NovelToon NovelToon
Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Cinta Di Balik Kontrak Dosa Dan Pahala

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Kontras Takdir
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.



Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.



Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.



Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.



Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.






Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.




Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Tidak Penting...Siapa Ayah Biologisnya

"Ravendra datang?"

Shafiya yang baru meletakkan gelas minumnya, tak segera menyadari kalau itu pertanyaan untuknya. Ia baru paham, saat tanpa sengaja mendongak, dan mendapati Sagara menatapnya.

"Iya." Menjawab singkat.

Agam menurunkan cangkirnya.

“Ravendra? Ke sini?” Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.

Raka juga menoleh sekarang.

Sagara tidak memandang mereka.

Tatapannya tetap pada Shafiya.

"Berapa lama dia di sini?”

“Tidak lama.”

Shafiya berpikir sebentar.

“Mungkin sekitar dua puluh menit.”

Agam menghela napas pendek.

“Itu bukan kunjungan biasa.”

Tidak ada yang membantahnya. Semua tahu itu benar.

Sagara kembali bertanya.

“Apa yang dia bicarakan denganmu, Elara?"

Pertanyaan itu keluar datar.

Namun semua orang di meja tahu--itu bukan sekadar basa-basi.

Shafiya tidak langsung menjawab.

Ia justru menatap Sagara sejenak.

"Dia tahu tentang anak ini. Bahwa dia bukan--" Ia membiarkan kalimatnya menggantung begitu saja.

"Dia memang tau," kata Sagara datar.

Agam dan Raka saling pandang.

"Anda jawab apa padanya?" Raka bertanya ke Shafiya. Ia penasaran, karena saat menyampaikan itu raut wajah cantik tersebut tidak menunjukkan kekhawatiran.

"Sesuai kaidahnya." Jawaban Shafiya tidak menjelaskan apapun.

"Maksudnya?" Agam dan Raka bertanya hampir bersamaan. Ingin tahu. Tidak dengan Sagara. Ia sudah tahu semuanya dari Ratri. Tapi ia juga menunggu, apakah Shafiya akan menjelaskannya sendiri.

Shafiya menatap mereka dengan tenang.

"Saya jawab sesuai kaidah," katanya pelan. "Setiap yang ada pada istri, adalah milik suami."

Agam tersenyum. Raka juga. Diam-diam keduanya memuji kecerdikan Shafiya.

Perempuan itu memilih jalan tengah-- Tidak berbohong, namun juga tidak membuka seluruh kebenaran.

Sagara tidak langsung mengatakan apa pun. Tatapannya sempat berhenti pada Shafiya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Lalu ia mengambil kembali cangkir kopinya.

“Saya mengerti.”

Hanya itu.

Namun nada suaranya cukup untuk membuat Agam mengangkat alis tipis.

Bagi orang lain, itu mungkin terdengar seperti jawaban biasa.

Tapi bagi mereka yang mengenal Sagara cukup lama, kalimat itu berarti satu hal yang jelas.

Sagara memuji cara Shafiya menghadapi Ravendra.

“Baru kali ini saya melihat seseorang bisa menjawab Ravendra… tanpa benar-benar menjawabnya," kata Agam sambil tersenyum.

Shafiya tidak langsung menanggapi.

“Dan kelihatannya,” lanjut Agam santai, “Sagara sangat puas dengan jawaban itu.”

Raka menahan tawa pendek.

Sagara hanya menatap Agam sebentar.

“Habiskan kopimu.”

Nada suaranya datar.

Agam tertawa pelan.

Sesaat suasana pecah dengan canda tawa hangat itu. Sesaat saja. Sebelum suara Shafiya jatuh pelan.

"Ancaman Ravendra, tidak akan berhenti di sini kan."

Bukan pertanyaan. Lebih seperti pernyataan yang diucapkan dengan tenang.

Agam dan Raka langsung terdiam.

Sagara menatap perempuan itu. Datar, sedatar kalimat yang baru saja ia dengar.

