NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:807
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pertemuan yang Tertunda

Mei, dua minggu setelah kelahiran Asmara Bagaskara.

Rumah Menteng pagi itu penuh dengan suara tangis bayi, tawa anak-anak, dan aroma bubur ayam dari dapur. Kehadiran anggota baru—bayi mungil yang diberi nama Asmara Bagaskara—mengubah ritme rumah. Semua orang bergantian menggendong, menyusui, mengganti popok, dan tentu saja, berebut mencium pipinya yang gembul.

Rara, yang kini sembilan tahun, sudah mengambil peran sebagai kakak tertua dengan sangat serius. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia selalu mampir ke kamar adiknya untuk mencium keningnya.

"Adik, Rara sekolah dulu, ya. Jangan nangis. Nanti Rara balik."

Bayi itu hanya merespons dengan gerakan tangan kecilnya, tapi Rara sudah puas.

Melati, yang baru lima tahun, lebih suka "membantu" dengan cara yang unik. Ia sering menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri untuk menidurkan adiknya. Liriknya kacau, nadanya sumbang, tapi bayi itu justru tertidur pulas—entah karena terbiasa atau karena bingung.

"Melati memang ajaib," kata Nadia suatu hari. "Kalau aku yang nyanyi, dia malah nangis."

"Berarti Melati punya bakat," sahut Raka bangga.

"Bakat apa, Yah?"

"Bakat nyanyiin adik."

Melati tersenyum lebar, tidak mengerti tapi senang dipuji.

Di tengah hiruk-pikuk mengurus bayi, Lastri datang dengan kabar penting. Ia duduk di ruang keluarga bersama Arsya, Kalara, Nadia, dan Raka. Ekspresinya serius.

"Aku sudah bicara dengan ibunya Asmara—nenek kalian. Namanya Eyang Kusuma."

Arsya dan Kalara diam, mendengar.

"Kondisinya tidak terlalu baik. Umurnya 78, sudah beberapa kali jatuh sakit. Tapi dia sangat ingin bertemu kalian."

Kalara memeluk bayi Asmara yang sedang menyusu. "Kapan, Tante?"

"Terserah kalian. Tapi... lebih cepat mungkin lebih baik."

Arsya menghela napas. "Kita harus pergi."

"Kak, gue masih nifas," kata Kalara ragu.

"Nggak perlu semua. Aku dan Nadia yang pergi. Kamu istirahat di rumah."

Tapi Kalara menggeleng. "Nggak, Kak. Gue juga harus pergi. Ini nenek kita juga. Lagian, Asmara juga harus kenal nenek buyutnya."

Raka mengusap punggung istrinya. "Kamu yakin kuat?"

"Dengan kalian di samping gue, gue kuat."

Arsya tersenyum. "Baik. Kita semua pergi. Rara dan Melati ikut."

"Mereka harus ikut," tambah Lastri. "Eyang Kusuma juga ingin lihat cicit-cicitnya."

Maka diputuskanlah. Hari Minggu berikutnya, mereka akan mengunjungi Eyang Kusuma di rumahnya di kawasan Ciputat. Lastri yang akan mengatur semuanya.

Hari yang dinanti tiba.

Mereka berangkat dengan dua mobil. Arsya mengemudikan mobil pertama bersama Nadia, Melati, dan Lastri. Raka di mobil kedua bersama Kalara, Rara, dan bayi Asmara di kursi khusus.

Sepanjang jalan, Rara tak henti-hentinya bertanya.

"Ma, Eyang Kusuma itu siapa? Galak nggak? Punya kucing nggak? Rumahnya besar nggak?"

"Eyang itu neneknya Papa dan Om Arsya," jelas Kalara sabar. "Dia baik, pasti. Nanti kamu lihat sendiri."

"Apa Eyang punya cerita tentang Kakek Asmara?"

"Itu yang mau kita dengar."

Rara mengangguk puas. Ia selalu penasaran dengan cerita-cerita lama.

Di mobil lain, Melati sudah tertidur di pangkuan Lastri. Bocah itu kelelahan karena bangun pagi-pagi. Arsya dan Nadia berbincang pelan.

