NovelToon NovelToon
Sandi Hati Sang Alpha

Sandi Hati Sang Alpha

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sang arsitek di balik layar

Singapura menyambut mereka dengan kemilau lampu yang dingin dan sterilitas yang mencekam. Kapal cepat itu merapat di sebuah dermaga pribadi di kawasan Tuas, jauh dari pengawasan otoritas pelabuhan. Di sana, tiga mobil hitam sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus. Tidak ada polisi, tidak ada musuh—hanya barisan pria berseragam abu-abu dengan logo Vandana Corp yang berbeda dari biasanya.

"Ini bukan orang-orangku," bisik Bhanu, tangannya secara insting meraba senjata di pinggangnya. Luka di bahunya sudah berhenti berdarah, namun wajahnya masih pucat karena kehabisan banyak tenaga.

"Mereka adalah The Grey Guard," Dahayu menyahut, matanya menyipit waspada. "Pasukan elit pribadi yang hanya tunduk pada satu perintah. Dan perintah itu sudah mati sepuluh tahun lalu."

Seorang pria tua dengan rambut putih yang tertata rapi keluar dari mobil tengah. Ia memegang tongkat dengan hiasan kepala singa dari emas murni. Namanya adalah Elias Vandana, sang kakek yang selama ini dinyatakan meninggal dalam kecelakaan pesawat di Pegunungan Alpen.

"Selamat datang di rumah, anak-anakku," suara Elias parau namun masih memiliki otoritas yang mampu menggetarkan udara.

Bhanu terpaku. "Kakek? Bagaimana mungkin..."

Elias tidak memedulikan keterkejutan Bhanu. Matanya yang tajam seperti elang langsung tertuju pada Selena. Ia berjalan mendekat, langkahnya mantap meski usianya sudah senja. Ia berhenti tepat di depan Selena, mengabaikan cucu-cucunya sendiri.

"Jadi, inilah Selena Arunika," Elias tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada amarah Bhanu. "Wanita yang berani mengancam akan menghancurkan seluruh jerih payahku hanya dengan sebuah gertakan tentang protokol penghancuran diri."

Selena tidak mundur. Meski tubuhnya lelah dan gaunnya ternoda debu dan darah, ia berdiri tegak. "Itu bukan gertakan jika saya benar-benar siap melakukannya, Tuan Vandana."

Elias tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti gesekan kertas tua. "Bagus. Sangat bagus. Bhanu, kau lihat? Kau butuh ancaman kematian untuk menyadari bahwa kecantikan tanpa taring hanyalah hiasan dinding. Aku yang mengirim Alya Cendana. Aku yang memberi tahu ayahmu koordinat kalian."

Bhanu maju selangkah, amarahnya meluap. "Kakek hampir membunuh kami! Dahayu bisa saja mati! Selena bisa saja diculik!"

"Tapi kalian tidak mati," potong Elias dingin. "Aku tidak butuh pewaris yang hanya tahu cara duduk di kursi empuk Jakarta. Aku butuh pemimpin yang bisa selamat dari pengkhianatan orang terdekat mereka. Renggana adalah ujianmu, Bhanu. Alya adalah ujianmu, Selena. Dan pengkhianatan ayahmu? Itu adalah pelajaran bahwa darah tidak menjamin kesetiaan."

Mereka dibawa ke sebuah penthouse rahasia di puncak gedung yang menghadap ke Marina Bay. Di sana, Elias membeberkan papan catur yang sebenarnya. Ternyata, sandi yang ada di kepala Selena memang bukan sandi penghancuran diri, tapi sesuatu yang lebih berbahaya: Akses biometrik ke satelit komunikasi ilegal yang mengontrol jalur perdagangan gelap di seluruh Asia Tenggara.

"Arunika dan Vandana tidak pernah hanya berbisnis properti," jelas Elias sambil menyesap tehnya. "Kami menguasai informasi. Dan informasi itu terenkripsi dalam urutan DNA-mu, Selena. Kakekmu memasukkan kodenya ke dalam modifikasi genetik saat kau masih bayi. Itulah kenapa kau adalah 'Kunci'."

Selena merasa mual. Ia bukan manusia di mata mereka; ia hanyalah sebuah perangkat keras yang bernapas.

"Lalu apa rencanamu sekarang, Tuan Elias?" tanya Selena dengan nada penuh kebencian.

"Aku sudah tua. Aku ingin pensiun," Elias menatap Bhanu dan Selena bergantian. "Tapi aku tidak bisa meninggalkan imperium ini pada orang-orang lemah. Aku memberikan kalian waktu satu minggu di Singapura. Selesaikan perselisihan kalian, tanda tangani kontrak kemitraan baru, dan ambil alih markas Jakarta dari tangan faksi-faksi kecil yang mencoba memberontak. Jika kalian gagal, aku sendiri yang akan menghapus nama kalian dari sejarah."

Elias bangkit, namun sebelum pergi, ia membisikkan sesuatu di telinga Selena yang membuat wanita itu mematung. "Jangan percaya pada Bhanu sepenuhnya, Nak. Dia tahu tentang modifikasi genetikmu sejak awal perjodohan ini."

Malam itu, di balkon penthouse yang mewah, Selena berdiri menatap langit Singapura. Bhanu mendekatinya, membawa segelas anggur dan sebuah kotak kecil.

"Kontrak barunya sudah siap," ucap Bhanu. Suaranya terdengar lebih manusiawi sekarang. Ia memberikan kotak itu pada Selena. Di dalamnya bukan lagi cincin berlian biasa, melainkan sebuah lencana perak berbentuk matahari dan rembulan yang menyatu—simbol kekuatan Alka yang kini harus berbagi tempat dengan Selena.

Selena menatap lencana itu, lalu menatap Bhanu. "Apa kau tahu?"

Bhanu menghela napas, menatap cakrawala. "Tentang modifikasi genetik itu? Ya. Aku tahu sejak hari pertama aku setuju menjodohkan diriku denganmu."

Selena menampar wajah Bhanu dengan keras. Suara tamparan itu menggema di kesunyian malam.

Bhanu tidak membalas. Ia hanya memegang pipinya yang memerah, tetap menatap Selena. "Aku tahu, dan awalnya aku memang melihatmu sebagai objek. Tapi di dermaga itu, saat kau mempertaruhkan nyawamu untuk menggertak Alya... aku tidak melihat sebuah 'kunci'. Aku melihat seorang wanita yang bisa membuatku bertekuk lutut bukan karena kodenya, tapi karena keberaniannya."

Selena mencengkeram kerah kemeja Bhanu, matanya berkaca-kaca namun tetap tajam. "Jangan pernah berpikir untuk memanfaatkanku lagi, Bhanu. Karena jika kau melakukannya, aku tidak akan menghancurkan perusahaanmu. Aku akan menghancurkanmu dari dalam, mulai dari jantungmu."

Bhanu memegang tangan Selena yang mencengkeram kerahnya. "Kalau begitu, lakukan. Karena mulai malam ini, jantungku adalah satu-satunya hal yang tidak masuk dalam kontrak bisnis mana pun."

Di dalam ruangan, Dahayu memperhatikan mereka dari balik kaca. Ia memegang ponselnya, mengirim pesan singkat ke seseorang yang masih misterius: "Subjek A dan Subjek B telah terikat secara emosional. Fase dua dimulai sekarang."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Yulianti
bagus bgt kita diajak untuk berimajinasi,ttp aja ketulusan hati mengalahkan segalanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!