Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Diizinkan Pergi
Lexus mengangkat pandangannya. Ia menatap Anastasia dengan kelembutan yang tak pernah pudar oleh waktu, lalu mengalihkan mata pada ketiga anak mereka.Suaranya terdengar tenang, namun membawa aura kepemimpinan.
“Imperial Agartha sedang berada di ambang kehancuran. Kaisar Alexius, paman kalian, meminta kita untuk kembali ke istana.”
Anastasia menegang, firasatnya telah terjawab. Ketenangan di Hutan Moonveil tidak pernah ditakdirkan abadi untuk darah Agartha. Meski ia dan anak-anaknya telah menemukan rumah di antara pepohonan dan sungai, Lexus tak mungkin menarik janji yang pernah ia ucapkan di masa lalu.
Mereka akan kembali ketika Agartha membutuhkan mereka.
Lexus memahami pikiran istrinya. Ia meraih tangan Anastasia dan menggenggamnya erat, sebuah isyarat sederhana namun sarat makna: kita akan menghadapinya bersama.
“Jadi kita akan kembali ke istana?” Suara Pangeran Leo terdengar lebih dulu.
Wajahnya berseri, imajinasinya telah melayang jauh. Dalam benaknya, istana adalah tempat kemegahan dimana banyak pengawal dan pelayan yang sigap, juga hidangan lezat yang tak pernah habis. Ia membayangkan hari-hari tanpa harus bekerja keras menanam tanaman obat di ladang, bersantai, dan melakukan apa pun yang ia mau.
Pangeran Lian mengangguk dengan sikap tenang, persis seperti ayahnya.
“Keputusan Ayahanda adalah yang terbaik,” katanya mantap, sebagaimana putra sulung yang memahami makna tanggung jawab sebelum hak.
Berbeda dengan kedua saudaranya, Putri Lily menunduk. Di wajahnya tak terlukis kegembiraan, hanya keheningan yang dalam seakan telah menerima kabar buruk.
“Putriku, Liliane,” panggil Lexus lembut.
Lily mengangkat kepala, menatap ayahnya dengan mata jernih yang indah.
“Melindungi kerajaan adalah kewajiban. Menolak kembali ke istana berarti mengkhianati tanah yang melahirkan kita.” ujar Lexus. Suaranya tegas, memancarkan kebijaksanaan.
Anastasia mengangguk pelan. “Ayahandamu benar, Putriku.”
Lily menarik napas perlahan.
“Aku mengerti, Ayahanda. Ibunda.”
Keheningan menyelimuti mereka sejenak, memaknai penerimaan atas takdir yang tak dapat dihindari.
“Kemasi barang-barang kalian,” perintah Lexus. “Kita akan berangkat sebelum matahari terbit esok pagi.”
Kedua pangeran dan sang putri mengangguk bersamaan.
"Baik, Ayahanda."
Putri Lily berdiri di balik jendela kamarnya. Cahaya bulan jatuh menyinari wajahnya. Barang-barangnya masih tergeletak di atas lantai, menunggu untuk dikemas. Namun pandangannya tertambat jauh, pada Hutan Moonveil yang bernafas bersama malam.
“Bagaimana aku bisa meninggalkan kalian?” bisiknya lirih, seakan hutan dapat mendengar kegundahan hatinya.
Jawaban datang bukan dalam kata, melainkan dalam auman rendah yang bergema dari halaman. Suara itu menyentak ingatannya. Lily berbalik, berlari menuruni tangga menuju dapur. Ia meraih daging rusa yang tergantung, masih segar, lalu melangkah keluar rumah dengan langkah tergesa menuju kandang.
“Maafkan aku, Eri,” katanya penuh penyesalan saat membuka palang kayu. “Aku hampir melupakanmu.”
Ia masuk ke dalam kandang, menyuapkan daging itu dengan tangan sendiri. Eri menerimanya perlahan, namun matanya yang setia tak pernah lepas dari wajah tuannya.
Lily menyuap daging terakhir, lalu bersandar pada surai tebal sang singa, memeluknya erat.
Eri merasakan kesedihan itu. Tubuhnya menegang, nafasnya berat, seolah memahami bahwa malam ini adalah malam perpisahan.
“Besok… kita akan berpisah.” ucap Lily pelan. Ia berhenti sejenak, menelan perasaannya. “Namun jangan khawatir. Aku akan menjemputmu jika situasi di sana memungkinkan.”
Erivana mengaum panjang, raungan tangisan yang tertahan. Suara itu menggema di antara pepohonan, menyatu dengan malam, seakan hutan ikut meratap. Lily memejamkan mata, memeluk sang singa lebih erat. Perpisahan ini bukan kehendak hati, melainkan harga dari darah kerajaan yang mengalir di nadi seorang putri hutan.
Fajar menyingsing lebih cepat dari biasanya, seolah waktu enggan menunggu. Kabut tipis masih menggantung di halaman ketika kuda-kuda telah siap di depan rumah. Ser Wilhelm berdiri di sana sejak dini hari, memastikan pelana terpasang dengan benar, memberi minum dan apel pada setiap kuda sebelum perjalanan panjang dimulai.
Lexus keluar membawa beberapa peti kecil. Isinya hanya barang-barang yang benar-benar diperlukan seperti obat-obatan langka, dan beberapa perlengkapan pribadi. Tak banyak namun jelas bernilai tinggi.
