NovelToon NovelToon
Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Tunangan Selingkuh, Dekati Abangnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Fondasi retak.

Matahari baru saja mengintip di ufuk timur saat Nana sudah duduk di meja kerjanya. Apartemennya yang sunyi hanya diisi oleh suara desis mesin kopi dan gesekan halus stylus pen di atas layar tablet grafisnya. Kata-kata Aska semalam masih menggema di kepalanya, namun alih-alih membuatnya layu, kata-kata itu justru menjadi bahan bakar. Nana tidak punya waktu untuk meratapi penolakan halus Aska. Ia punya naskah yang harus diperbaiki sebelum jam sembilan pagi.

Ia menatap sketsa karakter utamanya. Dahulu, ia menggambar karakter ini dengan penuh keraguan, namun kini, garis-garis yang ia buat jauh lebih tegas. "Satu tahun," bisiknya pada diri sendiri. Satu tahun bukan waktu yang lama untuk mengubah persepsi seorang pria seperti Aska yang memiliki standar setinggi langit. Ia harus bergerak lebih cepat, bekerja lebih cerdas, dan membuktikan bahwa ia bukan lagi sekadar gadis yang beruntung ditemukan di pinggir jalan.

Tepat pukul 08.45, Nana sudah sampai di kantor Stellar Komik. Suasana masih agak sepi, namun ia melihat Gani sudah sibuk dengan beberapa tumpukan dokumen produksi.

"Pagi, Na! Wah, segar sekali wajahmu hari ini. Padahal semalam kulihat kau keluar dengan wajah tegang setelah rapat dengan Pak Aska," sapa Gani dengan nada ceria seperti biasanya.

Nana tersenyum tipis, meletakkan tasnya. "Hanya sedikit kurang tidur, Gan. Ada banyak poin riset yang harus dimasukkan ke naskah revisi."

"Hebat kau, Na. Richard si investor itu tadi menelepon kantor. Dia bilang dia sangat terkesan dengan argumenmu. Jarang-jarang ada creator baru yang bisa membuat dia tunduk soal setting cerita. Katanya, kau punya 'insting predator' yang mirip dengan Pak Aska," Gani tertawa kecil tanpa menyadari betapa dalamnya arti kata-kata itu bagi Nana.

Nana hanya mengangguk sopan dan segera menuju ruangannya. Ia harus tetap fokus. Di dunianya yang baru, prestasi adalah satu-satunya bahasa yang dimengerti Aska.

Di kediaman besar keluarga Tedi, suasana pagi itu terasa jauh lebih suram dari biasanya. Tedi duduk di meja makan yang luas, menatap piring sarapannya dengan hambar. Sebagai seorang pria yang bekerja di bidang marketing dengan posisi menengah, ia tahu persis bahwa rumah mewah ini, asisten rumah tangga yang lalu-lalang, hingga mobil yang terparkir di garasi, semuanya adalah milik Aska. Tanpa aliran dana dari putra sulungnya, Tedi tahu posisinya sebagai kepala keluarga hanya tinggal gelar di atas kertas.

Tusi duduk di hadapannya, wajahnya tampak kuyu. "Pak, apa Bapak tidak bisa bicara pada Aska? Kasihan Tris. Dia menelepon Ibuk semalam, menangis karena apartemennya sempit dan panas. Dia tidak terbiasa hidup seperti itu."

Tedi menghela napas panjang, meletakkan garpunya. "Buk, Ibuk pikir Bapak punya suara di depan Aska soal ini? Ibuk tahu sendiri, semua fasilitas yang kita pakai ini berasal dari kantong Aska. Selama ini kita membiarkan Tris hidup seperti pangeran dari hasil kerja keras saudaranya, dan apa hasilnya? Dia mempermalukan nama keluarga kita dengan skandal Elli itu."

"Tapi dia adik kandungnya, Pak! Masa Aska setega itu?" Tusi bersikeras, karena perintah pencabutan fasilitas ialah dari Aska. Tusi mana kepikiran soal membuat Tris susah, karena Tris adalah anak kesayangan.

"Aska bukan tega, dia sedang mencabut subsidi yang selama ini kita salah gunakan," sahut Tedi dengan nada pahit. Ia teringat bagaimana Aska selalu menatapnya dengan sopan namun dingin, sebuah tatapan yang menegaskan bahwa posisi mereka sudah bertukar; Aska adalah pelindung finansial, dan Tedi adalah pihak yang dilindungi. "Gajiku di kantor marketing hanya cukup untuk makan kita berdua dan biaya listrik rumah ini. Jika Aska memutuskan untuk berhenti membiayai Tris, aku tidak punya daya untuk menggantikannya. Ibuk harus sadar itu."