"Kamu tegang?" tanya Nadia.

"Sedikit." Arsya tersenyum tipis. "Ini pertama kali aku bertemu keluarga ayahku. Dulu, waktu kecil, aku hanya sempat tinggal sebentar dengan ayah. Nenek? Tidak pernah."

"Pasti berat."

"Iya. Tapi aku juga penasaran. Ingin tahu dari mana ayah berasal. Ingin tahu apakah ada kemiripan."

Nadia meraih tangannya. "Apa pun yang terjadi, aku di sini."

"Makasih, Nad."

Mobil memasuki kawasan perumahan sederhana di Ciputat. Rumah-rumah kecil dengan halaman terbatas, tapi terlihat asri. Lastri menunjuk sebuah rumah berwarna hijau muda dengan pagar besi sederhana.

"Itu rumahnya."

Arsya memarkir mobil. Raka di belakang melakukan hal yang sama. Mereka turun, mengatur napas, lalu berjalan menuju pintu.

Seorang wanita paruh baya—mungkin pembantu atau keponakan—membukakan pintu. "Silakan masuk. Eyang sudah menunggu."

Mereka masuk. Rumah itu sederhana, bersih, dengan perabotan kayu tua. Di dinding, terpajang banyak foto—foto hitam putih, foto pernikahan, foto anak-anak. Arsya menangkap satu foto yang membuat jantungnya berdebar: foto Asmara muda, tersenyum lebar, dengan latar belakang sawah.

"Arsya?"

Suara lembut dari sudut ruangan membuatnya menoleh.

Seorang wanita tua duduk di kursi roda. Rambutnya putih semua, wajahnya keriput, tapi matanya—matanya masih tajam dan berbinar. Ia mengenakan kebaya sederhana, tangannya memegang tongkat.

"Nenek?" bisik Arsya.

Eyang Kusuma mengangguk, air mata mengalir di pipinya. "Anakku... cucuku... akhirnya..."

Perlahan, Arsya mendekat. Ia berlutut di depan kursi roda, menatap wanita itu. Ada kemiripan—bentuk mata, senyum—yang tak bisa dijelaskan.

"Nenek... saya Arsya."

Eyang Kusuma meraih wajahnya dengan tangan keriput. "Kamu mirip ayahmu. Sangat mirip. Matamu... hidungmu... Asmara kecil."

Arsya menangis. Nadia di belakangnya juga menangis.

Kalara maju dengan bayi di gendongannya. "Eyang... saya Kalara. Adiknya Arsya."

Eyang Kusuma menatapnya, lalu tersenyum. "Kamu mirip Rarasati. Cantik, seperti ibumu."

Kalara tersentak. "Eyang tahu Ibu?"

"Tentu. Asmara sering bercerita. Dan aku pernah melihat fotonya. Wanita cantik dengan senyum manis."

Lastri mendekat. "Tante Kusuma, ini Rara dan Melati. Cicit Eyang."

Rara yang biasanya ceria, kini diam seribu bahasa. Ia menatap Eyang dengan rasa ingin tahu.

"Eyang... rambutnya putih semua," bisiknya pada Kalara.

Kalara tersenyum. "Iya, Sayang. Karena sudah tua."

Rara lalu memberanikan diri mendekat. "Eyang, aku Rara. Aku bisa gambar. Nanti Rara gambar Eyang, ya?"

Eyang Kusuma tertawa kecil. "Boleh, Nak. Eyang senang."

Melati, yang baru bangun dan masih bingung, tiba-tiba berkata, "Eyang, Melati lapar."

Semua tertawa. Ketegangan yang membeku sejak tadi akhirnya pecah.

Mereka duduk di ruang tamu. Teh hangat dan kue tradisional disajikan. Bayi Asmara terbangun dan mulai rewel. Kalara menyusuinya dengan selendang menutupi.

"Itu..." Eyang Kusuma menunjuk bayi itu. "Siapa namanya?"

"Asmara Bagaskara, Eyang," jawab Raka bangga. "Anak kami. Kami kasih nama Asmara, dari kakeknya."

