NovelToon NovelToon
Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."

Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..

Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.

Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Bayang-bayang di Kampus

Bab 3: Bayang-bayang di Kampus

Universitas Pelita Bangsa adalah miniatur dari dunia yang dibenci Kenzi: terbuka, penuh kebisingan, dan minim keamanan. Baginya, setiap mahasiswa yang berlalu-lalang dengan tawa lebar adalah variabel acak yang bisa menjadi ancaman.

Kenzi berjalan tepat tiga langkah di belakang Alana. Dia tidak lagi mengenakan setelan jas formal yang mencolok, melainkan kemeja taktis berwarna abu-abu gelap dengan celana kargo senada. Namun, aura yang dipancarkannya tetap sama—dingin, waspada, dan mematikan. Penyamaran kasualnya tidak mampu menyembunyikan cara berjalannya yang efisien, kaki yang selalu siap untuk melakukan manuver ofensif dalam sepersekian detik.

"Berhenti mengikutiku sampai ke lorong kelas, Kenzi! Ini memalukan!" desis Alana tanpa menoleh. Dia mempercepat langkahnya, berharap pria di belakangnya akan tertinggal oleh kerumunan mahasiswa yang baru saja keluar dari auditorium.

Kenzi tidak menjawab. Matanya terus bergerak secara mikro (micro-scanning).

Pukul 09:15. Lorong B-3. Kepadatan massa: Tinggi. Titik keluar darurat: 12 meter di sebelah kanan. Ancaman potensial: Pria dengan jaket hoodie biru di dekat pilar. Tangan kanannya berada di dalam saku terlalu lama—kemungkinan menggenggam objek logam.

"Nona, geser ke kiri," perintah Kenzi pelan namun tegas.

"Jangan mengatur hidupku!" balas Alana ketus.

Tanpa peringatan, Kenzi melangkah maju, meraih pundak Alana, dan menariknya dengan halus namun bertenaga ke sisi dinding. Alana nyaris memekik sebelum melihat seorang pria dengan hoodie biru yang tadi diamati Kenzi berpapasan dengan mereka dan terus berjalan dengan terburu-buru.

"Apa yang kau lakukan?!" Alana melepaskan cengkeraman Kenzi dengan gusar. "Kau baru saja membuat semua orang melihat kita!"

"Pria itu membawa pisau lipat. Insting atau tugas, dia sedang mencari target. Saya hanya memastikan target itu bukan Anda," jawab Kenzi datar. Dia kembali ke posisinya semula, menjaga jarak dua meter tanpa menunjukkan emosi sedikit pun.

Di dalam kelas seni, situasi tidak menjadi lebih baik bagi Alana. Kenzi tidak berdiri di luar pintu seperti yang dia harapkan. Sebaliknya, pria itu masuk dan duduk di kursi paling belakang, tepat di sudut yang memberinya pandangan penuh ke seluruh ruangan dan satu-satunya pintu masuk.

Bisik-bisik mulai menjalar di antara mahasiswa. Alana bisa mendengar teman-temannya bertanya-tanya siapa 'pria tampan namun menyeramkan' yang menjaganya.

"Alana, itu pacar barumu? Gaya bad boy-nya dapet banget, tapi kenapa dia melihat kita seolah ingin membunuh kita semua?" bisik Siska, teman sebangku Alana.

Alana memijat pelipisnya. "Dia bukan siapa-siapa. Hanya 'anjing penjaga' kiriman Ayah."

Mendengar itu, Kenzi tidak bergeming. Monolog internalnya justru sedang membedah sistem keamanan gedung universitas.

CCTV di kelas ini mati. Ventilasi udara cukup besar untuk dimasuki granat gas. Konstruksi dinding menggunakan bata ringan—tidak akan menahan peluru kaliber tinggi. Jika terjadi penyergapan, aku harus menggunakan meja dosen sebagai perlindungan balistik sementara.

Kenzi kemudian mengalihkan perhatiannya pada jendela besar yang menghadap ke taman kampus. Di sana, di bawah pohon beringin besar sekitar seratus meter dari gedung, dia melihatnya lagi.

Satu kilatan lensa.

Pengintai dari tadi pagi. Mereka mengikuti sampai ke sini.

Kenzi tidak langsung bertindak. Dia ingin melihat seberapa jauh mereka berani bergerak. Sebagai seorang pembunuh bayaran yang menyamar, dia tahu betul pola pikir seorang predator. Mereka sedang melakukan 'casing'—mempelajari rute, waktu tanggap, dan kelemahan pengawal.

Silakan amati, batin Kenzi sinis. Kalian sedang mengamati monster yang jauh lebih besar dari yang bisa kalian bayangkan.

Setelah kelas berakhir, Alana sengaja mencoba menyesatkan Kenzi dengan berlari menuju kantin yang sangat ramai. Dia berharap kerumunan massa akan membuat Kenzi kehilangan jejaknya. Namun, setiap kali Alana berbalik, wajah kaku Kenzi selalu ada di sana, muncul dari balik bahu mahasiswa lain seolah dia memiliki radar laser yang terkunci pada Alana.

"Kenapa kau tidak bisa menghilang saja?!" Alana berteriak saat mereka tiba di area parkir yang lebih sepi. Rasa malunya memuncak menjadi kemarahan murni. "Kau membuatku terlihat seperti anak kecil yang tidak bisa pergi ke toilet sendiri!"

