Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: PRASASTI DI BAWAH OMBAK
Matahari mulai merunduk ke balik bukit Wilis, mengecat langit pantai Pasuruan dengan warna oranye keemasan yang menyatu dengan warna biru dalam lautan Jawa. Suara ombak yang terus menerus menyapa pasir putih menjadi irama harian bagi Mira, gadis berusia delapan belas tahun yang kini sedang membersihkan jaring nelayan ayahnya di tepi pantai.
“Mira, jangan terlalu lama di luar ya! Udang yang baru ditangkap harus segera dibersihkan kalau mau dijual besok pagi!” teriak Ibu Siti dari arah rumah bambu yang berdiri tidak jauh dari bibir pantai.
“Baik, Bu!” jawab Mira sambil mengangguk. Tangannya yang terbiasa dengan kerja keras di laut bergerak lincah menyusun jaring yang penuh dengan lumpur dan rumput laut. Sampai pada saatnya dia merasa ada sesuatu yang berbeda di bagian ujung jaring – bukan ikan atau udang yang biasanya terperangkap, melainkan sesuatu yang keras dan berbentuk tidak teratur.
Mira menarik bagian jaring itu dengan penuh hati-hati. Setelah membersihkannya dari lumpur yang menutupinya, sebuah batu persegi panjang dengan ukuran kira-kira seperti buku tulis muncul di tangannya. Permukaannya kasar, dengan beberapa pola gambar dan tulisan yang tidak dikenal menggarisi permukaannya. Cahaya senja yang menyinari batu itu membuat beberapa bagian tulisan tampak memancarkan kilau keemasan yang lembut.
“Wah… apa ini ya?” bisik Mira sambil mengangkat batu itu lebih tinggi untuk dilihat dengan jelas. Bentuk tulisannya tidak seperti aksara Jawa yang biasa dia lihat di benda-benda kuno yang ada di desa, malah lebih mirip dengan tulisan prasasti yang pernah dia dengar dari cerita Kakek Darmo tentang masa kerajaan dulu.
Tanpa berpikir panjang, Mira menyembunyikan batu itu di dalam selimut kain yang membungkus pinggangnya. Dia cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke rumah, sembari mengerutkan kening memikirkan benda misterius yang baru saja ditemukannya.
Setelah membantu ibunya membersihkan udang, Mira segera berlari menuju rumah Kakek Darmo yang berada di ujung desa. Kakek Darmo adalah satu-satunya orang di desa yang paham tentang sejarah dan benda-benda kuno – dulu dia pernah bekerja sebagai pemelihara situs candi di dekat daerah itu sebelum pensiun.
“Kakek… Kakek Mira ada sesuatu yang mau tunjukin!” teriak Mira saat membuka pintu rumah kayu Kakek Darmo yang selalu terbuka bagi siapa saja.
Kakek Darmo yang sedang duduk di depan meja dengan beberapa buku tua di atasnya, menoleh ke arah Mira dengan senyum hangat. “Apaan nih yang membuat kamu tergesa-gesa begini, nak?”
Mira segera mengeluarkan batu prasasti dari dalam selimut kainnya dan menempatkannya dengan hati-hati di atas meja. “Mira temuin ini di dalam jaring nelayan tadi, Kakek. Ada tulisan-tulisan di atasnya lho.”
Matanya yang biasanya lemah karena usia tiba-tiba menjadi tajam saat melihat batu itu. Dia mengambil kaca pembesar dari laci meja dan mulai mengamati setiap bagian permukaan batu dengan cermat. Wajahnya yang penuh kedutan menunjukkan ekspresi kaget dan kagum yang tidak bisa disembunyikan.
“Mira… nak… ini bukan batu sembarangan,” ujar Kakek Darmo dengan suara pelan tapi penuh emosi. “Ini prasasti kuno dari masa Kerajaan Panjalu – yang sekarang kita kenal dengan nama Kerajaan Singhasari. Lihat ini…” Kakek Darmo menunjuk ke salah satu bagian tulisan. “Kalau aku tidak salah baca, prasasti ini bercerita tentang sebuah pelabuhan rahasia yang digunakan untuk perdagangan rempah-rempah dengan negara-negara lain. Katanya, pelabuhan itu berada di suatu tempat di sekitar pantai Pasuruan, tapi sampai sekarang belum pernah ditemukan oleh siapa pun.”
Mira mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya bersinar dengan kegembiraan dan rasa penasaran. “Jadi ini batu ini punya rahasia besar ya, Kakek?”
“Betul sekali, nak. Tapi kamu harus berhati-hati. Tidak semua orang yang tahu tentang hal ini akan memiliki niat baik. Ada kalanya sejarah yang hilang harus tetap tersembunyi, tapi ada juga kalanya kita harus berjuang untuk melindunginya agar tidak hilang selamanya,” ujar Kakek Darmo sambil menatap jauh ke arah laut yang mulai gelap.
Sementara itu, di sebuah rumah besar di pusat desa, seorang pria bernama Raden Wijaya sedang menerima laporan dari salah satu pengawalnya. “Kabar baik, Pak. Seperti yang Anda duga, ada seseorang yang menemukan benda kuno di pantai hari ini. Seorang gadis nelayan yang membawa batu itu ke rumah Kakek Darmo.”
Raden Wijaya tersenyum sinis sambil mengocok gelas anggur di tangannya. “Baiklah. Pantau terus gerakan mereka. Prasasti itu dan apa yang ada di baliknya akan menjadi milikku. Dengan kekayaan yang ada di pelabuhan rahasia itu, aku akan menjadi orang terkuat di seluruh wilayah ini!”
Di rumah Kakek Darmo, Mira tidak menyadari bahwa dia telah terlibat dalam sebuah misteri yang telah tersembunyi selama berabad-abad – sebuah misteri yang akan mengubah hidupnya selamanya. Kakek Darmo mengambil selembar kertas dan mulai menuliskan sesuatu dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Mira, kalau sesuatu terjadi padaku, kamu harus mencari seseorang bernama Jaka. Dia tinggal di pemukiman budak kerajaan dekat situs candi Singhasari. Hanya dia yang bisa membaca seluruh isi prasasti ini dengan benar,” ujar Kakek Darmo sambil menyerahkan selembar kertas kepada Mira. “Ingat nak, sejarah bukan hanya tentang masa lalu – ia juga menentukan masa depan kita.”
Mira menerima kertas itu dengan tangan gemetar, merasakan beratnya tanggung jawab yang baru saja diberikan kepadanya. Di luar sana, angin laut mulai bertiup lebih kencang, seolah-olah sedang menyampaikan pesan bahwa perjalanan panjang telah siap dimulai.