NovelToon NovelToon
Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Masih Tentangmu Di Setiap Detikku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Veline ll

Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.

Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.

Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.

Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.

Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Waktu yang Tak Sengaja Terhenti

Pagi itu, suasana Fakultas Ekonomi sudah mulai sibuk. Mahasiswa berlalu-lalang dengan buku tebal di dekapan atau kopi di tangan. Liana berdiri di dekat pilar besar lobi, sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Ia sedang menunggu Dhea yang katanya sedang mencari tempat parkir.

Pandangan Liana terlempar ke arah area parkir khusus motor besar. Sebuah motor sport hitam mengkilap baru saja memasuki area tersebut dengan raungan mesin yang gagah. Pengendaranya mengenakan jaket kulit hitam dan helm full face senada. Begitu mesin mati, laki-laki itu melepas helmnya dengan satu gerakan luwes, menyisir rambut hitamnya yang sedikit berantakan dengan jemari tangan.

Itu Justin.

Cahaya matahari pagi menyinari wajahnya, membuat fitur wajahnya yang tegas terlihat semakin jelas. Liana terpaku. Ia teringat kejadian semalam—tentang notifikasi Instagram yang membuatnya hampir gila.

Justin mulai melangkah menuju lobi. Begitu ia masuk ke area gedung, matanya secara tidak sengaja menangkap sosok Liana yang masih berdiri di sana. Langkah Justin tidak berhenti, namun matanya menatap Liana selama dua detik. Tatapan itu datar, sulit diartikan, namun cukup untuk membuat Liana merasa seperti tertangkap basah sedang mengintip. Setelah itu, Justin langsung berlalu begitu saja menuju tangga tanpa menyapa sepatah kata pun.

"Loh? Kok gitu doang?" gumam Liana bingung. "Padahal semalam dia yang follow duluan. Apa dia menyesal?"

"Woi! Bengong mulu!" Dhea tiba-tiba muncul dari belakang, menepuk pundak Liana dengan keras. "Liatin Kak Justin lagi ya? Tuh orang emang auranya beda ya kalau udah turun dari motor."

Liana hanya mendesah pelan. "Tau ah, Dhe. Yuk masuk kelas."

Siang hari setelah mata kuliah yang cukup menguras otak berakhir, kantin menjadi tujuan utama. Suasananya sangat ramai. Beruntung, Liana dan Dhea mendapatkan kursi di tengah. Tak lama kemudian, Justin dan Raka juga masuk ke area kantin.

Raka yang heboh segera menarik Justin ke meja panjang yang letaknya tepat berseberangan dengan meja Liana. Dari posisinya, Liana bisa melihat Justin dengan jelas. Sesuatu yang langka terjadi: Justin tampak tertawa kecil saat Raka melakukan tingkah konyol dengan menyumpal mulutnya sendiri dengan kerupuk besar.

Liana tersenyum tanpa sadar. Ternyata Justin bisa tertawa juga. Ia bukan robot es seperti yang dibayangkan orang-orang. Namun, tiba-tiba Justin mengalihkan pandangannya tepat ke arah Liana. Mata mereka bertemu. Panik, Liana langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, pura-pura sangat tertarik pada butiran nasi di piringnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia malu karena ketahuan sedang memperhatikan Justin.

"Gue duluan ya, Dhe. Mau ke GOR bentar, mau pemanasan sebelum nanti sore," ucap Liana cepat-cepat, ingin segera lari dari situasi canggung itu.

"Eh? Buru-buru amat? Ya udah, nanti gue nyusul!"

GOR kampus siang itu terasa sepi karena belum masuk jam latihan resmi. Hanya ada suara decit sepatu Liana di lantai kayu saat ia mencoba mendribel bola. Liana merasa gerakannya sangat kaku. Ia mencoba melakukan lay-up, tapi bola itu terus saja memantul keluar dari ring.

"Aduh, kok susah banget sih," keluh Liana sambil menyeka keringat di dahinya.

Tanpa ia sadari, di pintu samping GOR, Justin berdiri memperhatikannya. Ia baru saja selesai makan dan niatnya memang ingin berlatih sendiri sebelum sesi maba dimulai. Ia melihat Liana berkali-kali melakukan kesalahan pada posisi kakinya.

Justin melangkah masuk ke tengah lapangan. Tanpa aba-aba, ia merebut bola dari tangan Liana saat gadis itu hendak melempar.

"Eh?!" Liana terlonjak kaget.

"Posisi tangan lo salah. Lo terlalu banyak pake tenaga pundak, bukan pergelangan tangan," ucap Justin dingin namun instruktif.

Justin kemudian memberikan contoh. Ia mendribel bola dengan lincah, lalu melompat dengan gerakan yang sangat estetis dan memasukkan bola dengan sempurna. Liana hanya bisa melongo melihat betapa mudahnya Justin melakukannya.

"Coba lagi. Tapi kali ini, coba rebut bola dari gue. Ini latihan dasar pertahanan," perintah Justin.

