Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
TRAK!
Benturan logam terakhir mengguncang arena latihan. Adrian, putra kedua keluarga Anhart, memutar tubuhnya dengan lincah. Pedangnya yang terbungkus aura putih keperakan menebas lurus, menghentikan ujung pedang Dante tepat di depan tenggorokannya.
Dante terengah-engah, menjatuhkan senjatanya sebagai tanda menyerah.
"Pemenangnya, Adrian!" seru salah satu instruktur pelatih.
Adrian menyeringai sombong, menyeka keringat di dahinya sambil menatap Dante yang masih berusaha menstabilkan napas.
Di tribun kehormatan, Duke Darius berdiri perlahan. Suasana mendadak hening. Kewibawaan pria itu membuat para penjaga bahkan tidak berani bernapas keras.
"Pertarungan yang bagus," suara berat Darius menggema. "Dengan ini, aku akan mengumumkan siapa putra yang akan mewakili Anhart masuk ke Akademi Aster—"
"Permisi."
Sebuah suara tenang memotong ucapan Duke. Semua kepala serentak menoleh ke arah lorong masuk.
Di sana, Leon melangkah dengan santai. Jubah panjangnya berkibar tertiup angin arena. Setiap langkah sepatu botnya terdengar mantap di atas lantai batu, memecah kesunyian yang mencekam.
Julian, sang putra tertua, langsung berdiri dari kursinya. Alisnya bertaut tajam, menatap bingung sekaligus tidak suka pada sosok yang seharusnya sudah 'dibuang' itu. Begitu pun Adrian dan Dante yang masih sibuk menepuk debu di pakaian mereka.
"Bukannya ada satu orang lagi yang harus mengikuti seleksi?" tanya Leon dengan tenang.
Ia berjalan mendekati Eiryn, membuka jubah hitamnya yang berdebu, lalu memberikannya kepada gadis itu. Eiryn menerima jubah itu dengan tangan gemetar.
Jantungnya berdegup kencang; ia mengira tuannya pulang hanya karena rindu rumah, ternyata Leon nekat datang untuk merebut tempat di Akademi.
"Siapa... kau?" Adrian bertanya dengan nada merendahkan, seolah tidak mengenali sosok adiknya sendiri yang kini terlihat jauh lebih tegap.
Leon tidak langsung menjawab. Matanya menyipit, mengaktifkan kemampuannya.
...[ STATUS KARAKTER ]...
...Nama : Adrian von Anhart | Umur : 21 Tahun...
...Class : Swordsman Lv.5 | Rank : B...
...HP : 427 / 427 | Stamina : 80 / 80...
...Vitalitas : 60 | Kekuatan : 35...
...Ketahanan : 25 | Kelincahan : 23...
...Keberuntungan : 3...
...[DATA LAIN TIDAK TERSEDIA]...
Leon tertegun sejenak di dalam hati. Rank B? Statistiknya jauh di atasku. Jika aku beradu kekuatan murni, aku pasti kalah, batin Leon.
Leon tak peduli pada tatapan sinis itu. Ia berjalan melewati kakaknya begitu saja menuju rak senjata. Jarinya mengetuk-ngetuk beberapa gagang pedang, mencari yang paling pas di tangan
"Hei, adik kecil. Ini bukan tempat bermain. Turunlah," cibir Adrian lagi, kali ini dengan tawa sinis yang diikuti lirikan tajam para penjaga.
"Kenapa? Aku tidak boleh bermain di sini?" sahut Leon pendek. Matanya masih sibuk memilah senjata, mengabaikan tatapan membunuh dari kakaknya.
"Hei, dik. Apakah kau merasa kesepian dibuang ke tempat kecil sampai ingin cari perhatian seperti ini?" Adrian melangkah mendekat, auranya mulai menekan.
"Wah, ini dia," gumam Leon, akhirnya menarik sebuah pedang besi sederhana dari rak. Ia sama sekali tidak menghiraukan perkataan Adrian, seolah kakaknya itu hanyalah lalat yang berisik.
Leon berbalik, lalu ujung pedangnya menunjuk lurus ke arah Dante yang baru saja bangkit.
"Kakak ketiga, turunlah dari arena. Ini waktunya aku yang bermain," ucap Leon sambil menyandarkan pedang tumpul itu di pundaknya dengan santai.
"Kau...!" Dante mengeraskan rahangnya. Wajahnya memerah karena merasa diremehkan oleh si "sampah" keluarga.
Leon mengibas-ngibaskan telapak tangannya ke arah Dante, memberi isyarat agar Dante segera keluar dari arena dan memberikan tempat padanya. Gerakan itu sangat provokatif, seolah ia sedang mengusir hewan peliharaan.
"Leon, kau bahkan tidak bisa mengeluarkan aura. Apa kau pikir kau layak berdiri di sini?" Adrian kembali memotong, wajahnya merah padam karena amarahnya mulai tersulut.
Leon berdecik pelan. Ia menatap Adrian dengan pandangan malas. "Aura? Untuk melawan hewan sepertimu... aku tidak memerlukan itu."
