NovelToon NovelToon
Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter Genius / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:28.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.

Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.

Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa.

Keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang. Namun ia memilih tetap rendah hati, menyembunyikan kejeniusannya demi menjaga rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati yang sayangnya disia-siakan oleh suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 4

Gala Medis Eksklusif Pusat Jantung Terpadu digelar megah. Lampu kristal berkilau, gaun dan jas mahal memenuhi ballroom. Media bisnis dan kesehatan hadir, nama proyek itu kini menjadi pusat perhatian nasional.

Simon datang lebih awal. Di sampingnya, seperti biasa ada Riana.

“Pastikan malam ini semua tahu kita kandidat terkuat mitra proyek,” bisik Simon.

Riana mengangguk. “Aku dengar kepala tim bedah itu akan hadir, tapi identitasnya tetap dirahasiakan sampai pengumuman.”

Simon mencibir. “Dokter yang bersembunyi di balik layar? Tidak profesional.”

Riana terdiam, justru ia merasa gelisah. Penolakan padanya tempo hari bukan kebetulan. Seolah-olah ada seseorang yang secara spesifik… menyingkirkannya.

Beberapa menit kemudian, Arunika tiba.

Gaunnya sederhana namun elegan, warna midnight blue tanpa perhiasan begitu mencolok. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya tetap natural.

Ia masuk dari pintu samping khusus tamu undangan tertutup. Namanya tidak tercantum di papan utama, hanya kode akses pribadi.

Simon melihatnya dari kejauhan.

Alisnya terangkat.

“Kamu?” nada suaranya cukup keras hingga dua tamu menoleh. “Siapa yang mengundangmu?”

Beberapa kepala mulai memperhatikan.

Arunika menjawab tenang, “Aku diundang.”

Simon tertawa kecil—meremehkan. “Undangan katering atau pelayan tambahan?”

Beberapa orang tersenyum canggung.

Riana menutup mulutnya pura-pura terkejut. “Mas, jangan begitu…”

Namun matanya jelas menikmati situasi itu.

Arunika menatap suaminya tanpa emosi. “Aku tamu, sama sepertimu.”

Simon melangkah lebih dekat, suaranya ditekan namun sarat ancaman. “Jangan membuat keributan dan mempermalukan aku serta dirimu sendiri. Arunika, Ini acara penting! Cepat pergi!”

Hening sejenak.

Lalu Arunika berkata pelan, cukup untuk mereka berdua yang mendengar, “Justru karena ini acara penting, makanya aku datang. Maaf mengecewakanmu, tapi aku tak akan pergi.”

Simon mendengus. “Kamu bahkan tidak bekerja.”

Kalimat itu jatuh keras di ruang terbuka. Dan beberapa orang… mendengarnya.

Arunika tidak membalas, ia hanya menaikkan dagu dan melangkah pergi meninggalkan suaminya menuju meja registrasi VIP.

Sementara itu, Riana sudah bergerak. Ia menemui salah satu panitia medis.

“Saya dengar kepala tim bedah sangat menjaga reputasi,” ucapnya hati-hati. “Anda harus berhati-hati, banyak dokter anonim yang sebenarnya hanya menjual sensasi.”

Panitia itu menatapnya datar. “Tim seleksi kami berbasis data dan rekam jejak operasi.”

Riana tersenyum tipis. “Tentu, tapi publikasi bisa dimanipulasi.”

Kalimat itu seperti benih hasutan kecil. Ia belum tahu bahwa orang yang ingin ia jatuhkan… berdiri hanya dua ruangan darinya. Ia kembali ke sisi Simon, namun kegelisahan mulai merambat dalam dadanya.

Di sisi lain ballroom, Arunika berdiri tenang di dekat meja minuman. Beberapa dokter senior menatapnya sekilas, mencoba mengingat apakah mereka pernah melihat wanita itu di konferensi medis sebelumnya. Namun Arunika tidak mencoba menarik perhatian siapa pun.

Tak lama kemudian, seorang pria tinggi dengan setelan abu gelap masuk ke ballroom.

Beberapa investor langsung berdiri. “Itu Angkasa Wiratama.”

Bisikan mulai terdengar di berbagai sudut ruangan.

Simon menyipitkan mata. “Jadi dia orangnya.”

Angkasa berjalan santai melewati kerumunan, menyalami beberapa investor. Namun langkahnya berhenti sejenak ketika ia melihat Arunika berdiri sendirian. Senyumnya tipis, tapi dia tidak menghampiri wanita itu.

Simon akhirnya mendekat.

“Pak Angkasa,” ucapnya sambil mengulurkan tangan dengan senyum profesional.

Angkasa menyambutnya dengan sopan.

“Simon Wijaya, saya pemilik Wijaya Group.”

“Tentu, saya tahu,” jawab Angkasa.

Lampu ballroom tiba-tiba meredup sedikit, seorang pembawa acara naik ke panggung.

“Selamat malam para tamu undangan. Terima kasih telah hadir dalam Gala Medis Pusat Jantung Terpadu.”

Tepuk tangan terdengar.

