Adelia, asisten produksi yang gigih, harus menghadapi Arlan, sutradara perfeksionis berjuluk "Naga dari Selatan" yang gemar mengamuk. Di balik kopi 80 derajat dan caci maki di lokasi syuting, Adelia menemukan luka masa lalu Arlan yang mendalam. Saat konspirasi keluarga dan sabotase mengancam karier mereka, keduanya bersatu melawan manipulasi sang ayah. Melalui keberanian dan kejujuran, mereka membuktikan bahwa di balik layar kemarahan, terdapat cinta yang mampu mengubah ambisi menjadi mahakarya sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mila Dunka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Direksi Baru
Dinamika studio berubah drastis dengan kehadiran sosok baru yang mengawasi setiap langkah mereka.
Studio A&A Pictures tidak lagi terasa seperti rumah. Suasana industrial yang santai kini berubah menjadi kaku sejak kedatangan Pak Surya, direktur keuangan yang ditempatkan oleh investor baru. Pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan tatapan mata yang selalu menganalisis angka itu duduk di ruang rapat yang kini disulap menjadi kantor pribadinya.
"Arlan, saya sudah meninjau anggaran untuk iklan produk kopi itu," ujar Pak Surya saat pertemuan pagi. "Terlalu boros. Kita tidak perlu menyewa kamera sinema seri terbaru. Seri setahun lalu masih sangat layak dan jauh lebih murah."
Arlan menahan napas, berusaha meredam amarah yang mulai naik ke dadanya. "Pak Surya, kualitas visual adalah brand kami. Kamera itu krusial untuk menangkap detail pencahayaan yang diinginkan klien."
"Klien peduli pada hasil akhir, bukan alat apa yang digunakan," balas Pak Surya dingin. "Efisiensi adalah prioritas saya."
Adelia, yang duduk di samping Arlan, menggenggam tangan kekasihnya di bawah meja. Ia bisa merasakan ketegangan Arlan.
"Kami mengerti, Pak Surya. Namun, kami mohon agar keputusan teknis tetap diserahkan kepada Arlan selaku sutradara."
Pak Surya menatap Adelia, lalu tersenyum tipis—jenis senyum yang tidak mencapai matanya. "Tentu, Mbak Adelia. Tapi ingat, setiap rupiah yang dikeluarkan harus bisa dipertanggungjawabkan pada investor."
Pertemuan berakhir dengan ketidakpuasan di kedua belah pihak. Arlan berjalan keluar ruang rapat dengan langkah cepat, hampir membanting pintu saat masuk ke ruang editing.
"Aku tidak bisa bekerja seperti ini, Adel!" seru Arlan frustrasi, melepas kemejanya dan menyisir rambut dengan kasar. "Dia merampas kreativitas kita! Bagaimana aku bisa membuat mahakarya kalau setiap langkah dibatasi oleh hitungan angka?"
Adelia mendekat, membantu Arlan menenangkan diri. "Dia memang mengesalkan, tapi dia menyelamatkan kita dari sita jaminan, Arlan. Kita harus main cantik."
"Main cantik bagaimana? Aku merasa seperti buruh di studio sendiri!"
"Kita tunjukkan padanya bahwa metode kita menghasilkan uang," Adelia menyodorkan draf proposal proyek baru. "Lihat ini. Proyek film dokumenter yang sudah kita bahas. Kliennya besar, dan anggarannya efisien. Kalau kita sukseskan ini, Pak Surya akan percaya pada visi kita."
Arlan menatap proposal itu, lalu menatap Adelia. Ia tahu Adelia benar, tapi egonya terluka. "Aku butuh waktu."
"Kita tidak punya banyak waktu. Pak Surya akan terus menekan kita," sahut Adelia lembut namun tegas.
Sementara itu, di ruangannya, Pak Surya sedang menelepon seseorang. "Ya, Arlan dan timnya mulai bergejolak. Saya menekan anggaran mereka seketat mungkin. Film mereka berikutnya... saya pastikan konsepnya tidak akan bisa berjalan sesuai keinginan mereka."
Arlan dan Adelia tidak menyadari bahwa Pak Surya bukan sekadar direktur yang kaku, melainkan pion yang dikirim oleh mantan pengacara ayah Arlan untuk menghancurkan mereka dari dalam.
Malam itu, Arlan memutuskan untuk mengerjakan editing iklan kopi sendirian, mengabaikan aturan "bebas pekerjaan" yang mereka buat. Saat Adelia masuk membawa kopi, ia menemukan Arlan terduduk lemas di depan layar yang gelap.
"Kameranya rusak lagi?" tanya Adelia panik.
"Bukan," jawab Arlan pelan. "Pak Surya membatalkan sewa lampu khusus yang kubutuhkan. Hasilnya... tidak sesuai standarku. Klien pasti kecewa."
Adelia terduduk di samping Arlan. Krisis ini lebih berat dari yang ia bayangkan. Mereka tidak hanya melawan keterbatasan dana, tetapi juga seseorang yang sengaja menghalangi kreativitas mereka.
"Kita akan cari jalan keluarnya, Arlan. Bersama-sama," ucap Adelia, menyandarkan kepalanya di bahu Arlan.