“Istriku,” ucapnya lembut, “naiklah lebih dahulu.”
Anastasia mengangguk tanpa ragu. Ia menaiki kuda dengan gerakan tenang dan mantap, seperti perempuan yang telah lama mengenal perjalanan dan medan. Lexus menyusul segera setelahnya. Pria itu duduk di belakang sang istri, menjaga jarak agar tak ada ruang yang memisahkan mereka.
“Posisi Putri Lily di tengah,” perintah Lexus kemudian. “Pangeran Lian dan Pangeran Leo, jaga adik kalian dari belakang.”
“Baik, Ayahanda,” jawab kedua pangeran itu serempak. Suaranya tegas, menerima tanggung jawab tanpa pertanyaan.
Mereka menaiki kuda masing-masing dengan gerakan terlatih. Lily duduk tegak di antara kedua saudaranya, jemarinya menggenggam kendali, matanya sempat menoleh ke arah hutan yang membesarkannya.
“Jagalah Moonveil untukku, Kakek.” ucap Lily pada Wilhelm, suaranya jernih namun sarat kesedihan.
Wilhelm mengangguk dalam.
“Sebagaimana Putri menjaga hutan ini, hamba pun akan menjaganya dengan cara yang sama.”
“Terima kasih, Kakek.” balas Lily lirih.
Anastasia menoleh.
“Kami pergi, Paman.”
“Semoga keselamatan dari Dewa selalu menyertai langkah Tuanku semua,” ucap Wilhelm penuh hormat.
Mereka saling menunduk, sebuah salam perpisahan yang tak membutuhkan kata tambahan. Kuda-kuda bergerak perlahan, lalu menjauh, meninggalkan halaman rumah di Hutan Moonveil.
Wilhelm berdiri mematung, menatap punggung-punggung yang kian mengecil hingga tertelan pepohonan. Ia mendengarkan bunyi tapak kuda terakhir, satu per satu, hingga akhirnya lenyap. Kesunyian kembali menyelimuti Moonveil, kesunyian yang membawa kehilangan.
Gerbang Moonveil terbentang di hadapan mereka. Tidak terbuat dari batu atau besi, melainkan lengkung alami dari akar yang saling bertaut.
Kuda Lexus dan Anastasia melewati gerbang tanpa halangan, seolah hutan mengizinkan kepergiannya. Tiba-tiba kuda Lily berhenti satu langkah sebelum gerbang. Sang Putri menarik kendali pelan, lalu lebih kuat. Namun kuda itu tetap diam, kakinya tertanam seolah menyatu dengan tanah.
“Ada apa, Adikku?” tanya Pangeran Lian, menoleh dari balik pelana.
Lily memejamkan mata sejenak. “Aku merasakan energi yang menghalangiku pergi, Kakak.”
Lexus segera turun dari kuda.
“Lewatlah lebih dulu,” perintahnya pada kedua putranya.
Lian dan Leo mengangguk patuh. Mereka melewati gerbang dan menoleh kembali tepat saat Lexus melangkah mendekati Lily. Namun sebelum ia sempat mencapai putrinya, tanah di sekitar gerbang bergerak. Tanaman liar tumbuh dengan cepat, merambat menutup gerbang keluar.
“Ayahanda!” panggil Lily.
“Putriku!” seru Anastasia segera turun dari kuda.
"Ibunda!" Suara Lily terdengar lebih keras.
Lexus dan kedua pangeran segera menahan tanaman itu. Mereka menarik dan menekan sekuat tenaga, namun setiap sulur yang ditahan justru semakin bertambah. Moonveil tidak menyerang, ia hanya menolak memberi izin.
Anastasia menyentuh ujung tanaman itu dengan jemarinya yang lembut. Ingatan lama menyeruak di benaknya, ucapan Tabib Eron saat ia masih mengandung.
Takdir akan membawa kalian keluar dari Hutan Moonveil, jika sudah waktunya.
Lexus menyentuh bahu Anastasia, “Mungkin… ini belum waktunya.” katanya pelan.
Anastasia menggenggam dadanya.
“Bagaimana aku bisa membiarkan putriku tinggal sendirian di dalam sana?”
Lexus mendekap istrinya erat. Memberi ketenangan, saat sebenarnya hatinya juga ikut goyah.
“Dia tidak sendirian,” katanya tegas. “Moonveil akan menjaganya seperti putrinya sendiri.”
Anastasia tak lagi mampu menahan air mata. Ia menangis dalam pelukan suaminya, bukan sebagai permaisuri, melainkan sebagai ibu yang kini berpisah dengan putrinya.
“Kita tidak bisa melawan takdir,” lanjut Lexus, suaranya rendah namun pasti. Ia mengusap rambut istrinya lembut. “Tenanglah, Istriku. Kita tetap bisa menanyakan kabar putri kita lewat Wilhelm.”
Dengan hati yang terbelah, Lexus, Anastasia, dan kedua pangeran kembali menaiki kuda. Perjalanan dilanjutkan tanpa sang putri. Begitu berat, menyakitkan, dan sunyi. Namun siapa yang mampu melawan takdir yang telah tersurat?
kedua bocil yg entah anak siapa.
apa bocil dari kakak atau adik Kaisar???
Di tunggu bab berikutnya kak Author