NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi

Sistem Penakluk Para Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Playboy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Melihat itu, Zhang Yuze tertawa ringan. Ia melompat naik ke atas meja. Dengan hentakan kaki, tubuhnya berputar penuh di udara.

Tendangan berputar 360 derajat itu meluncur seperti badai.

“Bang! Bang! Bang!”

Beberapa tubuh terpental bersamaan, menghantam meja dan kursi hingga berantakan. Tongkat-tongkat terlempar ke udara. Jeritan beberapa siswi terdengar nyaring.

Adegan itu begitu cepat hingga tak seorang pun sempat bereaksi.

Tiba-tiba, angin berdesir tajam di telinga Zhang Yuze.

Ia menyadari—pemimpin yang tadi dipukulnya telah bangkit kembali. Dengan tongkat di tangan, ia menyapu dari samping dengan kecepatan dan sudut yang sulit dihindari.

Serangan itu tajam dan presisi.

Bukan orang sembarangan… batin Zhang Yuze. Ia memang anggota klub bela diri.

Tongkat itu hampir mengenai pelipisnya.

Namun, dengan penguasaan kemampuan Angin Cepat yang telah ia kuasai, segala gerakan para berandalan itu—yang di mata orang lain tampak cepat dan ganas—justru terlihat melambat di hadapan Zhang Yuze, seolah-olah adegan itu diputar dalam gerakan lambat.

Ia bahkan sempat menangkap perubahan arah pergelangan tangan lawannya, ketegangan otot di bahu, serta sudut ayunan tongkat yang hendak menghantam kepalanya.

Dengan langkah ringan, Zhang Yuze menggeser kakinya dan menyapu ke arah tongkat kayu itu.

“Bang!”

Tongkat terlepas dari genggaman si pemuda dan melayang beberapa meter sebelum jatuh berputar di lantai.

Tanpa memberi waktu untuk pulih, Zhang Yuze mengangkat tangan kanannya dan menebaskannya ke bawah dengan telapak tangan terbuka.

Gerakan itu sederhana—namun presisi dan penuh tenaga.

Tubuh pemuda tersebut langsung terhuyung dan jatuh keras ke lantai.

Seluruh rangkaian gerakan itu berlangsung begitu mulus, seperti awan yang mengalir mengikuti angin, tanpa jeda dan tanpa cela.

Kelas tiga itu terdiam.

Semua siswa menatap pemandangan di hadapan mereka dengan tatapan kosong, seakan-akan sedang menyaksikan adegan dalam film aksi. Banyak dari mereka sadar—hari ini akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Bahkan bayangan sosok pemuda yang berdiri tegak di tengah ruang kelas itu akan terpatri lama dalam ingatan mereka.

Banyak siswi yang sebelumnya memandang Zhang Yuze dengan sebelah mata—bahkan menyimpan prasangka terhadapnya—pada saat itu sepenuhnya mengubah penilaian mereka. Sorot mata mereka dipenuhi kilau yang berbeda. Kagum, terpesona, bahkan tersentuh.

Ini adalah zaman yang kekurangan pahlawan dan gairah.

Di hati para gadis muda yang dipenuhi imajinasi dan fantasi, selalu ada ruang kosong yang menanti seseorang untuk mengisinya—seseorang yang berdiri di saat genting, yang berani melawan ketidakadilan, yang tidak gentar meski sendirian.

Hari ini, bagi sebagian dari mereka, sosok itu bernama Zhang Yuze.

Zhang Yuze melangkah perlahan menuju pemimpin berandalan yang terkapar di lantai. Ia berjongkok, lalu dengan satu jari mengangkat dagu pemuda itu, memaksanya menatap lurus ke arahnya.

Sorot mata Zhang Yuze dingin dan tenang.

“Kembalilah dan sampaikan pada atasanmu,” ujarnya dengan suara rendah namun tegas, “memungut uang perlindungan mungkin sudah menjadi kebiasaan kalian. Tetapi jangan pernah datang ke kelas tiga lagi. Mengerti?”

Nada bicaranya tidak keras, namun mengandung tekanan yang tak terbantahkan.

Pemuda itu menggertakkan gigi, tetapi dalam tatapan Zhang Yuze, ia melihat sesuatu yang membuatnya tak berani membalas. Ia hanya mengangguk kaku.

“Bos! Kau luar biasa!” teriak Chen Jialong, sahabat terbaik Zhang Yuze, dengan wajah berseri-seri. “Kapan kau mengajariku satu jurus? Tadi gerakan kakimu itu indah sekali! Kau benar-benar idolaku! Rasanya seperti melihat Super Saiyan!”