Arlan mencium kening Adelia. "Terima kasih, Adel. Kalau bukan karena kamu, aku sudah menyerah sejak tadi."
Hari syuting untuk iklan produk kopi yang diatur ulang—dan dikurangi anggarannya—tiba. Lokasi berada di sebuah kafe aesthetic di kawasan Jakarta Selatan. Atmosfer dt terasa tegang. Arlan berdiri di depan monitor, wajahnya kaku. Kamera yang digunakan adalah kamera tua yang disetujui Pak Surya, dan pencahayaan jauh dari kata memadai.
"Arlan, lighting untuk adegan close-up produk masih kurang highlight," bisik Adelia, mencoba tetap tenang meski hatinya cemas melihat hasil di monitor.
"Aku tahu, Adel. Tapi Pak Surya membatalkan sewa lampu reflektor tambahan kemarin sore," balas Arlan dengan nada datar yang menakutkan.
Di sudut set, Pak Surya berdiri sambil bersedekap, mengamati dengan tatapan menilai yang membuat para kru merasa tidak nyaman.
"Sutradara!" panggil Pak Surya lantang, memotong proses set-up. "Kenapa kita butuh waktu lama hanya untuk satu shot ini? Waktu adalah uang. Sewa tempat ini mahal."
Arlan memejamkan mata sejenak, menahan napas. "Pak Surya, kita butuh pencahayaan yang pas agar produknya terlihat menarik. Kalau tidak, iklan ini percuma."
"Saya lihat hasilnya di monitor cukup baik. Lanjutkan saja," perintah Pak Surya tanpa kompromi.
Arlan terpaksa mengangguk. Ia memberikan aba-aba kepada kamerawan. Namun, baru saja adegan dimulai, salah satu kabel kamera yang ternyata sudah tua terkelupas dan menyebabkan short circuit. Monitor mati, dan kamera tidak bisa digunakan.
"Sudah saya bilang, jangan memaksakan alat tua!" seru Arlan, akhirnya meledak. Ia berjalan menuju ke Pak Surya. "Lihat? Kita kehilangan waktu dan uang justru karena efisiensi bodoh yang Bapak paksakan!"
Para kru terdiam membeku. Ini pertama kalinya mereka melihat Arlan meledak di depan investor.
Pak Surya hanya menaikkan alisnya, tampak tenang. "Kerusakan alat adalah risiko operasional. Seharusnya sutradara lebih teliti memeriksa alat sebelum syuting. Saya akan laporkan keterlambatan ini ke pihak investor."
Pak Surya berbalik dan meninggalkan lokasi syuting.
Adelia segera menghampiri Arlan, memegang lengannya sebelum pria itu mengejar Pak Surya. "Arlan, cukup. Jangan emosi di sini."
"Dia sengaja, Adel! Dia tahu kabel itu rusak!"
"Aku tahu. Tapi kalau kamu memukulnya, kita tidak hanya bangkrut, tapi kamu bisa masuk penjara," ujar Adelia tegas. "Tenang. Kita butuh kamera pengganti sekarang."
Adelia segera menelepon beberapa vendor kamera, namun karena syuting dilakukan di hari kerja, sulit mencari kamera pengganti dengan cepat.
"Tunggu," kata Reihan Malik, yang kebetulan menjadi aktor utama iklan tersebut, mendekat. "Aku punya kamera sinema pribadi di rumah. Spesifikasinya sama dengan yang biasa dipakai Arlan. Aku bisa minta asistenku mengambilnya."
Arlan menatap Reihan dengan tatapan campuran antara terkejut dan berterima kasih. "Reihan... kenapa?"
"Aku bilang, aku aktor yang tahu skenario yang menguntungkan. Pak Surya itu menyebalkan, dan aku tidak mau reputasiku rusak karena iklan jelek," ujar Reihan santai.
Berkat bantuan Reihan, syuting kembali dilanjutkan. Namun, keterlambatan akibat sabotase kabel memakan waktu empat jam. Arlan dan tim terpaksa lembur hingga dini hari untuk menyelesaikan syuting.
Saat kembali ke apartemen, Arlan terduduk lemas di sofa. Ia merasa kalah.
"Kita tidak bisa membiarkan dia melakukan ini lagi, Adel," ujar Arlan, suaranya parau oleh kelelahan dan frustrasi.
Adelia duduk di sampingnya, memijat bahu Arlan. "Kita tidak akan membiarkannya. Aku sudah memeriksa log kerusakan kabel tadi. Itu bukan kebetulan. Aku punya rencana untuk balik menuduhnya."
"Tapi kita butuh bukti."
"Aku sedang mengusahakannya. Reihan punya kenalan di perusahaan vendor alat syuting. Kita akan cari tahu siapa yang memesan alat tua itu."
Arlan menatap Adelia, merasa bersyukur memiliki mitra yang cerdas sekaligus pasangan yang suportif. "Apa jadinya aku tanpamu, Adel?"
"Kamu mungkin sudah mengamuk dan menghancurkan kantor Pak Surya," jawab Adelia tersenyum kecil. "Ayo tidur. Besok kita hadapi dia lagi."