Zion Mateo Lopez adalah definisi dari kesombongan masa muda, tampan, kaya, dan tak terkalahkan. Baginya, Cassie Vorcan hanyalah sebuah target dalam taruhan mahal bersama teman-teman elitnya di SMA Chicago. Namun, apa yang dimulai sebagai permainan kotor berubah menjadi jeratan perasaan yang nyata. Selama dua tahun, Zion jatuh hati sedalam-dalamnya, mencintai Cassie lewat tindakan protektif dan rencana masa depan yang matang di California.
Di sisi lain, Cassie gadis panti asuhan yang pintar dan dingin akhirnya meruntuhkan seluruh benteng pertahanannya demi Zion. Dia percaya telah menemukan rumah, hingga sebuah rahasia di ponsel Zion menghancurkan dunianya: bukti bahwa dia hanyalah "barang taruhan" yang sukses ditaklukkan.
Beberapa Tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di Chicago dalam sebuah proyek besar. Zion kini adalah pria dewasa yang dihantui penyesalan, sementara Cassie telah menjelma menjadi arsitek sukses yang lebih angkuh dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Satu Minggu Kemudian
Seminggu adalah waktu yang singkat bagi dunia, namun bagi keluarga Lopez, tujuh hari lebih dari cukup untuk mengguncang fondasi Chicago. Mateo Lopez tidak mengenal kata kompromi. Baginya, setiap detik Logan tidak menyandang nama Lopez secara hukum adalah sebuah penghinaan terhadap garis keturunan mereka yang agung.
Maka, tepat seminggu setelah "malam penyatuan" yang tak terduga itu, sebuah pernikahan megah digelar. Tertutup bagi media, namun menjadi standar kemewahan baru bagi kalangan elite di kediaman pribadi keluarga Lopez yang asri di pinggiran kota.
Cassie berdiri mematung di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya dalam balutan gaun pengantin lace putih gading karya desainer Paris yang diterbangkan langsung oleh Mommy Lopez. Wajahnya memukau, namun ada gurat keraguan yang masih berpendar di matanya yang indah.
"Kau tampak seperti malaikat, Cassie," bisik Mommy Lopez sembari menyematkan tiara berlian di rambut Cassie. "Terima kasih sudah memberi putraku kesempatan kedua. Aku tahu dia brengsek, tapi percayalah, sejak kau pergi, dia hanya raga tanpa jiwa."
Cassie tersenyum getir, jemarinya meremas kain gaunnya. "Aku melakukannya demi Logan, Mommy."
"Awalnya mungkin iya," sahut Mommy Lopez dengan kerlingan jenaka yang menggoda. "Tapi jejak merah yang kulihat di lehermu minggu lalu menceritakan gairah yang berbeda, Sayang."
Wajah Cassie seketika memerah hebat, panasnya menjalar hingga ke telinga. "Astaga, Mommy! Zion benar-benar tidak bisa menjaga rahasia!"
Di sayap lain mansion, Zion sedang bertarung dengan dasi tuxedo-nya. Tangannya gemetar—sebuah anomali bagi pria yang biasa memacu mesin di kecepatan 300 km/jam tanpa kedip. Lionel dan Laxia berdiri di sampingnya, tak henti menertawakan kegugupan kakak sulung mereka yang biasanya sedingin es.
"Tenang, Kak. Kau akan mengucapkan janji suci, bukan sedang menunggu vonis mati," goda Lionel sembari merapikan kerah jas Zion.
"Ini jauh lebih menegangkan, Li," jawab Zion dengan suara parau. "Bagaimana kalau di depan altar nanti dia tersadar dan memutuskan untuk terbang kembali ke London?"
"Kalau dia lari, aku yang akan mengejarnya dengan helikopter," sahut sebuah suara kecil yang tegas. Logan muncul dengan tuxedo mini yang sangat identik dengan milik Zion. Anak itu tampak begitu tampan, versi miniatur Zion yang lebih tenang dan berwibawa.
Zion berlutut di depan putranya, merapikan dasi kupu-kupu Logan dengan penuh kasih. "Terima kasih, Jagoan. Kau adalah alasan Mommy mau berdiri di sana hari ini."