Eyang Kusuma menangis lagi. "Asmara... nama ayah kalian... dihidupkan lagi."

Ia meminta agar bayi itu didekatkan. Dengan hati-hati, Kalara menggendong bayinya ke samping Eyang. Wanita tua itu menatap lama wajah mungil itu.

"Matanya... sama seperti Asmara waktu bayi. Bentuknya, sayunya." Ia mengusap pipi bayi dengan punggung tangan. "Nak, kenalkan, ini Eyang buyutmu. Eyang dari kakek Asmara."

Bayi itu hanya menguap, tidak mengerti, tapi semua orang terharu.

Setelah suasana tenang, Eyang Kusuma mulai bercerita. Tentang masa kecil Asmara, tentang bagaimana ia membesarkan anaknya sendirian setelah suaminya meninggal.

"Asmara itu anak yang cerdas. Sejak kecil, ia suka membaca. Ia bercita-cita jadi guru, ingin mengajar anak-anak di desa. Tapi takdir berkata lain."

"Kenapa, Eyang?" tanya Arsya.

Eyang Kusuma menghela napas. "Ia bertemu Rarasati. Cinta mereka ditentang keluarga Rarasati. Keluarga kami dianggap miskin, tidak sederajat. Tapi Asmara tidak peduli. Ia bilang, cinta tidak kenal kasta."

Air mata Eyang jatuh.

"Aku dukung dia. Meskipu aku takut, aku dukung. Tapi setelah mereka pergi, aku kehilangan kontak. Keluarga Rarasati sangat tertutup. Aku tidak tahu di mana anakku berada."

Kalara menggenggam tangan Eyang. "Eyang... kami di sini. Cucu-cucumu."

"Aku tahu. Dan aku bersyukur Tuhan masih memberi kesempatan." Eyang menatap Arsya dan Kalara bergantian. "Maafkan aku tidak mencari kalian lebih awal. Aku takut. Takut ditolak, takut tidak diterima."

Arsya meraih tangan Eyang. "Nenek, kami tidak pernah tahu tentang Eyang. Tapi sekarang kami tahu. Dan kami senang bisa bertemu."

Rara tiba-tiba bertanya, "Eyang, Kakek Asmara suka apa? Makanan favoritnya apa?"

Pertanyaan polos itu membuat Eyang tersenyum. "Dia suka sayur asem dan ikan asin. Setiap pulang sekolah, dia selalu minta itu."

"Wah, sama kayak Rara! Rara juga suka sayur asem!"

"Berarti kamu cucu sejati."

Rara tersenyum bangga.

Melati ikut nimbrung. "Melati suka ayam goreng."

"Kalau Eyang punya ayam goreng?"

"Punya dong. Tapi lagi nggak ada."

Semua tertawa. Keceriaan anak-anak mencairkan suasana.

Sore harinya, saat matahari mulai condong, mereka pamit pulang. Tapi sebelum pergi, Rara ingat janjinya.

"Eyang, Rara mau gambar Eyang!"

Ia mengambil buku gambar dan krayon dari tasnya. Dengan cepat, ia membuat sketsa Eyang Kusuma yang duduk di kursi roda. Tidak sempurna, tapi penuh cinta.

"Ini untuk Eyang," katanya, menyerahkan gambar.

Eyang Kusuma menerimanya dengan mata berkaca-kaca. "Ini hadiah terindah, Nak. Eyang akan simpan."

Melati, tidak mau kalah, memberikan sebuah boneka kelinci kecil yang selalu dibawanya. "Ini buat Eyang. Biar Eyang nggak kesepian."

Eyang memeluk kedua cicitnya. "Kalian anak-anak baik. Eyang sayang kalian."

Arsya dan Kalara berpamitan dengan haru. Di pintu, Eyang Kusuma berpesan.

"Kunjungi aku lagi, Nak. Jangan lama-lama. Aku sudah tua."

"Kami janji, Eyang," kata Arsya. "Kami akan sering datang."

Saat mobil melaju meninggalkan Ciputat, suasana di dalam mobil hening. Setiap orang hanyut dalam pikirannya masing-masing.

