NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Tawa

Mobil itu membelah kegelapan malam dengan kecepatan yang tidak wajar. Maria terus melirik spion tengah, memastikan bayangan-bayangan hitam di halaman rumah Mbah Minto tidak benar-benar mengejar mereka.

Di sampingnya, Lauren tertidur dengan napas yang berat, jemari kecilnya masih mencengkeram kalung pemberian pria tua itu. Ketakutan Maria malam itu menjadi pondasi bagi setahun penuh kehati-hatian yang menyesakkan.

Satu tahun berlalu dalam sunyi yang dipaksakan. Maria belajar untuk tidak lagi bertanya

"kamu lihat apa?" dan Lauren belajar untuk berhenti menunjuk ke sudut ruangan. Mereka hidup dalam kepura-puraan yang rapuh, sebuah kesepakatan tak tertulis untuk mengubur kenyataan bahwa dunia Lauren tidak pernah benar-benar sepi.

Pagi ini, matahari bersinar cerah di atas gerbang Sekolah Dasar Tunas Bangsa. Bau semir sepatu dan kain seragam baru yang kaku memenuhi udara. Maria berlutut di depan Lauren, merapikan kerah baju merah-putih putrinya yang nampak terlalu besar untuk tubuh kecil itu.

"Ingat pesan Mama, Sayang?" bisik Maria, menangkup wajah Lauren.

Lauren mengangguk pelan. Matanya yang bulat tampak waspada, mengawasi kerumunan anak-anak dan orang tua yang memadati lapangan sekolah.

"Lihat ke depan. Jangan bicara sama siapa pun yang tidak pakai seragam."

"Dan kalau ada yang bicara tapi orang lain tidak dengar?"

"Lauren diam saja. Pura-pura tidak dengar," jawab Lauren datar.

Maria mengecup dahi putrinya, mencoba menyalurkan keberanian yang sebenarnya ia sendiri tidak miliki. Ia melepaskan Lauren masuk ke dalam barisan. Dari kejauhan, ia melihat Lauren berusaha keras untuk tersenyum, menyapa teman sebangkunya, dan berperan sebagai anak normal. Bagi Maria, itu adalah pemandangan yang paling menyayat hati; melihat anaknya berjuang menyangkal jati dirinya sendiri demi sebuah penerimaan.

Di dalam kelas 1-A, suasana sangat riuh. Suara tawa, gesekan kursi, dan tangisan anak yang belum mau ditinggal ibunya menciptakan frekuensi yang menyakitkan di telinga Lauren. Ia merasa seperti berada di dalam ruangan dengan seratus radio yang menyala bersamaan. Ia memejamkan mata, memegang erat kalung kayu di bawah seragamnya.

Abaikan saja, Lauren. Abaikan.

"Hai, namaku Siska," seorang anak perempuan berambut kuncir kuda menyapa Lauren. Siska tersenyum lebar, memamerkan giginya yang ompong di bagian depan.

Lauren memaksakan senyum.

"Aku Lauren."

"Tasmu bagus. Ada gambar kelincinya," kata Siska sambil duduk di kursi sebelah Lauren.

Selama beberapa jam pertama, semuanya berjalan lancar. Lauren berhasil mengikuti pelajaran menulis dan berhitung. Ia tidak bereaksi saat melihat sesosok bayangan abu-abu melintas di papan tulis, atau saat mendengar suara ketukan dari bawah mejanya. Ia merasa menang. Ia merasa akhirnya bisa menjadi seperti anak-anak lainnya.

Namun, saat istirahat tiba, pertahanan itu mulai retak. Siska tampak murung di sudut kelas. Ia menggeledah tasnya berkali-kali dengan wajah yang hampir menangis. Beberapa anak lain berkumpul di sekelilingnya.

"Kenapa, Sis?" tanya seorang anak laki-laki.

"Kalung emas pemberian nenekku hilang," isak Siska.

"Tadi aku taruh di saku tas, tapi sekarang nggak ada. Nanti Mama marah sekali."

Lauren berdiri dari kursinya, niat awalnya hanya ingin menghibur. Namun, saat ia mendekati Siska, sebuah penglihatan menghantamnya dengan keras. Pandangan Lauren mendadak kabur, digantikan oleh sebuah kilasan kejadian yang sangat jernih. Ia melihat sebuah tangan dewasa merogoh tas Siska saat jam olahraga tadi. Tangan itu memiliki tato berbentuk bintang di pergelangan tangannya.

"Siska, jangan menangis," kata Lauren tanpa sadar. Suaranya terdengar jauh lebih dewasa, membuat anak-anak lain menoleh.

"Kamu tahu kalungnya di mana?" tanya Siska penuh harap.

Lauren menatap mata Siska. Di belakang Siska, ia melihat energi gelap yang melingkar, sisa-sisa kesedihan dan pengkhianatan.

"Kalungnya tidak hilang. Tadi diambil sama Kakak yang antar kamu sekolah. Yang pakai motor hitam."

Siska tertegun. Isakannya berhenti seketika.

"Maksudmu Kak Dani? Itu sopir baruku."

Lauren mengangguk kecil, masih dalam pengaruh penglihatannya.