"Penghinaan adalah harga yang kecil untuk nyawa Anda, Nona," jawab Kenzi.

"Nyawaku tidak dalam bahaya! Ini hanya paranoia Ayah!"

Kenzi tiba-tiba bergerak maju. Gerakannya begitu cepat sehingga Alana tidak sempat mundur. Kenzi menekan Alana ke pintu mobil limosin mereka, namun bukan dengan maksud kasar. Tubuh besarnya menutupi Alana sepenuhnya, menjadikannya perisai manusia.

"Diam," desis Kenzi. Suaranya kali ini tidak hanya dingin, tapi memiliki nada otoritas yang membuat nyali Alana menciut.

Mata Kenzi menatap tajam ke arah gedung perpustakaan di seberang parkiran. Di lantai tiga, di balik jendela kaca yang gelap, dia melihat laras senapan panjang menyembul sedikit.

Sniper amatir. Sudut elevasi 15 derajat. Jarak 150 meter. Dia ragu-ragu.

Kenzi tidak menarik senjatanya sendiri—itu akan membongkar penyamarannya terlalu cepat. Dia hanya menekan sebuah tombol di jam tangannya, mengirimkan sinyal jamming frekuensi pendek yang akan mengganggu perangkat optik elektronik jika sniper itu menggunakannya.

"Masuk ke mobil. Sekarang," perintah Kenzi. Dia membuka pintu mobil tanpa melepaskan perlindungannya pada tubuh Alana.

"Kenzi, kau menyakitiku..." Alana mulai ketakutan melihat intensitas di mata pengawalnya.

"Masuk!"

Begitu Alana berada di dalam, Kenzi membanting pintu dan segera masuk ke kursi depan. "Jalan! Keluar dari area parkir lewat jalur belakang, jangan lewat gerbang utama!" teriaknya pada sopir.

Sopir yang terkejut segera menginjak gas. Mobil meluncur cepat, ban berdecit di atas aspal. Alana menoleh ke belakang, melihat ke arah perpustakaan, namun tidak melihat apa-apa.

"Apa yang terjadi? Kau melihat sesuatu?" tanya Alana dengan suara bergetar.

Kenzi mengatur napasnya, kembali ke mode datar. "Hanya bayang-bayang, Nona. Tapi terkadang bayang-bayang bisa menarik pelatuk."

Kenzi membuka tabletnya, mengakses kamera lalu lintas di sekitar kampus. Dia melihat sebuah SUV hitam bergerak meninggalkan area perpustakaan dengan kecepatan tinggi begitu mereka keluar.

Faksi bisnis lawan sudah mulai tidak sabar, pikir Kenzi. Mereka bukan ingin menculik, mereka ingin eliminasi. Tuan Wijaya menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar persaingan properti sehingga mereka berani mengirim sniper ke area publik.

"Kenzi," panggil Alana pelan. "Tadi itu... apakah benar-benar ada seseorang yang ingin membunuhku?"

Kenzi melihat Alana melalui spion tengah. Untuk pertama kalinya, dia melihat keraguan dan ketakutan yang nyata di mata gadis keras kepala itu. Sejenak, ada secercah logika kemanusiaan yang muncul di benak Kenzi, namun segera ditepisnya.

"Dunia tidak seindah galeri seni Anda, Nona. Di luar sana, Anda bukan manusia, Anda adalah aset. Dan aset yang tidak bisa dimiliki, biasanya akan dihancurkan," ujar Kenzi dengan kejujuran yang brutal.

Alana terdiam, memeluk tasnya erat-erat. Keheningan menyelimuti kabin mobil. Kenzi kembali menatap ke luar jendela, memindai setiap kendaraan yang melewati mereka.

Dia tahu ini baru permulaan. Organisasinya sendiri sedang menunggu laporan darinya. Jika faksi lawan berhasil membunuh Alana lebih dulu, maka misi Kenzi gagal. Dan di organisasinya, kegagalan dihukum dengan eliminasi sang agen.

Aku harus menyusup ke ruang kerja Wijaya malam ini, batin Kenzi. Aku perlu tahu apa yang membuat musuh-musuhnya seputus asa ini. Jika aku harus menjagamu tetap hidup, Nona, setidaknya aku harus tahu rahasia berdarah apa yang sedang kuproteksi.

Saat mobil memasuki gerbang kediaman Wijaya, Kenzi melihat Alana masih gemetar.

"Nona," panggil Kenzi sebelum Alana turun. "Mulai besok, jangan gunakan parfum yang terlalu kuat. Itu memudahkan pelacakan aroma di ruang tertutup."

Alana hanya menatapnya dengan tatapan kosong, lalu keluar tanpa sepatah kata pun. Dia tidak lagi membalas dengan kata-kata kasar. Ketidaktahuan yang selama ini melindunginya telah retak, dan Kenzi adalah orang yang menghancurkannya.

Kenzi turun dari mobil, berdiri di bawah guyuran lampu taman yang mulai menyala. Dia tahu, bayang-bayang di kampus tadi hanyalah pembukaan dari badai yang akan segera datang.

1
Cut Founna
terimakasih😍
Dewa Naga 🐲🐉
awal yg menarik.....👍
Dewa Naga 🐲🐉
cerita yg menarik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!