Rara yang memecah keheningan. "Ma, Eyang baik, ya."

"Iya, Sayang. Baik."

"Kenapa dulu kita nggak pernah ketemu?"

"Karena takdir memisahkan mereka. Tapi sekarang takdir mempertemukan lagi."

Rara mengangguk, menerima jawaban itu. Ia masih kecil, tapi cukup pintar untuk mengerti bahwa hidup memang rumit.

Di mobil lain, Arsya dan Nadia juga berdialog pelan.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya Nadia.

"Legaa." Arsya menghela napas. "Seperti ada yang terisi. Selama ini aku hanya punya satu sisi keluarga—dari Ibu. Sekarang, aku tahu dari mana ayah berasal. Aku lihat nenekku, aku dengar cerita-cerita."

"Itu bagus."

"Iya. Dan aku bersyukur Rara dan Melati ikut. Mereka membuat suasana hangat."

Nadia tersenyum. "Anak-anak memang ajaib."

Malam harinya, di rumah Menteng, mereka berkumpul di ruang keluarga. Rara dan Melati sudah tidur kelelahan. Bayi Asmara juga pulas di ayunannya. Mereka bertiga—Arsya, Kalara, Nadia, Raka, dan Lastri—duduk dengan teh hangat.

"Tante Lastri," panggil Arsya. "Makasih sudah mengatur pertemuan ini."

Lastri tersenyum. "Sama-sama, Nak. Aku senang kalian mau menerima."

"Eyang Kusuma baik," kata Kalara. "Lembut, hangat. Berbeda dengan yang gue bayangkan."

"Apa yang kamu bayangkan?" tanya Raka.

"Gue pikir... mungkin dia akan marah. Atau menyalahkan. Tapi tidak. Dia hanya... menerima."

Nadia mengangguk. "Itu tandanya dia sudah melalui banyak hal. Kesedihan mengajarkan kerendahan hati."

Arsya meraih tangan Nadia. "Kita harus rutin mengunjunginya. Jangan sampai dia merasa sendiri."

"Setuju," sahut Kalara. "Bulan depan kita ke sana lagi. Bawa Rara dan Melati."

"Mereka pasti senang."

Lastri menambahkan, "Aku juga akan sering main ke sana. Sekarang Eyang Kusuma tahu aku di Jakarta, dia senang."

Malam itu, doa-doa dipanjatkan. Untuk Eyang Kusuma, untuk kesehatan dan panjang umurnya. Untuk keluarga besar yang baru bersatu.

Juni tiba. Mereka mengunjungi Eyang Kusuma lagi, seperti janji. Kali ini, Eyang sudah lebih segar. Ia bahkan turun dari kursi roda dan berjalan pelan dengan bantuan tongkat.

"Eyang sudah lebih sehat?" tanya Kalara.

"Iya, Nak. Mungkin karena senang punya keluarga." Eyang tersenyum. "Obat terbaik adalah kebahagiaan."

Rara langsung menunjukkan gambar barunya—gambar Eyang bersama seluruh keluarga. Kali ini lebih rapi, karena ia sudah berlatih seminggu.

"Ini Eyang, ini Om Arsya, ini Tante Nad, ini Mama, ini Ayah, ini Melati, ini Adek Asmara, ini Rara. Lengkap!"

Eyang tertawa. "Rara memang pelukis cilik. Suatu hari jadi pelukis terkenal, ya."

"Iya, Eyang. Nanti Rara gambar Eyang lagi."

Melati, setia dengan bonekanya, memberikan sebuah kalung dari manik-manik buatannya sendiri. "Ini buat Eyang. Melati bikin sendiri."

Eyang memakainya meskipun agak sempit. "Wah, cantik sekali. Makasih, Melati."

Bayi Asmara, yang kini dua bulan, mulai bisa tersenyum. Saat Eyang menggendongnya, ia tersenyum lebar.

"Dia tahu ini Eyang buyutnya," kata Arsya. "Lihat senyumnya."

"Iya. Darah tidak pernah berbohong."