“Proyek ini akan menjadi pusat bedah jantung paling maju di kawasan Asia Tenggara. Namun sebuah pusat medis tidak akan berarti tanpa tim dokter terbaik.”

Simon bersandar santai.

“Ini bagian menariknya,” bisiknya pada Riana.

“Kami akan bekerja sama dengan seorang dokter yang luar biasa, seorang ahli bedah yang telah melakukan prosedur kompleks dengan tingkat keberhasilan yang luar biasa.”

Layar besar di belakang panggung menyala. Beberapa rekaman operasi ditampilkan—tentu saja tanpa memperlihatkan wajah dokter yang memimpin.

Namun para dokter di ruangan itu mulai berbisik.

“Teknik itu…”

“Clamp posisi lateral?”

“Itu prosedur yang sangat sulit.”

Simon mencibir kecil. “Dramatis sekali.”

Namun di sisi lain ruangan, beberapa dokter senior mulai terlihat serius.

Pembawa acara melanjutkan, “Dokter ini memilih bekerja tanpa sorotan media. Namun malam ini, kami akhirnya dapat mengumumkan bahwa beliau akan memimpin tim bedah proyek ini.”

Riana menelan ludah, Simon tetap terlihat santai.

“Dan sekarang… kami persilakan pemilik proyek, Tuan Angkasa Wiratama, untuk memberikan pengumuman resmi.”

Tepuk tangan memenuhi ruangan, Angkasa berjalan ke atas panggung dengan tenang. Ia memandang seluruh tamu beberapa detik sebelum berbicara.

“Banyak orang bertanya siapa Dokter Jenius yang kami maksud.”

Ia berhenti sejenak, tatapannya perlahan menyapu ballroom… hingga berhenti pada satu titik—Arunika.

Namun ia belum menyebut nama, Simon tidak menyadari arah pandangan itu.

Angkasa melanjutkan, “Namun sebelum saya memperkenalkan beliau… saya ingin mengatakan satu hal.”

Seluruh ruangan hening.

“Orang hebat sering kali tidak terlihat oleh mereka yang terlalu sibuk meremehkan.”

Kalimat itu jatuh berat di ruangan.

“Saya akan mengumumkan siapa Dokter Jenius itu—“

Namun tiba-tiba, seorang pria paruh baya di barisan depan terjatuh. Gelas yang ia pegang terjatuh pecah di lantai, tubuhnya kejang dengan tangannya mencengkeram dada.

Kepanikan para tamu langsung meledak.

“Itu Pak Suryadi, komisaris utama!” seseorang berteriak.

Simon mundur satu langkah.

Riana refleks berlutut di samping pria itu. “Beri ruang! Saya dokter!”

Ia memeriksa nadi Pak Suryadi, lemah. Iramanya tidak ada.

“Diduga henti jantung!” ucapnya keras, agar terdengar.

Beberapa kamera media langsung mengarah, inilah momennya.

“Bawa AED!” teriak seseorang.

Riana mulai kompresi dada, namun posisinya kurang tepat. Ritmenya tidak stabil.

“Mas, bantu aku!” katanya pada Simon.

Simon terlihat panik. “Apa yang harus kulakukan?!”

Kerumunan makin kacau.

Dan di tengah kekacauan itu, suara tenang terdengar. “Berhenti!”

Semua menoleh.

Arunika sudah berlutut di sisi lain tubuh pasien, tatapannya tajam tanpa ada keraguan. “Kompresi terlalu tinggi, pindah dua sentimeter ke bawah,” ujarnya singkat pada Riana.

Riana tertegun. “Kau—”

“Kalau tidak yakin, minggir! Berikan aku ruang.” Arunika bicara tegas. Nada itu bukan nada istri yang diremehkan, itu nada otoritas.

Riana hanya bisa mematung.

AED datang, Arunika langsung menempelkan pad pada dada Pak Suryadi dengan presisi cepat. “Irama ventrikel fibrilasi, semua mundur!”

Tangannya bekerja dengan stabil. “Clear.”

Kejutan pertama.

Tubuh pria itu terangkat sedikit.

Monitor portable menunjukkan garis kacau.

“Lanjut kompresi.” Tangan Arunika bergerak konsisten, hitungannya tepat.

Keringat mulai turun di pelipis Riana.

Beberapa dokter tamu kini memperhatikan dengan serius.

“Siapa dia?” bisik seseorang.

Sementara Simon berdiri membeku melihat istrinya.

“Clear.”

Kejutan kedua, garis monitor berubah. Detak jantung muncul. Lemah… tapi ada.

Ruangan hening.

Tak berapa lama, ambulans internal rumah sakit membawa Pak Suryadi keluar dengan denyut stabil. Dan baru saat itu disadari, wanita yang sempat diremehkan… baru saja menyelamatkan nyawa paling penting di ruangan itu.

Namun sebelum siapa pun bertanya, Arunika berdiri. Ia melepas sarung tangan sekali pakai. “Pastikan enzim jantung diperiksa segera, ada kemungkinan oklusi LAD. Siapkan cath lab!”