"He-HEWAN?!!" Adrian meledak. Matanya melotot, tangannya mencengkeram hulu pedang hingga bergetar.
Haha, dia mudah sekali terprovokasi, batin Leon sambil tersenyum tipis. Ia tahu betul, musuh yang sudah kehilangan akal sehat karena amarah akan lebih mudah dibaca gerakannya.
Di tribun, Julian menoleh ke arah ayahnya. "Ayah, sampah itu benar-benar sudah gila. Biar aku yang menyeretnya keluar—"
"Biarkan dia," potong Darius singkat. Duke Anhart itu menopang dagunya, matanya yang tajam mengunci sosok Leon. "Bertarung ya bertarung. Apapun yang terjadi, itu terserah kepadanya. Jika dia terlihat sepercaya diri itu, mungkin dia memang memiliki sesuatu."
Julian tertegun. "Tapi Ayah—"
Ini pertama kalinya Darius melihat putra bungsunya dipenuhi ambisi seperti itu. Tidak ada lagi sorot mata sayu seorang pemabuk.
Yang ada di sana hanyalah tatapan tajam seorang pemangsa. Darius ingin melihat kejutan apa yang akan diperlihatkan Leon, atau apakah anak ini hanya ingin bermain-main seperti biasanya.
"Kalian berdua, bersiap di posisi!" seru instruktur pelatih dengan suara lantang, meski matanya tak bisa menyembunyikan rasa sangsi saat menatap Leon.
Adrian melangkah maju ke tengah arena dengan dagu terangkat tinggi. Ia memutar-mutar pedangnya, lalu menyarungkan sebelah tangannya ke belakang punggung dengan angkuh.
"Bertarung denganmu, satu tangan saja sudah lebih dari cukup," ucap Adrian merendahkan, bibirnya melengkung menghina.
Leon tidak membalas. Ia hanya menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang membuat bulu kuduk instruktur di dekatnya meremang.
"Mulai!"
Phantom Step! desis Leon dalam hati.
WUSH!
Dalam sekejap mata, sosok Leon menghilang dari pandangan orang awam. Ia bergerak secepat kilat, membelah udara arena yang panas.
Bagi Adrian, dunianya mendadak terasa melambat. Bukan karena waktu berhenti, tapi karena kecepatan Leon sudah berada di luar nalar logikanya. Belum sempat Adrian menarik tangan dari belakang punggungnya, Leon sudah berada tepat di depan wajahnya.
"Jangan lengah," bisik Leon dingin.
Tanpa memberi ruang napas, Ia memutar tubuhnya, lalu melayangkan tendangan memutar yang keras ke ulu hati Adrian.
DUAK!
"Ugh—!"
Tubuh Adrian terangkat dari lantai arena. Ia terdorong hebat dan terjungkal, berguling beberapa kali di atas tanah batu sebelum akhirnya terhenti dalam posisi mengenaskan.
Seketika, seluruh arena latihan seperti kehilangan suara.
Darius yang tadinya duduk tenang, kini sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya yang tajam melebar, fokus sepenuhnya pada Leon.
Di sampingnya, sang istri–Luna von anhart menutup mulut dengan tangan gemetar. Wajahnya yang semula anggun kini pucat pasi, matanya melotot tak percaya melihat putra kesayangannya digulingkan seperti karung beras.
Julian, yang selalu bersikap tenang, mencengkeram lengan kursi tribun hingga kayu mahoni itu retak. "Apa... apa yang baru saja terjadi?" gumamnya dengan suara parau. Kecepatan itu bukan sesuatu yang bisa dimiliki oleh seorang Rank F yang sakit-sakitan.
Dante, yang berada di pinggir arena, mematung dengan mulut terbuka lebar. Pedang di tangannya hampir saja terjatuh. Ia tahu betul kekuatan Adrian, dan melihat Adrian terjungkal hanya dalam satu gerakan membuat nyalinya menciut seketika.
Di tengah keheningan itu, Leon berdiri tegak dengan napas yang masih stabil. Ia menatap Adrian yang sedang berusaha bangkit sambil memegangi perutnya.
"Satu tangan, katamu?" Leon memiringkan kepalanya, menatap kakaknya dengan tatapan menghina. "Cepatlah bangun. ini belum berakhir kan?"
Adrian terbatuk, wajahnya memerah padam karena malu dan marah. Ia berusaha berdiri, meski tangannya gemetar menahan nyeri di perutnya.
"Brengsek...!" desis Adrian. Ia mencengkeram gagang pedangnya hingga buku jarinya memutih.
Seketika, aura hitam dan putih yang tebal meledak dari tubuhnya. Energi itu mengalir deras, menciptakan tekanan udara yang begitu berat hingga debu di sekitar arena beterbangan. Leon bisa merasakan napasnya sedikit sesak; tekanan aura Rank B memang bukan main-main.
Dante yang melihat itu menyeringai lebar. "Habislah dia. Kakak mulai serius," gumamnya puas.
"Kau yang meminta ini, bajingan!" teriak Adrian.