Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Pagi itu, Bandara Adi Soemarmo terasa lebih cerah dari biasanya. Aku berdiri di area kedatangan, meremas ujung kemeja putihku dengan gugup. Di sampingku, Kak Pandu sesekali melirik jam tangannya sambil bersiul santai, seolah menikmati kegelisahanku yang sudah di ambang batas
Kak Pandu berdiri di sampingku, sesekali melirik jam tangan sport-nya. "Tenang, Ra. Pesawatnya sudah landing sepuluh menit lalu. Si Arsitek gadungan itu nggak bakal nyasar, paling lagi ribet bawa maket raksasanya keluar bagasi."
Aku hanya tersenyum tipis, mataku tak lepas dari pintu kaca otomatis yang terus terbuka dan tertutup. Setiap kali sosok pria muda muncul, napasku tertahan. Satu tahun hanya lewat layar ponsel. Satu tahun hanya suara digital yang menemani tidurku.
Hingga kemudian, sosok itu muncul.
Laki-laki dengan kaus hitam polos, celana kargo, dan tas ransel besar yang masih ditempeli gantungan Daisy rajutanku yang kini warnanya sedikit memudar. Wajahnya terlihat lebih dewasa, rahangnya lebih tegas, namun binar matanya saat menyisir kerumunan tetaplah binar yang sama dengan Arkana nomor punggung 07 setahun lalu
Dan saat mata kami bertemu, Arkan mematung. Ia melepaskan pegangan pada koper besarnya, membiarkannya berdiri begitu saja di tengah jalan, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
"NARA!" teriaknya, mengabaikan tatapan orang-orang di sekitar.
Ia berlari kecil ke arahku. Aku tidak menunggu lagi; aku berlari menyongsongnya. Begitu jarak kami terkikis, Arkan mengangkat tubuhku, memutarku di udara dalam sebuah pelukan yang sangat erat. Aroma maskulin bercampur wangi kabin pesawat langsung menyerbu indra penciumanku.
"Gue pulang, Ra. Asuransi lo balik ke pangkalan," bisiknya tepat di telingaku, suaranya serak menahan haru.
"Lama banget sih, Kan," isyakku pelan di bahunya. "Satu tahun itu lama banget."
Arkan melepaskan pelukannya sebentar, menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang kini terasa lebih kasar karena sering memotong kayu maket. Ia menatap kunci perak yang masih melingkar di leherku, lalu beralih ke mataku.
"Makasih udah jaga kuncinya. Makasih udah nggak pasang gembok baru," ucapnya tulus
"Ehem! Dunia serasa milik berdua, yang jomblo kontraknya diperpanjang ya?" Kak Pandu muncul, menepuk bahu Arkan dengan keras—khas sambutan laki-laki. "Gimana Jakarta, Ar? Masih aman kan tangan lo buat dribel bola?"
Arkan tertawa renyah, merangkul bahu Kak Pandu lalu kembali menggenggam tanganku erat. "Aman, Ndu. Tapi sekarang tangan gue lebih jago buat bangun rumah daripada masukin bola ke ring."
Kami berjalan menuju parkiran. Cahaya matahari Solo sore itu terasa sangat hangat, seolah ikut merayakan kepulangan sang pengembara. Di sepanjang jalan menuju rumah, Arkan tidak melepaskan genggamannya. Ia bercerita tentang dosennya yang galak, tentang pameran arsitektur di Jakarta, dan tentang betapa seringnya ia memandangi foto kami di meja belajarnya
Ayah mungkin adalah masa lalu yang penuh lubang, tapi Arkan adalah masa depan yang rancangannya sedang kami bangun bersama, bata demi bata, dengan penuh cinta .
Aku menggenggam tangan Arkan erat-erat. Kali ini, aku tidak akan pernah menarik diri lagi. Karena aku tahu, sejauh apa pun dia melangkah, dia akan selalu tahu jalan untuk pulang kepadaku.
Malam itu, di teras rumah bersama Mama dan Kak Pandu, aku menyadari bahwa jarak satu tahun ini bukan untuk memisahkan, tapi untuk membuktikan. Bahwa pondasi yang kami bangun di atas kejujuran dan kepercayaan jauh lebih kuat daripada trauma masa lalu mana pun.
Arkan telah kembali. Dan kali ini, ia tidak hanya membawa janji, tapi ia membawa rencana nyata untuk masa depan yang akan kami bangun bersama, bata demi bata