NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:439
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Luka di Balik Angka

​Senin pagi di SMP Super Internasional biasanya menjadi panggung bagi Bima untuk berjalan bak pangeran yang baru saja memenangkan peperangan. Namun, hari ini, koridor sekolah yang berlapis marmer itu terasa lebih panjang dari biasanya. Bima melangkah dengan wajah kaku, matanya terpaku lurus ke depan, berusaha mengabaikan tatapan mata teman-temannya yang biasanya penuh kekaguman, kini berganti menjadi bisik-bisik yang tajam.

​Kabar tentang kekalahan Bima di Olimpiade Sains Nasional telah menyebar secepat kilat. Di sekolah elit ini, di mana setiap siswa dituntut untuk menjadi sempurna, dan menjadi nomor dua adalah skandal.

​"Hanya selisih 0,5 poin, katanya," bisik seorang siswi di dekat loker.

​"Tetap saja kalah, kan? Padahal dia sudah ikut kursus privat di Singapura musim panas kemarin," sahut temannya dengan nada meremehkan.

​Bima mengepalkan tangannya di dalam saku celana seragamnya yang disetrika rapi. Ia masuk ke dalam kelas unggulan dan mendapati meja belajarnya sudah penuh dengan tumpukan buku referensi baru yang dikirimkan oleh asisten ayahnya pagi tadi. Di atas tumpukan buku itu, terselip sebuah memo singkat dengan logo perusahaan ayahnya. “Jangan biarkan kesalahan memalukan ini terulang. Nilai harianmu akan dipantau lebih ketat.”

​Tidak ada kata semangat. Tidak ada pertanyaan apakah Bima baik-baik saja. Yang ada hanyalah tuntutan yang semakin mencekik.

​Bima duduk dan membuka buku fisikanya. Ia mulai mengerjakan soal-soal latihan dengan kecepatan yang mengerikan, seolah-olah ia sedang menyiksa dirinya sendiri dengan angka. Setiap kali ia melihat angka desimal, bayangan Senara yang mengangkat piala emas itu muncul kembali.

​"Kamu pikir kamu sudah menang, Senara?" gumam Bima sangat pelan. "Kamu hanya memenangkan satu pertempuran kecil karena keberuntungan nasibmu yang malang."

​Di belahan kota yang lain, SMP Negeri 12 menyambut Senara dengan keriuhan yang berbeda. Di sekolah yang dindingnya sudah mulai mengelupas dan atap laboratoriumnya yang bocor itu, Senara dianggap sebagai pahlawan. Sebuah spanduk darurat dari kain putih bertuliskan “Selamat kepada Senara Zafira Atmaja – Juara 1 Nasional” terpasang di gerbang sekolah.

​Namun, bagi Senara, semua perhatian itu terasa seperti beban tambahan di pundaknya. Saat ia berjalan masuk ke kelas, teman-temannya segera menyerbunya.

​"Nara! Makan-makan dong! Hadiah lombanya kan besar!" seru seorang anak laki-laki dari bangku belakang.

​"Iya, Nara! Traktir kita bakso di depan ya, waktu istirahat nanti!" timpal yang lain.

​Senara hanya bisa tersenyum kaku, senyuman yang bahkan tidak sampai ke mata. Ia memeluk tas kainnya lebih erat, mereka tidak tahu bahwa uang hadiah itu sudah habis sebelum ia sempat menyentuhnya. Sebagian besar ia berikan pada ibunya untuk membayar tunggakan kontrakan selama tiga bulan, dan sisanya digunakan untuk membeli obat asma ibunya yang sudah habis sejak minggu lalu.

​Di saku roknya, hanya tersisa uang dua ribu rupiah, ongkos bus untuk pulang nanti sore. Tidak ada uang untuk bakso, tidak ada uang untuk merayakan apa pun.

​"Maaf, teman-teman. Uangnya sudah aku tabung untuk biaya SMA nanti," bohong Senara dengan suara rendah.

​"Halah, sok rajin banget sih. Bilang saja pelit," cibir salah satu siswi populer di kelas itu, membuat suasana kelas mendadak dingin.