Tusi terdiam. Realitas menghantamnya telak. Selama ini ia merasa bangga menjadi ibu dari pengacara hebat, namun ia lupa bahwa kebanggaan itu datang dengan harga: otoritas penuh di tangan Aska.

Di kantornya yang megah, Aska sedang berdiri di depan jendela kaca besar, menatap ke arah gedung Stellar Komik yang berada beberapa blok dari sana. Di tangannya, ia memegang laporan progres produksi yang baru saja dikirimkan oleh asistennya. Namun, pikirannya sedikit teralihkan oleh bayangan Nana di restoran semalam.

Keberanian Nana menyatakan perasaan, dan lebih dari itu, keberaniannya menawarkan "kontrak satu tahun" adalah sesuatu yang tidak disangka oleh Aska.

Sejujurnya, Aska sudah menyadari perubahan perasaan Nana sejak lama, namun ia sengaja mendiamkannya, berharap perasaan itu akan hilang seiring dengan kesibukan gadis itu.

Pintu kantornya diketuk. Sekretarisnya masuk membawa draf kontrak baru. "Pak Aska, ini draf akhir untuk Live Action. Nona Nana sudah mengirimkan revisi naskahnya. Dia bahkan menambahkan catatan kaki tentang dasar hukum pidana yang digunakan dalam adegan klimaks."

Aska mengambil dokumen itu. Ia membaca catatan-catatan kecil yang ditulis tangan oleh Nana di pinggir kertas. Tulisannya rapi, tegas, dan menunjukkan pemahaman yang mendalam. Nana tidak hanya menggambar; dia sedang belajar menjadi ahli dalam subjek yang dia tulis.

"Dia berkembang lebih cepat dari yang kubayangkan," gumam Aska hampir tak terdengar.

Sementara itu, Tris sedang berdiri di depan mesin fotokopi kantornya. Suara mesin yang monoton itu seolah mengejek nasibnya. Rekan kerjanya baru saja lewat sambil membicarakan rencana liburan akhir pekan ke Bali, sementara Tris harus menghitung sisa uang di rekeningnya hanya untuk memastikan ia bisa makan hingga akhir bulan.

Gajinya sebagai pegawai kantor biasa ternyata sangat menyedihkan jika tidak ditambah uang saku bulanan dari Aska. Ia melihat pantulan wajahnya di kaca mesin fotokopi. Berantakan. Kemejanya sedikit lecek karena ia harus mencucinya sendiri di binatu koin dekat apartemen sempitnya.

"Tris! Ini laporan dari manajer, tolong perbaiki data statistiknya sebelum makan siang!" teriak seorang senior di kantornya.

Tris tersentak. "Baik, Pak."

Dulu, ia bisa saja mengabaikan perintah itu atau menyuruh orang lain melakukannya dengan iming-iming traktiran mahal atau sekadar menyebut nama kakaknya. Tapi sekarang, ia tidak punya siapa-siapa. Ia melihat notifikasi di ponselnya, berita tentang peluncuran naskah perdana komik Nana yang kini menduduki peringkat satu di platform digital.

Rasa iri, menyesal, dan marah bercampur menjadi satu. Ia melihat Nana yang semakin bersinar, dan ia merasa seperti bayangan yang perlahan menghilang.

Malam harinya, Nana baru saja keluar dari kantor saat hujan deras mengguyur Jakarta. Ia berdiri di lobi gedung Stellar, menunggu taksi online-nya tiba. Tiba-tiba, sebuah mobil hitam yang sangat ia kenali berhenti tepat di depannya.

Kaca mobil turun perlahan. Aska duduk di balik kemudi, menatap lurus ke depan dengan profil wajah yang tajam diterpa cahaya lampu jalan.

"Masuk," perintahnya singkat.

Nana tertegun, payungnya masih tertutup. "Tapi Bang, aku sudah pesan taksi."

"Batalkan," potong Aska dingin. "Ada poin di naskahmu yang perlu didiskusikan dari sisi legalitas untuk syuting di lokasi pengadilan minggu depan. Kita bicarakan di jalan."

