Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 – Pengorbanan Pertama
Kota masih berasap ketika Raka, Kayla, dan Damar bergerak melalui reruntuhan. Suasana kacau, bau asap dan logam terbakar menyengat hidung mereka. Warga yang selamat berlarian mencari tempat aman, sebagian terluka parah.
Raka berdiri di tengah jalan, aura Alpha-nya masih menyelimuti tubuhnya, menandakan kekuatan penuh siap dilepaskan. Namun matanya menatap dengan berat ke arah gedung yang setengah runtuh.
Kayla menarik napas panjang. “Rak… kita harus cepat. Ada laporan bahwa ada warga yang terjebak di gedung apartemen barat.”
Damar menatap radar. “Ada makhluk besar Eclipse mendekat dari arah utara. Jika kita mengalihkan perhatian mereka… mungkin kita bisa menyelamatkan warga.”
Raka mengangguk, tetapi sorot matanya tajam. “Ini bukan cuma menyelamatkan. Kita harus bertindak cepat, atau mereka akan menjadi korban pertama.”
Situasi di Gedung Apartemen
Di lantai dasar gedung apartemen, seorang ibu berteriak sambil memegang anaknya. “Tolong! Tolong!”
Reruntuhan menghalangi jalan keluar. Sebuah makhluk buatan Eclipse menembus dinding, energi gelap berdenyut di tubuhnya.
Raka melesat, membelah udara dengan cahaya biru Alpha. Setiap langkahnya meninggalkan jejak aura yang membuat makhluk itu sulit bergerak.
Kayla mengatur gravitasi di sekitar reruntuhan, perlahan menyingkirkan beton dan logam.
“Cepat, Rak!” teriaknya.
Raka membentuk tombak energi biru, menghancurkan makhluk itu dengan satu pukulan terarah. Debu dan pecahan berterbangan.
Ibu dan anaknya berlari keluar, tetapi Raka menahan pandangan. Dari jendela lantai atas, seorang remaja terjebak di reruntuhan.
“Tidak…” gumamnya.
Pilihan Sulit
Makhluk lain mendekat dengan cepat, aura gelap menelan cahaya biru Raka. Ia bisa menghancurkan makhluk itu, tapi remaja itu terlalu dekat dengan titik ledakan potensial.
Damar berteriak. “Rak, mundur! Jangan ambil risiko terlalu besar!”
Raka menutup mata sejenak, napasnya berat. Cahaya Alpha di tubuhnya berdenyut lebih cepat.
“Jika aku tidak bertindak sekarang… dia akan mati,” pikirnya.
Dengan gerakan cepat, Raka menyatukan energi biru menjadi perisai mini di sekitar remaja itu, menahannya dari ledakan yang akan terjadi saat ia menghancurkan makhluk.
Ledakan energi menghantam reruntuhan, menghancurkan sebagian gedung, tapi remaja itu aman di perisai biru.
Kayla dan Damar terdiam, kagum tapi juga cemas melihat pengorbanan yang dilakukan Raka.
Dampak Psikologis
Setelah ledakan mereda, Raka jatuh terduduk di tanah, tubuhnya terasa panas dan lelah. Cahaya Alpha masih berdenyut, tapi kini terasa berat di punggung dan pundaknya.
Kayla duduk di sampingnya. “Rak… kamu harus istirahat. Kamu menempatkan dirimu terlalu jauh ke garis depan.”
Raka menatap kota yang masih terbakar. “Kalau aku tidak bertindak… mereka akan menjadi korban pertama dari banyaknya korban berikutnya. Pengorbanan itu tidak bisa kutinggalkan pada orang lain.”
Damar menepuk pundaknya. “Itu benar. Tapi ingat… setiap pengorbanan punya batasnya. Jangan biarkan dirimu hancur sebelum kota ini selamat.”
Raka menarik napas dalam, menenangkan aura biru di tubuhnya. Ia menyadari bahwa menjadi Alpha bukan hanya soal kekuatan, tapi tentang tanggung jawab terhadap nyawa yang tak ternilai.
Akhir Bab
Di kejauhan, menara Eclipse tetap berdiri tegak. Cahaya merah berkedip dari puncaknya. Adrian mengamati kota yang berjuang, tersenyum tipis.
“Bagus… mereka mulai merasakan beratnya menjadi simbol. Sekarang… kita naikkan tekanan.”
Raka menatap menara itu, cahaya Alpha berdenyut stabil. “Aku tidak akan membiarkan pengorbanan mereka sia-sia. Aku akan lindungi kota ini, apapun risikonya.”
Kayla menggenggam tangannya, memberikan kekuatan moral.
“Kita akan melawan… bersama.”
Damar mengangguk. “Kita siap menghadapi apapun yang mereka kirim.”
Langit kota yang gelap menyaksikan awal dari pertempuran besar. Pengorbanan pertama telah dilakukan, dan itu hanyalah awal dari perang melawan Eclipse.