Seorang pemuda yang sejak lahir telah ditakdirkan menderita. Bakatnya dicuri, keluarganya dihancurkan, ia dijual sebagai budak. Namun dari abu kehancuran itu, ia bangkit sebagai api yang membakar segalanya.
Xu Hao bukan pahlawan biasa. Ia adalah pemberontak sejati, seseorang yang menolak takdir, menentang kehendak Langit, dan menempuh jalannya sendiri: Dao Pemberontakan. Dengan kekuatan ini, ia mampu melampaui batas-batas kultivasi konvensional, menghancurkan hukum alam, dan bahkan melukai makhluk yang dianggap dewa.
Namun di balik keganasannya, tersimpan luka yang tak pernah sembuh. Cintanya pada Lianxue, gadis yang setia menanti ribuan tahun, menjadi satu-satunya cahaya dalam kegelapan. Dan saat cahaya itu padam, Xu Hao kehilangan segalanya. Enam ribu tahun ia terpuruk dalam kegilaan, hanya mampu menyebut satu nama: Xue'er.
"Ayah ibuku dibunuh. Cintaku mati di pelukanku. Takdir telah mempermainkanku! Kini giliranku mempermainkan takdir."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat Mahkluk Kesengsaraan
Xu Hao menghela nafas lega. Tapi ia tidak bisa bersantai. Tekanan di sini masih sangat besar, dan ia masih harus berjalan.
Ia terus melangkah. Susah payah. Kaki kanan diangkat, melangkah maju, diikuti kaki kiri. Setiap langkah terasa seperti mengangkat gunung. Darah terus mengalir dari sudut bibirnya. Wajahnya pucat pasi. Matanya mulai berkunang-kunang.
Tapi Xu Hao terus memaksakan. Ia tidak boleh berhenti. Tidak di sini.
Langkah demi langkah. Satu meter, dua meter, sepuluh meter. Napasnya semakin berat. Penglihatannya semakin kabur.
Dan saat itulah, di kejauhan, Xu Hao melihat sesuatu.
Empat bayangan besar muncul dari balik kabut. Mereka berjalan pelan, dengan langkah berat yang membuat tanah bergetar. Saat kabut sedikit terurai, Xu Hao bisa melihat wujud mereka.
Beruang Hitam.
Bukan beruang biasa. Mereka terbuat dari energi kematian murni. Tubuh mereka besar, mencapai puluhan meter tingginya. Bulu mereka hitam pekat, memancarkan aura kematian yang mencekik. Mata mereka merah menyala, penuh dengan kebiadaban.
Dan yang paling mengerikan, aura mereka mungkin setara Raja Dewa.
Xu Hao berhenti. Matanya menyipit menatap keempat makhluk itu. Pikirannya bekerja cepat, menghitung kemungkinan.
Jika hanya satu, ia cukup yakin bisa menang. Meskipun dalam keadaan buruk seperti ini, meskipun kultivasinya turun, ia yakin bisa mengalahkan satu Raja Dewa. Tapi konsekuensinya mungkin berat. Kultivasinya bisa hancur. Tubuhnya bisa lumpuh.
Tapi empat? Bahkan lima Dewa Langit sekalipun akan mati seratus persen. Apalagi ia yang sekarang hanya Dewa Bumi bintang enam.
Xu Hao mengertakkan gigi. Ini penjelasan mengapa informasi mengatakan banyak yang mati. Jika yang dihadapi adalah makhluk seperti ini, di tempat dengan tekanan sebesar ini, maka kematian adalah kepastian. Bukan kemungkinan.
Keempat beruang itu mulai bergerak. Mereka mengepung Xu Hao dari empat arah. Salah satu dari mereka, yang paling besar, membuka mulut. Suaranya berat, dalam, menggema.
"Dewa Bumi rendahan harus mati di sini. Dagingmu akan menjadi santapan kami malam ini."
Xu Hao tetap tenang. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut. Matanya mengamati setiap gerakan, setiap celah, setiap kemungkinan.
Saat keempatnya mulai menyerang, Xu Hao bergerak.
Wush!
Tubuhnya melesat dengan kecepatan luar biasa. Dao Pemberontakan dikerahkan sepenuhnya, membungkus tubuhnya dengan lapisan ungu pekat. Ia melesat melewati celah sempit di antara dua beruang, menghindari cakar besar yang hampir merobek tubuhnya.
Beruang-beruang itu terkejut dengan kecepatan Xu Hao. Tapi mereka tidak menyerah. Mereka berbalik dan mengejar.