Sore itu diisi dengan cerita-cerita. Eyang bercerita tentang masa mudanya, tentang bagaimana ia bertemu kakek Asmara—seorang guru desa yang baik hati. Tentang perjuangannya membesarkan Asmara sendirian setelah kakek meninggal. Tentang harapannya agar anaknya bahagia, meskipun harus pergi jauh.

"Asmara menulis surat untukku, waktu pertama kali bertemu Rarasati," kenang Eyang. "Dia bilang, 'Bu, aku temukan cinta sejatiku. Namanya Rarasati. Cantik, baik, pintar. Aku akan perjuangkan dia, apa pun risikonya.'"

Air mata Kalara jatuh. "Ibu juga pasti bahagia, Eyang."

"Iya. Aku yakin mereka bersama di surga."

Malam semakin larut, mereka pamit pulang. Tapi kali ini, ada janji baru: Eyang akan dijemput ke rumah Menteng suatu hari. Ia ingin melihat rumah bersejarah itu, tempat di mana kisah ini dimulai.

"Aku akan datang," janji Eyang. "Tunggu Eyang."

Agustus, bulan kemerdekaan. Rumah Menteng mengadakan acara syukuran sederhana. Tapi kali ini spesial: Eyang Kusuma datang untuk pertama kalinya.

Dijemput oleh Arsya dan Nadia, Eyang tiba di rumah Menteng dengan mata berbinar. Ia memandangi rumah tua itu dengan takjub.

"Ini... ini rumah yang dulu sering diceritakan Asmara," bisiknya. "Rumah keluarga Rarasati."

"Iya, Eyang. Dan sekarang rumah kami," kata Kalara.

Eyang berjalan pelan di halaman depan. Ia menyentuh pagar besi tua, menatap pohon beringin besar. Ia seperti merasakan kehadiran putranya di setiap sudut.

"Asmara... Ibu di sini, Nak," bisiknya. "Ibu lihat anak-anakmu. Mereka baik-baik saja."

Di dalam, semua sudah siap. Rara dan Melati menyambut dengan lukisan besar bertuliskan "Selamat Datang Eyang". Baby Asmara digendong Nadia, tersenyum-senyum.

Mereka makan siang bersama. Raka memasak sayur asem dan ikan asin—menu favorit Asmara. Eyang terharu.

"Kalian tahu resepnya?"

"Dari Eyang, waktu cerita dulu," jawab Raka. "Saya coba-coba masak. Mudah-mudahan enak."

Eyang mencicipi. "Enak. Mirip masakan Asmara dulu."

Semua tersenyum. Momen-momen kecil seperti ini yang membuat luka lama terobati.

Sore harinya, mereka duduk di beranda belakang. Eyang menikmati teh hangat sambil memandangi taman.

"Rumah ini indah," katanya. "Tenang. Damai."

"Iya, Eyang. Rumah ini memang istimewa," sahut Arsya.

"Ada satu hal yang ingin aku titipkan."

Eyang mengeluarkan sesuatu dari tasnya—sebuah kotak kayu kecil, tua dan penuh ukiran.

"Ini milik Asmara. Ia tinggalkan padaku sebelum pergi. Katanya, suatu hari jika ia punya anak, berikan ini."

Arsya membuka kotak itu. Di dalamnya, sebuah liontin emas dengan ukiran dua hati. Juga sebuah surat, menguning karena usia.

"Untuk anak-anakku, jika surat ini kalian baca, berarti aku sudah tiada. Liontin ini milik ibumu dan aku. Dua hati yang bersatu. Simpanlah, sebagai tanda bahwa cinta kami nyata. Jangan pernah menyerah pada hidup. Jangan pernah berhenti mencintai. Ayah, Asmara."

Arsya menangis. Kalara memeluknya. Mereka membaca surat itu berkali-kali, meresapi setiap kata.

"Ayah..." bisik Arsya. "Akhirnya... ada pesan darimu."

Eyang memeluk mereka. "Dia sayang kalian. Meskipun tidak sempat melihat kalian besar, dia selalu sayang."

Malam itu, liontin itu digantung di leher Arsya. Yang satu lagi diberikan pada Kalara. Dua hati yang bersatu, sekarang di dua saudara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!