NovelToon NovelToon
Academy Of Fallen Marks

Academy Of Fallen Marks

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Akademi Sihir
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedamaian di Hutan Noxara

Master Alaric masih berdiri di ambang pintu, matanya yang bijak menatap lekat pada simbol di bahu Lucien. Suasana kamar itu mendadak mencekam, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur nasib sang pemuda Vlad.

"Kejujuranmu sedang dalam proses pembuktian, Lucien," ucap Alaric dengan nada rendah yang berwibawa. "Sihir pada simbol daun ini tidak bereaksi secara instan terhadap kebenaran yang setengah hati. Kita akan menunggu 20 menit. Jika setelah waktu itu berlalu daunnya tetap berwarna hijau, maka kau dinyatakan jujur di hadapan dewan. Namun, jika ia berubah menjadi oranye, kau tahu ke mana langkahmu selanjutnya akan berakhir."

Dua puluh menit itu terasa seperti selamanya bagi Lucien. Ia duduk mematung di tepi ranjang, mengatur napasnya agar tetap stabil meskipun jantungnya bergemuruh. Ia telah mencampurkan kebenaran tentang serangannya dengan kebohongan tentang sumber kekuatannya. Di menit ke-15, simbol itu sempat berkedip redup, membuat keringat dingin menetes di pelipis Lucien. Namun, tepat pada menit ke-20, cahaya hijau itu kembali bersinar tenang dan stabil.

Alaric mengembuskan napas panjang, tampak sedikit lega. "Sangat berisiko, Lucien. Keinginanmu untuk menguji batas kekuatan dewan hampir mencelakaimu. Karena hari ini adalah hari libur, kau bebas meninggalkan asrama. Pergilah, cari udara segar dan tenangkan pikiranmu. Tapi ingat, kembalilah sebelum matahari terbenam atau segel itu akan menjemputmu kembali."

Tanpa membuang waktu, Lucien segera meninggalkan lingkungan akademi Crimson Crest yang terasa menyesakkan. Ia tidak menuju ke arah bangunan Arcanova untuk mencari Vivienne atau Daefiel. Sebaliknya, langkah kakinya membawanya menuju Hutan Noxara.

Berbeda jauh dengan Hutan Abyss yang penuh teror dan kegelapan, Hutan Noxara adalah perwujudan dari kedamaian alam yang murni. Hutan ini adalah jalur alami yang menghubungkan kedua akademi, sebuah wilayah yang dilindungi dengan sangat ketat oleh hukum sihir kuno. Di sini, dilarang keras melakukan latihan sihir apalagi pertarungan, karena Noxara adalah hutan "sekali hidup"—jika ekosistemnya rusak sedikit saja, seluruh hutan akan mati dan tak akan pernah bisa tumbuh lagi.

Lucien berjalan menembus pepohonan rimbun yang daunnya berwarna keemasan. Suara kicauan burung terdengar merdu, dan kelinci-kelinci hutan melompat tenang di antara semak tanpa rasa takut. Di sini, predator dan mangsa seolah memiliki perjanjian damai yang tak tertulis.

Lucien menemukan sebuah padang rumput kecil yang tertutup bunga-bunga liar berwarna biru. Ia merebahkan tubuhnya di sana, membiarkan punggungnya menyentuh tanah yang hangat oleh sinar matahari. Ia memejamkan mata, menghirup aroma tanah dan embun yang menenangkan. Untuk pertama kalinya sejak ia mendapatkan kutukan itu, Lucien merasa bebannya sedikit terangkat. Di Hutan Noxara yang damai ini, ia tidak perlu menjadi "Pewaris Vlad" yang sempurna, tidak perlu menjadi "Pembawa Kutukan" yang waspada. Ia hanya ingin menjadi bagian dari alam yang diam.

Ketenangan di padang rumput itu tidak bertahan lama. Dari balik rimbunnya pohon-pohon kuno Noxara, terdengar suara langkah kaki yang mendekat, diikuti oleh suara yang sangat familiar bagi telinga Lucien.

"Sudah kuduga kau akan ada di sini, di tempat paling membosankan di jalur perbatasan," suara cempreng Daefiel memecah keheningan.

Lucien tidak membuka matanya, namun ia bisa merasakan kehadiran Daefiel yang enerjik dan Vivienne yang tenang di sampingnya. Keduanya segera duduk di rumput, membentuk lingkaran kecil di bawah naungan pohon besar yang dahan-dahannya melengkung ramah.

"Kau membuat keributan besar semalam, Lucien," Vivienne memulai dengan nada serius, matanya menyelidiki wajah Lucien yang tampak lelah. "Dengungan itu... itu sampai ke telinga kami di Arcanova. Rasanya sangat mirip dengan frekuensi di Hutan Abyss."

Lucien menghela napas panjang, akhirnya membuka mata dan menatap langit biru Noxara. Di tempat yang suci dan damai ini, di mana kebohongan terasa seperti noda pada alam, Lucien memutuskan untuk menurunkan pertahanannya.

"Itu memang aku," aku Lucien pelan. "Aku mencoba menggunakan kekuatan kutukan iblis untuk mendobrak segel daun hijau di jendela kamarku. Aku hanya... penasaran apakah kekuatan itu bisa melampaui sihir dewan."

Daefiel terbelalak, hampir saja ia berteriak jika tidak segera diingatkan oleh tatapan tajam Vivienne. "Kau gila?! Menggunakan petir hitam itu di tengah asrama? Bagaimana bisa kau tidak langsung diseret ke penjara bawah tanah?"

Lucien kemudian menceritakan tentang kunjungan Master Alaric pagi tadi. Ia menjelaskan tentang mekanisme Simbol Oranye yang mengerikan—tanda pengkhianatan dan kebohongan—yang akan muncul jika ia tidak jujur di hadapan dewan.

"Aku menceritakan campuran antara kejujuran dan kebohongan," lanjut Lucien dengan nada getir. "Aku mengaku menyerang dinding itu, tapi aku berbohong tentang jenis energinya. Aku menyebutnya teknik keluarga Vlad. Anehnya... daun itu tetap berwarna hijau. Sihir dewan tidak mendeteksinya sebagai kebohongan total."

Vivienne mengerutkan kening, tampak berpikir keras. "Mungkin karena di dalam kepalamu, kau benar-benar merasa itu adalah 'kekuatanmu' sekarang, sehingga sihir kejujuran menganggapnya sebagai kebenaran personal. Tapi tetap saja, kau bermain dengan api, Lucien."

"Atau mungkin sihir dewan memang tidak bisa mendeteksi apa pun yang berkaitan dengan iblis," tambah Daefiel dengan bisikan rendah. "Jika sihir mereka tidak bisa membaca energi kutukan kita, maka kita punya celah besar untuk bergerak."

Di tengah kedamaian Hutan Noxara yang kontras dengan kegelapan yang mereka diskusikan, ketiga remaja itu menyadari satu hal: rahasia mereka semakin dalam, dan risiko yang mereka ambil semakin gila. Namun, di bawah langit Noxara yang bersih, aliansi mereka terasa lebih kuat daripada sebelumnya.

1
gempi
h
Sean Sensei
/Shame/ Vivienne baru saja kena 'mental' dua kali: pertama karena tanda misterius di tulang selangkangannya, kedua karena disindir soal nilai ujian sama Daefiel. Suka banget sama dinamika karakternya, Daefiel kelihatan tipe cowok yang menyebalkan tapi bikin nagih. Semangat nulisnya!
REY ASMODEUS
aku suka 💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!