Nana tidak punya pilihan lain. Ia membatalkan pesanan taksinya dan masuk ke dalam mobil. Aroma parfum maskulin Aska yang berpadu dengan wangi jok kulit mewah langsung menyambutnya. Suasana di dalam mobil kembali hening, hanya ada suara rintik hujan yang menghantam atap dengan ritme cepat.

"Aku sudah membaca revisimu," ujar Aska setelah mobil melaju. "Penyampaian argumen hukum dalam dialog karakter utamamu sudah lebih baik. Kau melakukan riset dengan benar kali ini."

Nana menoleh, mencoba mencari sedikit binar di mata pria itu. "Terima kasih, Bang. Aku begadang untuk memastikan pasal-pasal itu tidak salah."

"Tapi," lanjut Aska, "ada satu adegan di mana karakter wanita tersebut terlihat terlalu bergantung pada bantuan emosional lawannya saat kalah di persidangan. Hapus itu."

Nana mengerutkan kening. "Kenapa? Itu manusiawi, Bang. Kadang seseorang yang kuat pun butuh sandaran saat dunia seolah runtuh di depannya."

Aska melirik Nana sekilas melalui spion tengah, tatapannya tajam dan menghujam. "Sandaran adalah kelemahan yang bisa dieksploitasi, Nana. Dalam dunia profesional, dan dalam dunia nyata, orang tidak akan peduli seberapa hancur jiwamu. Jika kau ingin karaktermu terlihat sejajar dengan lawan bicaranya, dia harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri, bahkan saat dia tidak punya alasan lagi untuk berdiri. Jika kau memberikan dia sandaran, kau baru saja menjadikannya karakter yang lemah."

Nana terdiam. Ia tahu Aska tidak hanya membicarakan karakter di dalam komiknya. Aska sedang menyindir kontrak satu tahun mereka. Aska sedang menegaskan bahwa meskipun Nana menyukainya, Aska tidak akan pernah menjadi "sandaran" baginya.

"Aku mengerti, Bang. Aku akan menghapusnya. Aku akan membuat dia berdiri sendiri, apa pun yang terjadi," jawab Nana dengan nada yang sama kuatnya. Ia tidak akan membiarkan Aska melihat celah sedikit pun di perisainya.

Mobil berhenti di depan apartemen Nana. Sebelum Nana keluar, ia memberanikan diri untuk bertanya, mencoba mencairkan suasana yang begitu kaku. "Bang, apakah tawaran tumpangan ini bagian dari 'perlakuan khusus' untuk mantan calon adik iparmu?"

Aska menatap setir mobilnya, lalu beralih menatap Nana. "Ini adalah efisiensi waktu, Nana. Membicarakan naskah di mobil lebih hemat waktu daripada menjadwalkan rapat tiga puluh menit besok pagi. Jangan mulai menyimpulkan hal yang tidak ada. Itu tanda bahwa kau belum cukup dewasa untuk profesional."

Nana tersenyum, kali ini senyumnya tidak getir. Ia sudah mulai terbiasa dengan "bahasa" Aska. "Baiklah. Terima kasih untuk efisiensi waktunya, Bang. Sampai jumpa besok di kantor."

Nana keluar dari mobil dan berjalan menuju lobi dengan punggung tegak di bawah rintik hujan yang masih tersisa. Di dalam mobil, Aska memperhatikan punggung Nana hingga gadis itu menghilang di balik pintu kaca. Ia meremas setir mobilnya sejenak, urat-urat di tangannya menonjol.

Bersambung....

1
jekey
lama" emosi sm aska 😡
Desi Santiani
lanjut thor seruu bgttt
jekey
akhirnyaa 😌😌
jekey
sinting tusi
jekey
thank you thor
Ayu
/Coffee/
Ayu
hahaa sukurin semoga kapok 🤭
Ayu
aku ga bisa kasih banyak ulasan tapi yang pasti bagus bangetttt
Ayu
kayak ginilah nyeseknya kalo baca novel yg baru up ,, mana bagus lagi ceritanya 😍
Ayu
/Coffee/ yuk
Ayu
kalo aku jadi kamu Na ... pasti aku bakalan cepet move on dari Tris🤭
Nilasartika Yusuf
😍
Ayu
hai Thor aku mampir ya
Rinnaya: Silahkan
total 1 replies
jekey
nunggu up thor
Rinnaya: Aman, up tiap hari.
total 1 replies
jekey
mampus eli
Nilasartika Yusuf
suka ceritanya😍
jekey
smngt update thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!