Ia berbicara pada tim medis rumah sakit yang baru tiba, mereka mengangguk refleks seolah terbiasa menerima instruksi darinya.

Riana menatap Arunika, nafasnya masih terengah. Tatapan curiga kini berubah menjadi sesuatu kesadaran, Arunika ternyata bukan ibu rumah tangga biasa.

Simon akhirnya bersuara, setengah tidak percaya. “Kamu… dari mana belajar itu?”

Arunika menatap pria yang sebentar lagi bukan suaminya, lalu tersenyum kecil. “Aku sudah bilang, aku suka membaca.”

Jawaban yang sama, namun kini terdengar seperti tamparan.

Di atas panggung, Angkasa yang menyaksikan semuanya hanya berkata pada asistennya, “Tunda pengumuman malam ini.”

“Tuan?”

“Pertunjukan yang lebih besar… akan segera dimulai.” Ucap Angkasa.

Malam itu berakhir tanpa pengumuman resmi, media hanya memberitakan satu hal.

“Wanita Misterius Selamatkan Komisaris di Gala Medis.”

Foto yang beredar hanya siluet samping, identitas tetap gelap.

Namun Riana tidak bisa tidur malam itu, ia membuka ulang rekaman video dari salah satu tamu dan memperbesar wajah Arunika. Lalu membandingkannya dengan satu file lama yang pernah ia lihat diam-diam di meja Simon—berkas audit anonim proyek medis.

Nama konsultan independen yang selalu disensor, tapi ada satu tanda tangan digital kecil yang tidak pernah berubah.

Inisial: A.M.

Riana berbisik pelan di kamar gelapnya, “Arunika… Maheswari?”

Dan kini ia sadar, selama ini ia bukan sedang naik. Ia sedang berdiri di jalur yang salah, karena wanita yang ia remehkan mungkin adalah tembok yang tak bisa ia lewati.

Riana sudah mulai mencium kebenaran. Dan saat orang licik mulai merasa terancam, mereka biasanya tidak mundur. Mereka akan... menyerang.

1
Mundri Astuti
masa ga bisa bedain si arunika, mana yg tulus dan mana yg modus, kan kamu pernah sama Simon yg modus itu
Aditya hp/ bunda Lia: bener ...
total 1 replies
Tiara Bella
wow ternyata Kenzo jg menyadar klu selama ini angkasa memburu dia
merry
knp gk ksh tau knp gk mau rujuk sm Simon selain di anggp tek berguna blg ajj Simon selingkh dgn doktr riana 🤣🤣🤣🤣
Titien Prawiro
Diperlakukan Arunika.
Titien Prawiro
Malunya diseluruh dunia diperlukan Arunika, dulu dihina gk punya pekerjaan
Aditya hp/ bunda Lia
si Mirna dasar gak tau malu ...
Aditya hp/ bunda Lia
jangan terlalu pede Arunika ntar kalo ternyata cinta itu datang gimana?
Tiara Bella
bagus Arunika Simon sm ibunya mending di gituin biar kapok....
Rere💫: Wkwkwk yesss 🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Emak yakin kali ini kau yang menang Arunika yang selalu waspada ,dan jangan lengah terus selidiki,pasti bisa.Kejahatan akan kalah oleh kebaikan
sunaryati jarum
Nanti kau akan berakhir ditangan orang,- orang yang orang tua atau kerabatnya kau bunuh Kenzo,jangan jumawa
Muft Smoker
Masih byk Teka teki siih ,,
terkadang yg terlalu baik yg Manis tu yg lebih berbahaya ,,
km harus lebih hati2 arunika ,,
musuh jaman sekarang byk yg cosplay jd org baik ,,
org yg peduli ,,
tu yg lebih bahaya dr pda org yg terang2an emnk gx suka sama qta ,,
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ tandang aling aling langsung usir
vj'z tri
lah dia dalang nya Mpok /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Tiara Bella
ternyata angkasa udh tw tentang Kenzo ini ya plot twist bngt...Vero sadar dong km cm sodara angkat....
Tiara Bella
oh ternyata begono ....
merry
pdhll orgtua vero msh hdp cm di twnn sm Kenzo
Muft Smoker
duuh udh tbc aj niih kak ,,
dtggu next ny yx kak ,,
☺️☺️
Rere💫: okeoke
total 1 replies
sunaryati jarum
Kenzo mungkin akan hancur oleh obat buatannya sendiri,dan Angkasa jika kau berjanji akan melindungi Arunika,itu benar.Untuk jangan menyalahkan Arunika,itu salah kamu sendiri yang abai padanya selama ini
Rere💫: Simon kak yg abai, Angkasa itu bukan suaminya yg abai🤣
total 1 replies
sunaryati jarum
Secara tidak langsung ibu Angkasa yang diracun sebagai uji coba obat penawar racun berbahaya buatan Arunika sendiri.Membuatmu makin dikenal.Kau saja bisa lepas dari niat jahat pemberi racun dan kecelakaan ,semoga selanjutnya selalu selamat
sunaryati jarum
Semoga semua teka- teki yang menghantui Arunika segera terkuak dan Arunika selalu selamat dari semua tindak kejahatan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!