“Kamu takut?”

Shafiya menunduk sebentar. Tatapannya jatuh pada perutnya sendiri.

“Saya takut…” ia berhenti sejenak, “…jika kebohongan ini tidak bisa berhenti.”

Ketika ia kembali mendongak, suaranya terdengar lebih lirih.

“Tentang anak ini.”

Ruangan itu kembali hening.

Sagara tidak segera menjawab.

Namun ketika akhirnya ia bicara, nadanya tetap sama tenangnya.

“Elara, saya tidak suka mengulang instruksi.”

Tatapannya lurus, terarah.

“Sejak awal saya sudah mengatakan satu hal.” Ia berhenti sebentar.

“Fokus kamu hanya satu.”

Sagara menatapnya tanpa berpaling.

“Tetap tenang… dan jalankan peranmu.”

Nada suaranya tidak meninggi.

Namun kalimat berikutnya terasa jauh lebih berat.

“Karena saat ini, kamu adalah alasan saya masih berdiri di posisi saya.”

Shafiya mengangguk. "Justru itu." Ada tekanan emosi halus dalam suaranya kali ini. "Saya merasa sudah mengambil tempat yang sebenarnya bukan milik saya."

Shafiya tidak dibesarkan dalam aturan sistem untung dan rugi. Tapi dalam tatanan nilai--baik dan buruk. Dan kebohongan adalah bagian yang tak sejalan dengan nilai kebaikan.

Wajar, ia merasa tertekan.

"Anak ini." Shafiya juga menatap Sagara tanpa berpaling. "Kamu mengakuinya di depan keluarga besar. Tapi bahkan kamu tidak tahu...anak ini sebenarnya milik siapa.”

Hening jatuh di ruangan. Dalam.

Agam dan Raka sama-sama menahan diri untuk tidak ikut bicara.

Sagara juga tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap pada Shafiya. Tenang. Tidak terganggu oleh kalimat yang baru saja diucapkan perempuan itu.

“Tidak penting.”

Jawabannya keluar begitu saja.

Datar. Tegas.

Shafiya sedikit mengernyit.

“Tidak penting?”

Sagara menyandarkan punggungnya ke kursi. “Yang penting,” katanya pelan, “anak itu ada.”

Ia berhenti sebentar.

“Dan saya sudah memutuskan untuk mengakuinya.”

Tidak ada emosi di wajahnya. Tidak ada keraguan.

“Sejak saat itu,” lanjutnya, “siapa ayah biologisnya… tidak lagi relevan.”

Ruangan itu kembali sunyi.

Agam menatap Sagara sejenak, lalu menghela napas pelan.

Sementara Raka hanya mengamati dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Sagara kembali menatap Shafiya.

“Kamu hanya perlu memastikan satu hal.”

Nada suaranya tetap tenang.

“Anak itu lahir dengan selamat.”

Shafiya diam.

Beberapa saat ia hanya diam, membiarkan perasaannya yang bercampur aduk mereda.

Di satu sisi, ia merasa dihargai sebegitu tinggi--ada seseorang yang bersedia menerima aibnya bahkan tanpa bertanya.

Namun di sisi lain, ia juga sadar.

Sagara tidak akan melakukan itu jika ia tidak berada di pihak yang diuntungkan.

“Kamu tidak mau bertanya?” Shafiya akhirnya bersuara lirih.

Sagara menatapnya tenang.

“Simpan saja untukmu,” katanya datar.

“Apa pun yang memang tidak ingin kamu bagi, Elara.”

Ia berhenti sebentar sebelum menambahkan,

“Saya tidak suka ikut campur urusan orang lain.”

“Saya bukan orang lain.”

Jawaban Shafiya keluar cepat.

“Meskipun akad nikah kita hanya kontrak,” lanjutnya lebih pelan.

Karena ucapan Shafiya itu, untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, Sagara tidak langsung memberi tanggapan.

Keheningan itu membuat Raka menegakkan punggungnya.