Cakar-cakar besar menghantam dari segala arah. Xu Hao berkelit, melompat, memutar, menghindari setiap serangan dengan gesit. Tubuhnya yang kecil menjadi keuntungan di antara tubuh-tubuh raksasa itu.
Tapi tekanan di sini sangat besar. Setiap gerakan menguras energi. Setiap detik terasa seperti berjam-jam. Napas Xu Hao semakin berat. Matanya semakin kabur.
Dua jam penuh kejar-kejaran.
Xu Hao terus berlari, menghindar, kadang balas menyerang sekadar untuk mengusir mereka. Darah terus mengalir dari bibirnya. Jubah hitamnya robek di beberapa tempat. Luka-luka kecil mulai bermunculan di tubuhnya.
Hingga akhirnya, di kejauhan, ia melihatnya.
Gerbang.
Sebuah gerbang besar berwarna putih bersinar di tengah kegelapan. Jaraknya sekitar satu kilometer dari tempatnya. Gerbang itu adalah pintu menuju Alam Dua. Begitu melewatinya, ia akan selamat.
Xu Hao berhenti. Ia menoleh ke belakang.
Keempat beruang itu juga berhenti. Mereka tidak mengejar lebih jauh. Mungkin ada batasan wilayah, atau mungkin mereka tahu tidak bisa melewati gerbang itu.
Xu Hao menghela nafas lega. Tapi ia tidak segera pergi.
Ia berbalik sepenuhnya, menghadap keempat beruang itu. Matanya dingin menatap mereka.
Beruang paling besar itu menyeringai. "Jika berani keluar, dasar pengecut!"
Xu Hao mengangguk pelan. "Baiklah."
Lalu ia menghilang.
Detik berikutnya, ia muncul tepat di depan kepala beruang paling besar itu. Tangannya terangkat, di ujung tinjunya, energi Dao Pemberontakan menggelegar. Cahaya ungu menyilaukan memancar, menerangi seluruh area di sekitarnya. Di belakang Xu Hao, bayangan pohon willow raksasa muncul samar, dengan ranting-ranting yang menjulur seperti tangan-tangan dewa kematian.
"PUKULAN SUTRA PENGHANCUR!"
Suara Xu Hao menggelegar, penuh kemarahan yang selama ini ia pendam.
BOOOMM!!!
Ledakan besar terjadi. Tinju Xu Hao menghantam tepat di kepala beruang itu. Energi ungu meledak, menghancurkan segala sesuatu di sekitarnya. Tanah di bawah mereka retak, membentuk kawah besar. Kabut hitam tersapu bersih oleh gelombang kejut.
Beruang itu tertanam di dalam kawah. Kepalanya hancur sebelah. Ia tidak mati, tapi lukanya parah. Sangat parah. Tubuhnya bergetar, matanya redup.
Tiga beruang lainnya langsung menyerang Xu Hao dari belakang. Cakar-cakar besar menghantam. Xu Hao tidak menghindar. Tubuhnya langsung hancur berkeping-keping.
Atau setidaknya itu yang mereka kira.
Kepingan tubuh Xu Hao menghilang menjadi partikel ungu. Itu hanya bayangan.
Xu Hao yang asli sudah kembali ke depan gerbang, satu kilometer dari mereka. Tinjunya masih terangkat, tapi kini diarahkan ke bawah. Ia menghembuskan nafas panjang.
"Serangan itu untuk menunjukkan," katanya dengan suara dingin, "jika aku mampu membunuh kalian. Hanya saja kalian sedang berempat, itu menyulitkan ku. Jika aku di bintang sepuluh, aku pasti bisa membunuh salah satu di antara kalian."
Beruang-beruang itu hanya bisa menatap dengan mulut terbuka. Mereka tidak menyangka Dewa Bumi rendahan bisa melakukan serangan sekuat itu. Bahkan pemimpin mereka yang setara Raja Dewa bisa terluka parah.
Xu Hao berbalik. Ia melambaikan tangannya ke belakang.
"Sampai jumpa!"
Ia berjalan menuju gerbang. Tangannya mendorong pintu gerbang itu. Cahaya putih menyilaukan menyambutnya.
Saat ia melewati ambang pintu, gerbang itu tertutup di belakangnya dengan bunyi berat.
dan Tahta tertinggi untuk Cinta adalah Cinta kpd Tuhan
"...sepertinya pertarungan kita setahun yang lalu tidak memberikan efek jera padamu"