NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Kesaksian yang Membungkam

Hari sidang pembuktian tiba dengan cuaca Jakarta yang mendung, seolah ikut merasakan beratnya beban yang dibawa Hana di pundaknya. Jika sidang pertama adalah tentang gertakan, maka sidang kali ini adalah tentang fakta yang tidak terbantahkan. Hana tidak lagi datang dengan keraguan. Di dalam tas kerjanya, tersimpan dokumen-dokumen mutasi rekening dan laporan hasil pemeriksaan kesehatan mental yang sempat ia lakukan secara diam-diam sebulan sebelum ia memutuskan pergi.

Di lorong pengadilan, Aris tampak lebih gelisah dari biasanya. Ia tidak lagi membawa rombongan keluarga besar yang berisik. Mungkin rilis resmi dari kantor Adrian dan ancaman tuntutan pencemaran nama baik dari Baskara mulai menciutkan nyali tantenya yang paling vokal sekalipun. Kali ini, Aris hanya didampingi oleh ibunya yang tetap setia di kursi roda, meski wajah wanita tua itu tampak lebih tegang daripada sedih.

"Hana, sudah saya siapkan semuanya," bisik Baskara saat mereka berjalan masuk ke ruang sidang. "Saksi kunci kita sudah ada di ruang tunggu."

Hana mengangguk. Saksi itu bukan Adrian, karena menghadirkan Adrian hanya akan memperkeruh fitnah perselingkuhan yang ditiupkan Aris. Saksi itu adalah seseorang yang telah lama melihat busuknya rumah tangga Hana dari sudut dapur: Bi Inah, asisten rumah tangga yang telah bekerja di rumah Aris selama empat tahun sebelum akhirnya dipecat sepihak oleh ibu Aris dua minggu setelah Hana pergi.

Sidang dimulai. Hakim ketua meminta pihak Hana untuk menghadirkan bukti dan saksi pertama.

Baskara berdiri dengan tenang. "Yang Mulia, kami mengajukan bukti berupa rekaman percakapan dan mutasi rekening selama dua tahun terakhir yang menunjukkan bahwa Termohon secara sistematis menguras penghasilan Pemohon untuk kepentingan pribadi dan hobi, sementara kebutuhan pokok rumah tangga dibebankan sepenuhnya pada Pemohon."

Aris tampak ingin menyela, namun tatapan tajam dari hakim membuatnya urung.

"Selanjutnya," lanjut Baskara, "kami ingin menghadirkan saksi, Ibu Inah, yang merupakan asisten rumah tangga di rumah kediaman bersama selama empat tahun terakhir."

Saat Bi Inah masuk ke ruang sidang, wajah Aris dan ibunya berubah pucat. Mereka tidak menyangka Hana akan melacak keberadaan wanita tua itu. Bi Inah duduk di kursi saksi dengan tangan yang sedikit gemetar, namun matanya yang jujur menatap Hana dengan rasa sayang yang mendalam.

"Ibu Inah," tanya Hakim, "ceritakan apa yang Anda lihat sehari-hari mengenai perlakuan Saudara Aris terhadap istrinya, Saudari Hana."

Bi Inah menarik napas panjang. "Yang Mulia, saya sering melihat Bu Hana menangis di dapur sambil mencuci piring. Pak Aris kalau bicara sama Ibu selalu kasar, sering membentak kalau keinginannya tidak dituruti. Uang belanja sering sekali tidak diberikan, sampai-sampai Bu Hana harus memakai uang gajinya sendiri untuk membayar listrik dan gaji saya. Bahkan, ibunya Pak Aris sering menyuruh Bu Hana mengerjakan pekerjaan rumah yang berat-berat padahal Bu Hana baru pulang kerja malam hari."

"Apa Anda pernah melihat kekerasan fisik?" tanya pengacara Aris mencoba menjebak.

"Secara fisik yang sampai berdarah memang tidak ada, Pak," jawab Bi Inah jujur. "Tapi saya sering melihat Pak Aris menarik tangan Bu Hana dengan kasar sampai merah-merah. Dan yang paling menyedihkan adalah kata-katanya, Pak. Bu Hana sering dibilang 'istri mandul' dan 'perempuan tidak tahu diri'. Padahal, Bu Hana-lah yang menghidupi rumah itu."

