Xavier benci dua hal di dunia ini, kekacauan dan bulu kucing. Sebagai seorang mafia yang disegani hidupnya harus selalu steril dan terkendali.
Namun, semua itu hancur saat seekor kucing liar yang ia temui tiba-tiba berubah menjadi gadis cantik nan polos bernama Luna.
Luna tidak tahu cara menjadi manusia. Dia berisik, manja, dan hobi mengacaukan ruang kerja Xavier yang rapi.
Xavier ingin mengusirnya, tapi setiap kali melihat mata bulat Luna, hatinya goyah.
Bagaimana bisa sang pemangsa justru tak berdaya di tangan mahluk manis seperti Luna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Hutan ini seolah memiliki dendam pribadi pada Xavier. Ranting pohon merobek kemejanya yang seharga mobil, dan lumpur kini menodai sepatu pantofel mahalnya. Darah merembes dari lengan kanannya, tapi egonya jauh lebih terluka.
"Sial! Kenapa aku harus terjebak di hutan gelap tanpa ujung ini!" gerutunya sembari menggigit bibir bawah, menahan perih yang berdenyut seirama dengan detak jantungnya.
Xavier, pria berusia 25 tahun yang biasanya hanya perlu menjentikkan jari untuk melenyapkan nyawa seseorang, kini tampak seperti gelandangan elit yang tersesat.
Karena hobinya yang sedikit terlalu antusias dalam urusan tembak-menembak, orang tuanya memutuskan untuk mengasingkannya ke rumah tua di tengah hutan. Itu supaya Xavier belajar menghargai nyawa seseorang.
"Menghargai nyawa matamu, pak tua. Aku malah hampir mati dimakan nyamuk di sini," gumamnya sinis.
Langkahnya goyah. Pandangannya mulai buram, seperti layar TV rusak yang penuh semut. Ia memutuskan untuk bersandar pada pohon besar yang permukaannya kasar dan sangat tidak nyaman bagi punggung seorang bos mafia.
"Aku benar-benar tidak kuat lagi," bisiknya.
Tepat saat Xavier merasa ajalnya sudah dekat, sebuah suara memecah keheningan.
"Meong... meong..."
Xavier membuka satu matanya. Di hadapannya, seekor kucing dengan bulu putih bersih dan bola mata berwarna sapphire yang indah sedang menatapnya. Kucing itu mulai berputar-putar di kakinya, menggesekkan kepalanya dengan manja.
"Hush, hush!" usir Xavier dengan suara serak yang dipaksakan jadi galak. "Pergi sana, mahluk berbulu menjijikkan!"
Xavier sangat membenci kucing. Baginya, kucing adalah mahluk manipulatif yang kerjanya hanya tidur dan menuntut makanan. Berbeda dengan kakaknya yang hobi mengoleksi kucing. Sementara Xavier lebih suka mengoleksi... yah, peluru.
Bukannya pergi, kucing itu malah duduk dengan anggun di hadapannya, ekornya bergoyang pelan. Matanya menatap Xavier dengan tatapan yang menggemaskan.
"Kubilang pergi! Kenapa kau malah menatapku seperti itu, hah?! Kau mau mengejekku?" makinya tak masuk akal. Efek kehilangan darah mulai membuat otaknya sedikit bergeser.
"Meong... meong!" Kucing itu mendekat lagi, kali ini lebih berani.
"Jangan mendekat! Pergi atau aku habisi kau sekarang!"
Dengan tangan gemetar, Xavier menarik glock dari balik pinggangnya. Ia menarik pelatuknya, mengarahkan moncong senjata hitam itu tepat ke dahi kecil si kucing.
Adegan ini seharusnya terlihat mengerikan, namun kenyataannya, Xavier terlihat seperti pria gila yang sedang berkelahi dengan boneka kapas.
Kucing itu tetap tenang. Alih-alih lari ketakutan melihat senjata api, ia justru melangkah maju dan menjilati tangan Xavier yang memegang pistol.
"Jangan sentuh aku! Air liurmu mengandung kuman, tahu!" teriak Xavier panik. Wajahnya mulai panas dingin. Antara alergi, infeksi luka, atau sekadar trauma pada keimutan, Xavier akhirnya menyerah pada gravitasi.
Bruk!
Tubuh kekar itu ambruk ke tanah. Dunianya menjadi gelap total.
"Meong? Meong!"
Tiba-tiba, udara di sekitar tempat itu berputar membentuk lingkaran. Asap putih tipis menyelimuti area tersebut.
Bak adegan sulap kelas atas, kucing putih mungil itu lenyap, berganti dengan seorang gadis cantik yang sayangnya, sama sekali tidak mengenakan benang sehelai pun.
Gadis itu, yang memiliki rambut putih panjang dan kulit seputih porselen, berjongkok di samping Xavier.
"Hei, Manusia. Bangun!" ucapnya sambil menoel-noel pipi Xavier dengan jari telunjuknya. "Jangan tidur di sini!"
Xavier sama sekali tidak merespons. Gadis itu pun mengerucutkan bibirnya.
"Payah sekali. Padahal tadi galak sekali pakai benda hitam berisik itu."
Ia memperhatikan luka di lengan Xavier. Tanpa rasa jijik, ia menyentuh darah yang mengalir.
"Hmm, baunya enak. Eh, tidak boleh! Fokus, Luna! Fokus!" ia menepuk pipinya sendiri. "Bangun! Kau berat sekali, bagaimana cara membawamu ke pondok Luna?"
Karena tidak ada jawaban, Luna memutuskan untuk menarik kerah kemeja Xavier. Dengan kekuatan yang tidak sebanding dengan tubuh mungilnya, ia mulai menyeret pria setinggi 185 cm itu di atas tanah.
"Aduh, kepalanya kena akar! Maaf ya, Manusia," ucapnya tanpa nada menyesal sama sekali. "Harusnya kau diet. Kenapa badanmu isinya otot semua? Susah diseret!"
Di tengah pingsannya, Xavier sempat merintih kecil saat punggungnya menabrak batu, namun Luna terus berjalan dengan riang, senyum tipis terukir di wajah cantiknya yang polos.
"Ayo kita pulang. Luna sudah lapar," gumamnya.
****
Selamat datang di karya aku selanjutnya. Semoga suka juga menghibur kalian.
Tinggalkan Like, Komen dan Jangan lupa masukan Favorit ya, Kak!
Luna itu bukan cacing 😭 tenang Vier nanti bisa dilanjutkan lagi , kamu bisa kasih pemahaman ke Luna😂
uhhh cakep banget visual nya 👍👍👍👍 thanks Thor
Vier..... pelan2 tho yooo jangan asal nyosor,, ntar Luna trauma lagi 😂