Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Selasa, 21 Mei Pukul 06.15 WIB
Depan Minimarket Jalan Terusan Buah Batu
Mereka janji kumpul jam enam.
Salsabilla dateng pertama jam 05.58, carrier oranye cerahnya udah nempel rapi di punggung, kamera mirrorless di leher, dan action cam kecil udah nempel di dada harness-nya. Matanya masih agak bengkak kayak orang baru bangun setengah jam lalu, tapi dia udah nyeduh kopi dari apartemen dan pegang tumbler gede pake dua tangan.
Rehan dateng kedua dijemput supir keluarga sampe titik kumpul, yang bikin Rehan turun dari Alphard hitam pake carrier di punggung dan muka berusaha keliatan biasa aja. Mobilnya langsung cabut setelah Rehan nutup pintu, dan Rehan nengok ke mereka pake ekspresi lega yang nggak bisa disembunyiin.
“Bokap hampir nyuruh supir ikut sampe Ciremai,” kata Rehan, tanpa ditanya.
“Kenapa nggak sekalian bawa sekretaris?” cibir Salsa.
“Hampir, Sal. Hampir.”
Runa dateng ketigatepat jam enam, nggak lewat satu menit. Dijemput papanya sampe titik kumpul. Sebelum turun, Zidan yang udah dateng liat dari jauh: ada momen kecil di balik kaca mobil—Runa yang biasanya nggak banyak ekspresi, dikecup keningnya sama papanya, tangannya digenggam sebentar sama mamanya yang ternyata ikut anter. Runa turun pake mata yang agak lebih cerah dari biasanya, dan nggak komentar apa-apa soal momen itu.
Yazid dateng keempat. Jalan kaki dari arah gang sebelah, carrier hitam tuanya yang udah keliatan sering dipake nggantung di punggungnya dengan natural bukan kaku kayak barang baru. Di tangannya ada trekking pole yang udah dilipat, dan di pinggangnya ada sabuk carrier tambahan yang nahan beban dengan efisien. Penampilannya satu-satunya di antara mereka lima yang keliatan beneran orang yang sering naik gunung.
Dia liat mereka berlima, angguk pelan. “Siap?”
“Belum foto dulu,” potong Salsa, udah atur posisi kamera di tangan.
“Sal”
“DUA DETIK. Ini buat thumbnail. Kalian baris di depan minimarket, cahayanya bagus dari arah timur sekarang.” Salsa udah kasih instruksi kayak art director yang deadline-nya dua menit lagi. “Yazid di pojok kiri, lo tall dark and mysterious cocok buat framing. Rehan sebelah Yazid. Runa di tengah. Zidan di”
“Gue di mana, Sutradara?” tanya Zidan.
“Di sebelah Runa. Dan TOLONG jangan melet.”
“Gue nggak pernah melet dalam foto serious.”
“Lo melet di EMPAT foto terakhir kita.”
“Itu artistic expression”
“ZIDAN.”
Foto itu diambil dalam tiga coba coba pertama Zidan emang melet, coba kedua Rehan kedip, coba ketiga akhirnya beres. Lima orang pake carrier di punggung, berdiri di depan minimarket yang masih setengah sepi, langit di belakang mereka berwarna jingga kemerahan karena matahari baru naik setengah.
Salsa ngintip layar kameranya. Diam sebentar.
Lalu, lebih pelan dari biasanya: “Bagus.”
Bukan bagus buat thumbnail. Hanya bagus. Dan semua orang tahu bedanya.
Selasa, 21 Mei Pukul 08.30 WIB
Dalam Perjalanan, Tol Cipali
Mereka naik travel minibus delapan kursi yang dipesen Rehan tiga hari lalu, pake sopir namanya Pak Asep yang dari awal udah keliatan biasa anter pendaki dan nggak banyak tanya.
Runa duduk di baris kedua, jendela kanan. Buku catatannya udah kebuka di lutut bukan buku tulis biasa, tapi notebook kecil isinya ringkasan jalur Linggarjati yang dia kumpulin dari berbagai sumber seminggu terakhir. Ketinggian per kilometer, titik-titik sumber air, jarak antar pos, cuaca rata-rata bulan Mei, potensi titik berbahaya.
“Km satu sampe dua itu masih relatif landai,” kata Runa, nggak ke siapa-siapa secara khusus, tapi semua orang denger. “Mulai km tiga medan mulai bervariasi. Km empat ada jalur licin setelah hujan Yazid udah catet ini. Km lima ada shelter, kita bisa istirahat di sana. Estimasi sampe Pengasingan sekitar”
“Ru.” Zidan, yang duduk di baris belakang pake posisi setengah tiduran, panggil. “Lo tau nggak, kita bisa nikmatin perjalanan dua jam ini dulu sebelum briefing?”
“Ini bukan briefing. Ini informasi.”
“Informasi jam delapan pagi itu namanya briefing.”
Runa balik halaman bukunya. “Kalau informasi ini nggak disampein sekarang, ada kemungkinan lo lewatin titik istirahat karena terlalu ngeyel buat ngaku capek.”
Zidan buka mulutnya. Nutup lagi. Lalu, ke arah Rehan yang duduk di sebelahnya: “Dia nggak salah sih.”
Rehan angguk pelan tanpa angkat mata dari HP. “Sama sekali nggak.”
Salsa udah nyalain kamera sejak masuk minibus. Rekam pemandangan tol yang masih sepi, rekam punggung kursi Yazid yang duduk di depan, rekam tangan Runa yang gerak nyatet. Lensa muter ke arah Zidan.
“Dan, kalimat pembuka buat video. Sekarang.”
“Hah?” Zidan langsung tegakkin posisi duduknya tergesa-gesa. “Gue belum siap”
“Justru itu yang bagus. Authentic. Bicara.”
Zidan mendehem sekali. Lalu, ke arah kamera pake ekspresi yang berubah jadi hangat dan agak canggung cara Zidan tampil di depan kamera yang selalu bikin penonton ngerasa lagi nonton temen sendiri:
“Hai, guys. Ini Zidan. Gue lagi di dalam travel, pergi ke Ciremai sama empat orang yang gue sayangi paling banyak di dunia ini. Mereka nggak sempurna” dia lirik ke arah Runa “sebagian dari mereka terlalu perfeksionis” ke arah Rehan “sebagian terlalu kaya buat naik angkot” ke arah Salsa “sebagian nggak bisa hidup tanpa kamera” dan terakhir, ke arah kursi depan di mana Yazid duduk ngebelaangin mereka, “dan satu orang nggak pernah ngomong lebih dari sepuluh kata dalam satu kalimat.”
Yazid, tanpa nengok: “Sebelas.”
Zidan nganga. “DIA NGUPING.”
Tawa meledak di dalam minibus. Bahkan Pak Asep di depan cekikikan pelan.
Salsa pertahanin kamera tetap stabil meski tangannya goyah karena ikut ketawa. Ini, batinnya. Ini yang harus masuk video.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