Ia menatap Shafiya dan Sagara bergantian.

“Sagara, menurutku Nona Shafiya benar.”

Sagara tidak menyela.

“Kamu perlu tahu tentang anak itu.”

Raka melanjutkan dengan suara tenang.

“Ini penting untuk ke depan. Ancaman Ravendra pasti tidak main-main. Jika kamu tahu kebenaran tentang anak itu, kita bisa mengatur semuanya lebih awal.”

“Betul.”

Agam ikut menimpali.

“Jangan sampai ketidaktahuanmu justru menjadi senjata Ravendra untuk menyerang.”

Ruangan kembali hening.

Semua menunggu jawaban Sagara.

Ia tidak langsung bicara.

Tatapannya sempat berpindah dari Agam… ke Raka… lalu berhenti pada Shafiya.

Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya bersuara.

“Jika dengan membuka itu… kamu tidak akan terluka, Elara…”

Nada suaranya tetap datar.

“…maka saya tidak keberatan.”

Shafiya sedikit tertegun.

Agam dan Raka juga ikut diam.

Sagara melanjutkan dengan tenang.

“Bagi saya, siapa ayah biologisnya tidak mengubah apa pun.”

Ia berhenti sebentar.

“Yang penting adalah apa yang terjadi setelah ini.”

Tatapannya tetap pada Shafiya.

“Jadi kalau kamu ingin mengatakan sesuatu… katakan.”

Tidak ada desakan dalam suaranya.

Namun satu hal terasa jelas.

Keputusan itu bukan dibuat karena Agam atau Raka.

Melainkan karena Shafiya.

1
Ayuwidia
Sagara meski terlihat datar dan dingin, tapi dia berpikiran bijak. Tidak menuntut Shafiya bercerita, karena tak ingin wanita bergelar istri itu terluka.
Ayuwidia
Jangan2, anak itu memang milik Sagara
Ayuwidia
Beruntung Sagara punya istri cerdas. Dan semoga keberuntungan itu nggak bersifat sebentar
Ayuwidia
Agam selalu punya cara untuk mengikis jarak antara Sagara & Shafiya
Ayuwidia
Nah, betul itu. Kedatangan Shafiya jg bisa jadi obat bagi Sagara. 🤭
Ayuwidia
Bagus, Sagara. Satu keputusan yang tepat untuk melindungi Shafiya
Deuis Lina
kaya nya malu untuk mengakui bahwa ada d dekat safiya rasa tak nyaman itu hilang,,,
Ayuwidia
Jangan2, Ravendra tau siapa ayah biologis janin yang dikandung Shafiya. 🤔 Menarik!!!
Ayuwidia
Bagus, Shafiya. Bikin dia bungkam, nggak bisa ngomong
Ayuwidia
Itu karena ulahmu sendiri, Ravendra
Ayuwidia
Kalau Sagara nggak di rumah, harusnya dia putar balek, bukan malah duduk manis. Pasti ada rencana jahat lagi yg terselubung
Deuis Lina
makanya jangan mengusik macan yg lagi tidur,,,
Nofi Kahza
sekegelap itu loh dunia para elit. melenyapkan nyawa itu segampang nyentil upil di jari. Bisa2 nyawa Shafiya pu. terancam.
Nofi Kahza
Proses inseminasinya pasti salah alamat..
Deuis Lina
Sagara d kelilingi sama keluarga yg haus akan kekuasaan tapi tak punya kemampuan dan safiya jadi korbannya tapi sangat d butuhkannya
Nofi Kahza
Sagara belum pernah jatuh cinta ya, kok senggak mau itu untuk menikah?
Nofi Kahza
aku masih curiga dg dokter zulaika🤧
Nofi Kahza
soalnya penyakitmu itu juga abu2 loh😆
Nofi Kahza
betullll
Nofi Kahza
gpp, sesekali Sagara itu harus ditegesin kalau jd pasien nggak nurutan😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!