NovelToon NovelToon
Sajadah Di Empat Benua

Sajadah Di Empat Benua

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO / Tamat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Adam Al-Fatih (40) adalah potret kesempurnaan: CEO miliarder yang gagah, karismatik, dan taat beribadah. Di Jakarta, ia memiliki Khadijah, istri saleha yang menjadi pilar kekuatannya sejak masa sulit. Namun, takdir membawa langkah Adam melintasi benua, dari romantisme Paris, kemegahan Istanbul, hingga hiruk-pikuk New York. Di setiap kota tersebut, Adam bertemu dengan wanita-wanita luar biasa yang tengah terhimpit badai kehidupan.
Demi sebuah wasiat rahasia sang kakek dan misi kemanusiaan yang mendalam, Adam akhirnya menikahi Isabelle, Aisha, dan Sarah. Publik mencibirnya sebagai lelaki yang mabuk poligami di puncak dunia. Namun, sebuah rahasia medis yang pedih tersimpan rapat di balik pintu kamarnya: Adam menderita impotensi akibat kecelakaan masa lalu.
Ketiga pernikahan di luar negeri itu hanyalah "sajadah perlindungan". Adam mengorbankan reputasi dan perasaannya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Manhattan

Di lantai teratas Sirius Tower, suasana terasa mencekam. Kekalahan di dermaga tempo hari tidak membuat Andromeda Sirius Jhon jera; justru, kegagalan itu membakar habis sisa-sisa rasionalitasnya. Ia kini merasa seperti singa yang terluka, siap menghancurkan apa saja demi membalas dendam pada Adam Al-Fatih. Dengan tangan gemetar karena amarah, ia meraih telepon satelit yang terenkripsi. Ia menghubungi satu-satunya orang yang memiliki daya rusak lebih besar darinya: Victor Vance, seorang maestro industri pertahanan di Amerika Serikat yang memiliki hubungan gelap dengan badan-badan intelijen hitam.

"Victor, aku butuh 'penghapusan' total. Bukan hanya bisnisnya, tapi orangnya. Adam Al-Fatih harus hilang dari peta dunia," desis Sirius.

Di seberang samudra, di sebuah kantor minimalis yang menghadap Central Park, New York, Victor Vance tersenyum dingin. "Adam Al-Fatih? Pria yang baru saja mengamankan aset panti asuhan di Paris itu? Dia sudah menjadi duri di mata banyak orang di sini, Sirius. Baiklah, aku akan mengirimkan tim 'pembersih'. Tapi ini akan memakan biaya yang sangat besar. Dan ingat, begitu ini dimulai, tidak ada jalan kembali."

"Lakukan saja! Aku akan membayar berapa pun," balas Sirius sebelum membanting teleponnya.

Sirius tidak menyadari bahwa setiap kata yang ia ucapkan, setiap frekuensi yang dikirimkan melalui satelit itu, sedang disadap oleh sebuah perangkat lunak tercanggih yang tertanam di pusat data Vance. Dan di sebuah apartemen kecil yang tersembunyi di distrik Brooklyn, seorang wanita duduk di depan deretan monitor dengan jemari yang menari lincah di atas papan ketik.

Wanita itu mengenakan hoodie hitam longgar, namun sorot matanya yang tajam memancarkan kecerdasan luar biasa. Ia adalah Elena, seorang mantan analis keamanan siber tingkat tinggi yang dulu pernah bekerja untuk firma hukum Sarah di New York. Dunia mengenal Elena sebagai sosok yang dingin dan tertutup, namun Adam Al-Fatih mengenalnya sebagai jiwa yang telah diselamatkan.

Beberapa tahun lalu, saat Adam pertama kali menginjakkan kaki di Amerika untuk urusan kemanusiaan, ia menemukan Elena dalam kondisi hancur setelah dikhianati oleh sistem korporasi yang kejam. Adam tidak hanya memberikan bantuan finansial, tapi juga mengenalkannya pada ketenangan Islam. Elena adalah seorang mualaf diam-diam yang sejak saat itu bersumpah untuk mengabdikan keahliannya demi menjaga Adam dari balik bayang-bayang. Ia adalah "Intelijen Tanpa Wajah" yang selama ini menjadi mata dan telinga rahasia Al-Fatih di belahan bumi barat.

"Jadi, kau benar-benar ingin bermain api, Sirius?" gumam Elena dalam bahasa Inggris yang fasih, sementara bibirnya bergerak pelan merapalkan doa perlindungan untuk Adam.

Elena segera melakukan enkripsi data. Ia berhasil masuk ke dalam surel rahasia Victor Vance dan menemukan rencana operasional bernama Operation Nightfall. Targetnya jelas: membunuh Adam Al-Fatih saat ia dalam perjalanan menuju tempat persembunyian Khadijah yang baru. Rencana itu melibatkan tentara bayaran profesional yang akan menyamar sebagai aparat keamanan lokal.

Elena tahu ia tidak bisa menghubungi Adam melalui jalur biasa, karena Sirius pasti sedang memantau semua komunikasi di Jakarta. Ia harus bertindak cepat. Dengan keahliannya, Elena meretas frekuensi radio pribadi milik Reza—satu-satunya jalur yang ia tahu belum berhasil ditembus oleh Sirius.