"Dia taruh kalungnya di dalam dompet cokelat di bawah jok motor. Dia ambil karena dia butuh uang untuk membayar hutang ibunya yang sakit."

Keheningan yang mencekam jatuh di ruang kelas itu. Teman-teman sekelas Lauren saling pandang. Informasi itu terlalu spesifik, terlalu aneh untuk keluar dari mulut seorang anak berusia tujuh tahun yang baru dikenal beberapa jam.

"Kok kamu tahu?" tanya anak laki-laki tadi dengan nada curiga.

"Kamu kan dari tadi di dalam kelas sama kita."

Lauren baru menyadari kesalahannya saat melihat ekspresi wajah Siska. Bukan rasa terima kasih yang terpancar, melainkan ketakutan yang murni. Siska mundur selangkah, menjauh dari Lauren seolah-olah Lauren adalah sesuatu yang berbahaya.

"Kamu... kamu tukang sihir ya?" bisik Siska. Suaranya bergetar.

"Bukan! Aku cuma melihat..." Lauren mencoba menjelaskan, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan.

"Kamu aneh, Lauren! Kamu tahu rahasia orang tanpa ditanya!" teriak anak lain.

"Mama bilang jangan dekat-dekat sama orang yang suka bicara sendiri!"

Dalam sekejap, kerumunan anak-anak itu bubar. Mereka berlari menjauh dari meja Lauren seolah-olah ada garis pembatas yang tak terlihat di sana. Lauren berdiri mematung di tengah kelas. Ia bisa merasakan tatapan-tatapan sinis dari sudut ruangan. Bisikan-bisikan mulai terdengar, bukan dari makhluk halus, melainkan dari teman-teman sebayanya.

"Si aneh."

"Anak gila."

"Jangan ditemani, nanti ketularan."

Lauren kembali ke kursinya dengan tangan gemetar. Pelajaran selanjutnya terasa seperti siksaan. Tidak ada lagi yang mau meminjamkan krayon padanya. Saat jam pulang tiba, Lauren adalah orang pertama yang berlari keluar kelas.

Ia melihat mobil Maria sudah menunggu di depan gerbang. Lauren tidak menunggu ibunya turun. Ia langsung membuka pintu mobil dan masuk ke dalam, membanting pintu dengan keras.

"Lauren? Ada apa, Nak? Bagaimana hari pertamamu?" tanya Maria cemas melihat wajah putrinya yang merah padam.

Lauren tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan mata yang berkaca-kaca. Sepanjang perjalanan pulang, ia bungkam. Maria mencoba mengajaknya bicara, menceritakan tentang makan siang yang sudah disiapkan, namun Lauren tetap membisu.

Sesampainya di rumah, Lauren langsung berlari ke kamarnya. Ia melepas tas ranselnya dan melemparkannya ke sudut ruangan. Seragam putihnya yang tadi pagi tampak sangat rapi kini terlihat kusut, sewarna dengan perasaannya.

Maria masuk ke kamar, duduk di tepi tempat tidur, dan mencoba menarik Lauren ke dalam pelukannya. Saat itulah, tangis Lauren pecah. Isak tangisnya terdengar begitu pilu, jenis tangisan yang seharusnya tidak keluar dari dada seorang anak kecil.

"Lauren... bicara sama Mama. Apa yang terjadi?" bisik Maria lembut sambil mengelus rambut putrinya.

Lauren meronta pelan dalam pelukan Maria, memukul-mukul kasur dengan kepalan tangan kecilnya.

"Aku benci ini, Ma! Aku benci mataku! Aku benci telingaku!"

"Sayang, tenanglah..."

"Kenapa Lauren tidak bisa jadi seperti Siska? Kenapa Lauren harus tahu hal-hal yang tidak ingin Lauren tahu?" teriak Lauren di sela isakannya. Ia mendongak, menatap Maria dengan wajah yang basah oleh air mata.

"Mereka bilang aku aneh. Mereka takut padaku, Ma!"

Maria memeluk Lauren lebih erat, membiarkan seragamnya basah oleh air mata putrinya. Hati Maria hancur berkeping-keping. Ia menyadari bahwa sekolah, yang ia harapkan menjadi tempat sosialisasi bagi Lauren, justru menjadi penjara baru yang lebih kejam.

"Aku tidak mau sekolah lagi," bisik Lauren, suaranya kini serak dan lemah.

"Aku mau tutup mata saja selamanya. Aku benci jadi Lauren."

Di sudut kamar yang remang, bayangan hitam yang pernah muncul di lemari pakaian setahun lalu tampak bergetar. Titik merah kecil mulai menyala di kegelapan, seolah menikmati setiap tetes keputusasaan yang keluar dari jiwa Lauren. Kegelapan itu tahu, rasa benci pada diri sendiri adalah celah terbaik untuk masuk dan berkuasa.

Maria tidak melihat mata merah itu. Ia hanya merasakan hawa dingin yang tiba-tiba menusuk tulang, sementara putrinya terus menangis dalam dekapannya, merutuki takdir yang bahkan belum sepenuhnya ia mengerti.

1
`|aley|`
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!