningan menggantung di antara mereka.
Akhirnya Sakira melangkah mundur. “Masuklah.”
Kamar penginapan itu sederhana. Terlalu sederhana untuk seorang CEO yang terbiasa dengan kemewahan. Rafael berdiri canggung, tak tahu harus duduk atau tetap berdiri.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.. Sakira tersenyum tipis. “Aku masih hidup. Itu sudah cukup.”
Jawaban itu menusuk Rafael.
“Sakira,” katanya pelan. “Aku minta maaf.”
Sakira menatapnya. “Maaf yang mana?”
“Semua,” jawab Rafael jujur. “Karena diam. Karena ragu. Karena membiarkan orang lain melukaimu atas namaku.”
Sakira menarik napas. “Permintaan maaf tidak selalu cukup.”
Aku tahu,” Rafael mengangguk. “Dan aku tidak datang untuk memintamu kembali begitu saja.”
Sakira terkejut.
“Aku datang untuk jujur,” lanjut Rafael. “Untuk pertama kalinya.”
Ia melangkah mendekat, menjaga jarak satu langkah. “Aku takut, Sakira. Aku selalu pergi saat perasaan mulai tumbuh, karena bagiku kehilangan lebih menakutkan daripada kesepian.”
Sakira menelan ludah.
“Dan sekarang,” suara Rafael bergetar, “aku benar-benar kehilangan.”
Keheningan kembali turun, kali ini lebih berat.
“Apa yang kamu rasakan padaku?” tanya Sakira akhirnya.
Rafael menghela napas panjang. “Aku jatuh cinta padamu.”
Kata-kata itu jatuh pelan… namun mengguncang segalanya.
Sakira menutup mata sesaat. Dadanya sesak.
“Kenapa baru sekarang?” tanyanya lirih.
“Karena aku pengecut,” jawab Rafael tanpa berusaha membela diri. “Aku membiarkan kontrak menjadi alasan untuk tidak memilih.”
Air mata Sakira jatuh perlahan.
“Aku tidak ingin menjadi pilihan kedua,” katanya pelan. “Aku tidak ingin dicintai saat kamu hampir kehilangan.”
Rafael menatapnya penuh luka. “Aku mengerti.”
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya—selembar kertas yang sudah terlipat.
“Ini kontraknya,” ucap Rafael. “Aku akan membatalkannya.”
Sakira terkejut. “Apa?”
“Aku tidak ingin kamu terikat padaku karena perjanjian,” lanjut Rafael. “Jika kamu memilih pergi setelah ini… aku akan menerima.”
Tangannya gemetar saat menyodorkan kertas itu.
“Dan jika suatu hari,” lanjutnya pelan, “kamu memilih kembali… aku ingin itu karena kamu menginginkanku. Bukan karena kewajiban.”
Sakira menatap kertas itu lama.
Ini yang ia inginkan sejak awal—kebebasan.
Namun justru sekarang, hatinya terasa paling berat.
Hening panjang menyelimuti kamar.
Akhirnya Sakira mengambil kertas itu, lalu meletakkannya di meja tanpa melihat isinya.
“Aku butuh waktu,” katanya jujur. “Aku tidak bisa langsung kembali hanya karena pengakuan.”
Rafael mengangguk. “Aku tidak akan memaksamu.”
Sakira menatapnya dalam. “Jika kamu ingin bersamaku… kamu harus melawanku. Keluargamu. Masa lalumu. Ketakutanmu.”
Rafael menatap balik tanpa ragu. “Aku siap.”
Sakira tersenyum tipis—senyum yang rapuh namun tulus. “Kata-kata mudah diucapkan. Tindakan tidak.”
“Aku akan membuktikannya,” jawab Rafael.
Sakira melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di depan Rafael.
Tapi untuk sekarang,” katanya pelan, “biarkan aku memilih diriku sendiri.”
Rafael menelan rasa perih di dadanya dan mengangguk. “Aku akan menunggumu.”
Sakira membuka pintu kamar Rafael melangkah keluar, lalu berhenti sejenak.
“Terima kasih karena tidak menyerah pada dirimu sendiri.”
Sakira tersenyum kecil. “Terima kasih karena akhirnya jujur.”
Pintu tertutup perlahan.
Namun kali ini, bukan perpisahan yang pahit—melainkan jarak yang penuh harapan.
Di luar, hujan mulai reda.