​Senara menunduk, membuka buku catatannya yang penuh dengan coretan rumus. Ia sudah terbiasa dianggap aneh, dianggap sombong, atau dianggap si kutu buku pelit. Ia tidak peduli, ia tidak punya kemewahan untuk peduli pada pendapat orang lain. Fokusnya adalah mempertahankan peringkat satu di sekolah ini agar beasiswanya tetap cair.

​Dua minggu berlalu, dan takdir kembali mempertemukan mereka dalam ajang lomba debat logika matematika tingkat Provinsi. Acara ini diadakan di sebuah aula perpustakaan daerah yang pengap dan penuh debu.

​Bima datang dengan seragam sekolahnya yang mewah, didampingi oleh dua orang guru pendamping yang tampak sangat segan padanya. Sementara Senara datang sendiri, turun dari angkutan umum dengan napas yang sedikit terengah karena ia harus berlari agar tidak terlambat.

​Saat mereka berpapasan di ruang tunggu, Bima sedang duduk di kursi sofa empuk sambil membaca jurnal ilmiah bahasa Inggris. Ia melirik Senara dari atas ke bawah. Senara mengenakan sepatu kets yang bagian depannya mulai jebol, yang berusaha ia tutupi dengan menginjakkan kaki kirinya ke belakang kaki kanan.

​"Masih memakai sepatu yang sama, Senara?" tanya Bima dingin tanpa mengalihkan pandangan dari jurnalnya.

​Senara duduk di kursi kayu keras di seberangnya. "Sepatuku tidak mempengaruhi cara otakku bekerja, Bima. Berbeda denganmu, sepertinya kamu butuh semua kemewahan ini hanya untuk merasa percaya diri."

​Bima menutup jurnalnya dengan suara dentuman yang keras. Ia menatap Senara dengan mata yang berkilat marah. "Kepercayaan diriku berasal dari fakta bahwa aku memiliki kapasitas untuk berada di sini. Sedangkan kamu? Kamu berada di sini karena kamu putus asa, dan orang yang putus asa biasanya akan melakukan kesalahan fatal saat ditekan."

​"Lalu, kenapa justru kamu yang terlihat tegang?" balas Senara tenang. "Apa ayahmu mengancam akan memotong uang sakumu kalau kamu kalah lagi dariku?"

​Rahang Bima mengeras. Senara selalu tahu di mana harus memukul agar terasa paling sakit. Sebelum Bima sempat membalas, panitia memanggil mereka untuk masuk ke ruang debat.

​Mosi debat kali ini adalah tentang "Penerapan Teorema Game Theory dalam Distribusi Kekayaan Nasional". Sebuah topik yang sangat berat untuk anak seusia mereka.

​Bima mengambil posisi. Ia berbicara dengan sangat fasih, suaranya mantap dan penuh wibawa. Ia memaparkan angka-angka makro, kebijakan fiskal, dan efisiensi pasar dengan sangat brilian. Ia tampak seperti seorang menteri keuangan muda yang sedang memberikan pidato kenegaraan. Guru-guru pendampingnya mengangguk puas, Bima merasa di atas angin.

​Namun, saat giliran Senara tiba, suasana ruangan berubah. Senara tidak berbicara tentang angka-angka abstrak di atas kertas.

​"Argumen Bima sangat indah dalam teori, namun buta dalam praktik," buka Senara, ia berdiri dengan tangan yang tidak lagi gemetar. "Bima bicara tentang efisiensi pasar, tapi ia mengabaikan variabel kemiskinan sistemik. Matematika bukan hanya soal hasil akhir yang besar, tapi soal distribusi yang adil. Jika variabel kemanusiaan diabaikan dalam sebuah persamaan, maka hasil akhirnya adalah ketidakseimbangan yang akan menghancurkan sistem itu sendiri."

​Senara membedah setiap argumen Bima dengan logika yang sangat tajam, namun dibungkus dengan empati yang mendalam. Ia menggunakan contoh-contoh nyata dari pasar tradisional, dari kehidupan buruh, hal-hal yang tidak pernah dilihat Bima dari balik jendela mobil mewahnya.

​Bima mencoba melakukan interupsi. "Variabel emosi tidak valid dalam logika matematika, Senara! Kamu hanya menggunakan retorika untuk menutupi kurangnya data teknismu!"