"Jangan sia-siakan dia lagi, Dad. Jika kau membuatnya menangis, aku sendiri yang akan membawa Mommy pergi ke tempat yang tak terjangkau oleh radar Lopez," ancam Logan dengan tatapan sedalam samudra.
Zion tertawa kecil, ditariknya Logan ke dalam dekapan hangat. "Janji. Tidak akan pernah lagi."
Taman belakang Mansion Lopez telah disulap menjadi surga mawar putih dan melati yang aromanya memabukkan udara musim semi. Saat simfoni klasik mulai mengalun, jantung Zion berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
Pintu besar terbuka. Cassie muncul, berjalan perlahan dengan keanggunan yang menyakitkan mata. Ia melangkah tanpa pendamping karena tak memiliki keluarga, namun sebelum ia melangkah jauh, Mateo Lopez berdiri dari kursi terdepan. Sang Penguasa Chicago itu menghampirinya dan mengulurkan lengan dengan ketulusan yang langka.
"Biarkan aku yang mengantarmu pada putraku, Cassie. Bagiku, kau adalah putri yang akhirnya pulang ke rumah," ucap Mateo lembut.
Air mata Cassie jatuh tanpa bisa dibendung. Ia melingkarkan tangannya pada lengan Mateo, berjalan menuju altar di mana Zion berdiri dengan mata berkaca-kaca. Bagi Zion, melihat Cassie berjalan ke arahnya adalah kemenangan paling mutlak dalam hidupnya—jauh melampaui semua trofi balap yang pernah ia dekap.
Saat jemari Cassie berpindah ke genggaman Zion, pria itu berbisik sangat rendah, "Kau begitu cantik sampai rasanya aku lupa cara bernapas."
"Diamlah, Zion. Fokus pada janjimu," balas Cassie dengan sikap angkuh yang manis, meski tangannya yang dingin dan gemetar membocorkan segala rasa di hatinya.
Upacara berlangsung khidmat hingga tiba saatnya mengucapkan janji. Zion mengabaikan teks yang telah disiapkan. Ia menatap lekat ke dalam netra Cassie, seolah dunia hanya milik mereka berdua.
"Cassie... sepuluh tahun lalu aku kehilanganmu karena keangkuhanku yang bodoh. Aku menghabiskan satu dekade itu dalam kehampaan, ditemani botol wiski dan bayanganmu yang menghantui setiap mimpiku. Hari ini, di depan Tuhan dan putra kita, aku bersumpah... aku tidak akan pernah menjadikanmu taruhan lagi. Aku akan menjadi dinding yang melindungimu dari badai apa pun, dan aku akan menghabiskan sisa napasku untuk menghapus setiap tetes air mata kesepianmu. Aku mencintaimu, Cariad."
Cassie terisak, benteng es yang ia bangun selama sepuluh tahun runtuh berkeping-keping. "Aku membencimu karena kau selalu tahu cara membuatku jatuh cinta berkali-kali, Zion. Tapi demi Logan, dan demi hatiku yang ternyata tak pernah benar-benar pergi darimu... aku menerimamu sebagai suamiku."
"Silakan mencium mempelai wanita," ucap Pendeta.
Zion tidak membuang sedetik pun. Ia menarik pinggang Cassie dengan posesif, mengklaim bibir istrinya dengan gairah yang menceritakan segala kerinduan selama 3.650 malam yang terbuang sia-sia.
"Ehem! Ingat tempat, Kak! Masih ada malam pengantin!" teriak Laxia, memecah suasana haru menjadi tawa renyah.
Pesta berlangsung meriah di bawah pendar lampu kristal. Logan menjadi bintang utama, berdansa kecil dengan Omanya sementara Zion dan Cassie duduk di singgasana mereka.
"Jadi, Nyonya Lopez," goda Zion sembari menyesap sampanye. Di bawah meja, tangannya mulai beraksi nakal, mengelus paha Cassie yang terbalut sutra halus. "Bagaimana rasanya resmi menjadi milikku seutuhnya?"
Cassie berusaha menjaga ekspresi tenangnya di depan para tamu, meski sentuhan Zion mulai membakar konsentrasinya. "Perasaanku? Aku hanya sedang menyiapkan mental untuk menghadapi kebuasan mu yang tidak tahu aturan itu."
