NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Permintaan Latihan yang Tak Terduga

Heras duduk tegak di kursi rodanya di tengah halaman belakang rumah yang luas, rumput hijau terhampar di bawah kakinya yang tak bisa bergerak. Matanya menatap tajam ke arah Rian yang baru saja keluar membawa dua botol air minum, diikuti Sari yang baru saja mendorong kursi roda Heras ke posisi itu. Udara pagi masih segar, namun ketegangan terasa jelas di antara mereka bertiga.

"Rian, aku mau kamu melatihku," kata Heras dengan nada tegas, tanpa basa-basi.

Rian menghentikan langkahnya, alisnya terangkat tinggi hingga hampir menyentuh garis rambutnya. Ia menatap Heras dari ujung kaki ke ujung kepala, seolah memastikan apakah temannya ini sedang bercanda atau serius. "Melatihmu? Heras, kamu serius? Kamu bahkan belum pernah memegang sarung tinju sekalipun, apalagi tahu cara memukul atau menendang dengan benar—dan kamu tahu kondisimu sekarang." Rian menggeleng, wajahnya penuh kebingungan yang tergambar jelas. "Aku juga bukan pelatih resmi, lho. Aku cuma berlatih sendiri-sendiri."

"Terserah kamu mau bilang apa, tapi aku butuh kemampuan bela diri. Dunia ini semakin berbahaya, dan aku tidak mau cuma diam saja," balas Heras, suaranya tak kenal kompromi, dadanya membusung sedikit menunjukkan keteguhannya. "Dan aku punya cara untuk bisa bergerak—energi Luminar. Aku tahu ia bisa menggerakkan kakinya yang lumpuh."

Sari yang berdiri di samping kursi roda Heras tampak terkejut, matanya membelalak sambil menutup mulutnya dengan tangan. "Heras, kamu beneran yakin? Tapi itu butuh banyak tenaga, dan..."

"Aku tahu risikonya, Sari. Tapi aku harus mencoba," potong Heras lembut namun tegas, lalu kembali menatap Rian.

"Tapi aku bingung harus mulai dari mana sama kamu," Rian menghela napas panjang, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kalau kamu mau belajar, lebih baik cari pelatih yang ahli di bidangnya saja. Aku cuma tahu gabungan gerakan yang aku pelajari dari video dan latihan mandiri—itu bukan hal yang mudah buat pemula. Gerakannya butuh kelincahan tinggi dan keseimbangan yang kuat, dan kamu harus menggunakan seluruh tubuhmu, bukan cuma kaki."

"Justru itu yang aku mau. Aku mau belajar gaya kamu, dan aku akan menggunakan seluruh tubuhku," Heras berkata, lalu perlahan memegang pegangan kursi roda. Dengan bantuan sedikit dorongan energi Luminar yang ia lepaskan samar-samar, ia mengangkat tubuhnya dan turun dari kursi roda, berdiri tegak di atas kakinya yang tadinya lumpuh—kakinya tetap kaku dan tak bisa bergerak dengan kekuatan sendiri, tapi energi itu menopangnya agar bisa berdiri. Sari segera memegangi lengan Heras untuk memastikan ia tidak jatuh, sementara Rian menatap dengan mata terbelalak. "Lihat? Aku bisa berdiri. Sekarang, ayo tunjukkan satu gerakan dasar dulu. Aku akan ikuti dengan seluruh tubuhku."

Rian masih tampak ragu, bibirnya terkatup rapat seolah sedang mempertimbangkan risiko. Namun, melihat keteguhan yang tak tergoyahkan di mata Heras dan kakinya yang bisa berdiri berkat energi itu, ia akhirnya mengangguk pelan sambil meletakkan botol air di tepi pagar. "Baiklah, kalau begitu. Tapi ingat, ini coba-coba saja dulu. Kita mulai dari gerakan kaki yang sederhana, tapi ingat—seluruh tubuhmu harus ikut bergerak, bukan cuma kaki. Di gabungan gaya aku, gerakan kaki itu segalanya—kombinasi dari tendangan yang cepat, tinggi, dan mematikan, sama gerakan akrobatik yang lincah dan tak terduga, dan semuanya butuh koordinasi seluruh tubuh."

Rian menempatkan diri di tengah halaman, tubuhnya sedikit miring ke samping untuk memperkecil sasaran. Kaki kanannya diletakkan di depan dengan lutut sedikit ditekuk, sementara kaki kirinya menopang berat badan di belakang. Tangannya terbuka lebar, satu di depan dada dan satu lagi di samping kepala, siap untuk menangkis atau menyerang. "Perhatikan baik-baik, ya. Pertama, gerakan ginga—gerakan bergoyang maju mundur, bergantian memindahkan berat badan dari satu kaki ke kaki lain. Ini bukan cuma goyang biasa, tapi cara buat menjaga keseimbangan, menghindar, dan sekaligus mempersiapkan tenaga buat menendang. Dan ingat, seluruh tubuhmu harus ikut bergerak—pinggul, bahu, semuanya harus selaras."