Sementara itu di Jakarta, Adam sedang duduk di samping tempat tidur Khadijah di sebuah lokasi rahasia yang ia sebut "Rumah Aman". Tubuh Adam yang atletis nampak tegang; ia belum tidur selama 48 jam. Setiap kali ia melihat napas Khadijah yang lemah, amarahnya kepada Sirius semakin membara. Namun, ia harus tetap tenang demi keselamatan keluarganya.

Tiba-tiba, walkie-talkie di saku Reza berbunyi. Suaranya bukan suara petugas keamanan, melainkan suara wanita yang sangat tenang namun penuh urgensi.

"Reza, ini Kode Zamrud. Jangan membalas, cukup dengarkan," suara Elena terdengar jernih. "Sirius Jhon telah mengaktifkan Victor Vance di New York. Tim 'pembersih' sudah mendarat di Jakarta satu jam yang lalu menggunakan paspor diplomatik. Mereka akan menyerang Rumah Aman melalui jalur udara dan darat dalam waktu dua jam dari sekarang. Pindahkan target utama ke bunker bawah tanah segera. Saya telah mengirimkan koordinat jebakan untuk mengalihkan perhatian mereka ke server pusat Sirius. Lakukan sekarang atau kalian semua akan tamat."

Reza terperangah. Ia segera menghampiri Adam. "Pak, 'Zamrud' baru saja menghubungi. Kita dalam bahaya besar. Orang-orang Amerika itu sudah ada di sini."

Adam berdiri seketika. Karisma tempurnya bangkit. Ia tahu siapa 'Zamrud'. Elena adalah kartu as yang selama ini ia simpan rapat-rapat, bahkan dari Isabelle sekalipun. "Zamrud tidak pernah salah. Rez, aktifkan protokol pertahanan penuh. Isabelle, ambil anak-anak! Kita pindah ke lantai bawah!"

Di New York, Elena tidak berhenti. Ia mulai meluncurkan serangan balik digital yang mematikan. Ia meretas sistem perbankan Sirius Global Corp dan membekukan seluruh aset likuid yang baru saja dikirim Sirius ke rekening Victor Vance. Ia menciptakan kekacauan data yang membuat tim 'pembersih' di Jakarta kehilangan navigasi GPS mereka untuk sementara waktu.

"Kau pikir kau bisa menggunakan teknologi untuk membunuh pria baik, Victor?" Elena tersenyum dingin. "Kau lupa bahwa teknologi punya bahasa sendiri, dan aku adalah ratunya."

Di Jakarta, suasana menjadi sangat menegangkan. Tim bayaran Sirius mulai mendekati lokasi Rumah Aman. Namun, berkat informasi dari Elena, Adam sudah menyiapkan penyambutan. Adam, yang memiliki stamina dan ketangkasan fisik luar biasa, tidak hanya diam di bunker. Ia mengenakan rompi anti peluru, mengambil posisi di titik pantau.

Adam nampak sangat gagah di bawah sorot lampu remang-remang; otot-otot lengannya yang berbulu lebat nampak menonjol saat ia memeriksa senjata perlindungan terakhirnya. Ia adalah perpaduan sempurna antara kekuatan fisik dan ketajaman strategi.

"Isabelle, jaga Khadijah dan anak-anak. Jika pintu ini terbuka, pastikan kau yang terakhir berdiri," perintah Adam dengan nada yang sangat emosional namun tegas.

Pertempuran di malam buta itu pecah. Suara desingan peluru beradu dengan suara hujan yang mengguyur Jakarta. Namun, berkat panduan real-time dari Elena yang memantau pergerakan musuh melalui satelit, Adam mampu memukul mundur para penyerang satu per satu. Adam bertarung dengan keganasan seorang pelindung keluarga; setiap gerakannya presisi, setiap serangannya mematikan. Ia menjatuhkan dua penyerang dengan tangan kosong menggunakan teknik bela diri tingkat tinggi yang ia pelajari selama bertahun-tahun sebagai bagian dari disiplin atletisnya.

Sirius Jhon, yang menunggu kabar kemenangan di kantornya, tiba-tiba melihat semua layar komputernya menjadi gelap. Sebuah logo besar muncul di layarnya: Bintang Zamrud. Dan di bawahnya tertulis sebuah pesan: “Uangmu sudah hilang, Sirius. Sekarang, giliran nyawamu yang berada dalam antrean.”

Sirius berteriak gila. Ia menyadari bahwa Adam Al-Fatih tidak hanya dilindungi oleh doa dan baja, tapi juga oleh seorang malaikat digital yang selama ini ia remehkan. Elena, sang mualaf jenius di New York, telah berhasil meruntuhkan tembok pertahanan Sirius Jhon tanpa perlu menembakkan satu peluru pun.

Pertempuran di Rumah Aman akhirnya mereda seiring fajar yang menyingsing. Adam berdiri di tengah reruntuhan, tubuhnya penuh peluh dan debu, namun ia menang. Ia segera masuk ke dalam, memeluk Khadijah yang terbangun karena kebisingan, dan menatap Isabelle yang tetap setia berjaga.

"Kita selamat," bisik Adam.

Jauh di New York, Elena mematikan monitornya. Ia mengambil air wudu dan bersujud syukur. Tugasnya selesai untuk malam ini. Ia telah menjaga pria yang dulu memberinya harapan hidup. Perang terhadap Sirius Jhon belum berakhir sepenuhnya, namun dengan terbongkarnya koneksi internasionalnya, Sirius kini bukan lagi seorang predator—ia adalah mangsa yang sedang menunggu waktu untuk habis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!