Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Ruang Kerja dan Lembar Rahasia
Malam di Makati merangkak semakin larut, namun lampu di ruang kerja lantai dua masih berpendar temaram. Ruangan itu bukan sekadar tempat Matthias memeriksa laporan saham; itu adalah suaka pribadinya yang tersembunyi. Sejauh mata memandang, rak buku jati menjulang hingga ke langit-langit, menyimpan ribuan literatur layaknya perpustakaan pribadi yang agung.
Di sudut dekat jendela besar yang menghadap kelap-kelip kota, sebuah drum set lengkap berdiri dengan presisi, bersanding dengan grand piano hitam yang mengkilap. Di dindingnya, berjejer gitar akustik dan elektrik dari berbagai merek ternama, tersusun rapi seolah menunggu jemari sang pemilik untuk memetiknya kembali.
Mansion ini sebenarnya adalah monumen rasa bersalah. Sang Ayah memberikannya sebagai hadiah ulang tahun sekaligus permintaan maaf setelah dengan kasar menghancurkan gitar kesayangan Matthias belasan tahun lalu. Tuan Smith Senior takut jika putra satu-satunya itu terlalu terlena dengan melodi, ia akan kehilangan kendali atas kerajaan bisnis yang harus ia pimpin. Tekanan untuk kuliah di Oxford pun hanyalah cara halus untuk menjauhkan Matthias dari jiwanya yang sebenarnya: musik.
Hanya kakak perempuannya di New York yang pernah mendengar suara merdu Matthias. Selebihnya, pria itu memilih membisu, mengubur suaranya di balik setelan jas mahal.
Matthias duduk di kursi kulitnya, jemarinya perlahan membuka sebuah map cokelat berisi dokumen data diri dan sertifikat akta nikahnya. Matanya tertuju pada lembar profil Sheena Katrina.
Ia membaca baris demi baris. Mahasiswi kedokteran di University of Makati. Ada catatan kecil di sana tentang ambisinya mengambil spesialis anak. Matthias tertegun; ia baru menyadari bahwa di balik mulut tajam istrinya, ada sisi lembut yang sangat mencintai anak kecil. Mungkin karena pengaruh keponakan-keponakannya yang sering ia ceritakan dengan bangga.
Lalu, mata Matthias tertahan pada kolom riwayat kesehatan dan fakta unik. Di sana tertulis: Pernah terjatuh dari sepeda saat kecil hingga salah satu gigi depannya patah.
Matthias terdiam sejenak, lalu tawa kecil yang tulus lolos dari bibirnya. Bayangan Sheena kecil yang ceroboh dengan gigi patah mendadak muncul di kepalanya. Sesuatu yang sangat manusiawi, sangat jauh dari kesan mahasiswi kedokteran yang kaku.
"Jadi kau kuliah di University of Makati," gumam Matthias hampir tak terdengar. Suaranya rendah, menggema lembut di ruangan yang sunyi itu.
Ada dorongan aneh yang tiba-tiba menyerang batinnya. Perasaan yang selama ini ia sangkal dengan ego setinggi langit. Ia menatap jam tangan; besok adalah hari pertama Sheena kembali ke kampus setelah libur panjang.
Entah bisikan dari mana, Matthias menutup map itu dengan mantap. Ia menyandarkan punggungnya, menatap barisan gitar di dindingnya, lalu bergumam pelan pada kegelapan.
"Besok... sepertinya aku punya waktu luang untuk menjemputnya."
Matthias tahu, tindakannya ini akan meruntuhkan benteng yang telah ia bangun. Namun untuk pertama kalinya, ia tidak peduli pada logika bisnisnya. Ia hanya ingin melihat wajah sayu itu lagi, di tempat di mana gadis itu merasa paling berkuasa: dunianya sendiri di kampus.
Sementara di sayap kanan Matthias sedang menyelami masa lalu Sheena melalui tumpukan kertas. Di sayap kiri, Sheena sedang berjuang melawan isi kepalanya sendiri. Lampu meja belajarnya adalah satu-satunya sumber cahaya yang tersisa. Di depannya, buku tebal Gray's Anatomy terbuka lebar, namun rangkaian saraf dan pembuluh darah di atas kertas itu seolah menari-nari mengejeknya.
"Sial, kenapa lengkung aorta ini sulit sekali diingat di luar kepala?" Gerutu Sheena pelan.
Ia menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi ringan. Meski di kampus ia dijuluki mahasiswi terpintar yang selalu punya jawaban di ujung lidah, kenyataannya Sheena harus bekerja sepuluh kali lebih keras untuk mempertahankan predikat itu. Pikirannya sering kali terasa seperti benang kusut yang ingin ia teriakkan keras-keras ke tengah kegelapan malam.
Namun, bukan hanya beban pelajaran yang membuatnya terjaga. Sheena memiliki sisi lain yang jarang diketahui orang—sebuah gangguan yang sering disebut sebagai Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Baginya, dunia harus berjalan dalam garis lurus yang simetris.
Pandangannya teralihkan dari buku menuju jajaran pulpen di atas mejanya. Ia berhenti bernapas sejenak. Salah satu pulpen gel berwarna biru sedikit miring, tidak sejajar dengan pulpen hitam di sampingnya.
Rasa tidak nyaman langsung menjalar di tengkuknya. Sheena mencoba mengabaikannya dan kembali membaca, namun otaknya terus mengirimkan sinyal peringatan seolah-olah dunia akan runtuh jika pulpen itu tidak lurus.
Akhirnya, dengan helaan napas panjang, ia meletakkan bukunya. Ia mengulurkan tangan, menggeser pulpen itu satu milimeter hingga benar-benar sejajar. Ia memperhatikan urutan warnanya lagi: Hitam, Biru, Merah, Hijau. Harus sesuai gradasi gelap ke terang. Ia menatapnya selama lima detik, memastikan semuanya presisi, sebelum akhirnya merasa paru-parunya bisa menghirup oksigen dengan lega kembali.
"Kau gila, Sheena. Benar-benar gila," bisiknya pada diri sendiri.
Ritual itu melelahkan. Selain harus berjuang dengan panic attack yang sewaktu-waktu bisa muncul di ruang gelap, ia juga harus melayani dorongan untuk merapikan segala sesuatu yang tidak pada tempatnya. Baginya, kerapian adalah satu-satunya cara dia merasa memegang kendali atas hidupnya yang kacau sejak pindah ke Makati.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Denyut di pelipisnya semakin menjadi-jadi. Daripada terus-menerus membetulkan letak buku yang sudutnya tidak siku-siku dengan tepi meja, Sheena memutuskan untuk menyerah. Ia menutup jurnalnya dengan bunyi debut pelan, mematikan lampu, dan merangkak ke bawah selimut.
Di tengah kesunyian kamar yang dingin, ia memejamkan mata. Bayangan wajah Matthias saat menghapus noda di hidungnya sore itu mendadak melintas. Sheena segera menggelengkan kepala di atas bantal, mencoba mengusir bayangan itu.
"Tidur, Sheena. Besok ujian praktikum. Jangan pikirkan pria kaku itu," gumamnya hingga akhirnya kesadaran itu hilang ditelan kantuk yang berat.
Di balik dinding yang memisahkan mereka, kedua manusia ini terjaga oleh alasan yang berbeda, namun diikat oleh satu hal yang sama: rasa kesepian yang coba mereka sembunyikan di balik kesempurnaan masing-masing.