Perlahan, Rian mulai bergerak. Tubuhnya bergoyang dengan ritme yang luwes, pinggulnya berputar halus, bahunya ikut bergeser sesuai perpindahan berat badan, kakinya melangkah maju dan mundur selangkah demi selangkah dengan cepat namun terkontrol. Tidak ada gerakan yang kaku; setiap perpindahan terasa mengalir seperti air, seluruh tubuhnya bergerak sebagai satu kesatuan. "Lalu, dari gerakan ginga itu, kita bisa langsung luncurkan tendangan—misalnya tendangan depan ap chagi, tapi dengan momentum dari seluruh tubuhmu, bukan cuma kaki."

Tiba-tiba, dari goyangan yang dinamis itu, Rian melompat sedikit ke depan dengan dorongan dari seluruh tubuhnya. Kaki kirinya yang tadinya di belakang meluncur cepat ke atas, lurus dan kaku, ujung kakinya mengarah tepat ke arah imajiner di depannya. Angin berdesir halus terdengar saat kakinya membelah udara dengan presisi yang luar biasa, hanya berhenti beberapa sentimeter dari tiang kayu di depannya sebelum ia menariknya kembali dengan cepat, kembali ke posisi ginga tanpa kehilangan keseimbangan sedikitpun—seluruh tubuhnya tetap terkoordinasi dengan sempurna.

"Nah, begitu kira-kira. Sekarang coba kamu lakukan—gunakan seluruh tubuhmu, jangan cuma fokus pada kaki," kata Rian, memberi isyarat dengan tangannya sambil napasnya tetap teratur.

Heras menghela napas panjang, Sari melepaskan pegangannya perlahan setelah memastikan Heras bisa berdiri stabil berkat energi Luminar. Heras mencoba meniru posisi Rian, menggunakan seluruh tubuhnya untuk menyesuaikan. Namun, kakinya terasa berat dan kaku, seolah-olah ada beban besi yang mengikat pergelangannya—meskipun bisa berdiri, menggerakkannya sesuai keinginan masih sulit. Saat ia mencoba bergoyang maju mundur, gerakannya kaku seperti robot, pinggul dan bahunya tidak ikut bergerak selaras, dan ia hampir tersandung kakinya sendiri. Ia mencoba mengangkat kaki untuk menendang, tapi gerakannya lambat, kakinya tidak lurus, dan ia hampir terjatuh ke samping karena kehilangan keseimbangan—seluruh tubuhnya terasa tidak terkoordinasi.

"Gak begitu, Heras! Gunakan seluruh tubuhmu, jangan kaku! Pinggulmu dan bahumu harus ikut bergerak, jangan cuma kakinya. Bayangkan kamu sedang menari tapi siap menyerang—seluruh bagian tubuhmu bergerak sebagai satu kesatuan," Rian mencoba memberi arahan, melangkah mendekat untuk membetulkan posisi tubuh Heras, tapi Heras masih kesulitan mengkoordinasikan seluruh gerakannya.

Heras mengernyit frustrasi, kepalan tangannya mengepal kuat. Ia tahu tubuhnya tidak seko Rian, dan kemampuan fisiknya masih jauh di bawah—apalagi dengan kakinya yang lumpuh. Namun, ia tidak mau menyerah. Tiba-tiba, cahaya keemasan samar mulai memancar lebih terang dari pori-pori tubuhnya—energi Luminar yang selama ini ia simpan rapat-rapat, kini ia lepaskan lebih banyak. Cahaya itu hangat, menyelimuti seluruh tubuhnya seperti selimut tipis yang bercahaya, dan terutama terfokus di area kakinya, tapi juga menyebar ke pinggul, bahu, dan seluruh ototnya.

Rian terkejut melangkah mundur, matanya membelalak melihat kilau keemasan itu. Sari juga menutup mulutnya dengan kaget, matanya tak lepas dari tubuh Heras. "Heras, apa yang kamu—"

Belum selesai Rian berbicara, Heras memejamkan mata sejenak, memfokuskan seluruh energinya ke seluruh tubuhnya, terutama untuk mengkoordinasikan gerakannya. Ia merasakan adanya dorongan halus namun kuat dari energi itu, seolah-olah ada tangan-tangan tak terlihat yang membimbing dan menggerakkan seluruh tubuhnya—kaki, pinggul, bahu, semuanya—mengatur otot-ototnya agar bergerak sesuai dengan pola yang baru saja ia lihat, dan membuat kakinya yang lumpuh bisa bergerak bebas.