Rafael berdiri di bawah lampu jalan, membiarkan tetesan terakhir jatuh di pundaknya. Untuk pertama kalinya, ia merasa ringan—meski belum menang.
Sementara di dalam kamar, Sakira menyentuh dadanya yang masih berdebar.
Ia belum kembali.
Namun ia juga belum benar-benar pergi.
Dan untuk pertama kalinya, ia tahu—cinta seharusnya tidak memenjarakan, melainkan memberi ruang untuk memilih.
Pintu kamar itu telah lama tertutup, namun Sakira masih berdiri di tempat yang sama.
Tangannya menempel di dada, mencoba menenangkan detak jantung yang belum juga kembali normal. Udara di ruangan itu terasa berbeda—lebih sunyi, lebih jujur. Rafael telah pergi, membawa serta pengakuan yang selama ini ia tunggu… dan ketakutan yang masih belum sepenuhnya ia lepaskan.
Sakira duduk perlahan di tepi ranjang.
“Aku tidak salah memilih diriku sendiri,” ucapnya lirih, seolah meyakinkan hati yang masih goyah.
Ia menatap jendela, melihat lampu jalan yang basah oleh sisa hujan. Dulu, ia mungkin akan langsung berlari kembali. Dulu, ia akan memilih bertahan meski terluka. Namun kini, ia tahu satu hal—cinta tanpa keberanian hanya akan mengulang luka yang sama.
Ia tidak ingin kembali sebagai perempuan yang menunggu.
Ia ingin kembali sebagai perempuan yang dipilih dengan utuh.
Di dalam mobil, Rafael tidak langsung menyalakan mesin.
Ia bersandar di kursi, menutup mata, membiarkan keheningan menelannya. Ada rasa lega karena akhirnya jujur, namun juga perih karena belum diizinkan berada di sisi Sakira.
Aku pantas menunggu,” gumamnya.
Ponselnya bergetar. Nama ibunya muncul di layar.
Rafael menatapnya lama… lalu mematikan ponsel itu.
Untuk pertama kalinya, ia memilih diam bukan karena takut—melainkan karena sedang bersiap. Bersiap menghadapi segala konsekuensi dari pilihannya sendiri.
Ia menyalakan mobil dan melaju pelan, bukan menuju rumah besar penuh tekanan, melainkan ke apartemennya sendiri. Tempat ia bisa berpikir tanpa topeng, tanpa peran.
“Jika aku ingin bersamanya,” katanya dalam hati, “aku harus menghancurkan tembok yang kubangun sendiri.”
Beberapa hari berlalu.
Sakira mulai menata ulang hidupnya. Ia bangun pagi tanpa tergesa, berjalan kaki menyusuri jalan kecil di sekitar penginapan, menyapa pemilik warung dengan senyum yang tulus. Ia mengirim lamaran pekerjaan, bukan untuk membuktikan diri pada siapa pun—melainkan untuk dirinya sendiri Setiap malam, ia menahan diri untuk tidak membuka ponsel terlalu lama.
Tidak menunggu pesan.
Tidak berharap berlebihan.
Namun di sudut hatinya, ada satu nama yang masih tinggal—tenang, tanpa memaksa.
Rafael.
Di sisi lain kota, Rafael mulai melakukan hal-hal yang selama ini ia tunda.
Ia memanggil pengacaranya.
Ia membekukan rencana bisnis yang melibatkan keluarga Alya.
Ia menolak undangan makan malam keluarga—untuk pertama kalinya tanpa alasan.
“Ini hidupku,” katanya tegas saat asistennya tampak ragu.
Malam-malamnya kini sepi, namun justru di sanalah ia belajar. Tentang rasa kehilangan. Tentang betapa mudahnya menyakiti seseorang dengan diam.
Dan tentang betapa berharganya perempuan yang berani pergi demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Di kamar penginapan, Sakira membuka jendela dan menghirup udara malam.
“Aku tidak tahu bagaimana akhirnya,” bisiknya pada angin.
“Tapi untuk pertama kalinya… aku tidak takut.”
Jarak itu masih ada.
Namun kini, jarak itu bukan dinding—melainkan ruang.
Ruang bagi Rafael untuk membuktikan.
Ruang bagi Sakira untuk tumbuh.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ruang itu akan cukup aman untuk mempertemukan mereka kembali—tanpa kontrak, tanpa paksaan, hanya pilihan.
Bersambung...