Zion tertawa rendah, suara bariton yang selalu berhasil melelehkan pertahanan Cassie. "Kau yang memulainya minggu lalu, Sayang. Dan melihatmu dalam gaun ini... aku ragu akan memberimu waktu untuk tidur malam ini."
"Zion! Logan ada di sini!" desis Cassie dengan wajah terbakar.
"Logan punya sayap sendiri di mansion ini. Dan kamar kita... sudah kupastikan kedap suara. Tidak akan ada lagi desahanmu yang disangka 'angin kencang' oleh para pelayan," bisik Zion nakal tepat di telinga Cassie, membuat napas gadis itu tertahan.
Begitu malam mencapai puncaknya, Zion tak sabar untuk melarikan diri. Ia menggendong Cassie ala bridal style, membawanya menaiki tangga menuju kamar pengantin yang telah bertabur kelopak mawar merah. Begitu pintu terkunci, Zion menurunkan Cassie dan langsung menghimpitnya ke daun pintu.
"Kau tahu, Cass... menahan diri seminggu ini adalah siksaan terbesar dalam hidupku," gumam Zion sembari melucuti kancing gaun Cassie dengan jemari yang menuntut.
"Kau bilang kau akan menjadi pelindungku, Zion," protes Cassie dengan napas yang mulai memburu, tangannya kini meremas bahu kokoh suaminya.
"Aku melindungimu dari dunia, tapi tidak dari nafsuku sendiri, Sayang. Karena kau adalah candu terbesarku," jawab Zion sebelum kembali membungkam bibir Cassie dengan ciuman yang lebih dalam.
Malam itu, di balik pintu kamar yang kedap suara, tidak ada lagi ruang untuk masa lalu. Yang ada hanyalah penyatuan dua jiwa yang akhirnya menemukan jalan pulang. Zion bergerak dengan penuh pemujaan, intensitas yang meledak-ledak membuat Cassie hanya bisa mencengkeram sprei sutra sembari mendesahkan nama suaminya berkali-kali.
"Zion... ahh, kau... benar-benar..."
"Aku mencintaimu, Nyonya Lopez. Selamanya kau adalah rumahku," bisik Zion di antara peluh dan gairah yang memuncak.
Pukul sembilan pagi, cahaya matahari yang hangat menelusup ke balik gorden, menyinari ranjang yang berantakan sebagai saksi bisu malam yang panjang. Cassie terbangun dalam dekapan posesif Zion, merasakan benda dingin di jari manisnya—sebuah berlian biru langka, simbol ikatan yang kini tak terhancurkan.
Zion mengecup puncak kepalanya. "Selamat pagi, Istriku."
"Selamat pagi, Suamiku yang... tak punya rasa kasihan," sahut Cassie serak sembari mencoba duduk, meski pinggangnya langsung memberikan sinyal protes. "Aku bersumpah, Zion, setelah ini kita butuh liburan tanpa ada sentuhan fisik selama 24 jam."
Zion tertawa puas, ditariknya kembali tubuh mungil istrinya ke dalam pelukan. "Boleh, tapi setelah bulan madu kita di Maladewa. Dan aku tidak menjanjikan apa pun soal 'tanpa menyentuh' itu."
Tiba-tiba, ketukan sopan terdengar di pintu.
"Mommy? Daddy? Opa bilang jika kalian tidak turun sekarang, aku akan diajak mencoba sirkuit balap yang baru!" teriak Logan dari luar.
Zion dan Cassie saling pandang, lalu tawa mereka pecah bersamaan. Mereka segera mengenakan jubah mandi dan membuka pintu. Logan berdiri di sana dengan wajah yang cerah secerah matahari pagi.
Zion merangkul Cassie di satu sisi dan Logan di sisi lain. Saat mereka berjalan menuruni tangga menuju keluarga Lopez yang sudah menunggu, Cassie menyadari satu hal: Sepuluh tahun pelariannya mungkin penuh luka, namun luka itulah yang membuat momen ini terasa begitu berharga.
Keluarga Lopez akhirnya utuh. Di Chicago, legenda Zion si pembalap liar mungkin telah pudar, namun ia telah bertransformasi menjadi seorang pria yang akan mempertaruhkan nyawa demi menjaga senyum di wajah Cariad-nya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
mau menerima Cassie dan Logan dengan tangan terbuka,
tanpa memandang status.