Perlahan, seluruh tubuhnya mulai bergerak—bukan karena kekuatan ototnya sendiri, tapi karena dorongan energi Luminar yang menggerakkannya bagaikan marionette yang dikendalikan dengan presisi sempurna. Kali ini, tidak ada lagi kekakuan. Kaki kanannya melangkah maju, lalu kaki kirinya menyusul, tubuhnya bergoyang maju mundur dengan ritme yang tepat persis seperti gerakan ginga Rian. Pinggulnya berputar halus, bahunya ikut bergeser selaras, seluruh tubuhnya bergerak sebagai satu kesatuan yang luwes. Cahaya Luminar itu semakin terang di sekitarnya, membuat setiap gerakan terasa ringan, seolah-olah gravitasi tidak lagi membebaninya, dan keseimbangannya tetap sempurna meskipun ia menggunakan seluruh tubuhnya untuk bergerak.

Rian menatap takjub, mulutnya sedikit terbuka. Ia melihat Heras, yang tadi kesulitan bahkan untuk berdiri dengan stabil dan mengkoordinasikan gerakannya, kini bergerak dengan kelincahan yang luar biasa, menggunakan seluruh tubuhnya dengan sempurna. Sari juga berdiri terpaku, air mata haru mulai menggenang di matanya.

Kemudian, dengan dorongan energi Luminar yang meledak sedikit di seluruh tubuhnya—dari tumit hingga bahu—Heras meluncurkan kakinya. Dari gerakan ginga yang lincah, dengan koordinasi seluruh tubuhnya yang sempurna, kaki kiranya terangkat cepat, melurus ke depan dengan tajam. Ujung kakinya membelah udara, menciptakan suara desisan halus—tendangan depan yang khas, namun dilakukan dengan momentum dan keluwesan yang luar biasa, berkat gerakan seluruh tubuhnya yang selaras. Meskipun kekuatannya belum sebanding dengan Rian, gerakan itu cepat, terarah, dan jauh lebih baik dari apa yang pernah ia bayangkan.

Heras mendaratkan kakinya kembali ke tanah dengan lembut, napasnya sedikit terengah namun teratur, wajahnya bersinar puas. Cahaya Luminar di seluruh tubuhnya perlahan memudar, menyusup kembali ke dalam tubuhnya hingga hilang tak berbekas—dan kakinya kembali lumpuh, tak bisa bergerak lagi tanpa bantuan energi itu, tapi ia masih bisa berdiri dengan sedikit dukungan sisa energi.

Rian masih berdiri terpaku beberapa detik, sebelum akhirnya ia tersenyum lebar, geleng-geleng kepala tak percaya. "Wah, gila... aku bingung harus bilang apa. Gerakanmu tadi... itu hampir sempurna buat pertama kali! Kamu menggunakan seluruh tubuhmu dengan begitu selaras, aku bahkan bisa mendengar desisan angin dari tendanganmu. Kamu pakai trik apa itu? Tapi jujur, itu keren banget."

Sari segera mendekat, memeluk bahu Heras dengan lembut. "Aku tidak percaya... kamu bisa bergerak begitu lincah, menggunakan seluruh tubuhmu seperti itu, Heras."

Heras tersenyum tipis, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Energi Luminar membantu menggerakkan seluruh tubuhku, terutama kakinya yang lumpuh, seolah-olah ia yang tahu pola gerakannya dan membimbing setiap bagian tubuhku untuk bergerak selaras. Tapi aku tahu, ini cuma bantuan sementara. Aku butuh latihan sungguhan supaya suatu hari nanti, entah bagaimana caranya, otot dan tulangku bisa mengingat gerakan ini dan mengkoordinasikannya sendiri tanpa bantuan energi ini. Jadi, kamu mau melatihku kan sekarang?"

Rian menghela napas, lalu mengangguk mantap, matanya kini berbinar antusias. "Oke, oke. Aku setuju. Tapi mulai sekarang, kita latihan serius. Energi itu bisa bantu menggerakkan dan mengkoordinasikan tubuhmu, tapi pemahamanmu tentang gerakan dan kemampuanmu menggunakan seluruh tubuhmu yang paling penting. Ayo, kita ulangi gerakan tadi—kita fokus pada pola gerakan seluruh tubuhmu, supaya meskipun tanpa energi, kamu tahu persis bagaimana seharusnya setiap bagian tubuhmu bergerak selaras. Kita bangun fondasimu dari nol!"

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!