Zhang Yuze tidak menanggapi antusiasme berlebihan itu. Ia hanya mengalihkan pandangannya kepada Liu Mengting yang berdiri tidak jauh darinya.

Tatapannya yang semula tajam perlahan melembut.

Ia tersenyum tipis.

“Mengting, biar aku mengantarmu pulang.”

Mereka berjalan berdampingan menuju gerbang sekolah. Langkah mereka tidak terlalu cepat, namun juga tidak lambat—seolah-olah keduanya sama-sama menikmati jarak pendek yang terasa panjang itu.

Pada akhirnya, Liu Mengting tetap tidak mengizinkan Zhang Yuze mengantarnya hingga ke rumah. Ia menolak dengan halus, namun tegas.

Meski demikian, Zhang Yuze sudah merasa sangat puas.

Setidaknya, Liu Mengting bersedia berjalan keluar gerbang sekolah bersamanya. Itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa ia telah menganggapnya sebagai seorang teman.

“Terima kasih banyak atas apa yang kau lakukan tadi,” ujar Liu Mengting pelan. Matanya menatap wajah Zhang Yuze dengan tulus. “Jika bukan karena kamu, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.”

Zhang Yuze menggeleng pelan. Wajahnya berubah serius.

“Bukankah kita teman?” katanya mantap. “Jika aku tidak membantumu, lalu siapa lagi? Jika suatu hari nanti ada yang berani menindasmu lagi, aku akan tetap berdiri di depanmu seperti tadi.”

Kalimat itu diucapkan tanpa keraguan.

Mendengar kata-kata penuh emosi itu, seberkas cahaya aneh melintas di mata Liu Mengting. Ia menatap Zhang Yuze dengan makna yang sulit ditebak.

Lalu ia tersenyum samar.

“Aku pulang dulu. Sampai jumpa sore nanti.”

Zhang Yuze berdiri di tempatnya, memandangi sosok Liu Mengting yang berjalan menjauh. Langkahnya anggun, rambutnya bergoyang lembut tertiup angin.

Ia menghela napas panjang.

“Aku ingin tahu… perasaan seperti apa yang ia miliki terhadapku sekarang,” gumamnya pelan. “Sayang sekali sistem penilaian Point Afeksi tidak lagi ditampilkan. Kalau tidak, aku bisa tahu sikapnya saat ini.”

Suara familiar terdengar di dalam benaknya.

“Liu Mengting mungkin sudah sedikit tertarik padamu,” ujar Roh Buku dengan nada santai. “Namun untuk mengatakan bahwa ia telah memiliki perasaan terhadapmu, rasanya masih terlalu dini.”

Mendengar itu, hati Zhang Yuze terasa sedikit muram.

Bukankah dalam novel-novel, ketika seorang pahlawan menyelamatkan seorang gadis cantik, sang gadis akan langsung terpesona dan jatuh hati?

Mengapa ketika terjadi padanya, ia bahkan belum mampu meninggalkan kesan mendalam di hati Liu Mengting?

“Hehe… seseorang yang bertindak membela kebenaran belum tentu pahlawan,” suara Roh Buku terkekeh pelan. “Bisa saja ia hanya dianggap… mesum yang sok gagah.”

Zhang Yuze: “……”

Sore itu, Zhang Yuze mengayuh sepeda tuanya yang sudah berderit-derit di jalan menuju rumah. Jalanan tidak terlalu ramai, dan pikirannya masih melayang pada kejadian siang tadi.

Namun ia tidak menyadari bahwa sejak beberapa waktu lalu, ada seseorang yang mengamatinya dari kejauhan.

Di dalam mobil patroli 110 yang berhenti tidak jauh dari jalan itu, dua orang polisi tengah memperhatikan sosoknya.

“Kapten, maksud Anda anak ini?” tanya seorang polisi sambil mengerutkan dahi. “Melihat usianya yang masih muda, rasanya mustahil dia pelaku insiden kriminal serius di Bus Nomor 9 itu, bukan?”

Kapten yang duduk di kursi depan menatap lurus ke arah Zhang Yuze. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam.

“Jangan menilai seseorang dari penampilannya,” jawabnya datar. “Di zaman sekarang, kita sudah melihat orang yang lebih muda darinya melakukan kejahatan yang jauh lebih mengerikan.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Aku sudah melihat fotonya. Meskipun gambar dari kamera pengawas itu buram, garis wajahnya sangat mirip. Jadi selama ini dia menggunakan sepeda… tidak heran kita tidak pernah menemukannya di bus beberapa hari terakhir.”

Polisi di belakang mengangguk perlahan, wajahnya menunjukkan ekspresi berpikir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!