Suasana sidang menjadi sangat hening. Aris menunduk dalam, tangannya terkepal di bawah meja. Fitnah yang ia bangun di media sosial tentang "istri yang silau harta" perlahan runtuh oleh kesaksian sederhana seorang asisten rumah tangga.

Setelah Bi Inah selesai, Baskara menyerahkan bukti terakhir: hasil konseling Hana dengan psikolog klinis. Dokumen itu menunjukkan bahwa Hana mengalami depresi ringan dan kecemasan kronis akibat tekanan lingkungan domestik yang toksik.

"Semua bukti ini menunjukkan bahwa Pemohon berada dalam kondisi bahaya secara psikologis jika tetap bertahan dalam ikatan pernikahan ini," tutup Baskara dengan mantap.

Hakim ketua menoleh ke arah Aris. "Saudara Termohon, apakah Anda memiliki bantahan atau saksi yang ingin dihadirkan?"

Aris berdiri dengan goyah. Pengacaranya membisikkan sesuatu, tapi Aris mengabaikannya. "Yang Mulia... saya... saya hanya ingin istri saya pulang. Saya mengakui saya keras, tapi itu karena saya ingin dia jadi istri yang sempurna. Soal uang, saya anggap itu uang bersama. Saya tidak bermaksud jahat."

"Keinginan Anda tidak bisa mengesampingkan fakta penderitaan pasangan Anda, Saudara Aris," ujar Hakim dengan nada dingin. "Sidang hari ini saya anggap cukup. Putusan akan dibacakan dua minggu lagi melalui sistem elektronik."

Begitu keluar dari ruang sidang, Aris tidak lagi mengejar Hana dengan amarah. Ia terduduk di kursi panjang koridor, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ibunya mencoba menghibur, tapi Aris tampak sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bersandiwara.

Hana berjalan melewati mereka. Kali ini, ia benar-benar tidak merasakan apa pun—tidak ada benci, tidak ada iba, apalagi cinta. Aris hanyalah orang asing yang pernah ia kenal.

Di parkiran, Adrian sudah menunggu di samping mobilnya. Ia tidak masuk ke ruang sidang untuk menghormati proses hukum, tapi ia ada di sana untuk memastikan Hana pulang dengan selamat.

"Bagaimana hasilnya?" tanya Adrian saat Hana mendekat.

"Semua sudah disampaikan, Adrian. Bi Inah luar biasa. Dia menceritakan semuanya dengan jujur," jawab Hana. Ada senyum lega yang merekah di wajahnya, senyum yang paling tulus yang pernah dilihat Adrian.

"Sekarang tinggal menunggu putusan resmi," kata Adrian. "Tapi bagiku, kamu sudah menang sejak hari pertama kamu berani keluar dari pintu rumah itu."

"Terima kasih, Adrian. Untuk semuanya. Tanpa dukunganmu dan nasihat Baskara, mungkin saya masih terjebak di dapur itu, mendengarkan makian Aris," ucap Hana tulus.

Adrian membuka pintu mobil untuk Hana. "Dunia ini luas, Hana. Jangan biarkan satu dapur sempit membuatmu lupa betapa besarnya langit di luar sana. Mau saya antar ke apartemen, atau kamu ingin mampir ke toko buku? Kamu bilang ingin membeli beberapa buku tentang manajemen keuangan terbaru."

Hana tertawa kecil. "Toko buku terdengar sangat bagus. Saya ingin mulai belajar lagi. Saya ingin menjadi Hana yang jauh lebih hebat dari sebelumnya."

Saat mobil itu melaju meninggalkan area pengadilan, Hana menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Ia melihat gedung tua itu menjauh, membawa serta lima tahun masa lalunya yang kelam. Di depannya, jalanan Jakarta yang macet dan hiruk-pikuk tampak begitu menjanjikan. Hana Anindita telah benar-benar selesai menjadi sabar, dan kini, ia mulai menjadi dirinya sendiri.

1
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!