Liana ragu sejenak, tapi melihat tatapan serius Justin, ia pun mengangguk. Justin mulai mendribel bola di depan Liana, bergerak ke kiri dan ke kanan dengan cepat. Liana berusaha fokus, matanya mengikuti pergerakan bola. Ia bergerak lincah, mencoba menjangkau bola dari tangan Justin.

"Fokus, Liana! Jangan cuma liat tangan gue, liat pergerakan badan gue juga!" seru Justin.

Liana semakin bersemangat. Ia berlari kecil, mencoba memotong jalan Justin. Namun, karena terlalu fokus pada bola, Liana tidak menyadari posisi kakinya yang sudah terlalu dekat dengan kaki Justin.

Sret!

Kaki Liana tersangkut. Tubuhnya oleng ke depan. Karena panik, ia refleks mendorong bahu Justin untuk mencari pegangan. Justin yang tidak siap dengan dorongan tiba-tiba itu ikut kehilangan keseimbangan.

"Awas!"

Justin refleks menangkap pinggang Liana agar gadis itu tidak jatuh menghantam lantai kayu yang keras. Namun, beban tubuh Liana yang menabraknya membuat mereka berdua jatuh bersamaan.

Bruk!

Justin mendarat di lantai dengan posisi terlentang, sementara Liana jatuh tepat di atas tubuhnya. Lengan kuat Justin masih melingkar erat di pinggang Liana untuk melindunginya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.

Suasana GOR yang sepi mendadak terasa membeku. Liana bisa merasakan napas Justin yang hangat di wajahnya, dan detak jantung pria itu yang berdegup kencang di bawah dadanya. Mata mereka saling mengunci. Ada sesuatu yang tak terucap yang mengalir di antara mereka dalam keheningan itu.

Tiba-tiba, dari arah ruang sekretariat basket yang pintunya sedikit terbuka, terdengar suara musik yang diputar cukup keras oleh seseorang di dalam sana.

“Take a picture with your Mind... capture it in your soul...”

Lagu Polaroid dari Jonas Blue mengalun di udara. Melodi manis itu seolah menjadi latar musik yang sempurna untuk adegan yang sedang mereka alami. Dunia seolah berhenti berputar.

Liana adalah yang pertama tersadar. Wajahnya langsung merah padam.

"Ma-maaf! Kak, maaf banget!" Liana berusaha bangun dengan terburu-buru. Namun, karena masih gugup, tangannya terpeleset di dada Justin, membuatnya jatuh kembali ke pelukan pria itu untuk kedua kalinya.

"Aduh!" Liana merintih malu.

Justin tidak marah. Ia justru membantu menopang punggung Liana agar gadis itu bisa berdiri dengan stabil. Begitu Liana berhasil berdiri dengan kaki gemetar, Justin pun bangkit dan membersihkan debu di celananya. Wajahnya tetap datar, namun telinganya terlihat sedikit memerah.

"Maaf Kak, saya beneran nggak sengaja tersandung tadi," ucap Liana sambil menunduk dalam, tidak berani menatap mata Justin.

Justin terdiam sebentar, lalu mengambil bola basket yang menggelinding jauh. Ia menyerahkannya kembali pada Liana.

"Nggak apa-apa. Lain kali, perhatiin pijakan kaki lo. Itu bahaya," ucap Justin singkat. Suaranya sedikit lebih lembut dari biasanya.

Justin kemudian berbalik dan berjalan menuju ring di ujung lain lapangan tanpa menoleh lagi. Liana masih berdiri di tempatnya, memegang bola basket dengan tangan yang masih gemetar. Melodi lagu Polaroid masih sayup-sayup terdengar, seolah sedang merekam momen barusan ke dalam ingatannya selamanya.

Satu hal yang Liana tahu: detik ini, ia benar-benar tidak akan bisa melupakan bagaimana rasanya berada di dalam pelukan Justin, meskipun itu hanya sebuah kecelakaan.

1
Yoyoh Rokayah
lanjut thor
Kostum Unik
Justin Timberlake jealous /Slight/
Kostum Unik
Justin Timberlake.. Jgn cemburu kan kamu yg minta putus. Apapun alasannya ttp kalian sudah putus. Biarkan Liana memulai hidup baru. Dan buat Liana move on jgn naif jgn baper
Azalea Qziela
mulai muncul saingan justin😄
Reni Anjarwani
cemburu justin
Elprasco
😍💪
Widya Ekaputri
semangatttt!!!😍
SarSari_
iyaa...aku pun juga sama penasarannya sama liana🫣 halo kakak ..aku mampir di novelnya kakak ..mampir juga ya di novel aku. mkasih....🤗
Celine
Keren Author, lanjut thor
MayAyunda
keren👍👍
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Azalea Qziela
bagus KK,, ditunggu crazy up nya👍
Azalea Qziela
semangat kak😍💪
Veline: Terimakasih udah Mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!