​"Logika tanpa konteks adalah kesombongan, Bima!" balas Senara dengan suara yang meninggi.

​Perdebatan itu berlangsung sengit selama satu jam. Keduanya saling serang, saling menjatuhkan, dan tidak ada yang mau mengalah. Juri tampak kebingungan sekaligus kagum, mereka belum pernah melihat dua anak SMP memiliki pemikiran sekompleks ini.

​Saat hasil akhirnya diumumkan, Bima dinyatakan sebagai pemenang dengan selisih skor yang sangat tipis. Juri menilai teknik penyampaian dan kelengkapan data Bima lebih unggul secara akademis.

​Bima menerima sertifikat juaranya. Namun, saat ia melihat ke arah Senara, ia tidak melihat rahang yang mengeras atau air mata yang menetes. Senara hanya mengangguk pelan, membereskan alat tulisnya, dan bersiap pergi.

​"Kamu menang kali ini," ucap Senara saat mereka berpapasan di pintu keluar. "Tapi kamu tahu sendiri, Bima. Kamu menang bukan karena logikamu lebih benar, tapi karena juri-juri itu berasal dari duniamu yang nyaman, mereka tidak berani menghadapi kenyataan yang aku paparkan."

​Bima terdiam. Ia menatap sertifikat di tangannya. Kemenangan ini seharusnya terasa manis, tapi kata-kata Senara membuatnya terasa hambar. Ia merasa seperti baru saja memenangkan pertandingan yang wasitnya memihak padanya.

​"Senara, tunggu," panggil Bima secara impulsif.

​Senara berhenti namun tidak berbalik.

​"Gunakan ini," Bima menyodorkan sebuah amplop cokelat kecil berisi uang tunai, uang saku tambahannya yang baru diberikan ayahnya pagi tadi. "Belilah sepatu baru, aku tidak mau rivalku terlihat seperti gelandangan di lomba berikutnya."

​Senara berbalik perlahan. Ia menatap amplop itu, lalu menatap mata Bima. Untuk pertama kalinya, Bima melihat rasa sakit yang murni di mata gadis itu, bukan kemarahan.

​"Simpan uangmu, Bima," kata Senara dengan suara yang sangat tenang namun bergetar. "Aku memang miskin, tapi aku tidak sedang menjual harga diriku padamu. Jika kamu ingin membantuku, kalahkan aku dengan jujur di lomba berikutnya, tanpa rasa kasihan sedikit pun."

​Senara pergi, meninggalkan Bima sendirian di koridor perpustakaan yang remang-remang. Bima meremas amplop cokelat itu, ia merasa sangat bodoh. Ia ingin menghina Senara, tapi malah berakhir merasa lebih rendah dari gadis itu.

​Malam itu, Bima pulang ke rumah dan mendapati ayahnya sedang mengadakan pesta kecil dengan rekan-rekannya. Bima mencoba menunjukkan sertifikat juaranya, namun ayahnya hanya melirik sekilas.

​"Hanya tingkat Provinsi? Beritahu Papa kalau kamu sudah menang tingkat internasional lagi," ucap Adi Wijaya sambil tertawa bersama temannya.

​Bima masuk ke kamarnya, melempar sertifikat itu ke lantai, dan mematikan lampu. Di kegelapan, ia membayangkan Senara yang mungkin sedang berjalan kaki pulang di bawah rintik hujan dengan sepatu jebolnya.

​Di tempat lain, Senara memang sedang berjalan kaki. Kakinya lecet dan perih, namun ia terus melangkah, menatap langit malam, mencari bintang yang paling terang.

​"0,5 poin di tingkat nasional, dan kalah tipis di tingkat provinsi," bisik Senara. "Tunggu saja, Bima. Di ujian akhir semester nanti, aku akan membuat selisihnya begitu jauh sampai kamu tidak bisa mengejarku lagi."

​Dua jiwa itu terus mengasah pikiran mereka dalam kesunyian. Mereka saling membenci, namun secara tidak sadar, mereka saling membutuhkan untuk tetap memiliki alasan untuk berjuang. Peringkat satu bukan lagi sekedar angka, melainkan harga diri yang dipertaruhkan di atas luka batin yang tak kunjung sembuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!